My Husband, Hotter Than My Fantasy Chapter 3

Pairing : Wonkyu, slight ChanKyu.
Cast : Cho (Choi) Kyuhyun, Choi Siwon, Park Chanyeol, Kim Ryeowook, Kim Kibum, Heechul, Jaejoong, dll.

Happy Reading…
Dont Like, Dont read!

Sebelumnya :
“Kyu, tenanglah. Kita hanya harus mengerjainya, kan?”
Ryeowook adalah teman satu jiwanya. Bersatu untuk mengerjai dan membuat kesal semua teman-teman sekelas, guru-guru baru dan juga adik kelas mereka yang terlihat lemah untuk dibully. Kibum menoleh dan membenarkan letak kacamatanya.
“Oh. Begitu. Baiklah, aku ikut.”
Kyuhyun tertawa lebar dan masih menatap Siwon yang balas menatapnya tersenyum.
‘Mati kau Choi Siwon!’

Chapter 3

Siang itu, Kyuhyun tidak makan di kantin seperti biasanya. Ia justru lebih memilih duduk di kursi depan halaman sekolah mereka. Melihat pertandingan basket dan memberi dukungannya pada Chanyeol yang sedang menggiring bola basket dan menjadi kapten dalam timnya. Kyuhyun bahkan menggunakan spanduk dan meneriaki nama Chanyeol berulang-ulang. Ryeowook menutupi wajahnya karena malu sedangkan Kibum, kabur ke perpustakaan.

“Ya! Kyu, pelankan suaramu! Aku malu.”

“Kenapa harus malu, Wookie?”

Ryeowook mendelik dan memukul kepala Kyuhyun menggunakan botol minumannya. Seketika, Kyuhyun menatapnya garang.

“Kau tanya, kenapa harus malu?” Ryeowook menatap tak percaya lalu melanjutkan, “Bagaimana aku tidak malu jika kau membawa spanduk dan berteriak seperti seorang gadis. Kau lihat, seluruh siswa menatapmu aneh, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun menatap sekeliling dan nyengir.

“Oh, benar. Habisnya, Chanyeol terlihat keren dan kau ingat ini adalah pertandingan final.”

“Lalu?”

“Tentu saja Chanyeolli harus menang.”

Ryeowook menyerah. Berdebat dengan Kyuhyun tidak ada gunanya. Pemuda mungil itu mengambil lolipopnya dan memakannya cepat. Permen manis adalah pengalihan dari perasaan badmoodnya.

Kyuhyun masih ajeg meneriaki nama Chanyeol tetapi tiba-tiba berhenti ketika melihat sesuatu. Karena penasaran kenapa Kyuhyun diam, Ryeowook melihat apa yang membuat Kyuhyun tiba-tiba diam itu. Dan gotcha! Tentu saja yang mampu membuat Kyuhyun diam adalah Byun Baekhyun. Pemuda cantik dan manis yang dikabarkan menyukai sunbae mereka, Chanyeol. Ryeowook tersenyum misterius.

“Ini minumannya, sunbae.”

Kyuhyun makin cemberut.

“Ah, terima kasih, Baek. Kebetulan aku haus sekali.”

Chanyeol menerimanya dan langsung menghabiskan minuman itu. Ia tak menyadari bahwa Kyuhyun kini mengeluarkan aura hitam yang mengerikan.

“Wah, wah, wah. Kau lihat. Mereka romantis sekali, Kyu-ah.”

“Diam kau Wookie!”

Ryeowook makin gencar menggodanya.

“Aku tidak yakin Chanyeol sunbae benar-benar menyukaimu. Bisa saja, kan dia itu berpura-pura menyukaimu untuk mendekati Baekhyun. Apalagi, Baekhyun adalah sahabatmu. Benar, kan?”

Kyuhyun menoleh tak suka dengan arah pembicaraan Ryeowook.

“Ups, mantan sahabat maksudku.”

“Dia menyukaiku, Wookie.”

“Menyukai itu berarti tidak selingkuh, Kyu.”

Kali ini Ryeowook tidak ingin menggodanya lagi. Perkataannya ini bukanlah penghinaan tapi, sebuah nasehat. Memang, dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang bahagia, sebelum Baekhyun mulai merayu Chanyeol dan Chanyeol yang saat itu sedang ingin main-main tertangkap basah berciuman dengan Baekhyun. Tentu saja Kyuhyun terluka. Ia bahkan belum pernah berciuman dengan Chanyeol dan justru melihat Chanyeol mencium oranglain.

“Aku membencinya.”

“Siapa? Chanyeol atau Baekhyun?” tanya Ryeowook bingung.

“Keduanya.”

Ryeowook menghela nafas dan menatap mereka berdua kesal. Kyuhyun sempat terpuruk karena itu dan Chanyeol, tanpa tahu malu terus memanggil Kyuhyun dengan panggilan semasa mereka berpacaran dulu. Benar-benar muka tembok!

“Dia masih mengejarmu sampai sekarang?”

Kyuhyun mengangguk imut.

“Kau berjanji untuk menolaknya, kan?”

“Aku menolaknya.” Sergah Kyuhyun tak terima.

“Dan sekarang, kenapa kau meneriakinya seperti seorang fans?”

“Aku hanya ingin berteman dengannya. Selama empat tahun ini, aku memiliki hubungan yang canggung dengannya.”

“Kau sudah memiliki Siwon, Kyu.”

“Aku tahu.”

Kyuhyun tersenyum tipis. Ia menatap Chanyeol cukup lama dan seperti kata orang, Chanyeol ikut menatapnya balik karena merasa diperhatikan. Kyuhyun membuang mukanya lagi.

“Kita pergi, Wookie.”

“Kyuhyun-sshi!” Sebelum mereka sempat beranjak, Chanyeol telah terlebih dahulu memanggil namanya. Kyuhyun panik. Ia ingin pergi tetapi kaki-kaki panjangnya seolah tak bisa digerakkan sama sekali. Jadilah ia disini, menunggu Chanyeol menghampirinya.

“Kau mau pergi kemana? Tidak mau mengucapkan selamat padaku. Aku menang, lho.”

Kyuhyun mendengus, orang bodohpun tahu jika kau menang. Bagaimana tidak tahu jika pria kelebihan tinggi ini berteriak mengelilingi lapangan dan mengucapkan kemenangannya. Persis seperti orang bodoh.

“Ke kantin,” ucap Kyuhyun, kembali jutek. Chanyeol mengerutkan keningnya. Ia kira Kyuhyun akan bersikap baik padanya karena baru saja ia menyemangatinya ternyata, Kyuhyun memang seperti angin. Tidak mudah ditebak.

“Ah, kebetulan sekali. Aku juga lapar. Mau pergi bersamaku?”

“Tidak. Pergi saja bersama Baekhyun. Kau tidak lihat? dia terus menatap kita dengan tatapan mengerikan seperti itu. Aku pergi, Park Chanyeol-sshi.”

“Tunggu.”

Terlambat. Suara Chanyeol kalah cepat dengan langkah kaki Kyuhyun. Ia hanya bisa menatap pemuda manis yang telah lama diinginkannya itu. Bodohnya dirinya dulu pernah melepasnya meski, hubungan mereka saat itu masih terbilang baru dan Chanyeol sempat merasa bahwa dengan berlalunya waktu, ia akan cepat melupakan Kyuhyun namun, ternyata tidak. Waktu empat tahun bahkan tidak mampu membuatnya melupakan cinta pertamanya itu. Park Chanyeol, kau sungguh bodoh!

Kantin saat ini penuh sesak dengan siswa yang mulai berkelahi dengan beberapa siswa lainnya. Guru-guru mulai berdatangan melerai mereka, termasuk Siwon. Ia dengan tegas dan sedikit kemampuan bela diri mampu membuat anak-anak itu diam seketika.

Kyuhyun yang memang dasarnya cuek, tidak terlalu perduli dengan suasana yang mendadak menjadi mencengkam saat Tao, siswa pindahan dari China mulai kembali berkelahi dan karena kemampuan bela dirinya yang mumpuni, terlebih ia mempelajari teknik wushu, pertengkaran tak dapat dielakkan lagi. Kantin menjadi rusuh. Siwon menyuruh beberapa siswa untuk memanggil guru lain karena ia sendiri kewalahan.

BRANG!!!

Makanan Kyuhyun terjatuh ketika siswa yang berkelahi dengan Tao menyenggol nampan yang dipegang Kyuhyun, tentu saja tanpa sengaja.

“Maaf, Kyuhyun-sshi.”

Pria itu membungkuk begitu tahu mencari gara-gara dengan si biang kerok yang selalu berlindung di balik Chanyeol, sang bos besar di sekolah mereka. Mereka segan dan takut dengan Chanyeol.

“Berikan aku kupon makananmu.”

“Nde?”

Pria itu mungkin salah dengar jadi, dia bertanya pada Kyuhyun.

“Kau menjatuhkan makananku jadi, aku butuh kupon makananmu. Atau, kau memang sengaja melakukannya? Kau ingin aku kelaparan di jam siang seperti ini?” tanya Kyuhyun lembut namun berbahaya. Seluruh kantin hening, menatap keduanya.

“Ah, tentu saja. Ini kupon saya, Kyuhyun-sshi.”

“Baiklah. Terima kasih, hm…”

“Kim Jongin imnida.”

“Terima kasih, Jongin sunbae.”

Kyuhyun tersenyum manis dan membuat pria-pria disana untuk sesaat menatapnya kagum. Kyuhyun memang manis dan kulit pucatnya memang selalu bisa mengundang oranglain untuk betah menatapnya lebih lama.

Kantin menjadi lebih tenang dan Siwon lebih bisa mengendalikan keadaan. Siwon kemudian menghampiri Kyuhyun dan duduk di samping pemuda manis itu. Ia juga sempat bertegur sapa dengan Ryeowook yang pernah ditemuinya di pesta pernikahan.

“Kyu, bagaimana mereka bisa bersikap baik padamu?” tanya Siwon penasaran. Kyuhyun mengendikkan bahunya tanda tak tahu, atau tak mau tahu.

“Tentu saja karena mereka takut pada Park Chanyeol. Siapa lagi.”

Kyuhyun mendelik menanggapi ucapan polos dari Ryeowook itu. Sebenarnya, dia berada di pihak mana sih?
“Chanyeol? Lagi-lagi dia. Kau ada hubungan apa dengannya?”

Raut wajah Siwon berubah tegas. Tatapan matanya menjadi tajam bagai pedang. Kyuhyun yang gugup menjawab,

“Dia teman baikku. He is my best friend, oke?”

“Kau yakin? Sepertinya dia menyukaimu.”

Pancing Siwon tapi Kyuhyun tetap diam tak terpancing.

“Baiklah.”

Kyuhyun melihat pelipis Siwon yang berdarah karena melerai anak-anak bengal itu. Ia sedikit khawatir, teringat bagaimana Siwon kemarin merawatnya saat ia sedang kedinginan. Ada perasaan cemas saat Siwon seperti menahan sakit ketika tangannya memegang pelipisnya sendiri.

“Obati lukamu agar tidak infeksi, sonsaengnim.”

“Ini bukan masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Kyuhyun menatap Siwon datar dan tak mencegahnya untuk pergi. Ryeowook yang kesal, menepuk kepala Kyuhyun lagi.

“Akh! Sakit, Wookie. Kau ini apa-apaan, sih?”

“Kau ini! Suamimu terluka dan kau membiarkannya begitu saja?”

“Lalu aku harus bagaimana? Dia sudah dewasa, dia bisa mengobati lukanya sendiri.”

“Bagaimanapun, dia tetap suamimu. Dan sebagai istri yang baik, kau tetap harus melakukan tugasmu dengan baik, Kyu.” Ceramah Ryeowook singkat. Kyuhyun cemberut dan berfikir. Benar juga. Lagipula, hitung-hitung sebagai balas budi karena perlakuan Siwon kemarin.

“Hah. Arraseo. Kalau begitu, aku akan mengobatinya.”

“Baguslah. Cepat sana pergi,” ujar Ryeowook cekikikan, ia cuek saja ketika Kyuhyun masih saja mendumel ini-itu seolah-olah ia tidak perduli. Ryeowook telah mengenal Kyuhyun semenjak sekolah dasar, ia tahu betul bahwa sebenarnya, Kyuhyun juga mengkhawatirkan keadaan Choi Siwon.

