The Melody Chapter 9

 

 

Don’t Like, Don’t Read,

It’s simple, It’s easy.

 

Pairing : Of Course and always, Wonkyu (Main Cast), Kriskyu (Slight Cast)

Rated : T

 

 

Chapter 9

 

 

          Seorang pria terduduk dengan tangan-tangannya memegang beberapa kardus berisi album-album foto yang sedikit lusuh. Berkali-kali, ia mengecek, berkali-kali itu pula ia merasa takut, kecewa, dan juga marah. Tak ada satupun dari berpuluh-puluh foto tersebut, wajahnya nampak seperti yang selama ini difikirkannya. Ia kalut, bahkan hampir melempar semua barang yang ada di meja. Gelas-gelas kaca, beberapa arsitektur mahal, dan juga bantal-bantalnya yang sudah terbuang begitu saja. Ia kesal. Melampiaskannya pada benda-benda tak bergerak tersebut. Kalut dan kebingungan. Setidaknya, hingga ia menyadari sesuatu.

 

          ‘Kyu, kapanpun, kau ingin bicara padaku, katakan saja mantra itu dengan begitu, kau tidak akan kesepian.’

 

          Ia ingat perkataan Kibum sewaktu sore saat mereka mengikuti kelas di dunia sihir. Ia mempelajarinya dengan serius karena saat itu, ia benar-benar bosan. Ia juga ingin dirinya membalas pesan teman-temannya melalui telepati. Atau mengajak Siwon kencan. Awalnya memang ingin digunakan untuk berkencan. Tapi, tidak sempat dilakukannya karena saat-saat genting bertarung dengan Kris.

 

          ‘Spalachtich do’ veragus dlacti’

        ‘Kibum. Kumohon. Dengarkan aku.’

 

        Kyuhyun memejamkan matanya. Keyakinannya akan sesuatu sangat kuat hingga dirasakannya segalanya berbeda. Suhu dingin ruang kamarnya berganti dengan suhu hangat yang menenangkan. Ini lebih dari yang dia harapkan ketika mata bulatnya menangkap sebuah gambaran tak asing lagi. Kastil-kastil kuno, festival lampion, beberapa anak-anak bermain kejar-kejaran sambil sesekali merubah benda-benda menjadi katak dan tertawa keras. Baju hitam panjang dengan jubah yang sangat dikenalinya. Apakah ini nyata? Ini benar-benar negeri sihir yang dirindukannya? Ia senang, tentu. Bahkan Kyuhyun hampir terlonjak ketika ia mengingat sesuatu.

 

          ‘Ketika keyakinanmu untuk menemuiku terhalang oleh sesuatu dan berakhir dengan tempat dimana itu asing bagimu. Maka, ditempat itulah, kau akan menemukan jasadku. Karena kau tidak bisa menyampaikan pesanmu padaku, maka dari itu, kau hanya akan menemukan ragaku.’

 

          Kyuhyun mematung.

          Kibum? Kibum, sahabatnya? Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak nyata, kan? Bukankah Kibum bilang, dia hidup abadi?

 

          Beberapa anak remaja didepannya tertawa-tawa sambil memainkan tongkat-tongkatan sihir yang dipamerkannya kepada teman-temannya. Mereka masing-masing memegang lampion dan masih saling bercanda,

 

          “Kau dengar, si pembunuh berjuluk naga emas telah mati. Dan kau tahu, para srigala melonglong pertanda ada kematian didalam istana juga. Siapa yang bisa menebak?”

 

          Sang gadis yang paling pendek terbengong sambil menampakkan gesture ngeri.

 

          “Istana? Keluarga raja. Apakah ini ada kaitannya dengan sang pembunuh itu?”

 

          “Bukankah ia tidak bisa mati? Kudengar, dia kekal dan sangat angkuh.”

 

          “Siapa yang menyangka jika itu berakhir dramatis. Mungkin sebentar lagi, ada pengumuman dari pihak istana.”

 

          Perkataan mereka seperti dengungan kematian bagi sang pemuda manis yang baru saja tiba di sini. Matanya kosong. Tubuhnya tiba-tiba melemah dan ia terjatuh sambil terus menerus memanggil nama Kibum. Berkali-kali, hingga tanpa sadar, ia menangis. Memeluk lututnya dan bahunya bergetar. Ia tidak ingin menerima kenyataan menakutkan ini. Ia tidak ingin menatap wajah dingin dan pucat Kibum yang tak bergerak. Kyuhyun hanya ingin menatap matanya yang terbuka, mendengar suaranya dan juga melihat tawanya yang tulus. Kyuhyun hanya ingin itu, apakah itu sulit?

Ya Tuhan, jangan ambil dia dariku.

 

          “Kibum. Hiks. Kajima, jebal, Kajima.” Berkali-kali, ia meneriakan nama itu hingga tenggorokannya serasa tersendat. Tersiksa. Dadanya berdenyut sakit dan air matanya tak henti menetes. Ini sangat menyakitkan.

 

 

Flashback, Skeleton City, 8 Januari 1967.

 

          “Kibum-ah, ajari aku mantra ini. Ini sulit sekali.”

