My Husband, Hotter Than My Fantasy Chapter 3

Pairing : Wonkyu, slight ChanKyu.
Cast : Cho (Choi) Kyuhyun, Choi Siwon, Park Chanyeol, Kim Ryeowook, Kim Kibum, Heechul, Jaejoong, dll.

Happy Reading…
Dont Like, Dont read!

Sebelumnya :
“Kyu, tenanglah. Kita hanya harus mengerjainya, kan?”
Ryeowook adalah teman satu jiwanya. Bersatu untuk mengerjai dan membuat kesal semua teman-teman sekelas, guru-guru baru dan juga adik kelas mereka yang terlihat lemah untuk dibully. Kibum menoleh dan membenarkan letak kacamatanya.
“Oh. Begitu. Baiklah, aku ikut.”
Kyuhyun tertawa lebar dan masih menatap Siwon yang balas menatapnya tersenyum.
‘Mati kau Choi Siwon!’

Chapter 3

Siang itu, Kyuhyun tidak makan di kantin seperti biasanya. Ia justru lebih memilih duduk di kursi depan halaman sekolah mereka. Melihat pertandingan basket dan memberi dukungannya pada Chanyeol yang sedang menggiring bola basket dan menjadi kapten dalam timnya. Kyuhyun bahkan menggunakan spanduk dan meneriaki nama Chanyeol berulang-ulang. Ryeowook menutupi wajahnya karena malu sedangkan Kibum, kabur ke perpustakaan.

“Ya! Kyu, pelankan suaramu! Aku malu.”

“Kenapa harus malu, Wookie?”

Ryeowook mendelik dan memukul kepala Kyuhyun menggunakan botol minumannya. Seketika, Kyuhyun menatapnya garang.

“Kau tanya, kenapa harus malu?” Ryeowook menatap tak percaya lalu melanjutkan, “Bagaimana aku tidak malu jika kau membawa spanduk dan berteriak seperti seorang gadis. Kau lihat, seluruh siswa menatapmu aneh, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun menatap sekeliling dan nyengir.

“Oh, benar. Habisnya, Chanyeol terlihat keren dan kau ingat ini adalah pertandingan final.”

“Lalu?”

“Tentu saja Chanyeolli harus menang.”

Ryeowook menyerah. Berdebat dengan Kyuhyun tidak ada gunanya. Pemuda mungil itu mengambil lolipopnya dan memakannya cepat. Permen manis adalah pengalihan dari perasaan badmoodnya.

Kyuhyun masih ajeg meneriaki nama Chanyeol tetapi tiba-tiba berhenti ketika melihat sesuatu. Karena penasaran kenapa Kyuhyun diam, Ryeowook melihat apa yang membuat Kyuhyun tiba-tiba diam itu. Dan gotcha! Tentu saja yang mampu membuat Kyuhyun diam adalah Byun Baekhyun. Pemuda cantik dan manis yang dikabarkan menyukai sunbae mereka, Chanyeol. Ryeowook tersenyum misterius.

“Ini minumannya, sunbae.”

Kyuhyun makin cemberut.

“Ah, terima kasih, Baek. Kebetulan aku haus sekali.”

Chanyeol menerimanya dan langsung menghabiskan minuman itu. Ia tak menyadari bahwa Kyuhyun kini mengeluarkan aura hitam yang mengerikan.

“Wah, wah, wah. Kau lihat. Mereka romantis sekali, Kyu-ah.”

“Diam kau Wookie!”

Ryeowook makin gencar menggodanya.

“Aku tidak yakin Chanyeol sunbae benar-benar menyukaimu. Bisa saja, kan dia itu berpura-pura menyukaimu untuk mendekati Baekhyun. Apalagi, Baekhyun adalah sahabatmu. Benar, kan?”

Kyuhyun menoleh tak suka dengan arah pembicaraan Ryeowook.

“Ups, mantan sahabat maksudku.”

“Dia menyukaiku, Wookie.”

“Menyukai itu berarti tidak selingkuh, Kyu.”

Kali ini Ryeowook tidak ingin menggodanya lagi. Perkataannya ini bukanlah penghinaan tapi, sebuah nasehat. Memang, dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang bahagia, sebelum Baekhyun mulai merayu Chanyeol dan Chanyeol yang saat itu sedang ingin main-main tertangkap basah berciuman dengan Baekhyun. Tentu saja Kyuhyun terluka. Ia bahkan belum pernah berciuman dengan Chanyeol dan justru melihat Chanyeol mencium oranglain.

“Aku membencinya.”

“Siapa? Chanyeol atau Baekhyun?” tanya Ryeowook bingung.

“Keduanya.”

Ryeowook menghela nafas dan menatap mereka berdua kesal. Kyuhyun sempat terpuruk karena itu dan Chanyeol, tanpa tahu malu terus memanggil Kyuhyun dengan panggilan semasa mereka berpacaran dulu. Benar-benar muka tembok!

“Dia masih mengejarmu sampai sekarang?”

Kyuhyun mengangguk imut.

“Kau berjanji untuk menolaknya, kan?”

“Aku menolaknya.” Sergah Kyuhyun tak terima.

“Dan sekarang, kenapa kau meneriakinya seperti seorang fans?”

“Aku hanya ingin berteman dengannya. Selama empat tahun ini, aku memiliki hubungan yang canggung dengannya.”

“Kau sudah memiliki Siwon, Kyu.”

“Aku tahu.”

Kyuhyun tersenyum tipis. Ia menatap Chanyeol cukup lama dan seperti kata orang, Chanyeol ikut menatapnya balik karena merasa diperhatikan. Kyuhyun membuang mukanya lagi.

“Kita pergi, Wookie.”

“Kyuhyun-sshi!” Sebelum mereka sempat beranjak, Chanyeol telah terlebih dahulu memanggil namanya. Kyuhyun panik. Ia ingin pergi tetapi kaki-kaki panjangnya seolah tak bisa digerakkan sama sekali. Jadilah ia disini, menunggu Chanyeol menghampirinya.

“Kau mau pergi kemana? Tidak mau mengucapkan selamat padaku. Aku menang, lho.”

Kyuhyun mendengus, orang bodohpun tahu jika kau menang. Bagaimana tidak tahu jika pria kelebihan tinggi ini berteriak mengelilingi lapangan dan mengucapkan kemenangannya. Persis seperti orang bodoh.

“Ke kantin,” ucap Kyuhyun, kembali jutek. Chanyeol mengerutkan keningnya. Ia kira Kyuhyun akan bersikap baik padanya karena baru saja ia menyemangatinya ternyata, Kyuhyun memang seperti angin. Tidak mudah ditebak.

“Ah, kebetulan sekali. Aku juga lapar. Mau pergi bersamaku?”

“Tidak. Pergi saja bersama Baekhyun. Kau tidak lihat? dia terus menatap kita dengan tatapan mengerikan seperti itu. Aku pergi, Park Chanyeol-sshi.”