“Dasar pembohong! Aku tahu kau merindukannya, Kyuhyun-ah.”

Ryeowook tersenyum menatap Kyuhyun yang kini telah pergi menjauh. Teringat bagaimana hari-hari yang dilalui Kyuhyun semenjak kepergian Siwon ke luar negri. Terpuruk, sering melamun, itulah yang dilalui Kyuhyun ketika salah satu tempatnya bergantung pergi meninggalkannya dan kehadiran Chanyeol yang selalu membuat Kyuhyun tertawalah yang membuat seorang Cho Kyuhyun mulai melupakan kesedihannya.

Ryeowook tersenyum dan ia tidak yakin bahwa Chanyeol yang mudah terhasut dan mudah goyah akan bisa membahagiakan Kyuhyun. Ia yakin Siwonlah suami yang terbaik untuk Kyuhyun. Setidaknya, itulah pikiran polos seorang Kim Ryeowook.

……………………………………………………………………………………………

“Sonsaengnim?”

Kyuhyun menyembulkan kepalanya melirik Siwon yang kini terduduk di ranjang klinik sekolah dengan tatapan yang lugu dan mata bulatnya yang menggemaskan.

Siwon sempat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Kyuhyun dan hampir menjatuhkan botol-botol disana. Kyuhyun nyengir, “Maaf membuatmu kaget, sonsaengnim.”

“Aish! Ada apa? Kenapa kau hobi sekali membuatku kaget, sih?”

Kyuhyun merasa itu bukan pertanyaan. Maka dari itu, ia tidak menjawabnya.

“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja. Ternyata, kau baik-baik saja.”

“Tentu saja. Kau kira aku akan mati.”

Kyuhyun tertawa. Ia mengambil alkohol dan kapas lalu mengoleskannya ke pelipis Siwon. Siwon hanya diam sambil beberapa kali mengaduh kesakitan. Kyuhyun menekannya agak keras, sengaja atau tidak?

“Lain kali, jangan sok jagoan jika kau tidak bisa menghadapi mereka. Kau tahu, Tao itu pemegang mendali emas untuk kejuaraan wushu dan Kai, panggilan akrab Jongin tadi, adalah preman yang ditakuti di sekolah karena pintar berkelahi.”

“Apa kau seksi tata usaha? Sok tahu sekali.”

Kyuhyun menekan luka itu lagi.

“Akh! Sakit, Kyu. Kau ini!”

“Aku memberi tahumu, Choi Siwon, bukan karena aku sok tahu.”

“Oke, oke, Ny. Choi. Aku mengerti. Sekarang, cepat obati aku dan jangan menekan-nekan lukaku lagi.”

“Aku tidak mau!”

Kyuhyun berhenti, tidak mau diperintah-perintah oleh Choi Siwon. Dia disini membantu bukan pembantu.

“Kau tidak mau?”

“Tidak. Obati saja sendiri!”

Siwon menatapnya aneh, sama seperti tatapan saat di mobil dulu, tatapan yang berakhir dengan ciuman pertamanya yang diambil secara paksa dulu. Jika mengingatnya, Kyuhyun ingin sekali menendang pantat Siwon.

“Ahhh… Apa yang kau laku-nggh, lakukan, bodoh!”

Siwon menyeringai. Ia melakukannya lagi. Mengurut junior Kyuhyun didalam celananya. Kyuhyun mendesah lagi tapi juga memukul Siwon dan menjauh sejauh-jauhnya.

“Jika kau tidak ingin aku berbuat yang aneh-aneh padamu, lanjutkan pekerjaanmu tadi,” ucap Siwon santai.

Kyuhyun mengumpat. Suaminya ini selalu berfikiran kotor dan juga mesum. Jadi, mau tak mau, ia kembali mengobati Siwon dengan menggerutu di dalam hati.

“Aku suka baumu, istriku.”

Kyuhyun serasa ingin menjedotkan kepala Siwon ke tembok begitu mendengar kata ‘istri’ yang keluar dari mulut Siwon, tapi diurungkannya karena bayangan Jaejoong yang pasti akan menjeburkannya ke sungai Han.

“Wangi, sama seperti dulu.”

DEG. Kyuhyun terdiam. Dulu, seingatnya, Siwon memang sering menyebutnya wangi dan juga memujinya banyak hal, salah satunya adalah betapa manis dan cantiknya Kyuhyun, atau betapa pintar Kyuhyun diantara anak seusianya dulu.

Wajah Kyuhyun memerah mengingatnya.

Siwon tidak bisa melihat warna kemerahan itu karena ia sedang dalam posisi duduk di ranjang dan matanya tepat menatap dada Kyuhyun. Entah apa yang difikirkan lelaki mesum itu. Mungkin, sesuatu mengenai dada Kyuhyun.

“Kyu?”

“Apa?”

“Bolehkah aku menjilati dadamu selagi kau mengobatiku?”

Plak!

Kyuhyun memukul kepala Siwon dan kemudian tersadar telah menyakiti sang suami. Ia buru-buru minta maaf dan beralasan reflek. Siwon tidak begitu saja memaafkannya, ini kesempatan bagus untuk mengerjainya. Benar, kan?

“Maaf, hyung. Sungguh, aku tidak sengaja.”

“Kau memukulnya terlalu keras, Kyu! Aku bisa gagar otak karenamu.”

“Ayolah, jangan manja, hyung. Maafkan aku, oke?”

“Tidak bisa. Aku hanya bercanda tapi kau menanggapinya serius bahkan juga memukulku terlalu keras. Aku akan mengatakan pada Jaejoong umma kau telah memukulku.”

Kyuhyun merengut. Terakhir, tidak ada kartu kredit karena Siwon mengadukannya ke ummanya, sekarang? Apalagi yang akan dilakukan ummanya untuk menghukumnya? Menyita kaset-kaset game miliknya? Atau sesuatu yang lebih parah. Aish, Siwon ini!

“Aku tidak akan mengadu, asal kau mau melakukan satu hal untukku. Bagaimana?” tawar Siwon, menyeringai.

Kyuhyun yang merasa ada tanda-tanda bahaya, segera menjauh untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.
“A-apa itu, sonsaengnim?”

Kyuhyun semakin mundur ketika Siwon menghimpitnya ke tembok. Sial, Kyuhyun bahkan tidak bisa berkutik sekarang.

“Kau cantik, Kyu.”

Kyuhyun tidak tahu harus bicara apa. Wajahnya memerah tanpa alasan yang jelas dan Siwon semakin mendekat. Karena panik, Kyuhyun tidak sengaja menyikut dagu Siwon keras membuat suaminya itu mengaduh kesakitan dan mundur ke belakang.

“Ya! Kyu!” Siwon berkata keras. Kenapa setiap bersama Kyuhyun, selalu ada saja bagian tubuhnya yang terasa sakit.

Kyuhyun tertawa aneh.

“Maaf, hyung. Ini untukmu.”

Kyuhyun kemudian merogoh kantung seragamnya dan menempelkan plester bermotif dinosaurus ke pelipis Siwon. Siwon tersenyum ketika melihat betapa telatennya Kyuhyun sekarang. Belum sempat ia berterima kasih, Kyuhyun sudah berlari terlebih dahulu. Siwon tersenyum dan memegangi pelipisnya sendiri. Mungkin, Kyuhyun memang tidak seburuk yang ia kira.

……………………………………………………………………………………………

Kyuhyun mondar-mandir. Ia berkali-kali mengecek tas ranselnya. Mengeluarkan isinya lalu mencari ke loker yang ada di sudut ruang kelas. Tapi nihil. Barang kesayangannya hilang. Dan Kyuhyun panik sekali. Menggegerkan kelas yang saat itu sedang kosong karena pergantian kelas.

“Kau mencari apa, Kyu? Panik sekali.”

“Wookie… Gelangku. Dimana gelangku?”

“Gelang? Gelang yang kau gantung di ponselmu? Tidak ada?”

“Iya. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ada.”

Kyuhyun duduk dengan tidak bersemangat. Bukan karena gelang itu mahal sama sekali bukan. Itu hanya gelang berbentuk kerang yang murah yang bisa ditemukan di pasar. Tapi, yang jadi soal adalah kenangan dan history gelang itu sendiri.

“Apa tadi kau menggunakan ponselmu?”

“Tadi malam masih ada dan tadi pagi aku juga masih melihatnya kok.”

Kibum ikut mengomentari sambil mengutak-atik Iphone miliknya.

“Sudahlah, Kyu. Mungkin itu pertanda kalau kau harus melupakannya.”

Ryeowook menyetujui perkataan Kibum. Dan Kyuhyun hanya diam. Entahlah. Ia tidak bisa membedakan mana benci dan mana cinta ketika itu menyangkut Park Chanyeol. Ia membenci pria itu, juga Baekhyun tapi, jauh di alam bawah sadarnya, ia merindukannya. Dan juga, ada bagian dalam dirinya, masih ingin memilikinya. Bukankah itu aneh?

Baekhyun yang tak jauh dari bangku tempat mereka duduk hanya tersenyum tipis. Ia menatap gelang yang dimaksud Kyuhyun dari balik tasnya. Menyembunyikannya dari Kyuhyun.

“Baekhyun-sshi.”

Baekhyun sontak menoleh saat Kyuhyun memanggilnya. Ia tersenyum.

“Ne, Kyuhyun-ah.”

“Kau mencurinya, kan? Gelangku. Kau pasti yang mengambilnya.”

Baekhyun berpura-pura terkejut.

“Ya, Tuhan! Kyu. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu. Aku tidak tahu apa-apa,” ujarnya sok polos dan mendramatisir. Kyuhyun ingin muntah rasanya. Ia muak melihat sikap sok lugu yang selalu ditunjukkan oleh Baekhyun. Inilah mengapa ia bisa kecolongan dan tidak menyadari bahwa Baekhyun menggoda kekasihnya.

“Lalu siapa? Siapa lagi yang tertarik mencuri barang murahan seharga delapan puluh won itu selain kau. Kau ingin memilikinya. Kau ingin menghapus semua kenanganku mengenai Chanyeol.” Teriak Kyuhyun keras sekali. Ia emosi, tanpa sadar tidak bisa mengendalikan suaranya. Seluruh siswa menatap keduanya dan seketika kelas menjadi hening.

Baekhyun merunduk, memasang wajah hampir menangis.

“Kau tega sekali, Kyu. Aku tidak mungkin mencurinya. Aku menyukai Chanyeol sunbae dan aku fikir karena kau dekat dengannya, aku ingin menjadi temanmu dan menjadi lebih dekat lagi denganmu. Tapi, kau justru menuduhku seperti itu,” lirih Baekhyun, hampir serak suaranya karena menahan tangis.

Seluruh siswa menatapnya iba kecuali Ryeowook dan Kibum yang hanya memandangnya datar. Tentu saja mereka tahu seperti apa Baekhyun itu. Mereka berempat dulunya adalah teman akrab semasa SMP.

“Jangan berpura-pura seperti itu, Baekhyun-sshi.” Kyuhyun tahu itu hanya akting. Baekhyun memang pandai berakting. Meski, ia sedikit ragu. Tentu saja, karena Kyuhyun bukan tipikal orang yang punya penilaian buruk seratus persen terhadap oranglain.

Baekhyun hampir menangis dan Luhan, siswa pertukaran pelajar dari China memeluknya dan melotot ke arah Kyuhyun.

“Kau keterlaluan, Kyu-sshi.” Luhan membela Baekhyun.

“Sudah, Luhan. Gwenchana.”

Baekhyun tersenyum kemudian menatap Kyuhyun yang masih terpaku. ‘Aku menang, Kyu. Mati kau!’

Baekhyun melepas pelukan Luhan dan menghampiri Kyuhyun.

“Maaf jika aku membuat kau kesal, Kyu-ah. Tapi, sungguh aku tidak tahu mengenai gelangmu.”

“Kalau begitu, aku akan geledah isi tasmu,” ucap Kyuhyun tiba-tiba. Baekhyun terdiam. Jantungnya berdebar keras dan ia mulai ketakutan. Menyadari gelagat Baekhyun yang menegang, Kyuhyun yakin Baekhyunlah pelakunya. Meskipun, pria mungil itu mampu menyembunyikan ekspresinya dengan sangat baik.