 

          Kibum tersenyum melihat wajah Kyuhyun yang kini sedang menunjukkan aegyo miliknya. Dengan cepat, ia mengambil buku-buku tebal milik Kyuhyun, tidak ingin pemuda manis itu menunggu terlalu lama. Kyuhyun tersenyum senang melihat Kibum yang bersedia mengajarinya. Ternyata, Kibum tidak seburuk yang ia fikirkan; terakhir kali, Kibum menggunakan mantra dan tidak membuatnya bergerak selama beberapa saat. Itu mengesalkan, bagi Kyuhyun.

 

          “Kau cukup menambahkan ramuan ini dan satu helai rambutmu sendiri. Minum dengan mengatakan ‘Do Jein lawchess do sprie’tte’ dan minum ramuan itu saat tengah malam menghadap timur. Mudah bukan?”

 

          “DoJein Lawchess do spriete?”

 

          “Ani, Do, jeda Jein Lawchess do sprie, jeda lagi lalu, ette.”

 

          “Oh, arraseo. Gamsahamnida.”

 

          Kibum tersenyum tipis lalu melanjutkan membaca bukunya. Ia melirik Kyuhyun yang selalu gagal mengucapkan mantra sihirnya. Ia mungkin harus menghibur Kyuhyun dulu sebelum kembali berkutat pada dunia bukunya.

 

          “Kyuhyun-sshi.”

 

          “Ne?”

 

          Kyuhyun menoleh dan mata polosnya mau tak mau membuat Kibum tertawa geli. Betapa manis dan menggemaskannya pemuda ini. Masih sama- seperti yang dikenalnya dulu.

 

          “Kau tahu, dulu orangtuaku sering mengeluh padaku.”

 

          “Mengeluh? Tentang apa?”

 

          Kyuhyun memiringkan kepalanya, pertanda jika ia sedang berfikir. Kibum tersenyum lagi.

 

          “Ibuku dari dulu menginginkan seorang anak perempuan. Anak gadis yang bisa membantunya merajut atau melukis dan menanam bunga.”

 

          Kyuhyun terkekeh. Dulu, dia juga begitu, karena itu, ibunya sering memanjakan Taemin nonna dibanding dirinya.

 

          “Tapi, aku justru sering mengubah boneka yang dibelikannya menjadi katak. Membantunya membuat kue rasa darah kelelawar.”

 

          Kyuhyun makin tertawa keras.

 

          “Bodoh! Seharusnya, kau membuat kue rasa coklat!”

 

          “Aku tahu. Dan ibuku sering cemberut karena hal itu.”

 

          “Lalu, bagaimana dengan ayahmu?”

 

          Kibum tersenyum aneh. Kyuhyun bisa menangkap bahwa ini adalah senyum kesedihan. Jika dari yang didengar dari si mesum- Choi Siwon, Kibum hidup sebatang kara karena hidup kekalnya yang harus melihat orang-orang terdekatnya mati. Kyuhyun memegang tangan Kibum lembut, seolah menenangkan. Dan benar saja, Kibum merubah raut wajahnya menjadi seperti biasa kembali.

 

          “Ayahku bilang, bukankah kita seorang penyihir. Mengubah benda-benda menjadi katak dan darah adalah pekerjaan kita.”

 

          Kyuhyun tertawa, memegangi perutnya dan kepalanya terantuk meja karena terlalu dramatis. Kibum menatapnya bingung. Bagian mana yang lucu? Oh, mungkin, karena Kyuhyun adalah seorang manusia. Pasti terdengar aneh.

 

          “Keluargamu aneh, Kibum-sshi.”

 

          “Aku tahu. Tapi, aku juga memuja katak serta darah. Mencintai keluargaku yang aneh dan juga sadis. Yah, begitulah.”

 

          “Lalu, dimana mereka?”

 

          Ups, Kyuhyun lupa. Bodohnya dirinya yang pelupa dan juga ceroboh. Ia tersenyum canggung, “Ah- maafkan aku, Kibum.”

 

          “Tidak apa-apa. Kau mau melakukan sesuatu denganku?”

 

          “Melakukan apa?”

 

          Kyuhyun terlihat bersemangat.

 

          “Menanam jamur beracun dan juga gigi kucing Minho.”

 

          “Gigi kucing Minho?”

 

          Kyuhyun memekik agak keras lalu menutup mulutnya sendiri ketika matanya menangkap wajah Minho tak jauh dari tempat mereka duduk sekarang.

 

          “Kau yang menculiknya? Kau tahu, Minho mencarinya sampai-sampai membuat brosur yang bisa bergerak-gerak sendiri.”

 

          Kibum melakukan gesture seolah-seolah Kyuhyun harus diam. Jari telunjuknya ia letakkan di mulut tipisnya. Kyuhyun merunduk dan ikut melakukan gesture itu seperti latah.

 

          “Aku tahu. Habisnya, Kucing Minho itu selalu gaduh di sekitar asrama kita. Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari.”

 

          “Itu karena kucing akan bersuara gaduh jika melakukan hubungan intim.”

 

          “Benarkah?”

 

          “Menurut buku biologi yang aku baca seperti itu, sih.” Kyuhyun nampak mengingat-ingat nama bukunya tapi, ia tidak bisa mengingatnya.