“Tunggu.”

Terlambat. Suara Chanyeol kalah cepat dengan langkah kaki Kyuhyun. Ia hanya bisa menatap pemuda manis yang telah lama diinginkannya itu. Bodohnya dirinya dulu pernah melepasnya meski, hubungan mereka saat itu masih terbilang baru dan Chanyeol sempat merasa bahwa dengan berlalunya waktu, ia akan cepat melupakan Kyuhyun namun, ternyata tidak. Waktu empat tahun bahkan tidak mampu membuatnya melupakan cinta pertamanya itu. Park Chanyeol, kau sungguh bodoh!

Kantin saat ini penuh sesak dengan siswa yang mulai berkelahi dengan beberapa siswa lainnya. Guru-guru mulai berdatangan melerai mereka, termasuk Siwon. Ia dengan tegas dan sedikit kemampuan bela diri mampu membuat anak-anak itu diam seketika.

Kyuhyun yang memang dasarnya cuek, tidak terlalu perduli dengan suasana yang mendadak menjadi mencengkam saat Tao, siswa pindahan dari China mulai kembali berkelahi dan karena kemampuan bela dirinya yang mumpuni, terlebih ia mempelajari teknik wushu, pertengkaran tak dapat dielakkan lagi. Kantin menjadi rusuh. Siwon menyuruh beberapa siswa untuk memanggil guru lain karena ia sendiri kewalahan.

BRANG!!!

Makanan Kyuhyun terjatuh ketika siswa yang berkelahi dengan Tao menyenggol nampan yang dipegang Kyuhyun, tentu saja tanpa sengaja.

“Maaf, Kyuhyun-sshi.”

Pria itu membungkuk begitu tahu mencari gara-gara dengan si biang kerok yang selalu berlindung di balik Chanyeol, sang bos besar di sekolah mereka. Mereka segan dan takut dengan Chanyeol.

“Berikan aku kupon makananmu.”

“Nde?”

Pria itu mungkin salah dengar jadi, dia bertanya pada Kyuhyun.

“Kau menjatuhkan makananku jadi, aku butuh kupon makananmu. Atau, kau memang sengaja melakukannya? Kau ingin aku kelaparan di jam siang seperti ini?” tanya Kyuhyun lembut namun berbahaya. Seluruh kantin hening, menatap keduanya.

“Ah, tentu saja. Ini kupon saya, Kyuhyun-sshi.”

“Baiklah. Terima kasih, hm…”

“Kim Jongin imnida.”

“Terima kasih, Jongin sunbae.”

Kyuhyun tersenyum manis dan membuat pria-pria disana untuk sesaat menatapnya kagum. Kyuhyun memang manis dan kulit pucatnya memang selalu bisa mengundang oranglain untuk betah menatapnya lebih lama.

Kantin menjadi lebih tenang dan Siwon lebih bisa mengendalikan keadaan. Siwon kemudian menghampiri Kyuhyun dan duduk di samping pemuda manis itu. Ia juga sempat bertegur sapa dengan Ryeowook yang pernah ditemuinya di pesta pernikahan.

“Kyu, bagaimana mereka bisa bersikap baik padamu?” tanya Siwon penasaran. Kyuhyun mengendikkan bahunya tanda tak tahu, atau tak mau tahu.

“Tentu saja karena mereka takut pada Park Chanyeol. Siapa lagi.”

Kyuhyun mendelik menanggapi ucapan polos dari Ryeowook itu. Sebenarnya, dia berada di pihak mana sih?
“Chanyeol? Lagi-lagi dia. Kau ada hubungan apa dengannya?”

Raut wajah Siwon berubah tegas. Tatapan matanya menjadi tajam bagai pedang. Kyuhyun yang gugup menjawab,

“Dia teman baikku. He is my best friend, oke?”

“Kau yakin? Sepertinya dia menyukaimu.”

Pancing Siwon tapi Kyuhyun tetap diam tak terpancing.

“Baiklah.”

Kyuhyun melihat pelipis Siwon yang berdarah karena melerai anak-anak bengal itu. Ia sedikit khawatir, teringat bagaimana Siwon kemarin merawatnya saat ia sedang kedinginan. Ada perasaan cemas saat Siwon seperti menahan sakit ketika tangannya memegang pelipisnya sendiri.

“Obati lukamu agar tidak infeksi, sonsaengnim.”

“Ini bukan masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Kyuhyun menatap Siwon datar dan tak mencegahnya untuk pergi. Ryeowook yang kesal, menepuk kepala Kyuhyun lagi.

“Akh! Sakit, Wookie. Kau ini apa-apaan, sih?”

“Kau ini! Suamimu terluka dan kau membiarkannya begitu saja?”

“Lalu aku harus bagaimana? Dia sudah dewasa, dia bisa mengobati lukanya sendiri.”

“Bagaimanapun, dia tetap suamimu. Dan sebagai istri yang baik, kau tetap harus melakukan tugasmu dengan baik, Kyu.” Ceramah Ryeowook singkat. Kyuhyun cemberut dan berfikir. Benar juga. Lagipula, hitung-hitung sebagai balas budi karena perlakuan Siwon kemarin.

“Hah. Arraseo. Kalau begitu, aku akan mengobatinya.”

“Baguslah. Cepat sana pergi,” ujar Ryeowook cekikikan, ia cuek saja ketika Kyuhyun masih saja mendumel ini-itu seolah-olah ia tidak perduli. Ryeowook telah mengenal Kyuhyun semenjak sekolah dasar, ia tahu betul bahwa sebenarnya, Kyuhyun juga mengkhawatirkan keadaan Choi Siwon.

“Dasar pembohong! Aku tahu kau merindukannya, Kyuhyun-ah.”

Ryeowook tersenyum menatap Kyuhyun yang kini telah pergi menjauh. Teringat bagaimana hari-hari yang dilalui Kyuhyun semenjak kepergian Siwon ke luar negri. Terpuruk, sering melamun, itulah yang dilalui Kyuhyun ketika salah satu tempatnya bergantung pergi meninggalkannya dan kehadiran Chanyeol yang selalu membuat Kyuhyun tertawalah yang membuat seorang Cho Kyuhyun mulai melupakan kesedihannya.

Ryeowook tersenyum dan ia tidak yakin bahwa Chanyeol yang mudah terhasut dan mudah goyah akan bisa membahagiakan Kyuhyun. Ia yakin Siwonlah suami yang terbaik untuk Kyuhyun. Setidaknya, itulah pikiran polos seorang Kim Ryeowook.

……………………………………………………………………………………………

“Sonsaengnim?”

Kyuhyun menyembulkan kepalanya melirik Siwon yang kini terduduk di ranjang klinik sekolah dengan tatapan yang lugu dan mata bulatnya yang menggemaskan.