“Bagaimana? Tentunya jika kau bukan pencurinya, kau pasti tidak keberatan, kan?” tantang Kyuhyun sedikit senyum manis.

“Benar. Supaya Kyuhyun-sshi yakin bahwa pelakunya bukan Baekhyun, aku rasa itu ide yang bagus.” Celetuk Eunhyuk. Ia netral dalam hal ini.

Baekhyun masih diam.

“Kurasa Baekhyunlah pencurinya.”

Bisik-bisik teman satu kelas membuat Baekhyun kesal. Ia langsung berteriak dengan mata yang hampir menangis.

“Tentu saja tidak. Baiklah. Kau boleh menggeledah tasku, lokerku dan juga bajuku. Kau tega sekali menuduhku pencuri barang murahan itu, Kyuhyun-sshi.” Baekhyun menatap Kyuhyun penuh kebencian.

“Dengan senang hati. Sekarang minggir.”

Kyuhyun mengambil tas ransel Baekhyun dan sebuah suara yang amat dikenalnya, membuatnya berjingkrak kaget dan tas itu sontak terlepas. Ternyata, Siwon masuk ke kelas dan menggagalkan rencana Kyuhyun. Mau tak mau, Kyuhyun mengembalikan tas itu ke Baekhyun yang menampilkan raut wajah yang lega luar biasa.

“Anak-anak. Mari kita mulai kelas pada jam kelima ini. Kyuhyun-sshi, silahkan duduk. Baekhyun-sshi, kembali ke bangkumu. Dan Luhan, bangkumu kosong dan berhenti mengunyah permen karet selama jam pelajaran berlangsung!”

Luhan nyengir lalu kembali ke bangkunya setelah membuang permen karet itu ke dalam kertas dan memasukkannya ke dalam tong sampah.

Siwon tersenyum puas.

“Nde. Terima kasih, Luhan-sshi. Jadi, kelas kita akan dimulai dengan perkenalan mengenai sejarah dinasti Joseon. Ada yang bersedia membacakannya untukku?”

Kelas hening sepertinya tidak ada yang berminat.

“Saya, Choi sonsaengnim.”

“Wah. Nde, Baekhyun-sshi. Silahkan.”

Wajah Baekhyun memerah ketika Siwon menatapnya dengan lesung pipinya yang menawan. Ia jadi sedikit gugup dipandangi seperti itu. Siwon sonsangenim benar-benar tampan.

“Silahkan dimulai, Baekhyun-sshi.”

Semua siswa diam mendengarkan ketika Baekhyun mulai membaca bukunya. Kecuali, Kyuhyun dan pria bernama Do Kyungsoo. Kyuhyun hanya kesal dengan ekspresi Siwon pada Baekhyun yang sedikit berbeda. Ia benci saat-saat dimana Siwon terus menatap Baekhyun sambil serius mendengarkan pemuda munafik itu berbicara. Ia hanya kesal.

Sedangkan Kyungsoo, ia diam bukan karena terpesona pada Baekhyun atau apa yang diucapkan apalagi terpesona pada Choi Siwon. Ia hanya terus berfikir. Tadi, saat Kyuhyun mengambil tas Baekhyun, Kyungsoo melihat gelang yang dihafalnya milik Kyuhyun terjatuh. Terjatuh dan Kyuhyun tak menyadarinya.

“Kyungsoo, kau kenapa?”

Sehun menyenggol lengannya dan Kyungso terkejut.

“Ah. Tidak apa-apa.”

“Oh. Perhatikan pelajaran Choi sonsaengnim, nanti kau dihukum.”

Kyungsoo mengangguk seadanya. Lalu berbisik pada Sehun lagi.

“Sehun-ah.”

“Hm?”

“Apakah kau berfikir bahwa Baekhyun yang mencuri gelang milik Kyuhyun?”

“Hah? Kenapa bertanya seperti itu?”

“Hanya ingin tahu saja.”

Sehun menggeleng.

“Tentu saja tidak. Semua orang juga tahu mereka mempunyai hubungan yang kurang baik tapi, Kyuhyun tidak sepenuhnya salah, sih. Dia kan hanya bertanya karena gelangnya hilang dan menurutku wajar dia menuduh Baekhyun sebagai pencuri gelang itu tapi, Baekhyun-sshi, dia juga baik jadi mungkin bukan dia pelakunya. Ini hanya kesalahpahaman dan tidak ada yang salah ataupun benar.”

Kyungsoo mengangguk. Mungkin, ia tidak perlu menceritakannya pada Kyuhyun bahwa Baekhyunlah pelakunya bagaimanapun, Baekhyun tetaplah teman baiknya. Setelah ini, Kyungsoo akan mengingatkan Kyuhyun soal gelangnya yang terjatuh di bawah mejanya. Tanpa mengatakan yang terjadi sebenarnya.

……………………………………………………………………………………………

Siwon awalnya ingin melakukan banyak hal untuk rencana minggu indahnya. Pertama, membuat satu cangkir kopi dengan murfin lalu menonton televisi hingga siang hari dan terakhir kencan di hari minggu siang bersama dengan Tiffany, ataupun Sulli, terserahlah. Yah, tapi itu hanya awalnya, karena lagi-lagi, sang umma yang sangat menyayangi Kyuhyun melebihi menyayangi dirinya ternyata menyuruhnya untuk menengok Kyuhyun. Dan karena tak mau mengarang bebas bagaimana pemuda manja itu hidup mandiri jauh dari orangtua, maka Siwon melakukannya.

Berdiri di depan pintu apartement istrinya. Mengetuknya pelan.

Ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua, bunyi barang-barang yang terjatuh dan ketukan ketiga, suara dari dalam apartement semakin keras dan ribut. Siwon mengerutkan keningnya.
“Kyu, kau tidak apa-apa? Boleh aku masuk?”

Masih tak ada jawaban. Pintu juga terkunci. Mau tak mau, Siwon terus menerus mengetuk pintu semakin keras dan pada menit kedua, pintu terbuka oleh sosok yang kini mengenakan piyama bermotif jerapah lalu memandangnya datar.

“Ada apa?”

“Kenapa ribut-ribut didalam? Kau tidak apa-apa, kan?”

Kyuhyun menghela nafas panjang seraya membuka pintunya lebih lebar lagi. Disana, Siwon bisa melihat barang-barang tergeletak tak beraturan disudut ruangan. Penyedot debu, sampah-sampah plastik, tumpukan baju kotor, botol minuman yang menimbulkan bunyi saat Siwon tak sengaja menendangnya dan majalah-majalah yang tercecer di lantai. Siwon tertegun.

“Aku tadi membereskan barang-barangku sebentar tapi kau terus mengetuk pintu keras-keras. Aku gugup dan tak sengaja menyenggol keramik-keramik kesayangan eommaku.”

Kyuhyun menatap pecahan keramik yang konon, kata Jaejoong, itu sangat mahal. Habislah ia! Siwon tertawa prihatin tapi langsung terdiam saat Kyuhyun melotot padanya.

“Oke, oke. Maaf. Aku tak bermaksud menertawakanmu. Jadi, ada yang bisa aku bantu?”

Kyuhyun mengangguk dan mengambil pecahan keramik itu menggunakan tangan sontak, Siwon berteriak dan menahan jari-jari tangannya.

“Kyu, kau bisa terluka jika mengambilnya seperti itu.”

“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Kau bantu saja aku.”

Kyuhyun melepas tangan Siwon secara paksa dan tanpa sengaja, pecahan beling itu melukai tangannya. Kyuhyun reflek menjauhkan tangannya dan Siwon segera mengemut jari tangan Kyuhyun. Bermaksud menghentikan pendarahan.

“Hyung…?”

Kyuhyun terkejut. Jari-jari tangannya terasa basah namun juga hangat. Dadanya berdebar kencang dan seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.

Kyuhyun terus menatap Siwon yang tanpa sungkan terus mengemut dan menghisap jari-jari tangannya. Tidak ada perasaan jijik hanya saja, Kyuhyun malu jika Siwon terus melakukan itu.

“Sudah, hyung.”

“Oh. Oke.”

Siwon tersadar. Ia buru-buru melepas jari tangan Kyuhyun tapi tubuhnya berjalan membimbing Kyuhyun ke wastafel dan membawa jari yang terluka itu menuju air kran yang mengalir. Kyuhyun sedikit berjengit saat rasa sakit itu mulai dirasakannya.

“Sudah tidak sakit?”

“Hn. Terima kasih, hyung.”

Siwon tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sarung tangan yang ada didekat cucian piring dan mulai mengambil pecahan-pecahan kaca itu. Kyuhyun tersenyum tipis lalu ikut membantu Siwon tapi Siwon menolaknya karena sapu tangan Kyuhyun hanya satu. Kyuhyun merengut.

“lebih baik kau membuatkan aku jus jeruk saja dan aku akan membantumu membereskan kekacauan ini. Oke?”

“Hah. Oke.”

Kyuhyun lalu menuju dapurnya. Membuka lemari es tapi persediaan jus jeruk kosong. Menuangkan susu kedalam gelas tapi hanya separuh yang tersisa. Tak ada apapun di kulkas. Kyuhyun baru ingat bahwa ia tidak pernah berbelanja apapun dan belanjaan Heechul kemarin sudah mulai habis.

Sambil berbicara tak jelas, Kyuhyun mulai mengambil juicer yang diletakkannya di atas lemari dapur. Membuka bungkusnya karena tak pernah digunakan lalu mencucinya sebentar karena juicer itu berdebu. Kyuhyun terbatuk.

“Kyu, kau tidak apa disitu?” tanya Siwon dari ruang tamu.

“Tentu saja, hyung. Aku baik-baik saja. Kalau hanya membuat jus jeruk saja, tentu aku bisa, hyung.”

Kyuhyun sebenarnya tidak yakin dengan kata-katanya sendiri tapi tentu saja ia tidak mau tampil terlalu buruk didepan suaminya itu. Dengan perlahan, ia menancapkan kabel ke kontak listrik lalu membuka kulkas mencari jeruk, atau lemon, atau jerus nipis, yang penting adalah jeruk! Bukankah tadi Siwon bilang, ia ingin jus jeruk.

Ketemu. Ia membelahnya menjadi dua lalu memasukkannya kedalam juicer. Ia menekan alat itu sedikit keras dan alat itu mengeluarkan suara yang aneh, seperti debuman mesin montor yang tentu saja membuat Kyuhyun panik luar biasa. Ia menekan makin keras dan memukul-mukul juicer biadab itu. Juicer itu bergerak ke kanan dan ke kiri secara konstan. Kyuhyun bukan hanya panik tapi juga kesal. Ia mengocok juicer malang itu dan sesekali memukulnya keras. Kabel itu terlepas secara paksa dari kontak listrik dan juicer itu terjatuh ke lantai.

Siwon yang mendengar suara gaduh segera menghampiri Kyuhyun yang tersenyum aneh di hadapannya.

“Juicernya ternyata rusak.”

Hah. Siwon bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa Kyuhyun tidak sengaja menjatuhkan juicer itu dan bukannya juicer itu rusak. Ia mengambil barang malang itu lalu meneliknya lebih jauh. Kyuhyun tidak paham. Ia hanya diam.

“Berikan aku obeng. Aku bisa memperbaikinya.”

“Hah?”

“Obeng. Obeng, Kyu.”

“Iya, aku ambilkan.”

Siwon masih serius menatap alat itu dan berteriak menyuruh Kyuhyun untuk segera membawa alat yang dibutuhkannya.

“Hyung, obeng itu bentuknya bagaimana?” tanya Kyuhyun disana. Ia melihat-lihat satu set peralatan asing yang kemarin diletakkan Heechul disana. Seperti perkakas untuk perbaikan alat eletronik.

“Bentuknya seperti guling milikmu. Untuk melepaskan sekrup.”

“Ada dua yang bentuknya mirip guling dan spidol. Yang mana, hyung?”

“Bawa saja dua-duanya, Kyu.” Jawab Siwon masih serius menatap alat itu. Kyuhyun berlarian membawa barang yang dimaksud lalu Siwon mengambil salah satunya. Memutar sekrup dan melihat didalamnya.

“Ini parah. Kau benar-benar merusaknya, Kyu.”

Kyuhyun cemberut.

“Beli saja yang baru. Lagipula, alat itu benar-benar membuatku kesal. Aku sudah membelah jeruk itu menjadi dua dan alat itu tetap bersuara aneh.”