 

          “Apa itu biologi?” tanya Kibum.

 

          Kyuhyun tidak menjawab, karena malas dan lebih memilih menggeret Kibum ke kebun belakang tempat dimana masing-masing anak memiliki daerah sendiri. Nama Kibum yang mencolok karena papan namanya bergambar foto dirinya sedang membaca buku, memudahkan Kyuhyun menemukannya.

 

          “Apa yang kau tunggu? Ayo menanam!”

 

          Kyuhyun menggeret Kibum dan Kibum menurut saja. Ia mencabuti seluruh tanaman bunga yang menurutnya jelek dan menanam semak berduri dan tumbuhan berdaun tajam. Lalu, menambahkan sarang laba-laba dan bangkai lalat di papan namanya. Kyuhyun bergedik ngeri lalu cemberut.

 

          “Apa?” tanya Kibum.

 

          “Dasar penyihir,”

 

          Dan berakhir dengan tawa Kyuhyun yang membahana ketika Kibum terus menerus menggerutu soal betapa rapi dan indahnya kebun miliknya. Ia terus menanami tumbuhan beracun dan juga tanaman bergerigi yang besar-besar. Membuat kebunnya makin aneh dan mengerikan dibanding miliknya.

 

Flashback OFF.

 

          Kyuhyun tidak tahu mengapa kakinya melangkah kesini. Sekolah yang sangat dikenalnya. Sekolah itu tersembunyi dari dunia luar dan terdapat di lembah rahasia diantara kota-kota yang cukup makmur. Ia berjalan pelan. Karena linglung, ia hampir terjatuh. Seseorang menangkapnya.

 

          “Kau tidak apa-apa?”

 

          “Hn.”

 

          Kyuhyun masih sesenggukan meski kini ia diam. Pemuda yang menabraknya tersenyum lalu berkata pelan,

 

          “Ayo masuk! Kau akan menghadiri pemakaman Kim Kibum, kan?”

Tuhan, katakan ini mimpi, kumohon.

 

          “Aku pergi dulu.”

 

          Kyuhyun segera menahan lengan pemuda itu. Suaranya yang serak karena menangis hampir hilang dan kemudian berganti menjadi tangisan. Pemuda itu panik lalu mencoba menenangkan Kyuhyun sebisanya.

 

          “Hei, kau tidak apa-apa? Uljima.”

 

          “Kenapa?”

 

          “Apa?” ulang pria itu, sedikit menunduk menatap Kyuhyun yang masih terus menunduk.

 

          “Kenapa dia meninggal?”

          “Ah- kudengar, dia bertarung dengan…” Pria itu nampak enggan menyebutnya tapi, tetap melanjutkan, “Master,”

 

DEG!

          Tuhan. Komohon. Jangan katakan ini.

 

          “Kau mau pergi?”

 

          Kyuhyun bingung. Tapi, ia ingin memastikannya. Mematiskan bahwa itu benarlah sahabatnya. Tapi, Kyuhyun takut, entah karena apa.

 

          “Dia pergi bersamaku.”

 

DEG!

 

Suara itu. Suara yang sangat dirindukannya. Suara yang selalu menghantui malam-malamnya. Suara yang selalu membuatnya berdebar-debar ketika mendengarnya.

 

          “Ah, annyeong haseyo, Choi Siwon-sshi. Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat malam.”

 

          Dan tinggallah mereka berdua dalam keheningan. Kyuhyun membatu. Ia takut untuk sekedar membalikkan badannya dan Siwon yang tak kunjung bicara membuatnya sedih, cemas, takut dan merasa terluka. Tiba-tiba ingatannya pada kejadian itu dan juga apa yang dialami oleh Kibum membuatnya goyah dan tanpa bisa dicegah, ia menangis. Lagi-lagi, sebagai seorang pria, Kyuhyun selalu bersikap cengeng.

 

          “Apa yang terjadi? Hiks… hyung, Kibum… Katakan ini tidak benar. Ini bohong, kan? Kibum tidak pergi meninggalkan kita, kan, hyung.”

 

          Jeda. Kyuhyun masih menangis dan Siwon masih belum menjawab pertanyaannya.

 

          “Kibum meninggalkan kita. Sama sepertimu yang meninggalkan kita saat itu.”

 

          “H-Hyung?”

 

          “Kau mau masuk atau tidak? Aku tidak ingin berlama-lama meninggalkan Kibum sendirian kedinginan disana.”

 

          Kyuhyun tercengang. Masih memproses kejadian yang terlalu cepat baginya saat ini.

 

          “Oh, benar, kau pasti tidak akan perduli dan hanya pergi berlalu begitu saja. Sama. Sama seperti dulu.”

 

          “Hyung?”

 

          “Aku pergi.”

 

          Kyuhyun tidak ingin Siwon pergi begitu saja. Meninggalkannya setelah kerinduannya selama ini. Dengan kesalahpahaman yang terjadi, Kyuhyun tidak akan membiarkannya pergi lagi. Tidak akan.

 

          “Aku ikut, hyung.”

 

          Siwon menoleh, memandangnya datar.

 

          Kemudian, mereka berjalan beriringan di kegelapan malam bersama lampion-lampion terbang yang ada disudut-sudut ruangan. Menaiki tangga, menuju sebuah gerbang yang tinggi dan menjulang mengerikan.