Siwon sempat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Kyuhyun dan hampir menjatuhkan botol-botol disana. Kyuhyun nyengir, “Maaf membuatmu kaget, sonsaengnim.”

“Aish! Ada apa? Kenapa kau hobi sekali membuatku kaget, sih?”

Kyuhyun merasa itu bukan pertanyaan. Maka dari itu, ia tidak menjawabnya.

“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja. Ternyata, kau baik-baik saja.”

“Tentu saja. Kau kira aku akan mati.”

Kyuhyun tertawa. Ia mengambil alkohol dan kapas lalu mengoleskannya ke pelipis Siwon. Siwon hanya diam sambil beberapa kali mengaduh kesakitan. Kyuhyun menekannya agak keras, sengaja atau tidak?

“Lain kali, jangan sok jagoan jika kau tidak bisa menghadapi mereka. Kau tahu, Tao itu pemegang mendali emas untuk kejuaraan wushu dan Kai, panggilan akrab Jongin tadi, adalah preman yang ditakuti di sekolah karena pintar berkelahi.”

“Apa kau seksi tata usaha? Sok tahu sekali.”

Kyuhyun menekan luka itu lagi.

“Akh! Sakit, Kyu. Kau ini!”

“Aku memberi tahumu, Choi Siwon, bukan karena aku sok tahu.”

“Oke, oke, Ny. Choi. Aku mengerti. Sekarang, cepat obati aku dan jangan menekan-nekan lukaku lagi.”

“Aku tidak mau!”

Kyuhyun berhenti, tidak mau diperintah-perintah oleh Choi Siwon. Dia disini membantu bukan pembantu.

“Kau tidak mau?”

“Tidak. Obati saja sendiri!”

Siwon menatapnya aneh, sama seperti tatapan saat di mobil dulu, tatapan yang berakhir dengan ciuman pertamanya yang diambil secara paksa dulu. Jika mengingatnya, Kyuhyun ingin sekali menendang pantat Siwon.

“Ahhh… Apa yang kau laku-nggh, lakukan, bodoh!”

Siwon menyeringai. Ia melakukannya lagi. Mengurut junior Kyuhyun didalam celananya. Kyuhyun mendesah lagi tapi juga memukul Siwon dan menjauh sejauh-jauhnya.

“Jika kau tidak ingin aku berbuat yang aneh-aneh padamu, lanjutkan pekerjaanmu tadi,” ucap Siwon santai.

Kyuhyun mengumpat. Suaminya ini selalu berfikiran kotor dan juga mesum. Jadi, mau tak mau, ia kembali mengobati Siwon dengan menggerutu di dalam hati.

“Aku suka baumu, istriku.”

Kyuhyun serasa ingin menjedotkan kepala Siwon ke tembok begitu mendengar kata ‘istri’ yang keluar dari mulut Siwon, tapi diurungkannya karena bayangan Jaejoong yang pasti akan menjeburkannya ke sungai Han.

“Wangi, sama seperti dulu.”

DEG. Kyuhyun terdiam. Dulu, seingatnya, Siwon memang sering menyebutnya wangi dan juga memujinya banyak hal, salah satunya adalah betapa manis dan cantiknya Kyuhyun, atau betapa pintar Kyuhyun diantara anak seusianya dulu.

Wajah Kyuhyun memerah mengingatnya.

Siwon tidak bisa melihat warna kemerahan itu karena ia sedang dalam posisi duduk di ranjang dan matanya tepat menatap dada Kyuhyun. Entah apa yang difikirkan lelaki mesum itu. Mungkin, sesuatu mengenai dada Kyuhyun.

“Kyu?”

“Apa?”

“Bolehkah aku menjilati dadamu selagi kau mengobatiku?”

Plak!

Kyuhyun memukul kepala Siwon dan kemudian tersadar telah menyakiti sang suami. Ia buru-buru minta maaf dan beralasan reflek. Siwon tidak begitu saja memaafkannya, ini kesempatan bagus untuk mengerjainya. Benar, kan?

“Maaf, hyung. Sungguh, aku tidak sengaja.”

“Kau memukulnya terlalu keras, Kyu! Aku bisa gagar otak karenamu.”

“Ayolah, jangan manja, hyung. Maafkan aku, oke?”

“Tidak bisa. Aku hanya bercanda tapi kau menanggapinya serius bahkan juga memukulku terlalu keras. Aku akan mengatakan pada Jaejoong umma kau telah memukulku.”

Kyuhyun merengut. Terakhir, tidak ada kartu kredit karena Siwon mengadukannya ke ummanya, sekarang? Apalagi yang akan dilakukan ummanya untuk menghukumnya? Menyita kaset-kaset game miliknya? Atau sesuatu yang lebih parah. Aish, Siwon ini!

“Aku tidak akan mengadu, asal kau mau melakukan satu hal untukku. Bagaimana?” tawar Siwon, menyeringai.

Kyuhyun yang merasa ada tanda-tanda bahaya, segera menjauh untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.
“A-apa itu, sonsaengnim?”

Kyuhyun semakin mundur ketika Siwon menghimpitnya ke tembok. Sial, Kyuhyun bahkan tidak bisa berkutik sekarang.

“Kau cantik, Kyu.”

Kyuhyun tidak tahu harus bicara apa. Wajahnya memerah tanpa alasan yang jelas dan Siwon semakin mendekat. Karena panik, Kyuhyun tidak sengaja menyikut dagu Siwon keras membuat suaminya itu mengaduh kesakitan dan mundur ke belakang.

“Ya! Kyu!” Siwon berkata keras. Kenapa setiap bersama Kyuhyun, selalu ada saja bagian tubuhnya yang terasa sakit.

Kyuhyun tertawa aneh.

“Maaf, hyung. Ini untukmu.”

Kyuhyun kemudian merogoh kantung seragamnya dan menempelkan plester bermotif dinosaurus ke pelipis Siwon. Siwon tersenyum ketika melihat betapa telatennya Kyuhyun sekarang. Belum sempat ia berterima kasih, Kyuhyun sudah berlari terlebih dahulu. Siwon tersenyum dan memegangi pelipisnya sendiri. Mungkin, Kyuhyun memang tidak seburuk yang ia kira.

……………………………………………………………………………………………

Kyuhyun mondar-mandir. Ia berkali-kali mengecek tas ranselnya. Mengeluarkan isinya lalu mencari ke loker yang ada di sudut ruang kelas. Tapi nihil. Barang kesayangannya hilang. Dan Kyuhyun panik sekali. Menggegerkan kelas yang saat itu sedang kosong karena pergantian kelas.

“Kau mencari apa, Kyu? Panik sekali.”

“Wookie… Gelangku. Dimana gelangku?”

“Gelang? Gelang yang kau gantung di ponselmu? Tidak ada?”

“Iya. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ada.”

Kyuhyun duduk dengan tidak bersemangat. Bukan karena gelang itu mahal sama sekali bukan. Itu hanya gelang berbentuk kerang yang murah yang bisa ditemukan di pasar. Tapi, yang jadi soal adalah kenangan dan history gelang itu sendiri.