Siwon menggeleng dan meletakkan alat itu. Ia tidak bisa memperbaikinya. Lagipula Kyuhyun merusaknya terlalu parah.

“Tapi, tidak dengan memukul-mukulnya juga, kan?”

Kyuhyun cemberut, kali ini Siwon tersenyum maklum. Ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya seketika.

“Air putih juga tidak apa-apa jika kau tidak bisa membuat jus.”

Kyuhyun mengangguk.

“Aku sudah membereskan pecahan kacamu. Maaf membuatmu terkejut tadi.”

“Tidak apa-apa, hyung. Aku tidak terlalu fanatik seperti eommaku yang akan menangis jika salah satu barang antik kesayangannya pecah. Aku hanya takut dengan eommaku.”

“Kalau begitu, biar aku yang bicara padanya besok. Aku yakin, dia pasti mengerti.”

“Tidak semudah itu, hyung. Eomma itu keras kepala.”

Siwon terkekeh. Keras kepala, sama seperti anaknya, fikirnya.

“Lalu, harus bagaimana? Membelinya dengan yang baru?”

Kyuhyun meletakkan jari telunjuknya di dagu, pertanda jika ia sedang berfikir lalu mengangguk ragu. Ragu jika Siwon bersedia susah-susah melakukannya. Tapi, Siwon justru tersenyum dan mengajaknya ikut membelinya.

“Aku tidak tahu seperti apa bentuk keramik itu jadi, kita beli bersama.”

Kyuhyun tersenyum lebar dan secara reflek, memeluk Siwon yang kini mematung kaget.

“Terima kasih, hyung. Kau baik sekali.”

“Eh? I-iya, Kyu…”

Siwon semakin gugup saat Kyuhyun tak juga melepaskan pelukannya. Karena cukup lama mereka seperti itu, Siwon akhirnya ikut membalas pelukan Kyuhyun dan tersenyum juga. Mungkin hubungan mereka akan lebih baik mulai saat ini.

……………………………………………………………………………………………

Dan ternyata, Siwon salah. Hubungan mereka tidak lebih baik dan sifat Kyuhyun serta kenakalannya semakin menjadi-jadi. Lihat saja, keadaannya saat ini. Kursi tempatnya duduk sengaja dibubuhi lem cair yang sontak saja, membuat pantat seksinya sukses tak bisa mencium udara bebas. Ryeowook, Kyuhyun dan juga Kibum tertawa cekikikan dan siswa-siswa di kelas yang tidak mengerti dengan gelagat trio iblis itu hanya bingung sambil menatap Siwon yang masih duduk meski kelasnya sudah berakhir.

“Sonsaengnim, kenapa anda tidak meninggalkan kelas? Ini kan sudah waktunya Han sonsaengnim mengajar?” tanya Kyungsoo, polos. Kyuhyun makin kencang tertawa sedang Siwon menahan emosinya.

“Mungkin sonsaengnim masih betah mengajar disini? Atau mungkin, ia ingin menggantikan Mr. Han mengajar. Benar, kan, sonsaengnim?”

Siwon ingin sekali menghajar pemuda yang dengan tampang tak berdosa itu berpura-pura polos di hadapannya. tapi, itu tidaklah penting yang terpenting sekarang, apa yang harus dilakukannya?

Siwon ingin mati saja rasanya. Mommy, aku menyerah. Aku tidak mau lagi mengajar disini.

Kyuhyun yang melihat wajah frustasi Siwon, mau tak mau merasa iba juga. Ia berdiri dan seluruh siswa menatapnya seketika.

“Aku baru ingat, Han sonsaengnim tadi memberi tahuku untuk langsung berganti pakaian olahraga dan segera ke lapangan sekarang.”

Ini bukanlah sebuah kebohongan. Mr. Han memang meminta Kyuhyun agar mereka semua ke lapangan dan Kyuhyun yang awalnya ingin menunda-nunda terpaksa harus menggagalkannya karena ia tidak ingin Siwon mendapat malu lebih dari ini. Kyuhyun juga masih punya hati kan.

“Tapi, saat ini sedang hujan, Kyu-ah. Pelajaran olahraga memangnya tidak diganti dengan materi, ya?” tanya Baekhyun.

Kyuhyun yang memang dasarnya tidak suka dengan Baekhyun, menjawab dengan sedikit ketus,

“Aku tidak tahu. Aku adalah ketua kelas. Aku yang bertanggung jawab disini dan bukannya kau, Baekhyun-sshi. Tanyakan saja langsung pada Han sonsaengnim jika kau meragukanku.”

Seluruh siswa mengerti. Mereka mulai mengambil kunci lokernya dan mengambil baju olahraga mereka termasuk Baekhyun yang hanya diam tak membalas perkataan Kyuhyun.

“Sonsaengnim, kenapa masih disini?”

Siwon tersenyum kaku menanggapi pertanyaan Oh Sehun. “Saya masih harus meneliti perkejaan kalian tadi.”

Siwon mengambil map miliknya dan mulai mengoreksi tugas-tugas siswanya. Kyuhyun tersenyum misterius.

“Kami permisi dulu, sonsaengnim,” ucap mereka serempak. Siwon tersenyum canggung dan ikut membalas.

Ryeowook dan Kibum meninggalkan Kyuhyun hanya berdua saja dengan Siwon, sebelum mereka sempat berkata ‘Jangan macam-macam! Ini sekolah’ atau ‘Jangan melakukan hal mesum disini, Kyu.’ Semacam itu, membuat Kyuhyun ingin segera mengubur mereka hidup-hidup. Memang apa yang akan mereka lakukan? Kyuhyun hanya ingin menyelesaikan masalah yang ia buat. Just that! Tidak lebih, oke.

“Sudah puas?” tanya Siwon dingin.

“Ayolah, hyung. Aku hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya serius.”

“Bercandamu kelewatan, Kyu.”

“Kau marah?”

“Menurutmu?”

Kyuhyun tahu ia kelewatan.

“Oke. Mian, hyung.”

Kyuhyun membantu Siwon untuk lepas dan nyatanya sulit. Lem itu benar-benar melakukan tugasnya dengan semestinya tapi, ini terlalu berlebihan. Lem ini kuat sekali, Ya Tuhan!

“Lem apa yang kau gunakan, Kyu. Kenapa susah sekali?”

“Lem kayu, hyung.”

Pletak!

Siwon memukul kepala Kyuhyun. Sontak, pemuda cantik itu mundur ke belakang sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut nyeri.

“Kau gila, hah? Lem itu kuat sekali, pabbo!”

“Mana aku tahu, hyung.”

Kyuhyun kembali berusaha. Tapi tetap saja sulit. Seharusnya, ia meminta bantuan teman-temannya tadi. Mereka pasti tertawa-tawa membayangkan Kyuhyun melakukannya sendirian. Uh, tidak setia kawan.

“Lebih baik, kau lepaskan celanamu, hyung.” Usul Kyuhyun yang langsung ditolak Siwon mentah-mentah. Apa iya dia harus setengah telanjang? Enak saja.

“Aku punya celana olahraga. Aku akan mengambilnya.” Kyuhyun berbalik dan mengambil celananya di loker. Ketemu. Ia berjalan ke depan untuk memberikannya pada Siwon.

“Cepat lepas, hyung. Kau mau duduk disana selamanya, apa?”

“Kau kira ini salah siapa?”

Siwon bergumam kesal. Ia sedikit ragu saat melepas celananya.

Kyuhyun memasang wajah datar melihat Siwon hanya mengenakan celana dalamnya saja.

“Jangan melihat kesini, Kyu.”

“Memangnya kenapa? Milik kita sama, kan?” ucap Kyuhyun santai. Siwon lagi-lagi masih sabar. Menahan emosinya yang sudah diubun-ubun itu. Lalu mulai memakai celana olahraga milik Kyuhyun cepat-cepat. Sedangkan Kyuhyun, ia masih berusaha melepaskan celana itu dari kursi.

Berhasil. Ia memberikannya lagi pada Siwon.

“Pakai ini.”

“Kau tidak lihat ada bekas lem di bagian belakang.”

“Lalu, kau mau memakai celanaku sampai jam sekolah berakhir, begitu? Akan ada rumor jika kau menggunakan itu, hyung,” ucap Kyuhyun sok bijak. Siwon diam. Benar juga.

Akhirnya, ia melepas celana itu dan memberikannya pada Kyuhyun. Meskipun bagian belakang ada sisa lem berwarna putih tapi, daripada setengah telanjang.

Lain halnya dengan Siwon yang sekarang mulai bernafas lega karena masalahnya terselesaikan, pemuda cantik dan manis bernama Byun Baekhyun tampak kebingungan mencari-cari ponselnya. Do Kyungsoo yang merupakan teman baiknya memandangnya bingung.

“Ada apa, Baek?” tanya Kyungsoo, lembut. Baekhyun tersenyum dan masih mencari-cari ponselnya.

“Gwenchana, Do.”

“Kau kehilangan sesuatu?” tanya Kyungsoo lagi. Kali ini Baekhyun mengangguk.

“Ponselku. Dimana, ya?”

“Ah, ponsel yang memiliki gantungan kelinci putih?”

“Iya, kau tahu dimana?”

“Kau ini bagaimana sih, Baek. Sepertinya selama kelas berlangsung, kau tidak membuka ponselmu. Mungkin masih didalam tasmu.”

Baekhyun bernafas lega. Ia kira ponselnya tertinggal di rumah dan ia tidak bisa menghubungi kakaknya untuk mengantarkannya ke rumah. Bisa repot nanti.

“Oh, begitu. Terima kasih, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo mengangguk.

“Eh tunggu, Baek.”

“Nde?”

“Sepertinya gantungan ponselmu mirip milik Kyuhyun-sshi yang dulu, sebelum ia menggantinya dengan gantungan kerang itu. Kebetulan sekali, ya?”

Baekhyun diam. Tidak ada yang tahu bahwa mereka dulunya adalah teman baik. Kecuali, Ryeowook dan juga Kibum. Seluruh sekolah juga tahu kalau mereka itu bermusuhan.

“Benar, kebetulan sekali.”

“Tapi, hubungan kalian sepertinya tidak akrab, ya?”

Baekhyun tertawa untuk mengatasi kegugupannya. Kyungsoo dengan wajah polosnya melanjutkan,

“Kalian tidak pernah berbicara dan jika Kyuhyun-sshi ada perlu denganmu dia akan berbicara ketus dan jadi menyebalkan. Tapi, kau tidak apa-apa, kan diperlakukan seperti itu?”

Kyungsoo tampak khawatir.

“Ne, gwenchana. Aku mau mengambil ponselku dulu, ya, Kyungsoo.”

Baekhyun segera berlari menghindari Kyungsoo. Soal mengenai Kyuhyun adalah sesuatu yang sensitif bagi mereka. Sudah empat tahun hubungan mereka seperti itu dan Baekhyun akan berusaha untuk menghindarinya.

Ketika Baekhyun akan membuka pintu kelas, ia bisa melihat dari balik kaca seseorang yang sangat dikenalnya, Cho Kyuhyun dan juga Choi Siwon gurunya tengah berbincang soal sesuatu. Bukan mengenai itu yang membuat Baekhyun menganga dan hampir berteriak, tapi saat Siwon sonsangenim yang dikenalnya sebagai guru yang sopan dan ramah memakai celananya yang saat itu hanya memakai celana dalam di hadapan Kyuhyun.

“Cepatlah, hyung. Nanti bisa ketahuan.”

Baekhyun tak percaya dengan telinganya sendiri. Untuk kali pertama, ia meragukan keasahan telinganya.

“Sabarlah, Kyu. Kau kira gara-gara siapa aku seperti ini.”

Kyuhyun terlihat santai dan tanpa beban melihat Siwon yang setengah telanjang itu. Berbeda dengan Baekhyun yang hampir pingsan melihatnya karena malu.

“Sudah? Aku mau ganti baju dulu, hyung.”

“Oke. Terima kasih, Kyu.”

Baekhyun yang menyadari situasi, segera bersembunyi dibalik tembok. Kyuhyun dan Siwon keluar bersama dan berpisah saat di persimpangan lorong. Baekhyun masih terkejut. Ia bahkan tidak mendengar seseorang memanggilnya karena terlalu berkutat pada pemikirannya. Ia ingin percaya Kyuhyun tapi…

“Baekhyun-sshi!”