 

          “Kalian sudah lama menunggu?”

 

          Siwon berkata pada Donghae dan Changmin yang menatap Kyuhyun sedikit kaget lalu kembali menatap Siwon seperti biasa.

 

          “Tidak juga,” jawab Donghae singkat.

 

          Changmin menatap Kyuhyun tak suka. Ia bahkan menarik lengan Kyuhyun kuat seakan bisa saja melukainya. Siwon mencegahnya berbuat jauh. Hanya berbekas merah dan sedikit cakaran kuku.

 

          “Mau apa kau kemari?”

 

          “Changmin! Lepaskan dia!”

 

          “Kau masih saja membelanya, hyung? Ya Tuhan! Kau benar-benar manusia tolol.”

 

          Siwon bisa mendengar suara isakan Kyuhyun yang terdengar mengiris hatinya. Ia tidak ingin mendengar suara tangisan itu lagi maka, ia menggunakan tubuhnya untuk memeluk Kyuhyun. Kyuhyun sempat terdiam, terkejut lalu membalas pelukannya dan menangis lagi. Kali ini lebih keras.

 

          “Maaf. Maafkan aku. Sungguh, aku menyesal, hyung.”

 

          Siwon menghela nafas. Melepas pelukannya lalu tersenyum lembut, seperti cahaya matahari.

 

          “Kibum. Dia tidak apa-apa,” ujarnya lembut. Sedikit penekanan dengan kata ‘tidak apa-apa’

 

          “Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun dingin. Ia tidak suka dibodohi ataupun semacamnya. Mengenai Kibum, itu adalah sesuatu yang serius bukan untuk mainan.

 

          “Kami menyebarkan rumor bahwa Kibum telah pergi. Bukan tanpa alasan, Yunho mati dan untuk berjaga-jaga, kami akan menyembunyikan Kibum untuk sesuatu yang besar besok. Besok malam.”

 

          “Yunho? Mati.”

 

          “Ne, Kibum membunuhnya kemarin. Sungmin baik-baik saja tapi, Kris terluka parah.” Donghae menjelaskan. Kyuhyun jatuh terduduk memegangi dadanya yang mulai kembali berdetak. Ia lega. Lega luar biasa.

 

          “Kenapa aku bisa ada disini setelah mengirimnya telepati?”

 

          “Itu karena Kibum yang memanggilmu kemari, baby.”

 

          Kyuhyun makin cemberut. Tangannya yang bebas memukul lengan Siwon keras.

          “Kalian mengerjaiku,” sungutnya sebal. Donghae terkikik dan Changmin mengendikkan bahunya acuh, pertanda dia menikmati acara ‘mari-membentak-kyuhyun’ itu.

 

          “Maaf, baby. Maafkan hyung.”

 

          “Aku takut, hyung. Takut kau benar-benar akan pergi.”

 

          “Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah berbalik darimu. Kau segalanya untukku, sayang.”

 

          Wajah Kyuhyun memerah ketika Siwon membawanya kedalam pelukannya. Hangat, nyaman, menenangkan. Kyuhyun benar-benar suka keadaan dimana dirinya dan Siwon sedang berdua seperti ini. Hingga suara deheman Changmin, membuat pelukan mereka terlepas secara paksa. Kyuhyun cemberut, belum puas akan kerinduannya terhadap Siwon yang kini terkekeh melihat wajah sebalnya.

 

          “Lalu, dimana dia?”

 

          Hening. Senyum Kyuhyun kembali memudar.

 

          “Aku disini, Kyu.”

 

          “Kibum?”

 

          Kyuhyun langsung menerjang tubuh Kibum dengan pelukan yang erat dan hangat. Kibum tertawa dan membalas pelukan Kyuhyun. Ini barulah nyata, ini bukan mimpi, kan? Tuhan. Terima kasih.

 

***

          “Jadi, besok malam adalah pertarungan terakhir?” tanya Kyuhyun was-was. Kini, ia sedang berada dalam pelukan Siwon dengan kepalanya bersandar di dada bidangnya. Ini pertama kalinya, Kibum membiarkannya tidur sekamar dengan Siwon. Entah mengapa, Kibum berbaik hati hari ini. Siwon tentu senang.

 

          “Hm. Kau takut?”

 

          “Takut sekali, hyung.”

 

          Siwon terkekeh. Menarik wajah Kyuhyun agar mendongak menatap wajahnya. Ia rindu babykyunya, merindukan suaranya, tawanya, dan semua ekspresinya.

 

          “Aku merindukanmu, baby.”

 

          “Nado, hyung. Maafkan aku karena meninggalkan kalian dulu.”

 

          Siwon tersenyum lembut. Itulah mengapa, mereka tadi mengerjai Kyuhyun sedikit. Menyenangkan melihat ekspresinya tapi juga sedikit merasa bersalah.

 

          “Saranghae, Choi Siwon.”

 

DEG!

 

          Ini pertama kalinya, seingatnya, ini adalah kali pertama Kyuhyun mengucapkan kata itu padanya. Siwon senang sekali. Hidupnya terasa sempurna.