“Apa tadi kau menggunakan ponselmu?”

“Tadi malam masih ada dan tadi pagi aku juga masih melihatnya kok.”

Kibum ikut mengomentari sambil mengutak-atik Iphone miliknya.

“Sudahlah, Kyu. Mungkin itu pertanda kalau kau harus melupakannya.”

Ryeowook menyetujui perkataan Kibum. Dan Kyuhyun hanya diam. Entahlah. Ia tidak bisa membedakan mana benci dan mana cinta ketika itu menyangkut Park Chanyeol. Ia membenci pria itu, juga Baekhyun tapi, jauh di alam bawah sadarnya, ia merindukannya. Dan juga, ada bagian dalam dirinya, masih ingin memilikinya. Bukankah itu aneh?

Baekhyun yang tak jauh dari bangku tempat mereka duduk hanya tersenyum tipis. Ia menatap gelang yang dimaksud Kyuhyun dari balik tasnya. Menyembunyikannya dari Kyuhyun.

“Baekhyun-sshi.”

Baekhyun sontak menoleh saat Kyuhyun memanggilnya. Ia tersenyum.

“Ne, Kyuhyun-ah.”

“Kau mencurinya, kan? Gelangku. Kau pasti yang mengambilnya.”

Baekhyun berpura-pura terkejut.

“Ya, Tuhan! Kyu. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu. Aku tidak tahu apa-apa,” ujarnya sok polos dan mendramatisir. Kyuhyun ingin muntah rasanya. Ia muak melihat sikap sok lugu yang selalu ditunjukkan oleh Baekhyun. Inilah mengapa ia bisa kecolongan dan tidak menyadari bahwa Baekhyun menggoda kekasihnya.

“Lalu siapa? Siapa lagi yang tertarik mencuri barang murahan seharga delapan puluh won itu selain kau. Kau ingin memilikinya. Kau ingin menghapus semua kenanganku mengenai Chanyeol.” Teriak Kyuhyun keras sekali. Ia emosi, tanpa sadar tidak bisa mengendalikan suaranya. Seluruh siswa menatap keduanya dan seketika kelas menjadi hening.

Baekhyun merunduk, memasang wajah hampir menangis.

“Kau tega sekali, Kyu. Aku tidak mungkin mencurinya. Aku menyukai Chanyeol sunbae dan aku fikir karena kau dekat dengannya, aku ingin menjadi temanmu dan menjadi lebih dekat lagi denganmu. Tapi, kau justru menuduhku seperti itu,” lirih Baekhyun, hampir serak suaranya karena menahan tangis.

Seluruh siswa menatapnya iba kecuali Ryeowook dan Kibum yang hanya memandangnya datar. Tentu saja mereka tahu seperti apa Baekhyun itu. Mereka berempat dulunya adalah teman akrab semasa SMP.

“Jangan berpura-pura seperti itu, Baekhyun-sshi.” Kyuhyun tahu itu hanya akting. Baekhyun memang pandai berakting. Meski, ia sedikit ragu. Tentu saja, karena Kyuhyun bukan tipikal orang yang punya penilaian buruk seratus persen terhadap oranglain.

Baekhyun hampir menangis dan Luhan, siswa pertukaran pelajar dari China memeluknya dan melotot ke arah Kyuhyun.

“Kau keterlaluan, Kyu-sshi.” Luhan membela Baekhyun.

“Sudah, Luhan. Gwenchana.”

Baekhyun tersenyum kemudian menatap Kyuhyun yang masih terpaku. ‘Aku menang, Kyu. Mati kau!’

Baekhyun melepas pelukan Luhan dan menghampiri Kyuhyun.

“Maaf jika aku membuat kau kesal, Kyu-ah. Tapi, sungguh aku tidak tahu mengenai gelangmu.”

“Kalau begitu, aku akan geledah isi tasmu,” ucap Kyuhyun tiba-tiba. Baekhyun terdiam. Jantungnya berdebar keras dan ia mulai ketakutan. Menyadari gelagat Baekhyun yang menegang, Kyuhyun yakin Baekhyunlah pelakunya. Meskipun, pria mungil itu mampu menyembunyikan ekspresinya dengan sangat baik.

“Bagaimana? Tentunya jika kau bukan pencurinya, kau pasti tidak keberatan, kan?” tantang Kyuhyun sedikit senyum manis.

“Benar. Supaya Kyuhyun-sshi yakin bahwa pelakunya bukan Baekhyun, aku rasa itu ide yang bagus.” Celetuk Eunhyuk. Ia netral dalam hal ini.

Baekhyun masih diam.

“Kurasa Baekhyunlah pencurinya.”

Bisik-bisik teman satu kelas membuat Baekhyun kesal. Ia langsung berteriak dengan mata yang hampir menangis.

“Tentu saja tidak. Baiklah. Kau boleh menggeledah tasku, lokerku dan juga bajuku. Kau tega sekali menuduhku pencuri barang murahan itu, Kyuhyun-sshi.” Baekhyun menatap Kyuhyun penuh kebencian.

“Dengan senang hati. Sekarang minggir.”

Kyuhyun mengambil tas ransel Baekhyun dan sebuah suara yang amat dikenalnya, membuatnya berjingkrak kaget dan tas itu sontak terlepas. Ternyata, Siwon masuk ke kelas dan menggagalkan rencana Kyuhyun. Mau tak mau, Kyuhyun mengembalikan tas itu ke Baekhyun yang menampilkan raut wajah yang lega luar biasa.

“Anak-anak. Mari kita mulai kelas pada jam kelima ini. Kyuhyun-sshi, silahkan duduk. Baekhyun-sshi, kembali ke bangkumu. Dan Luhan, bangkumu kosong dan berhenti mengunyah permen karet selama jam pelajaran berlangsung!”

Luhan nyengir lalu kembali ke bangkunya setelah membuang permen karet itu ke dalam kertas dan memasukkannya ke dalam tong sampah.

Siwon tersenyum puas.

“Nde. Terima kasih, Luhan-sshi. Jadi, kelas kita akan dimulai dengan perkenalan mengenai sejarah dinasti Joseon. Ada yang bersedia membacakannya untukku?”

Kelas hening sepertinya tidak ada yang berminat.

“Saya, Choi sonsaengnim.”

“Wah. Nde, Baekhyun-sshi. Silahkan.”

Wajah Baekhyun memerah ketika Siwon menatapnya dengan lesung pipinya yang menawan. Ia jadi sedikit gugup dipandangi seperti itu. Siwon sonsangenim benar-benar tampan.

“Silahkan dimulai, Baekhyun-sshi.”