Orang itu menepuk pundak Baekhyun saat pria mungil itu tak kunjung menjawab sapaannya. Baekhyun sontak terlonjak karena kaget.

“Ya, Tuhan! Sunbae. Kau membuatku kaget.”

Pria itu cemberut, terkesan dipaksakan.

“Habisnya kau diam saja saat aku memanggilmu. Kau sedang apa disini?”

“Aku? Aku ingin ke kelas mengambil ponselku. Aku ada kelas olahraga setelah ini jadi, sunbae jangan berfikir bahwa aku sedang membolos, ya.”

Pria itu tertawa lalu menggeleng.

“Aku juga. Aku ada latihan basket untuk kejuaraan antar sekolah jadi, Park Sonsaengnim mengijinkanku untuk absen.”

“Oh. Sunbae hebat!”

Baekhyun tersenyum tulus.

“Lalu dimana Kyuhyun? Kau tidak bersamanya?”

Senyum Baekhyun pudar berganti dengan wajah ketus yang menyebalkan.

“Aku tidak tahu.”

Chanyeol, pria itu tampak kecewa. Ia lalu pergi saat beberapa teman satu timnya memintanya untuk segera latihan. Ia pamit dan tersenyum pada Baekhyun.

“Kyuhyun lagi, Kyuhyun lagi. Apa bagusnya sih dia? Lihat saja, Kyu. Aku akan membalasmu. Membalas sakit hatiku karena Chanyeol lebih menyukaimu. Lihat saja.”

Baekhyun menyeringai mengingat kejadian tadi. Ini bisa menjadi senjata yang ampuh baginya untuk menghancurkan Kyuhyun dan membuat Park Chanyeol membencinya. Tinggal menunggu waktu yang tepat baginya untuk melancarkan aksinya.

TBC

Annyeong. Mfkn Sabrina yg update lama bgt. Kemarin ada UAS dan banyak bgt tugas dr dosen, mana uas2nya susah2 lagi. Argghh! Tapi, sudah cukup puas karena pidana saya lg2 dpet A. Ye malah curhat. Haha.
Apakah berasa sinetron chapter ini? Hahaha. Yg pnting g ada scene cewe’nya tertabrak mobil tapi dia ga lari malah teriak gaje atau ga ada scene dimana sang pemeran utama tertukar atau hilang ingatan ya. Hihi. Uh, kapan pesinetronnan di Indonesia itu bisa lebih ‘cerdas’ #geleng2, dan kyaknya sutradara indonesia itu lebih mentingin episode daripada cerita ya.
Oke, drpda bahas yg g penting, Sabrina mau cerita nih chingu. Sabrina kemarin baca di salah satu blog, yang mengatakan bahwa Chanyeol EXO itu palsu. Dia itu pura2 baik padahal sombong. Sumpah itu Sabrina kesel bgt. Secara bias Sabrina di EXO kan Chanyeol. Pdhal yah, menurut PD(produser Director)nya law of the jungle, sepanjang dia syuting sm artis, Chanyeollah yg pling disukai krn dia ceria dan ramah trs waktu salah satu tim terluka jarinya, Chanyeol bahkan nangis krn khawatir. Sombong dr mana coba? Lgian anak2 EXO pd suka deket2 dia. Masa org sombong bnyk yg demen. Kan ngga kan. Jadi, buat temenku yg bilang, masa’ ada lagu berjudul srigala. Hello, itu bukannya aneh, tp itu namanya kreatif. Oke. Sabrina sebel sm orang yg sok2 benci korea pdhal dia ngga tau apa2 tentang korea. Dan lucunya lg, orang itu Sabrina pengaruhi eh malah jd Sparkyu juga sama kyk Sabrina. Katanya, Kyu itu keren di Bonamana, bening bgt waktu liat video2 Kyu di laptopnya Sabrina. Dsr labil, keke.
OK. Mksih ya udah baca curcolnya Sabrina yg g pntg ini. Setelah akhirnya berkutat sama UAS dan belajar TOEFL mati2an, akhirnya Sabrina come back. Semoga tetap pada prinsip awal Sabrina, satu minggu satu cerita, Amin. Jadi, tenang aja g ada cerita yg bakal Sabrina gantung. MRIHBnya juga bakal come back kalau The Melodynya kelar kok. Mohon reviewnya ya. Gamsahamnida. Annyeong, ^_~

The Melody Chapter 9

 

 

Don’t Like, Don’t Read,

It’s simple, It’s easy.

 

Pairing : Of Course and always, Wonkyu (Main Cast), Kriskyu (Slight Cast)

Rated : T

 

 

Chapter 9

 

 

          Seorang pria terduduk dengan tangan-tangannya memegang beberapa kardus berisi album-album foto yang sedikit lusuh. Berkali-kali, ia mengecek, berkali-kali itu pula ia merasa takut, kecewa, dan juga marah. Tak ada satupun dari berpuluh-puluh foto tersebut, wajahnya nampak seperti yang selama ini difikirkannya. Ia kalut, bahkan hampir melempar semua barang yang ada di meja. Gelas-gelas kaca, beberapa arsitektur mahal, dan juga bantal-bantalnya yang sudah terbuang begitu saja. Ia kesal. Melampiaskannya pada benda-benda tak bergerak tersebut. Kalut dan kebingungan. Setidaknya, hingga ia menyadari sesuatu.

 

          ‘Kyu, kapanpun, kau ingin bicara padaku, katakan saja mantra itu dengan begitu, kau tidak akan kesepian.’

 

          Ia ingat perkataan Kibum sewaktu sore saat mereka mengikuti kelas di dunia sihir. Ia mempelajarinya dengan serius karena saat itu, ia benar-benar bosan. Ia juga ingin dirinya membalas pesan teman-temannya melalui telepati. Atau mengajak Siwon kencan. Awalnya memang ingin digunakan untuk berkencan. Tapi, tidak sempat dilakukannya karena saat-saat genting bertarung dengan Kris.

 

          ‘Spalachtich do’ veragus dlacti’

        ‘Kibum. Kumohon. Dengarkan aku.’

 

        Kyuhyun memejamkan matanya. Keyakinannya akan sesuatu sangat kuat hingga dirasakannya segalanya berbeda. Suhu dingin ruang kamarnya berganti dengan suhu hangat yang menenangkan. Ini lebih dari yang dia harapkan ketika mata bulatnya menangkap sebuah gambaran tak asing lagi. Kastil-kastil kuno, festival lampion, beberapa anak-anak bermain kejar-kejaran sambil sesekali merubah benda-benda menjadi katak dan tertawa keras. Baju hitam panjang dengan jubah yang sangat dikenalinya. Apakah ini nyata? Ini benar-benar negeri sihir yang dirindukannya? Ia senang, tentu. Bahkan Kyuhyun hampir terlonjak ketika ia mengingat sesuatu.

 

          ‘Ketika keyakinanmu untuk menemuiku terhalang oleh sesuatu dan berakhir dengan tempat dimana itu asing bagimu. Maka, ditempat itulah, kau akan menemukan jasadku. Karena kau tidak bisa menyampaikan pesanmu padaku, maka dari itu, kau hanya akan menemukan ragaku.’

 

          Kyuhyun mematung.

          Kibum? Kibum, sahabatnya? Tidak. Tidak mungkin. Ini tidak nyata, kan? Bukankah Kibum bilang, dia hidup abadi?

 

          Beberapa anak remaja didepannya tertawa-tawa sambil memainkan tongkat-tongkatan sihir yang dipamerkannya kepada teman-temannya. Mereka masing-masing memegang lampion dan masih saling bercanda,

 

          “Kau dengar, si pembunuh berjuluk naga emas telah mati. Dan kau tahu, para srigala melonglong pertanda ada kematian didalam istana juga. Siapa yang bisa menebak?”

 

          Sang gadis yang paling pendek terbengong sambil menampakkan gesture ngeri.

 

          “Istana? Keluarga raja. Apakah ini ada kaitannya dengan sang pembunuh itu?”

 

          “Bukankah ia tidak bisa mati? Kudengar, dia kekal dan sangat angkuh.”

 

          “Siapa yang menyangka jika itu berakhir dramatis. Mungkin sebentar lagi, ada pengumuman dari pihak istana.”

 

          Perkataan mereka seperti dengungan kematian bagi sang pemuda manis yang baru saja tiba di sini. Matanya kosong. Tubuhnya tiba-tiba melemah dan ia terjatuh sambil terus menerus memanggil nama Kibum. Berkali-kali, hingga tanpa sadar, ia menangis. Memeluk lututnya dan bahunya bergetar. Ia tidak ingin menerima kenyataan menakutkan ini. Ia tidak ingin menatap wajah dingin dan pucat Kibum yang tak bergerak. Kyuhyun hanya ingin menatap matanya yang terbuka, mendengar suaranya dan juga melihat tawanya yang tulus. Kyuhyun hanya ingin itu, apakah itu sulit?

Ya Tuhan, jangan ambil dia dariku.

 

          “Kibum. Hiks. Kajima, jebal, Kajima.” Berkali-kali, ia meneriakan nama itu hingga tenggorokannya serasa tersendat. Tersiksa. Dadanya berdenyut sakit dan air matanya tak henti menetes. Ini sangat menyakitkan.

 

 

Flashback, Skeleton City, 8 Januari 1967.

 

          “Kibum-ah, ajari aku mantra ini. Ini sulit sekali.”

 

          Kibum tersenyum melihat wajah Kyuhyun yang kini sedang menunjukkan aegyo miliknya. Dengan cepat, ia mengambil buku-buku tebal milik Kyuhyun, tidak ingin pemuda manis itu menunggu terlalu lama. Kyuhyun tersenyum senang melihat Kibum yang bersedia mengajarinya. Ternyata, Kibum tidak seburuk yang ia fikirkan; terakhir kali, Kibum menggunakan mantra dan tidak membuatnya bergerak selama beberapa saat. Itu mengesalkan, bagi Kyuhyun.

 

          “Kau cukup menambahkan ramuan ini dan satu helai rambutmu sendiri. Minum dengan mengatakan ‘Do Jein lawchess do sprie’tte’ dan minum ramuan itu saat tengah malam menghadap timur. Mudah bukan?”

 

          “DoJein Lawchess do spriete?”

 

          “Ani, Do, jeda Jein Lawchess do sprie, jeda lagi lalu, ette.”

 

          “Oh, arraseo. Gamsahamnida.”

 

          Kibum tersenyum tipis lalu melanjutkan membaca bukunya. Ia melirik Kyuhyun yang selalu gagal mengucapkan mantra sihirnya. Ia mungkin harus menghibur Kyuhyun dulu sebelum kembali berkutat pada dunia bukunya.

 

          “Kyuhyun-sshi.”

 

          “Ne?”

 

          Kyuhyun menoleh dan mata polosnya mau tak mau membuat Kibum tertawa geli. Betapa manis dan menggemaskannya pemuda ini. Masih sama- seperti yang dikenalnya dulu.

 

          “Kau tahu, dulu orangtuaku sering mengeluh padaku.”

 

          “Mengeluh? Tentang apa?”

 

          Kyuhyun memiringkan kepalanya, pertanda jika ia sedang berfikir. Kibum tersenyum lagi.

 

          “Ibuku dari dulu menginginkan seorang anak perempuan. Anak gadis yang bisa membantunya merajut atau melukis dan menanam bunga.”

 

          Kyuhyun terkekeh. Dulu, dia juga begitu, karena itu, ibunya sering memanjakan Taemin nonna dibanding dirinya.

 

          “Tapi, aku justru sering mengubah boneka yang dibelikannya menjadi katak. Membantunya membuat kue rasa darah kelelawar.”

 

          Kyuhyun makin tertawa keras.

 

          “Bodoh! Seharusnya, kau membuat kue rasa coklat!”

 

          “Aku tahu. Dan ibuku sering cemberut karena hal itu.”

 

          “Lalu, bagaimana dengan ayahmu?”

 

          Kibum tersenyum aneh. Kyuhyun bisa menangkap bahwa ini adalah senyum kesedihan. Jika dari yang didengar dari si mesum- Choi Siwon, Kibum hidup sebatang kara karena hidup kekalnya yang harus melihat orang-orang terdekatnya mati. Kyuhyun memegang tangan Kibum lembut, seolah menenangkan. Dan benar saja, Kibum merubah raut wajahnya menjadi seperti biasa kembali.