 

          “Aku menginginkanmu, hyung. Malam ini,” bisik Kyuhyun pelan di telinga Siwon yang seketika tubuhnya menegang. Apa maksud perkataan Kyuhyun? Apa ia salah dengar tadi?

 

          “Hyung…”

 

          “K-Kyu?”

 

          Kyuhyun tersenyum lembut lalu menjilat dagu Siwon dengan gerakan erotis. Tangan jarinya bergerak-gerak bermain di dada Siwon, memberikan rangsangan yang aneh yang membuatnya bergairah.

 

          “Aku tidak mau memaksamu, sayang.”

 

          Beruntung, Siwon bisa menguasai nafsunya secepat mungkin. Ia mencintai Kyuhyun, ia tidak ingin menyakiti ataupun memaksa kehendaknya pada pria yang kini masih sibuk menjilat-jilati lehernya. Tunggu?

 

          “K-Kyuhh?”

 

          Wajah Siwon memerah ketika tangan Kyuhyun bergerak makin berani menyentuh alat vitalnya. Mengurutnya pelan dari luar celananya.

 

          “Hyung, masukan ini kedalam tubuhku. Sekarang!”

 

          Kyuhyun mendorong tubuh Siwon dan menindihnya. Membuka pakaian Siwon dengan cekatan meski wajahnya memerah. Entah apa yang memasukinya malam ini. Ia hanya ingin mengikuti nalurinya. Memiliki Siwon seutuhnya. Karena ia takut. Takut entah karena apa.

 

          “Kau yang memaksaku melakukan ini, Baby.”

 

          Kilatan mata Siwon sungguh berbahaya. Kyuhyun menyeringai.

 

          “Tentu. Lakukan, hyung. Ahh…”

 

          Siwon membalik posisinya sebagaimana mestinya.

 

          “Bersiaplah, Ny. Choi.”

 

          Dan malam itu, adalah malam pertama mereka melakukan seks untuk pertama kali bagi keduanya. Lembut diawal karena mereka melakukan penuh cinta namun, ketika nafsu mulai menguasai, mereka melakukannya dengan sedikit kasar. Berkali-kali, bahkan puluhan kali Kyuhyun klimaks, tak membuat Siwon berhenti memasuki tubuhnya. Wajah tak berdaya dan mata sayu Kyuhyun, mampu membuat Siwon hilang akal dan menggagahi Kyuhyun hingga pagi. Kyuhyun hanya bisa menurut, toh, ini yang dia inginkan.

 

          Matahari mulai muncul. Sinar keemasan mengusik kedua orang yang masih saling berpelukan tersebut. Kyuhyun adalah yang bangun untuk pertama kalinya karena Siwon terlalu lelah dan mengantuk untuk bangun.

 

          “Bangun, hyung. Kita turun.”

 

          Kyuhyun tertawa melihat betapa sulitnya membangunkan Siwon saat pagi hari. Lihat saja, tangannya yang masih memeluk Kyuhyun seolah tidak ingin Kyuhyun pergi. Tapi, Kyuhyun harus pergi, setidaknya, ia ingin mandi karena tubuhnya lengket semua.

 

          “Hyung, aku mau mandi. Lepaskan aku.”

 

          Siwon menurut, seperti seorang suami yang baik. Kyuhyun menggelung selimutnya untuk menutupi tubuh telanjangnya lalu bergegas ke kamar mandi.

 

          “Hyung, saat aku selesai, kau harus bangun. Kyaaa.”

 

          Kyuhyun terkejut, panik. Tubuh telanjang Siwon tidak tertutupi apa-apa. Ia lupa, bahwa selimut mereka hanya ada satu, itupun untuk menutupi tubuh telanjangnya. Ia menutup mata, refleks. Siwon bangun karena mendengar teriakan Kyuhyun.

 

          “Baby? Kenapa ditutup? Bukankah kau sudah puas melihatnya dan merasakannya?”

 

          “Ya! Dasar bodoh! Aku malu, hyung.”

 

          “Malu? Tadi malam bahkan kau sangat nakal, baby.”

 

          Kyuhyun melotot. Teringat bagaimana dirinya tadi malam. Benar-benar memalukan.

 

          “Jangan diingat-ingat lagi, hyung. Aku mau mandi!”

 

          “Tapi, aku suka dengan kenakalanmu, sayang.”

 

BRAK

          Pintu kamar mandi tertutup dengan amat kencang. Siwon tertawa dan Kyuhyun masih mendumel didalam kamar mandi. Mengutuk dirinya yang entah mengapa bisa menjadi seperti itu. Ini pertama kalinya, Kyuhyun melakukan hal paling memalukan sepanjang hidupnya tetapi menyenangkan dan juga mendebarkan. Ia bahagia. Menyatu seutuhnya dengan seseorang yang amat dicintainya.

 

          Pagi hari, gerombolan siswa berlari-lari bermain sesuatu di Lobi. Mereka berkejaran sambil memainkan tongkat sihirnya, mengubah sesuatu sewarna merah darah, atau menjadi lalat-lalat dan katak terbang. Menceritakan mengenai barang antik mereka, kekuatan baru, atau bagaimana malam lampion itu begitu menyenangkan, dan bahkan soal gunjingan Kibum terkait dengan pihak keluarga istana. Namun, ketika rombongan Siwon datang, gunjingan itu berubah menjadi candaan seperti biasa.