Semua siswa diam mendengarkan ketika Baekhyun mulai membaca bukunya. Kecuali, Kyuhyun dan pria bernama Do Kyungsoo. Kyuhyun hanya kesal dengan ekspresi Siwon pada Baekhyun yang sedikit berbeda. Ia benci saat-saat dimana Siwon terus menatap Baekhyun sambil serius mendengarkan pemuda munafik itu berbicara. Ia hanya kesal.

Sedangkan Kyungsoo, ia diam bukan karena terpesona pada Baekhyun atau apa yang diucapkan apalagi terpesona pada Choi Siwon. Ia hanya terus berfikir. Tadi, saat Kyuhyun mengambil tas Baekhyun, Kyungsoo melihat gelang yang dihafalnya milik Kyuhyun terjatuh. Terjatuh dan Kyuhyun tak menyadarinya.

“Kyungsoo, kau kenapa?”

Sehun menyenggol lengannya dan Kyungso terkejut.

“Ah. Tidak apa-apa.”

“Oh. Perhatikan pelajaran Choi sonsaengnim, nanti kau dihukum.”

Kyungsoo mengangguk seadanya. Lalu berbisik pada Sehun lagi.

“Sehun-ah.”

“Hm?”

“Apakah kau berfikir bahwa Baekhyun yang mencuri gelang milik Kyuhyun?”

“Hah? Kenapa bertanya seperti itu?”

“Hanya ingin tahu saja.”

Sehun menggeleng.

“Tentu saja tidak. Semua orang juga tahu mereka mempunyai hubungan yang kurang baik tapi, Kyuhyun tidak sepenuhnya salah, sih. Dia kan hanya bertanya karena gelangnya hilang dan menurutku wajar dia menuduh Baekhyun sebagai pencuri gelang itu tapi, Baekhyun-sshi, dia juga baik jadi mungkin bukan dia pelakunya. Ini hanya kesalahpahaman dan tidak ada yang salah ataupun benar.”

Kyungsoo mengangguk. Mungkin, ia tidak perlu menceritakannya pada Kyuhyun bahwa Baekhyunlah pelakunya bagaimanapun, Baekhyun tetaplah teman baiknya. Setelah ini, Kyungsoo akan mengingatkan Kyuhyun soal gelangnya yang terjatuh di bawah mejanya. Tanpa mengatakan yang terjadi sebenarnya.

……………………………………………………………………………………………

Siwon awalnya ingin melakukan banyak hal untuk rencana minggu indahnya. Pertama, membuat satu cangkir kopi dengan murfin lalu menonton televisi hingga siang hari dan terakhir kencan di hari minggu siang bersama dengan Tiffany, ataupun Sulli, terserahlah. Yah, tapi itu hanya awalnya, karena lagi-lagi, sang umma yang sangat menyayangi Kyuhyun melebihi menyayangi dirinya ternyata menyuruhnya untuk menengok Kyuhyun. Dan karena tak mau mengarang bebas bagaimana pemuda manja itu hidup mandiri jauh dari orangtua, maka Siwon melakukannya.

Berdiri di depan pintu apartement istrinya. Mengetuknya pelan.

Ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua, bunyi barang-barang yang terjatuh dan ketukan ketiga, suara dari dalam apartement semakin keras dan ribut. Siwon mengerutkan keningnya.
“Kyu, kau tidak apa-apa? Boleh aku masuk?”

Masih tak ada jawaban. Pintu juga terkunci. Mau tak mau, Siwon terus menerus mengetuk pintu semakin keras dan pada menit kedua, pintu terbuka oleh sosok yang kini mengenakan piyama bermotif jerapah lalu memandangnya datar.

“Ada apa?”

“Kenapa ribut-ribut didalam? Kau tidak apa-apa, kan?”

Kyuhyun menghela nafas panjang seraya membuka pintunya lebih lebar lagi. Disana, Siwon bisa melihat barang-barang tergeletak tak beraturan disudut ruangan. Penyedot debu, sampah-sampah plastik, tumpukan baju kotor, botol minuman yang menimbulkan bunyi saat Siwon tak sengaja menendangnya dan majalah-majalah yang tercecer di lantai. Siwon tertegun.

“Aku tadi membereskan barang-barangku sebentar tapi kau terus mengetuk pintu keras-keras. Aku gugup dan tak sengaja menyenggol keramik-keramik kesayangan eommaku.”

Kyuhyun menatap pecahan keramik yang konon, kata Jaejoong, itu sangat mahal. Habislah ia! Siwon tertawa prihatin tapi langsung terdiam saat Kyuhyun melotot padanya.

“Oke, oke. Maaf. Aku tak bermaksud menertawakanmu. Jadi, ada yang bisa aku bantu?”

Kyuhyun mengangguk dan mengambil pecahan keramik itu menggunakan tangan sontak, Siwon berteriak dan menahan jari-jari tangannya.

“Kyu, kau bisa terluka jika mengambilnya seperti itu.”

“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Kau bantu saja aku.”

Kyuhyun melepas tangan Siwon secara paksa dan tanpa sengaja, pecahan beling itu melukai tangannya. Kyuhyun reflek menjauhkan tangannya dan Siwon segera mengemut jari tangan Kyuhyun. Bermaksud menghentikan pendarahan.

“Hyung…?”

Kyuhyun terkejut. Jari-jari tangannya terasa basah namun juga hangat. Dadanya berdebar kencang dan seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.

Kyuhyun terus menatap Siwon yang tanpa sungkan terus mengemut dan menghisap jari-jari tangannya. Tidak ada perasaan jijik hanya saja, Kyuhyun malu jika Siwon terus melakukan itu.

“Sudah, hyung.”

“Oh. Oke.”

Siwon tersadar. Ia buru-buru melepas jari tangan Kyuhyun tapi tubuhnya berjalan membimbing Kyuhyun ke wastafel dan membawa jari yang terluka itu menuju air kran yang mengalir. Kyuhyun sedikit berjengit saat rasa sakit itu mulai dirasakannya.

“Sudah tidak sakit?”

“Hn. Terima kasih, hyung.”

Siwon tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sarung tangan yang ada didekat cucian piring dan mulai mengambil pecahan-pecahan kaca itu. Kyuhyun tersenyum tipis lalu ikut membantu Siwon tapi Siwon menolaknya karena sapu tangan Kyuhyun hanya satu. Kyuhyun merengut.

“lebih baik kau membuatkan aku jus jeruk saja dan aku akan membantumu membereskan kekacauan ini. Oke?”

“Hah. Oke.”

Kyuhyun lalu menuju dapurnya. Membuka lemari es tapi persediaan jus jeruk kosong. Menuangkan susu kedalam gelas tapi hanya separuh yang tersisa. Tak ada apapun di kulkas. Kyuhyun baru ingat bahwa ia tidak pernah berbelanja apapun dan belanjaan Heechul kemarin sudah mulai habis.

Sambil berbicara tak jelas, Kyuhyun mulai mengambil juicer yang diletakkannya di atas lemari dapur. Membuka bungkusnya karena tak pernah digunakan lalu mencucinya sebentar karena juicer itu berdebu. Kyuhyun terbatuk.