 

          “Ayahku bilang, bukankah kita seorang penyihir. Mengubah benda-benda menjadi katak dan darah adalah pekerjaan kita.”

 

          Kyuhyun tertawa, memegangi perutnya dan kepalanya terantuk meja karena terlalu dramatis. Kibum menatapnya bingung. Bagian mana yang lucu? Oh, mungkin, karena Kyuhyun adalah seorang manusia. Pasti terdengar aneh.

 

          “Keluargamu aneh, Kibum-sshi.”

 

          “Aku tahu. Tapi, aku juga memuja katak serta darah. Mencintai keluargaku yang aneh dan juga sadis. Yah, begitulah.”

 

          “Lalu, dimana mereka?”

 

          Ups, Kyuhyun lupa. Bodohnya dirinya yang pelupa dan juga ceroboh. Ia tersenyum canggung, “Ah- maafkan aku, Kibum.”

 

          “Tidak apa-apa. Kau mau melakukan sesuatu denganku?”

 

          “Melakukan apa?”

 

          Kyuhyun terlihat bersemangat.

 

          “Menanam jamur beracun dan juga gigi kucing Minho.”

 

          “Gigi kucing Minho?”

 

          Kyuhyun memekik agak keras lalu menutup mulutnya sendiri ketika matanya menangkap wajah Minho tak jauh dari tempat mereka duduk sekarang.

 

          “Kau yang menculiknya? Kau tahu, Minho mencarinya sampai-sampai membuat brosur yang bisa bergerak-gerak sendiri.”

 

          Kibum melakukan gesture seolah-seolah Kyuhyun harus diam. Jari telunjuknya ia letakkan di mulut tipisnya. Kyuhyun merunduk dan ikut melakukan gesture itu seperti latah.

 

          “Aku tahu. Habisnya, Kucing Minho itu selalu gaduh di sekitar asrama kita. Aku tidak bisa tidur selama beberapa hari.”

 

          “Itu karena kucing akan bersuara gaduh jika melakukan hubungan intim.”

 

          “Benarkah?”

 

          “Menurut buku biologi yang aku baca seperti itu, sih.” Kyuhyun nampak mengingat-ingat nama bukunya tapi, ia tidak bisa mengingatnya.

 

          “Apa itu biologi?” tanya Kibum.

 

          Kyuhyun tidak menjawab, karena malas dan lebih memilih menggeret Kibum ke kebun belakang tempat dimana masing-masing anak memiliki daerah sendiri. Nama Kibum yang mencolok karena papan namanya bergambar foto dirinya sedang membaca buku, memudahkan Kyuhyun menemukannya.

 

          “Apa yang kau tunggu? Ayo menanam!”

 

          Kyuhyun menggeret Kibum dan Kibum menurut saja. Ia mencabuti seluruh tanaman bunga yang menurutnya jelek dan menanam semak berduri dan tumbuhan berdaun tajam. Lalu, menambahkan sarang laba-laba dan bangkai lalat di papan namanya. Kyuhyun bergedik ngeri lalu cemberut.

 

          “Apa?” tanya Kibum.

 

          “Dasar penyihir,”

 

          Dan berakhir dengan tawa Kyuhyun yang membahana ketika Kibum terus menerus menggerutu soal betapa rapi dan indahnya kebun miliknya. Ia terus menanami tumbuhan beracun dan juga tanaman bergerigi yang besar-besar. Membuat kebunnya makin aneh dan mengerikan dibanding miliknya.

 

Flashback OFF.

 

          Kyuhyun tidak tahu mengapa kakinya melangkah kesini. Sekolah yang sangat dikenalnya. Sekolah itu tersembunyi dari dunia luar dan terdapat di lembah rahasia diantara kota-kota yang cukup makmur. Ia berjalan pelan. Karena linglung, ia hampir terjatuh. Seseorang menangkapnya.

 

          “Kau tidak apa-apa?”

 

          “Hn.”

 

          Kyuhyun masih sesenggukan meski kini ia diam. Pemuda yang menabraknya tersenyum lalu berkata pelan,

 

          “Ayo masuk! Kau akan menghadiri pemakaman Kim Kibum, kan?”

Tuhan, katakan ini mimpi, kumohon.

 

          “Aku pergi dulu.”

 

          Kyuhyun segera menahan lengan pemuda itu. Suaranya yang serak karena menangis hampir hilang dan kemudian berganti menjadi tangisan. Pemuda itu panik lalu mencoba menenangkan Kyuhyun sebisanya.

 

          “Hei, kau tidak apa-apa? Uljima.”

 

          “Kenapa?”

 

          “Apa?” ulang pria itu, sedikit menunduk menatap Kyuhyun yang masih terus menunduk.

 

          “Kenapa dia meninggal?”

          “Ah- kudengar, dia bertarung dengan…” Pria itu nampak enggan menyebutnya tapi, tetap melanjutkan, “Master,”

 

DEG!

          Tuhan. Komohon. Jangan katakan ini.

 

          “Kau mau pergi?”

 

          Kyuhyun bingung. Tapi, ia ingin memastikannya. Mematiskan bahwa itu benarlah sahabatnya. Tapi, Kyuhyun takut, entah karena apa.

 

          “Dia pergi bersamaku.”

 

DEG!

 

Suara itu. Suara yang sangat dirindukannya. Suara yang selalu menghantui malam-malamnya. Suara yang selalu membuatnya berdebar-debar ketika mendengarnya.

 

          “Ah, annyeong haseyo, Choi Siwon-sshi. Baiklah. Kalau begitu, saya permisi dulu. Selamat malam.”

 

          Dan tinggallah mereka berdua dalam keheningan. Kyuhyun membatu. Ia takut untuk sekedar membalikkan badannya dan Siwon yang tak kunjung bicara membuatnya sedih, cemas, takut dan merasa terluka. Tiba-tiba ingatannya pada kejadian itu dan juga apa yang dialami oleh Kibum membuatnya goyah dan tanpa bisa dicegah, ia menangis. Lagi-lagi, sebagai seorang pria, Kyuhyun selalu bersikap cengeng.

 

          “Apa yang terjadi? Hiks… hyung, Kibum… Katakan ini tidak benar. Ini bohong, kan? Kibum tidak pergi meninggalkan kita, kan, hyung.”

 

          Jeda. Kyuhyun masih menangis dan Siwon masih belum menjawab pertanyaannya.

 

          “Kibum meninggalkan kita. Sama sepertimu yang meninggalkan kita saat itu.”

 

          “H-Hyung?”

 

          “Kau mau masuk atau tidak? Aku tidak ingin berlama-lama meninggalkan Kibum sendirian kedinginan disana.”

 

          Kyuhyun tercengang. Masih memproses kejadian yang terlalu cepat baginya saat ini.

 

          “Oh, benar, kau pasti tidak akan perduli dan hanya pergi berlalu begitu saja. Sama. Sama seperti dulu.”

 

          “Hyung?”

 

          “Aku pergi.”

 

          Kyuhyun tidak ingin Siwon pergi begitu saja. Meninggalkannya setelah kerinduannya selama ini. Dengan kesalahpahaman yang terjadi, Kyuhyun tidak akan membiarkannya pergi lagi. Tidak akan.

 

          “Aku ikut, hyung.”

 

          Siwon menoleh, memandangnya datar.

 

          Kemudian, mereka berjalan beriringan di kegelapan malam bersama lampion-lampion terbang yang ada disudut-sudut ruangan. Menaiki tangga, menuju sebuah gerbang yang tinggi dan menjulang mengerikan.

 

          “Kalian sudah lama menunggu?”

 

          Siwon berkata pada Donghae dan Changmin yang menatap Kyuhyun sedikit kaget lalu kembali menatap Siwon seperti biasa.

 

          “Tidak juga,” jawab Donghae singkat.

 

          Changmin menatap Kyuhyun tak suka. Ia bahkan menarik lengan Kyuhyun kuat seakan bisa saja melukainya. Siwon mencegahnya berbuat jauh. Hanya berbekas merah dan sedikit cakaran kuku.

 

          “Mau apa kau kemari?”

 

          “Changmin! Lepaskan dia!”

 

          “Kau masih saja membelanya, hyung? Ya Tuhan! Kau benar-benar manusia tolol.”

 

          Siwon bisa mendengar suara isakan Kyuhyun yang terdengar mengiris hatinya. Ia tidak ingin mendengar suara tangisan itu lagi maka, ia menggunakan tubuhnya untuk memeluk Kyuhyun. Kyuhyun sempat terdiam, terkejut lalu membalas pelukannya dan menangis lagi. Kali ini lebih keras.

 

          “Maaf. Maafkan aku. Sungguh, aku menyesal, hyung.”

 

          Siwon menghela nafas. Melepas pelukannya lalu tersenyum lembut, seperti cahaya matahari.

 

          “Kibum. Dia tidak apa-apa,” ujarnya lembut. Sedikit penekanan dengan kata ‘tidak apa-apa’

 

          “Apa maksudmu?” tanya Kyuhyun dingin. Ia tidak suka dibodohi ataupun semacamnya. Mengenai Kibum, itu adalah sesuatu yang serius bukan untuk mainan.

 

          “Kami menyebarkan rumor bahwa Kibum telah pergi. Bukan tanpa alasan, Yunho mati dan untuk berjaga-jaga, kami akan menyembunyikan Kibum untuk sesuatu yang besar besok. Besok malam.”

 

          “Yunho? Mati.”

 

          “Ne, Kibum membunuhnya kemarin. Sungmin baik-baik saja tapi, Kris terluka parah.” Donghae menjelaskan. Kyuhyun jatuh terduduk memegangi dadanya yang mulai kembali berdetak. Ia lega. Lega luar biasa.

 

          “Kenapa aku bisa ada disini setelah mengirimnya telepati?”

 

          “Itu karena Kibum yang memanggilmu kemari, baby.”

 

          Kyuhyun makin cemberut. Tangannya yang bebas memukul lengan Siwon keras.

          “Kalian mengerjaiku,” sungutnya sebal. Donghae terkikik dan Changmin mengendikkan bahunya acuh, pertanda dia menikmati acara ‘mari-membentak-kyuhyun’ itu.

 

          “Maaf, baby. Maafkan hyung.”

 

          “Aku takut, hyung. Takut kau benar-benar akan pergi.”

 

          “Tidak akan pernah. Aku tidak akan pernah berbalik darimu. Kau segalanya untukku, sayang.”

 

          Wajah Kyuhyun memerah ketika Siwon membawanya kedalam pelukannya. Hangat, nyaman, menenangkan. Kyuhyun benar-benar suka keadaan dimana dirinya dan Siwon sedang berdua seperti ini. Hingga suara deheman Changmin, membuat pelukan mereka terlepas secara paksa. Kyuhyun cemberut, belum puas akan kerinduannya terhadap Siwon yang kini terkekeh melihat wajah sebalnya.

 

          “Lalu, dimana dia?”

 

          Hening. Senyum Kyuhyun kembali memudar.

 

          “Aku disini, Kyu.”

 

          “Kibum?”

 

          Kyuhyun langsung menerjang tubuh Kibum dengan pelukan yang erat dan hangat. Kibum tertawa dan membalas pelukan Kyuhyun. Ini barulah nyata, ini bukan mimpi, kan? Tuhan. Terima kasih.

 

***

          “Jadi, besok malam adalah pertarungan terakhir?” tanya Kyuhyun was-was. Kini, ia sedang berada dalam pelukan Siwon dengan kepalanya bersandar di dada bidangnya. Ini pertama kalinya, Kibum membiarkannya tidur sekamar dengan Siwon. Entah mengapa, Kibum berbaik hati hari ini. Siwon tentu senang.

 

          “Hm. Kau takut?”

 

          “Takut sekali, hyung.”

 

          Siwon terkekeh. Menarik wajah Kyuhyun agar mendongak menatap wajahnya. Ia rindu babykyunya, merindukan suaranya, tawanya, dan semua ekspresinya.

 

          “Aku merindukanmu, baby.”

 

          “Nado, hyung. Maafkan aku karena meninggalkan kalian dulu.”

 

          Siwon tersenyum lembut. Itulah mengapa, mereka tadi mengerjai Kyuhyun sedikit. Menyenangkan melihat ekspresinya tapi juga sedikit merasa bersalah.