 

          “Lihat, lintah itu. Berada disisi Siwon-sshi seperti siput.”

 

          Meski pelan, Kyuhyun nyaris mendengar semua yang mereka bicarakan. Posisi Kyuhyun paling belakang untuk bisa mendengar bagaimana mereka bicara dan S

iwon yang sedang berbicara dengan Donghae didepan.

 

          “Benar, merayu seperti pelacur. Aku sungguh ingin mengubahnya menjadi siput. Pria menjijikkan.”

 

          “Lihat, dia melihat kita!” pekik seorang gadis, panik.

 

          “Apa yang kau lihat?” tantang temannya yang lain.

 

          Kyuhyun terdiam dan hanya berlalu saja. Baginya, mereka semua tidaklah penting. Tentu saja mereka iri, Kyuhyun bisa mendapatkan pria seperti Choi Siwon. Tampan, populer, terpandang, kuat, setia dan sangat mencintai serta menjaganya. Bukankah itu sempurna? Kyuhyun sangat beruntung mendapatkan Siwon terlebih tadi malam. Penyatuan yang mungkin akan mengikat mereka untuk selamanya. Ah, Kyuhyun malu mengingatnya.

 

          Siwon tiba-tiba berhenti berjalan dan Donghae mendahuluinya dengan Changmin. Mereka paham, Siwon ingin berduaan dengan Kyuhyun.

 

          “Baby, apakah masih sakit?”

 

          “Eh? Apa?”

 

          Kyuhyun mendongak dan wajahnya masih agak memerah karena barusan memikirkan sesuatu yang tidak semestinya ia ingat-ingat. Siwon mengacak rambutnya sayang, tersenyum.

 

          “Pinggulmu. Masih sakit?”

 

          Wajah Kyuhyun kembali memerah kali ini sangat merah.

 

          “Ti-tidak, hyung.”

 

          Kyuhyun berkata jujur. Entah bagaimana tadi sebelum mereka berangkat ke sekolah, Siwon memantrainya dan rasa sakit dan nyeri di sekitar selangkangannya tiba-tiba secara ajaib menghilang. Ada baiknya juga mempunyai kekasih seorang penyihir, pikir Kyuhyun.

 

          “Baguslah. Ayo masuk kelas.”

 

          Kyuhyun mengangguk riang. Ia duduk di bangku seperti biasa. Sudah cukup lama mereka semua absen dan hampir seluruh siswa memandang mereka heran, kaget, serta ingin tahu. Terutama setelah kematian Kibum.

 

          “Hyung, sebenarnya, dia ada dimana sekarang?” tanya Kyuhyun begitu melihat bangku di sampingnya kosong. Ia jadi teringat Kibum.

 

          “Mungkin ada di hutan, tidur.”

 

          “Oh.”

 

          Kyuhyun menatap bangku itu lagi. Merindukan sahabat terbaiknya itu. Sepi rasanya tanpa sosok Kibum yang selalu digodanya. Ada sesuatu yang hilang dan ia sedih karena itu.

 

          Pelajaran cepat selesai. Kecuali kenyataan bahwa Kyuhyun selalu keliru dan mengulang-ualng kembali berbagai macam sihir yang tidak bisa dihafalnya dengan mudah. Karena Siwon yang terus mempelototinya, Song sonsaengnim membiarkan Kyuhyun duduk meski dia belum bisa mempraktekkan apa-apa. Seluruh siswa menghela nafas. Bosan. Selalu seperti itu. Berlindung dibalik nama besar Siwon sudah menjadi kebiasaan Kyuhyun. Karena itulah, mereka kesal dengannya dan juga karena faktor darah manusia dari Kyuhyun.

 

          “Baby, sudahlah, tidak apa-apa.”

 

          Kyuhyun tengah mendiamkan Siwon yang selalu melindunginya. Ia ingin mandiri, ingin menunjukkan pada mereka bahwa dia bisa melakukannya tanpa bantuan Siwon.

 

          “Masa bodoh denganmu, Choi Siwon-sshi.”

 

          Donghae tidak mau ikut campur. Ia lebih memilih mengikuti teman-temannya keluar kelas. Mungkin ke kantin atau ke perpustakaan. Dan tinggallah mereka berdua di kelas. Hening. Sampai Siwon membuka suaranya.

 

          “Jadi, kau mau apa?”

 

          “Jangan membantuku lagi seperti tadi. Kau tahu, mereka semakin membenciku karena hal tadi.”

 

          Siwon mendekati Kyuhyun dan duduk disampingnya.

 

          “Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji. Jangan marah, baby.”

 

          Kyuhyun mengangguk imut dan memeluk Siwon kencang. Jika Siwon manusia biasa, pasti ia sudah kehabisan nafas.

 

          “Saranghae, hyung. Noeumu saranghae.”

 

          Siwon tersenyum lembut.

          “Nado, Kyu. Nado saranghae.”

 

          Mereka berpelukan lama seperti tidak ada yang rela melepasnya. Hingga suara Siwon terdengar di telinganya dan Kyuhyun yang menegang karenanya. Ia tidak bisa mengekspresikan hatinya saat ini.