“Kyu, kau tidak apa disitu?” tanya Siwon dari ruang tamu.

“Tentu saja, hyung. Aku baik-baik saja. Kalau hanya membuat jus jeruk saja, tentu aku bisa, hyung.”

Kyuhyun sebenarnya tidak yakin dengan kata-katanya sendiri tapi tentu saja ia tidak mau tampil terlalu buruk didepan suaminya itu. Dengan perlahan, ia menancapkan kabel ke kontak listrik lalu membuka kulkas mencari jeruk, atau lemon, atau jerus nipis, yang penting adalah jeruk! Bukankah tadi Siwon bilang, ia ingin jus jeruk.

Ketemu. Ia membelahnya menjadi dua lalu memasukkannya kedalam juicer. Ia menekan alat itu sedikit keras dan alat itu mengeluarkan suara yang aneh, seperti debuman mesin montor yang tentu saja membuat Kyuhyun panik luar biasa. Ia menekan makin keras dan memukul-mukul juicer biadab itu. Juicer itu bergerak ke kanan dan ke kiri secara konstan. Kyuhyun bukan hanya panik tapi juga kesal. Ia mengocok juicer malang itu dan sesekali memukulnya keras. Kabel itu terlepas secara paksa dari kontak listrik dan juicer itu terjatuh ke lantai.

Siwon yang mendengar suara gaduh segera menghampiri Kyuhyun yang tersenyum aneh di hadapannya.

“Juicernya ternyata rusak.”

Hah. Siwon bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa Kyuhyun tidak sengaja menjatuhkan juicer itu dan bukannya juicer itu rusak. Ia mengambil barang malang itu lalu meneliknya lebih jauh. Kyuhyun tidak paham. Ia hanya diam.

“Berikan aku obeng. Aku bisa memperbaikinya.”

“Hah?”

“Obeng. Obeng, Kyu.”

“Iya, aku ambilkan.”

Siwon masih serius menatap alat itu dan berteriak menyuruh Kyuhyun untuk segera membawa alat yang dibutuhkannya.

“Hyung, obeng itu bentuknya bagaimana?” tanya Kyuhyun disana. Ia melihat-lihat satu set peralatan asing yang kemarin diletakkan Heechul disana. Seperti perkakas untuk perbaikan alat eletronik.

“Bentuknya seperti guling milikmu. Untuk melepaskan sekrup.”

“Ada dua yang bentuknya mirip guling dan spidol. Yang mana, hyung?”

“Bawa saja dua-duanya, Kyu.” Jawab Siwon masih serius menatap alat itu. Kyuhyun berlarian membawa barang yang dimaksud lalu Siwon mengambil salah satunya. Memutar sekrup dan melihat didalamnya.

“Ini parah. Kau benar-benar merusaknya, Kyu.”

Kyuhyun cemberut.

“Beli saja yang baru. Lagipula, alat itu benar-benar membuatku kesal. Aku sudah membelah jeruk itu menjadi dua dan alat itu tetap bersuara aneh.”

Siwon menggeleng dan meletakkan alat itu. Ia tidak bisa memperbaikinya. Lagipula Kyuhyun merusaknya terlalu parah.

“Tapi, tidak dengan memukul-mukulnya juga, kan?”

Kyuhyun cemberut, kali ini Siwon tersenyum maklum. Ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya seketika.

“Air putih juga tidak apa-apa jika kau tidak bisa membuat jus.”

Kyuhyun mengangguk.

“Aku sudah membereskan pecahan kacamu. Maaf membuatmu terkejut tadi.”

“Tidak apa-apa, hyung. Aku tidak terlalu fanatik seperti eommaku yang akan menangis jika salah satu barang antik kesayangannya pecah. Aku hanya takut dengan eommaku.”

“Kalau begitu, biar aku yang bicara padanya besok. Aku yakin, dia pasti mengerti.”

“Tidak semudah itu, hyung. Eomma itu keras kepala.”

Siwon terkekeh. Keras kepala, sama seperti anaknya, fikirnya.

“Lalu, harus bagaimana? Membelinya dengan yang baru?”

Kyuhyun meletakkan jari telunjuknya di dagu, pertanda jika ia sedang berfikir lalu mengangguk ragu. Ragu jika Siwon bersedia susah-susah melakukannya. Tapi, Siwon justru tersenyum dan mengajaknya ikut membelinya.

“Aku tidak tahu seperti apa bentuk keramik itu jadi, kita beli bersama.”

Kyuhyun tersenyum lebar dan secara reflek, memeluk Siwon yang kini mematung kaget.

“Terima kasih, hyung. Kau baik sekali.”

“Eh? I-iya, Kyu…”

Siwon semakin gugup saat Kyuhyun tak juga melepaskan pelukannya. Karena cukup lama mereka seperti itu, Siwon akhirnya ikut membalas pelukan Kyuhyun dan tersenyum juga. Mungkin hubungan mereka akan lebih baik mulai saat ini.

……………………………………………………………………………………………

Dan ternyata, Siwon salah. Hubungan mereka tidak lebih baik dan sifat Kyuhyun serta kenakalannya semakin menjadi-jadi. Lihat saja, keadaannya saat ini. Kursi tempatnya duduk sengaja dibubuhi lem cair yang sontak saja, membuat pantat seksinya sukses tak bisa mencium udara bebas. Ryeowook, Kyuhyun dan juga Kibum tertawa cekikikan dan siswa-siswa di kelas yang tidak mengerti dengan gelagat trio iblis itu hanya bingung sambil menatap Siwon yang masih duduk meski kelasnya sudah berakhir.

“Sonsaengnim, kenapa anda tidak meninggalkan kelas? Ini kan sudah waktunya Han sonsaengnim mengajar?” tanya Kyungsoo, polos. Kyuhyun makin kencang tertawa sedang Siwon menahan emosinya.

“Mungkin sonsaengnim masih betah mengajar disini? Atau mungkin, ia ingin menggantikan Mr. Han mengajar. Benar, kan, sonsaengnim?”

Siwon ingin sekali menghajar pemuda yang dengan tampang tak berdosa itu berpura-pura polos di hadapannya. tapi, itu tidaklah penting yang terpenting sekarang, apa yang harus dilakukannya?

Siwon ingin mati saja rasanya. Mommy, aku menyerah. Aku tidak mau lagi mengajar disini.

Kyuhyun yang melihat wajah frustasi Siwon, mau tak mau merasa iba juga. Ia berdiri dan seluruh siswa menatapnya seketika.

“Aku baru ingat, Han sonsaengnim tadi memberi tahuku untuk langsung berganti pakaian olahraga dan segera ke lapangan sekarang.”