 

          “Saranghae, Choi Siwon.”

 

DEG!

 

          Ini pertama kalinya, seingatnya, ini adalah kali pertama Kyuhyun mengucapkan kata itu padanya. Siwon senang sekali. Hidupnya terasa sempurna.

 

          “Aku menginginkanmu, hyung. Malam ini,” bisik Kyuhyun pelan di telinga Siwon yang seketika tubuhnya menegang. Apa maksud perkataan Kyuhyun? Apa ia salah dengar tadi?

 

          “Hyung…”

 

          “K-Kyu?”

 

          Kyuhyun tersenyum lembut lalu menjilat dagu Siwon dengan gerakan erotis. Tangan jarinya bergerak-gerak bermain di dada Siwon, memberikan rangsangan yang aneh yang membuatnya bergairah.

 

          “Aku tidak mau memaksamu, sayang.”

 

          Beruntung, Siwon bisa menguasai nafsunya secepat mungkin. Ia mencintai Kyuhyun, ia tidak ingin menyakiti ataupun memaksa kehendaknya pada pria yang kini masih sibuk menjilat-jilati lehernya. Tunggu?

 

          “K-Kyuhh?”

 

          Wajah Siwon memerah ketika tangan Kyuhyun bergerak makin berani menyentuh alat vitalnya. Mengurutnya pelan dari luar celananya.

 

          “Hyung, masukan ini kedalam tubuhku. Sekarang!”

 

          Kyuhyun mendorong tubuh Siwon dan menindihnya. Membuka pakaian Siwon dengan cekatan meski wajahnya memerah. Entah apa yang memasukinya malam ini. Ia hanya ingin mengikuti nalurinya. Memiliki Siwon seutuhnya. Karena ia takut. Takut entah karena apa.

 

          “Kau yang memaksaku melakukan ini, Baby.”

 

          Kilatan mata Siwon sungguh berbahaya. Kyuhyun menyeringai.

 

          “Tentu. Lakukan, hyung. Ahh…”

 

          Siwon membalik posisinya sebagaimana mestinya.

 

          “Bersiaplah, Ny. Choi.”

 

          Dan malam itu, adalah malam pertama mereka melakukan seks untuk pertama kali bagi keduanya. Lembut diawal karena mereka melakukan penuh cinta namun, ketika nafsu mulai menguasai, mereka melakukannya dengan sedikit kasar. Berkali-kali, bahkan puluhan kali Kyuhyun klimaks, tak membuat Siwon berhenti memasuki tubuhnya. Wajah tak berdaya dan mata sayu Kyuhyun, mampu membuat Siwon hilang akal dan menggagahi Kyuhyun hingga pagi. Kyuhyun hanya bisa menurut, toh, ini yang dia inginkan.

 

          Matahari mulai muncul. Sinar keemasan mengusik kedua orang yang masih saling berpelukan tersebut. Kyuhyun adalah yang bangun untuk pertama kalinya karena Siwon terlalu lelah dan mengantuk untuk bangun.

 

          “Bangun, hyung. Kita turun.”

 

          Kyuhyun tertawa melihat betapa sulitnya membangunkan Siwon saat pagi hari. Lihat saja, tangannya yang masih memeluk Kyuhyun seolah tidak ingin Kyuhyun pergi. Tapi, Kyuhyun harus pergi, setidaknya, ia ingin mandi karena tubuhnya lengket semua.

 

          “Hyung, aku mau mandi. Lepaskan aku.”

 

          Siwon menurut, seperti seorang suami yang baik. Kyuhyun menggelung selimutnya untuk menutupi tubuh telanjangnya lalu bergegas ke kamar mandi.

 

          “Hyung, saat aku selesai, kau harus bangun. Kyaaa.”

 

          Kyuhyun terkejut, panik. Tubuh telanjang Siwon tidak tertutupi apa-apa. Ia lupa, bahwa selimut mereka hanya ada satu, itupun untuk menutupi tubuh telanjangnya. Ia menutup mata, refleks. Siwon bangun karena mendengar teriakan Kyuhyun.

 

          “Baby? Kenapa ditutup? Bukankah kau sudah puas melihatnya dan merasakannya?”

 

          “Ya! Dasar bodoh! Aku malu, hyung.”

 

          “Malu? Tadi malam bahkan kau sangat nakal, baby.”

 

          Kyuhyun melotot. Teringat bagaimana dirinya tadi malam. Benar-benar memalukan.

 

          “Jangan diingat-ingat lagi, hyung. Aku mau mandi!”

 

          “Tapi, aku suka dengan kenakalanmu, sayang.”

 

BRAK

          Pintu kamar mandi tertutup dengan amat kencang. Siwon tertawa dan Kyuhyun masih mendumel didalam kamar mandi. Mengutuk dirinya yang entah mengapa bisa menjadi seperti itu. Ini pertama kalinya, Kyuhyun melakukan hal paling memalukan sepanjang hidupnya tetapi menyenangkan dan juga mendebarkan. Ia bahagia. Menyatu seutuhnya dengan seseorang yang amat dicintainya.

 

          Pagi hari, gerombolan siswa berlari-lari bermain sesuatu di Lobi. Mereka berkejaran sambil memainkan tongkat sihirnya, mengubah sesuatu sewarna merah darah, atau menjadi lalat-lalat dan katak terbang. Menceritakan mengenai barang antik mereka, kekuatan baru, atau bagaimana malam lampion itu begitu menyenangkan, dan bahkan soal gunjingan Kibum terkait dengan pihak keluarga istana. Namun, ketika rombongan Siwon datang, gunjingan itu berubah menjadi candaan seperti biasa.

 

          “Lihat, lintah itu. Berada disisi Siwon-sshi seperti siput.”

 

          Meski pelan, Kyuhyun nyaris mendengar semua yang mereka bicarakan. Posisi Kyuhyun paling belakang untuk bisa mendengar bagaimana mereka bicara dan S

iwon yang sedang berbicara dengan Donghae didepan.

 

          “Benar, merayu seperti pelacur. Aku sungguh ingin mengubahnya menjadi siput. Pria menjijikkan.”

 

          “Lihat, dia melihat kita!” pekik seorang gadis, panik.

 

          “Apa yang kau lihat?” tantang temannya yang lain.

 

          Kyuhyun terdiam dan hanya berlalu saja. Baginya, mereka semua tidaklah penting. Tentu saja mereka iri, Kyuhyun bisa mendapatkan pria seperti Choi Siwon. Tampan, populer, terpandang, kuat, setia dan sangat mencintai serta menjaganya. Bukankah itu sempurna? Kyuhyun sangat beruntung mendapatkan Siwon terlebih tadi malam. Penyatuan yang mungkin akan mengikat mereka untuk selamanya. Ah, Kyuhyun malu mengingatnya.

 

          Siwon tiba-tiba berhenti berjalan dan Donghae mendahuluinya dengan Changmin. Mereka paham, Siwon ingin berduaan dengan Kyuhyun.

 

          “Baby, apakah masih sakit?”

 

          “Eh? Apa?”

 

          Kyuhyun mendongak dan wajahnya masih agak memerah karena barusan memikirkan sesuatu yang tidak semestinya ia ingat-ingat. Siwon mengacak rambutnya sayang, tersenyum.

 

          “Pinggulmu. Masih sakit?”

 

          Wajah Kyuhyun kembali memerah kali ini sangat merah.

 

          “Ti-tidak, hyung.”

 

          Kyuhyun berkata jujur. Entah bagaimana tadi sebelum mereka berangkat ke sekolah, Siwon memantrainya dan rasa sakit dan nyeri di sekitar selangkangannya tiba-tiba secara ajaib menghilang. Ada baiknya juga mempunyai kekasih seorang penyihir, pikir Kyuhyun.

 

          “Baguslah. Ayo masuk kelas.”

 

          Kyuhyun mengangguk riang. Ia duduk di bangku seperti biasa. Sudah cukup lama mereka semua absen dan hampir seluruh siswa memandang mereka heran, kaget, serta ingin tahu. Terutama setelah kematian Kibum.

 

          “Hyung, sebenarnya, dia ada dimana sekarang?” tanya Kyuhyun begitu melihat bangku di sampingnya kosong. Ia jadi teringat Kibum.

 

          “Mungkin ada di hutan, tidur.”

 

          “Oh.”

 

          Kyuhyun menatap bangku itu lagi. Merindukan sahabat terbaiknya itu. Sepi rasanya tanpa sosok Kibum yang selalu digodanya. Ada sesuatu yang hilang dan ia sedih karena itu.

 

          Pelajaran cepat selesai. Kecuali kenyataan bahwa Kyuhyun selalu keliru dan mengulang-ualng kembali berbagai macam sihir yang tidak bisa dihafalnya dengan mudah. Karena Siwon yang terus mempelototinya, Song sonsaengnim membiarkan Kyuhyun duduk meski dia belum bisa mempraktekkan apa-apa. Seluruh siswa menghela nafas. Bosan. Selalu seperti itu. Berlindung dibalik nama besar Siwon sudah menjadi kebiasaan Kyuhyun. Karena itulah, mereka kesal dengannya dan juga karena faktor darah manusia dari Kyuhyun.

 

          “Baby, sudahlah, tidak apa-apa.”

 

          Kyuhyun tengah mendiamkan Siwon yang selalu melindunginya. Ia ingin mandiri, ingin menunjukkan pada mereka bahwa dia bisa melakukannya tanpa bantuan Siwon.

 

          “Masa bodoh denganmu, Choi Siwon-sshi.”

 

          Donghae tidak mau ikut campur. Ia lebih memilih mengikuti teman-temannya keluar kelas. Mungkin ke kantin atau ke perpustakaan. Dan tinggallah mereka berdua di kelas. Hening. Sampai Siwon membuka suaranya.

 

          “Jadi, kau mau apa?”

 

          “Jangan membantuku lagi seperti tadi. Kau tahu, mereka semakin membenciku karena hal tadi.”

 

          Siwon mendekati Kyuhyun dan duduk disampingnya.

 

          “Baiklah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji. Jangan marah, baby.”

 

          Kyuhyun mengangguk imut dan memeluk Siwon kencang. Jika Siwon manusia biasa, pasti ia sudah kehabisan nafas.

 

          “Saranghae, hyung. Noeumu saranghae.”

 

          Siwon tersenyum lembut.

          “Nado, Kyu. Nado saranghae.”

 

          Mereka berpelukan lama seperti tidak ada yang rela melepasnya. Hingga suara Siwon terdengar di telinganya dan Kyuhyun yang menegang karenanya. Ia tidak bisa mengekspresikan hatinya saat ini.

 

          “Kyu, maukah kau menikah denganku?”

 

          Kyuhyun tanpa berfikir panjang. Tanpa memperdulikan perbedaan diantara mereka, dunia mereka yang berbeda, mengangguk setuju dan mereka tertawa bersama. Siwon berkali-kali mengecup bibir Kyuhyun lembut. Menyalurkan seluruh

kegembiraan hatinya.

 

          “Seharusnya kau melamarku ditempat yang romantis, pabbo!”

 

          Siwon mencium kening Kyuhyun lembut. Meresapi harum wangi manusia Kyuhyun yang seharusnya membuatnya marah, kesal, dan intuisi membunuh yang bisa saja meninggi tapi, bersama Kyuhyun, segalanya berubah. Sifat dinginnya menjadi lebih manusiawi dan cintanya terbalaskan. Bukankah ini kehidupan yang sempurna?

 

 

Didalam kastil istana, daerah lembah, 12 Oktober 1967.

 

 

          Istana begitu sunyi. Sejak kematian Yunho, tak banyak pergerakan yang berarti dari pihak istana. Hanya masih terdapat sisa dari pemakaman kemarin. Tak banyak yang datang kecuali petinggi negara atau rakyat jelata yang menyaksikkan dari luar gerbang.

 

          Kris berdiri di depan jendela. Menatap udara kosong yang membuat hatinya lebih tenang. Entahlah, apa ia harus sedih atau gembira. Bagaimanapun, Yunho tetaplah anak kandungnya. Meski sejahat apapun Yunho, ia tetap menyayangkannya. Begitu juga Siwon, sebenarnya, jauh didalam lubuk hatinya, ia tidak ingin membunuh putra bungsunya itu. Ia hanya ingin mengambil miliknya kembali. Apakah itu sulit?