 

          “Kyu, maukah kau menikah denganku?”

 

          Kyuhyun tanpa berfikir panjang. Tanpa memperdulikan perbedaan diantara mereka, dunia mereka yang berbeda, mengangguk setuju dan mereka tertawa bersama. Siwon berkali-kali mengecup bibir Kyuhyun lembut. Menyalurkan seluruh

kegembiraan hatinya.

 

          “Seharusnya kau melamarku ditempat yang romantis, pabbo!”

 

          Siwon mencium kening Kyuhyun lembut. Meresapi harum wangi manusia Kyuhyun yang seharusnya membuatnya marah, kesal, dan intuisi membunuh yang bisa saja meninggi tapi, bersama Kyuhyun, segalanya berubah. Sifat dinginnya menjadi lebih manusiawi dan cintanya terbalaskan. Bukankah ini kehidupan yang sempurna?

 

 

Didalam kastil istana, daerah lembah, 12 Oktober 1967.

 

 

          Istana begitu sunyi. Sejak kematian Yunho, tak banyak pergerakan yang berarti dari pihak istana. Hanya masih terdapat sisa dari pemakaman kemarin. Tak banyak yang datang kecuali petinggi negara atau rakyat jelata yang menyaksikkan dari luar gerbang.

 

          Kris berdiri di depan jendela. Menatap udara kosong yang membuat hatinya lebih tenang. Entahlah, apa ia harus sedih atau gembira. Bagaimanapun, Yunho tetaplah anak kandungnya. Meski sejahat apapun Yunho, ia tetap menyayangkannya. Begitu juga Siwon, sebenarnya, jauh didalam lubuk hatinya, ia tidak ingin membunuh putra bungsunya itu. Ia hanya ingin mengambil miliknya kembali. Apakah itu sulit?

 

          “Selamat siang, Yang Mulia Master.”

 

          Sungmin datang membawa satu keranjang obat-obatan herbal yang digunakan untuk menyembuhkan luka Kris. Sihir biasa tak mampu melakukannya.

 

          Kris menoleh dan menghampiri Sungmin.

 

          “Anda tampak masih sama. Apakah separah itu lukanya?”

 

          Kris mengangguk singkat lalu mengambil dedaunan yang dicampur dengan beberapa ramuan yang diracik oleh Sungmin sendiri. Sakit saat ramuan itu menembus kulitnya. Ia menahan sakit dengan meringis.

 

          “Apakah anda akan berhenti? Anda akan merelakannya?”

 

          Kris menghentikan pergerakannya lalu menatap Sungmin dalam. Ada kesedihan, tak rela dan juga kasih sayang. Kris hanyalah seorang suami dan ayah yang sangat rapuh. Sungmin tersenyum lembut lalu berganti mengobati luka Kris dengan tangannya.

 

          “Saya tahu anda bingung.”

 

          “Aku masih ingin memilikinya.”

 

          Pergerakan tangan Sungmin berhenti. Untuk sesaat, ia kecewa mendengar pengakuan Kris.

 

          “Tetapi, aku juga ingin memeluk Siwon dan menghabiskan sisa hidupku bersama dengannya.”

 

          Sungmin tersenyum tipis.

 

          “Apa keputusan anda, Yang Mulia?”

 

          “Aku ingin memiliki keduanya.”

 

          Sungmin tercengang. Kris sekarang banyak berubah semenjak kematian Yunho tetapi, tatapan intimidasi dan juga obsesi masih memenuhi seluruh kemauannya. Sungmin yakin, cara yang akan ditempuh Kris tetaplah sama, cara kekerasan. Dan memiliki Kyuhyun dalam artian yang tidak pernah berubah.

 

          “Anda tidak pernah berubah, Yang Mulia.”

 

          Sungmin tidak banyak bicara setelahnya. Ia hanya melakukan tugasnya mengobati Kris lalu pergi dari kamarnya. Waktu cepat sekali berlalu. Sungmin yang sudah sedikit baikan, melakukan rutinitasnya yaitu mengecek beberapa koridor di sekitar kastil. Ia melihat beberapa patroli berpencar dan melakukan tugasnya dengan baik.

 

          Semakin malam, semakin dingin. Hawanya sedikit berbeda dari terakhir Sungmin bisa rasakan. Perasaannya semakin tidak karuan ketika melihat sekelebat bayangan hitam melintasi wajahnya. Jauh berada di langit-langit malam tapi Sungmin dapat merasakannya. Ia berbalik dan melompat menuju bayangan itu.

 

          “Brengsek! Siapa kau? Berhenti!”

 

          Sungmin berteriak keras dan orang itu mendengar. Ia berhenti dan menunggu Sungmin dari belakang. Lompatan yang cepat dan lari seperti kilat. Ini seperti keahlian milik Lee Donghae. Apakah mungkin?

 

          “Apa kabar, Sungmin-sshi?”

 

          Sungmin tersenyum meremehkan. Ternyata Donghae. Bukan masalah baginya karena kekuatan Donghae jauh diatasnya. Ia bukannya sombong, ia hanya tahu dengan jelas level diantara mereka.

 

          “Ternyata kau.”