Ini bukanlah sebuah kebohongan. Mr. Han memang meminta Kyuhyun agar mereka semua ke lapangan dan Kyuhyun yang awalnya ingin menunda-nunda terpaksa harus menggagalkannya karena ia tidak ingin Siwon mendapat malu lebih dari ini. Kyuhyun juga masih punya hati kan.

“Tapi, saat ini sedang hujan, Kyu-ah. Pelajaran olahraga memangnya tidak diganti dengan materi, ya?” tanya Baekhyun.

Kyuhyun yang memang dasarnya tidak suka dengan Baekhyun, menjawab dengan sedikit ketus,

“Aku tidak tahu. Aku adalah ketua kelas. Aku yang bertanggung jawab disini dan bukannya kau, Baekhyun-sshi. Tanyakan saja langsung pada Han sonsaengnim jika kau meragukanku.”

Seluruh siswa mengerti. Mereka mulai mengambil kunci lokernya dan mengambil baju olahraga mereka termasuk Baekhyun yang hanya diam tak membalas perkataan Kyuhyun.

“Sonsaengnim, kenapa masih disini?”

Siwon tersenyum kaku menanggapi pertanyaan Oh Sehun. “Saya masih harus meneliti perkejaan kalian tadi.”

Siwon mengambil map miliknya dan mulai mengoreksi tugas-tugas siswanya. Kyuhyun tersenyum misterius.

“Kami permisi dulu, sonsaengnim,” ucap mereka serempak. Siwon tersenyum canggung dan ikut membalas.

Ryeowook dan Kibum meninggalkan Kyuhyun hanya berdua saja dengan Siwon, sebelum mereka sempat berkata ‘Jangan macam-macam! Ini sekolah’ atau ‘Jangan melakukan hal mesum disini, Kyu.’ Semacam itu, membuat Kyuhyun ingin segera mengubur mereka hidup-hidup. Memang apa yang akan mereka lakukan? Kyuhyun hanya ingin menyelesaikan masalah yang ia buat. Just that! Tidak lebih, oke.

“Sudah puas?” tanya Siwon dingin.

“Ayolah, hyung. Aku hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya serius.”

“Bercandamu kelewatan, Kyu.”

“Kau marah?”

“Menurutmu?”

Kyuhyun tahu ia kelewatan.

“Oke. Mian, hyung.”

Kyuhyun membantu Siwon untuk lepas dan nyatanya sulit. Lem itu benar-benar melakukan tugasnya dengan semestinya tapi, ini terlalu berlebihan. Lem ini kuat sekali, Ya Tuhan!

“Lem apa yang kau gunakan, Kyu. Kenapa susah sekali?”

“Lem kayu, hyung.”

Pletak!

Siwon memukul kepala Kyuhyun. Sontak, pemuda cantik itu mundur ke belakang sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut nyeri.

“Kau gila, hah? Lem itu kuat sekali, pabbo!”

“Mana aku tahu, hyung.”

Kyuhyun kembali berusaha. Tapi tetap saja sulit. Seharusnya, ia meminta bantuan teman-temannya tadi. Mereka pasti tertawa-tawa membayangkan Kyuhyun melakukannya sendirian. Uh, tidak setia kawan.

“Lebih baik, kau lepaskan celanamu, hyung.” Usul Kyuhyun yang langsung ditolak Siwon mentah-mentah. Apa iya dia harus setengah telanjang? Enak saja.

“Aku punya celana olahraga. Aku akan mengambilnya.” Kyuhyun berbalik dan mengambil celananya di loker. Ketemu. Ia berjalan ke depan untuk memberikannya pada Siwon.

“Cepat lepas, hyung. Kau mau duduk disana selamanya, apa?”

“Kau kira ini salah siapa?”

Siwon bergumam kesal. Ia sedikit ragu saat melepas celananya.

Kyuhyun memasang wajah datar melihat Siwon hanya mengenakan celana dalamnya saja.

“Jangan melihat kesini, Kyu.”

“Memangnya kenapa? Milik kita sama, kan?” ucap Kyuhyun santai. Siwon lagi-lagi masih sabar. Menahan emosinya yang sudah diubun-ubun itu. Lalu mulai memakai celana olahraga milik Kyuhyun cepat-cepat. Sedangkan Kyuhyun, ia masih berusaha melepaskan celana itu dari kursi.

Berhasil. Ia memberikannya lagi pada Siwon.

“Pakai ini.”

“Kau tidak lihat ada bekas lem di bagian belakang.”

“Lalu, kau mau memakai celanaku sampai jam sekolah berakhir, begitu? Akan ada rumor jika kau menggunakan itu, hyung,” ucap Kyuhyun sok bijak. Siwon diam. Benar juga.

Akhirnya, ia melepas celana itu dan memberikannya pada Kyuhyun. Meskipun bagian belakang ada sisa lem berwarna putih tapi, daripada setengah telanjang.

Lain halnya dengan Siwon yang sekarang mulai bernafas lega karena masalahnya terselesaikan, pemuda cantik dan manis bernama Byun Baekhyun tampak kebingungan mencari-cari ponselnya. Do Kyungsoo yang merupakan teman baiknya memandangnya bingung.

“Ada apa, Baek?” tanya Kyungsoo, lembut. Baekhyun tersenyum dan masih mencari-cari ponselnya.

“Gwenchana, Do.”

“Kau kehilangan sesuatu?” tanya Kyungsoo lagi. Kali ini Baekhyun mengangguk.

“Ponselku. Dimana, ya?”

“Ah, ponsel yang memiliki gantungan kelinci putih?”

“Iya, kau tahu dimana?”

“Kau ini bagaimana sih, Baek. Sepertinya selama kelas berlangsung, kau tidak membuka ponselmu. Mungkin masih didalam tasmu.”

Baekhyun bernafas lega. Ia kira ponselnya tertinggal di rumah dan ia tidak bisa menghubungi kakaknya untuk mengantarkannya ke rumah. Bisa repot nanti.

“Oh, begitu. Terima kasih, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo mengangguk.

“Eh tunggu, Baek.”

“Nde?”

“Sepertinya gantungan ponselmu mirip milik Kyuhyun-sshi yang dulu, sebelum ia menggantinya dengan gantungan kerang itu. Kebetulan sekali, ya?”

Baekhyun diam. Tidak ada yang tahu bahwa mereka dulunya adalah teman baik. Kecuali, Ryeowook dan juga Kibum. Seluruh sekolah juga tahu kalau mereka itu bermusuhan.

“Benar, kebetulan sekali.”

“Tapi, hubungan kalian sepertinya tidak akrab, ya?”

Baekhyun tertawa untuk mengatasi kegugupannya. Kyungsoo dengan wajah polosnya melanjutkan,

“Kalian tidak pernah berbicara dan jika Kyuhyun-sshi ada perlu denganmu dia akan berbicara ketus dan jadi menyebalkan. Tapi, kau tidak apa-apa, kan diperlakukan seperti itu?”

Kyungsoo tampak khawatir.

“Ne, gwenchana. Aku mau mengambil ponselku dulu, ya, Kyungsoo.”

Baekhyun segera berlari menghindari Kyungsoo. Soal mengenai Kyuhyun adalah sesuatu yang sensitif bagi mereka. Sudah empat tahun hubungan mereka seperti itu dan Baekhyun akan berusaha untuk menghindarinya.

Ketika Baekhyun akan membuka pintu kelas, ia bisa melihat dari balik kaca seseorang yang sangat dikenalnya, Cho Kyuhyun dan juga Choi Siwon gurunya tengah berbincang soal sesuatu. Bukan mengenai itu yang membuat Baekhyun menganga dan hampir berteriak, tapi saat Siwon sonsangenim yang dikenalnya sebagai guru yang sopan dan ramah memakai celananya yang saat itu hanya memakai celana dalam di hadapan Kyuhyun.

“Cepatlah, hyung. Nanti bisa ketahuan.”

Baekhyun tak percaya dengan telinganya sendiri. Untuk kali pertama, ia meragukan keasahan telinganya.

“Sabarlah, Kyu. Kau kira gara-gara siapa aku seperti ini.”

Kyuhyun terlihat santai dan tanpa beban melihat Siwon yang setengah telanjang itu. Berbeda dengan Baekhyun yang hampir pingsan melihatnya karena malu.

“Sudah? Aku mau ganti baju dulu, hyung.”

“Oke. Terima kasih, Kyu.”

Baekhyun yang menyadari situasi, segera bersembunyi dibalik tembok. Kyuhyun dan Siwon keluar bersama dan berpisah saat di persimpangan lorong. Baekhyun masih terkejut. Ia bahkan tidak mendengar seseorang memanggilnya karena terlalu berkutat pada pemikirannya. Ia ingin percaya Kyuhyun tapi…

“Baekhyun-sshi!”

Orang itu menepuk pundak Baekhyun saat pria mungil itu tak kunjung menjawab sapaannya. Baekhyun sontak terlonjak karena kaget.

“Ya, Tuhan! Sunbae. Kau membuatku kaget.”

Pria itu cemberut, terkesan dipaksakan.

“Habisnya kau diam saja saat aku memanggilmu. Kau sedang apa disini?”

“Aku? Aku ingin ke kelas mengambil ponselku. Aku ada kelas olahraga setelah ini jadi, sunbae jangan berfikir bahwa aku sedang membolos, ya.”

Pria itu tertawa lalu menggeleng.

“Aku juga. Aku ada latihan basket untuk kejuaraan antar sekolah jadi, Park Sonsaengnim mengijinkanku untuk absen.”

“Oh. Sunbae hebat!”

Baekhyun tersenyum tulus.

“Lalu dimana Kyuhyun? Kau tidak bersamanya?”

Senyum Baekhyun pudar berganti dengan wajah ketus yang menyebalkan.

“Aku tidak tahu.”

Chanyeol, pria itu tampak kecewa. Ia lalu pergi saat beberapa teman satu timnya memintanya untuk segera latihan. Ia pamit dan tersenyum pada Baekhyun.

“Kyuhyun lagi, Kyuhyun lagi. Apa bagusnya sih dia? Lihat saja, Kyu. Aku akan membalasmu. Membalas sakit hatiku karena Chanyeol lebih menyukaimu. Lihat saja.”

Baekhyun menyeringai mengingat kejadian tadi. Ini bisa menjadi senjata yang ampuh baginya untuk menghancurkan Kyuhyun dan membuat Park Chanyeol membencinya. Tinggal menunggu waktu yang tepat baginya untuk melancarkan aksinya.

TBC

Annyeong. Mfkn Sabrina yg update lama bgt. Kemarin ada UAS dan banyak bgt tugas dr dosen, mana uas2nya susah2 lagi. Argghh! Tapi, sudah cukup puas karena pidana saya lg2 dpet A. Ye malah curhat. Haha.
Apakah berasa sinetron chapter ini? Hahaha. Yg pnting g ada scene cewe’nya tertabrak mobil tapi dia ga lari malah teriak gaje atau ga ada scene dimana sang pemeran utama tertukar atau hilang ingatan ya. Hihi. Uh, kapan pesinetronnan di Indonesia itu bisa lebih ‘cerdas’ #geleng2, dan kyaknya sutradara indonesia itu lebih mentingin episode daripada cerita ya.
Oke, drpda bahas yg g penting, Sabrina mau cerita nih chingu. Sabrina kemarin baca di salah satu blog, yang mengatakan bahwa Chanyeol EXO itu palsu. Dia itu pura2 baik padahal sombong. Sumpah itu Sabrina kesel bgt. Secara bias Sabrina di EXO kan Chanyeol. Pdhal yah, menurut PD(produser Director)nya law of the jungle, sepanjang dia syuting sm artis, Chanyeollah yg pling disukai krn dia ceria dan ramah trs waktu salah satu tim terluka jarinya, Chanyeol bahkan nangis krn khawatir. Sombong dr mana coba? Lgian anak2 EXO pd suka deket2 dia. Masa org sombong bnyk yg demen. Kan ngga kan. Jadi, buat temenku yg bilang, masa’ ada lagu berjudul srigala. Hello, itu bukannya aneh, tp itu namanya kreatif. Oke. Sabrina sebel sm orang yg sok2 benci korea pdhal dia ngga tau apa2 tentang korea. Dan lucunya lg, orang itu Sabrina pengaruhi eh malah jd Sparkyu juga sama kyk Sabrina. Katanya, Kyu itu keren di Bonamana, bening bgt waktu liat video2 Kyu di laptopnya Sabrina. Dsr labil, keke.
OK. Mksih ya udah baca curcolnya Sabrina yg g pntg ini. Setelah akhirnya berkutat sama UAS dan belajar TOEFL mati2an, akhirnya Sabrina come back. Semoga tetap pada prinsip awal Sabrina, satu minggu satu cerita, Amin. Jadi, tenang aja g ada cerita yg bakal Sabrina gantung. MRIHBnya juga bakal come back kalau The Melodynya kelar kok. Mohon reviewnya ya. Gamsahamnida. Annyeong, ^_~

Iklan

66 thoughts on “My Husband, Hotter Than My Fantasy Chapter 3

  1. aku bacaa lagi..
    dicerita ini tuh karakter siwon ma kyu pas bangeet..
    aku penasaran gimana klo mereka ketauan,aku pengennya sih ketauannya nunggu kyu bener2 suka ma siwon dl biar bs melalui masalah bersama gitu hehehe.
    ditunggu update ya kakak ^^

  2. Knpa hbngan WonKyu masih ketus2 an gitu sich.
    .Mslh apa yg mmbuat persahabatan Kyuhyun dan Baekhyun hingga jadi sprti skrng???!
    Kira2 apa yg akn dilakukan Baekhyun untuk Kyuhyun ya????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s