 

          Meremehkan. Itulah sorot mata yang bisa ditangkap oleh Donghae. Tapi, ia tersenyum begitu sosok lainnya muncul dari balik tubuh Donghae. Sosok yang mampu membuat Sungmin menjadi ciut nyali dan mulai was-was. Kali ini, Donghae tersenyum penuh kemenangan.

 

          “Kau? Kau belum mati?”

 

          “Tentu saja. Kau kira aku akan mati semudah itu?”

 

          Sungmin memasang kuda-kudanya. Bersiap melakukan apa saja untuk mempertahankan dirinya.

 

          ‘Sial! Seharusnya, aku bisa menduganya. Kuharap meninggalkan Yang Mulia disana tidak apa-apa.’

 

          Malam itu pula, malam yang sama yang dirasakan oleh Kris. Ketakutan ketika melihat wajah anaknya menyeringai dari balik jendela dan menembus temboknya. Ia bisa saja berteriak meminta tolong pada patroli yang ada dibawah ataupun kepada dayang dan pelayan yang selalu siap siaga di luar kamarnya. Tapi, itu melukai harga dirinya. Meskipun kini ia sedang terluka parah, pantang baginya untuk meminta bantuan oranglain.

 

          “Aboji.”

 

          Mereka saling menatap hingga sebuah suara halus yang sangat dihafal oleh Kris membuatnya tak lagi fokus menatap Siwon.

 

          “Aku akan membunuhmu, Kris!”

 

          Pistol revolver yang memiliki satu peluru picu yang khusus dibuat Kibum untuk membunuhnya. Bau gas yang dicampur dengan beberapa mantra-mantra yang dapat membunuhnya telak di jantung. Kyuhyun tanpa ketakutan ataupun ragu, mengarahkan pistol itu tepat di depan dadanya. Kris mematung. Apakah hidupnya akan berakhir ditangan orang yang dicintanya? mendiang istrinya sendiri? ataukah…

 

DOR!

 

          “Berhenti!”

 

 

TBC.

 

Iklan

80 thoughts on “The Melody Chapter 9

  1. Hua akhirna update juga the melodyna hehe..chingu widy imnida q prnh absen di ff ini yp knlan kg g apa2 heh3..q wonkyu shiperr and ff km nuii jd slah stu yg tak tunggu2 hehe..jalan ceritnya g hanya percintaan tapi juga prshbatan pokoknya mantep..chingu boleh kinya pw iyk the melody chpter 10 g?? Hehe…heem da pin bb biar bsa ngbrol2 and slang knal hehe

  2. siapa yang berteriak itu??
    apa itu kyu?
    kris menginginkan siwon dan kyu sbg anak dan istrinya bgtu kah??
    wah pertempuran akan segera dimulai..

  3. Woaaaaa ketinggalan aku…
    Hufft kirain kibum beneran mati -,- dan kata TBC itu membuat mata suakit sumpah ‘-‘)V DORRR
    dan oh sabrina-ssi…knp nmrnya ga aktif?mau minta pw -_-

  4. Wah menegangkan sekali,,,,
    Wah penasaran sama kelanjutannya,,,
    Keren bgt ffnya,,,
    Kasihan kris,,, walaupun jahat,,, tapi tetap kasihan kalau dia mati,,,,
    Yahhhh nc nya koq d skip,,,,
    Huhuhu
    Ceritanya bagus,,,

  5. yaaaahhhhhhhh aku telat pake banget, baru tau kalo udah update …
    sabrina bener – bener bikin tegang krain kibumnya benerat meninggal huftt untung aja gak ..
    aku seneng banget kyu udah balik lagi sama siwon bahkan mereka udah eham-malampertama-ehem, gak sabar jga nunggu mereka nikah hhe … 🙂

  6. Sabrina-sii gimana caranya minta pw,,, ???
    Tapi aku gak punya email,,,,
    No sabrina gak aktif,,,
    Bleh minta pwnyakan ???

  7. Waaahhhh mkin seru ja ni ff,,, wah ktingglan nih q ny baru tahu klo ff ny dh updet,,, athooorrr minta pw nya chap 10 dong pleeeessss
    K fb q ( anna nabiila ) ato twit q ( @annaarafat) pleeesss, pnsaran sma lanjutannya

  8. Huweeee sabrina-ssi T.T
    cara dpt pw ch 10 gmn?nmrmu ga aktif,nmrmu yg dlu buat bls wktu minta pw ch 6 ke hapus…eotteohke eotteohke??

  9. anneyoung saya readers yang bru bisa koment. hhe
    Aku baca beberapa ff karya kaka dan sedang fokus bca The Melody dan baru mendapatkan pw dari kaka lewat Ka Tishu.
    Fighting yaa *^_^*

  10. Wuah…wuah…ini ff semakin menarik saja.
    Syukurlah Kyuhyun bs kmbli bersama orang2 terrkasihnya dinegei yg memiliki bnyk kisah untuknya.
    Apa pada akhirnya Kris akn terbunuh jg????
    Krna chap 10 di proteck ..mian ga bs ikut bc lagi Eonni …#andai aq tau cara mndapatkan pw dari mu Eonni.

    Jeongmal gumawo…fighting!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s