 

          “Selamat siang, Yang Mulia Master.”

 

          Sungmin datang membawa satu keranjang obat-obatan herbal yang digunakan untuk menyembuhkan luka Kris. Sihir biasa tak mampu melakukannya.

 

          Kris menoleh dan menghampiri Sungmin.

 

          “Anda tampak masih sama. Apakah separah itu lukanya?”

 

          Kris mengangguk singkat lalu mengambil dedaunan yang dicampur dengan beberapa ramuan yang diracik oleh Sungmin sendiri. Sakit saat ramuan itu menembus kulitnya. Ia menahan sakit dengan meringis.

 

          “Apakah anda akan berhenti? Anda akan merelakannya?”

 

          Kris menghentikan pergerakannya lalu menatap Sungmin dalam. Ada kesedihan, tak rela dan juga kasih sayang. Kris hanyalah seorang suami dan ayah yang sangat rapuh. Sungmin tersenyum lembut lalu berganti mengobati luka Kris dengan tangannya.

 

          “Saya tahu anda bingung.”

 

          “Aku masih ingin memilikinya.”

 

          Pergerakan tangan Sungmin berhenti. Untuk sesaat, ia kecewa mendengar pengakuan Kris.

 

          “Tetapi, aku juga ingin memeluk Siwon dan menghabiskan sisa hidupku bersama dengannya.”

 

          Sungmin tersenyum tipis.

 

          “Apa keputusan anda, Yang Mulia?”

 

          “Aku ingin memiliki keduanya.”

 

          Sungmin tercengang. Kris sekarang banyak berubah semenjak kematian Yunho tetapi, tatapan intimidasi dan juga obsesi masih memenuhi seluruh kemauannya. Sungmin yakin, cara yang akan ditempuh Kris tetaplah sama, cara kekerasan. Dan memiliki Kyuhyun dalam artian yang tidak pernah berubah.

 

          “Anda tidak pernah berubah, Yang Mulia.”

 

          Sungmin tidak banyak bicara setelahnya. Ia hanya melakukan tugasnya mengobati Kris lalu pergi dari kamarnya. Waktu cepat sekali berlalu. Sungmin yang sudah sedikit baikan, melakukan rutinitasnya yaitu mengecek beberapa koridor di sekitar kastil. Ia melihat beberapa patroli berpencar dan melakukan tugasnya dengan baik.

 

          Semakin malam, semakin dingin. Hawanya sedikit berbeda dari terakhir Sungmin bisa rasakan. Perasaannya semakin tidak karuan ketika melihat sekelebat bayangan hitam melintasi wajahnya. Jauh berada di langit-langit malam tapi Sungmin dapat merasakannya. Ia berbalik dan melompat menuju bayangan itu.

 

          “Brengsek! Siapa kau? Berhenti!”

 

          Sungmin berteriak keras dan orang itu mendengar. Ia berhenti dan menunggu Sungmin dari belakang. Lompatan yang cepat dan lari seperti kilat. Ini seperti keahlian milik Lee Donghae. Apakah mungkin?

 

          “Apa kabar, Sungmin-sshi?”

 

          Sungmin tersenyum meremehkan. Ternyata Donghae. Bukan masalah baginya karena kekuatan Donghae jauh diatasnya. Ia bukannya sombong, ia hanya tahu dengan jelas level diantara mereka.

 

          “Ternyata kau.”

 

          Meremehkan. Itulah sorot mata yang bisa ditangkap oleh Donghae. Tapi, ia tersenyum begitu sosok lainnya muncul dari balik tubuh Donghae. Sosok yang mampu membuat Sungmin menjadi ciut nyali dan mulai was-was. Kali ini, Donghae tersenyum penuh kemenangan.

 

          “Kau? Kau belum mati?”

 

          “Tentu saja. Kau kira aku akan mati semudah itu?”

 

          Sungmin memasang kuda-kudanya. Bersiap melakukan apa saja untuk mempertahankan dirinya.

 

          ‘Sial! Seharusnya, aku bisa menduganya. Kuharap meninggalkan Yang Mulia disana tidak apa-apa.’

 

          Malam itu pula, malam yang sama yang dirasakan oleh Kris. Ketakutan ketika melihat wajah anaknya menyeringai dari balik jendela dan menembus temboknya. Ia bisa saja berteriak meminta tolong pada patroli yang ada dibawah ataupun kepada dayang dan pelayan yang selalu siap siaga di luar kamarnya. Tapi, itu melukai harga dirinya. Meskipun kini ia sedang terluka parah, pantang baginya untuk meminta bantuan oranglain.

 

          “Aboji.”

 

          Mereka saling menatap hingga sebuah suara halus yang sangat dihafal oleh Kris membuatnya tak lagi fokus menatap Siwon.

 

          “Aku akan membunuhmu, Kris!”

 

          Pistol revolver yang memiliki satu peluru picu yang khusus dibuat Kibum untuk membunuhnya. Bau gas yang dicampur dengan beberapa mantra-mantra yang dapat membunuhnya telak di jantung. Kyuhyun tanpa ketakutan ataupun ragu, mengarahkan pistol itu tepat di depan dadanya. Kris mematung. Apakah hidupnya akan berakhir ditangan orang yang dicintanya? mendiang istrinya sendiri? ataukah…

 

DOR!

 

          “Berhenti!”

 

 

TBC.

 

My Husband, Hotter than my Fantasy Chapter 2

Don’t Like, Don’t Read!
Enjoy…

Chapter 2
“Pernikahan.”

Wonkyu Story…

Entah sudah keberapa kalinya, Siwon memutari Seoul. Berkali-kali, ia berteriak frustasi karena kelakuan Kyuhyun yang benar-benar membuat emosinya meledak. Seharusnya, sekarang ia sedang berkencan dengan Sulli atau mungkin dengan Tiffany dan pergi berkencan ke taman hiburan, menonton film dan mungkin juga menghabiskan waktu seharian di tempat tidurnya yang nyaman. Yah- seharusnya.

“Ah. Aku bisa gila.” Siwon membanting setir ke kanan dengan kasar. Ia tidak habis fikir, mengapa ia bisa bertemu dengan Kyuhyun dan berakhir dengan pernikahan yang menurutnya konyol. OK, Siwon akui, Kyuhyun sangat seksi dan menarik, tapi tidak untuk kepribadiannya. Itu bonus yang sangat buruk.

“Yeobseyo. Hyung, apakah kau sedang sibuk?” Siwon masih menyetir sedang telinganya sudah dipasangi earphone agar tidak terlalu mengganggu kemudinya.

“Tidak juga. Aku sedang di cafe kopiku. Waeyo?”

“Bisakah aku meminta bantuan mencari Kyuhyun?”

“Kyuhyun? Ada apa dengannya? Dia mencari masalah lagi?” Siwon menjawab dengan malas. Ia tidak menjelaskan secara rinci karena fisiknya yang sudah terlalu lelah. Dia hanya berharap Yesung yang sudah dianggapnya sebagai kakak membantunya menangani sang bocah bengal.

“Kau yang lebih dekat dengannya. Jadi hanya kau yang bisa membantuku. This a emergency, hyung. My mommy would kill me if not take it home. Yeah- you know my mommy, right?”

“Arraseo. Aku akan coba mencarinya.” Siwon menghela nafas lega. Tidak percuma dia menghubungi Yesung. Yesung memang dekat dengan Kyuhyun selama ini. Mereka bertiga sebenarnya adalah tetangga yang rukun, sebelum akhirnya mereka berpisah dengan kehidupannya masing-masing.

“Won.” Yesung menyela sebelum Siwon menutup teleponnya.

“Nde?”

“Kyuhyun hanya bingung. Dia merindukanmu tapi dia juga merasa kecewa. Aku rasa dia hanya tidak tahu cara menyampaikan perasaannya. You know, maybe he is awkward to you after such a long time no see you.”

Siwon terdiam. Mengingat bagaimana perpisahan mereka yang menyakitkan. Mungkin, pantas jika Kyuhyun membencinya. Disaat mereka saling ketergantungan dan membutuhkan, Siwon tiba-tiba memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Meninggalkan Kyuhyun yang masih manis, Kyuhyun yang masih manja. Lalu, sekarang? Bagaimana hari-hari yang dilalui oleh Kyuhyun hingga seperti itu? Mungkin juga karena kekecewaannya pada Siwon.

“Aku tahu, hyung. Aku juga bingung harus bersikap bagaimana.”

“Just be patient, ok? Kyuhyun memang tidak mudah diurus. Kau tahu itu, kan?” Siwon tersenyum mendengar ejekan Yesung.

“Baiklah, hyung. Hubungi aku jika kau sudah menemukannya. Gomawo, hyung.”

“Nde.”

Siwon memutus sambungan dan terus menyetir mobilnya sesuai dengan nalurinya. Tak ada tujuan pasti, hanya kecemasan dan rasa bersalah yang seolah melumpuhkan otaknya. Takut terjadi sesuatu pada Kyuhyun kecilnya. Hari sudah menjelang malam. Kyuhyun yang dulu sangat takut dengan kegelapan. Dia tidak bisa berkelahi dan sangat manja. Tidak bisa melakukan apapun seorang diri. Siwon sangat mencemaskan Kyuhyun.
CKITTT!

Siwon memberhentikan mobilnya secara mendadak. Siluet tubuh itu mirip seperti Kyuhyun. Tanpa berfikir lagi, ia memparkir mobilnya sembarangan dan segera menghampiri pemuda yang kini dikelilingi oleh pemuda-pemuda lainnya.

“Kebetulan sekali kita bertemu disini, ya, Cho Kyuhyun.” Pemuda yang tampak paling bengal menghampiri Kyuhyun yang masih memasang wajah datar.

“Yeah- unlucky day to meet you,” ujar Kyuhyun acuh.

“Sial,”

Kyuhyun tidak bergeming ketika pemuda itu mencengkram kerah seragamnya. Ia bahkan tersenyum mengejek dan memasang wajah menyebalkan andalannya. Oh great! Siwon merutuki sikap Kyuhyun yang justru semakin mempersuram keadaan. Apakah Kyuhyun tidak pernah bisa membaca situasi?

“Lepaskan dia.”

Siwon memegang tangan pemuda itu dan menghempaskannya kasar. Ia membawa Kyuhyun untuk berlindung di belakangnya. Kyuhyun yang terkejut dengan kedatangan Siwon, hanya bisa mengerjapkan matanya bingung.

“Siapa kau? jangan ikut campur!”

“I’m him husband.”

Siwon menjawab penuh penekanan dan seperti sebuah bom yang meledak, jawaban itu mampu membuat Kyuhyun dan pria-pria itu terkejut dan sempat mati-matian menahan tawanya, kecuali Kyuhyun tentu saja.

“Husband?” Pemuda itu tertawa kencang.

‘Siwon. Calm down. Calm down.’

“Kau lebih pantas menjadi pengasuh anak ini.”

BUGH!!!
Kyuhyun semakin bingung ketika tiba-tiba saja, Siwon memukul pria itu membabi buta. Ia hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak terlalu pintar berkelahi. Kalaupun, terjadi hal seperti ini, biasanya, Chanyeol yang akan melindunginya dan mereka yang berakhir dengan sangsi dari sekolah. Tapi, sekarang yang menyelamatkannya… Choi Siwon?

Kyuhyun tidak percaya Siwon mampu mengalahkan dan melumpuhkan kelima pria itu seorang diri. Pantaslah dia menyandang prestasi di bidang beladiri. Kemampuannya mumpuni.

“Ayo pulang,” ujar Siwon tergesa. Menggandeng Kyuhyun dan lari membawanya ke dalam mobil. Tanpa banyak percakapan yang berarti, mereka segera pergi dari tempat terkutuk itu.

“Siapa mereka? Bagaimana bisa kau berurusan dengan pemuda brandal seperti itu, hah?”

Kyuhyun mendengus kesal ketika indra pendengarannya menangkap omelan dari Siwon lengkap dengan sindiran-sindiran mengejek. Ayolah. Kyuhyun bukan anak kecil lagi.

“I ask you, Cho.”

“Chanyeol friend.”

“Huh? Dia pengaruh buruk untukmu?”

Kyuhyun menoleh menatap Siwon tak suka.

“He is my best friend, pabbo!”

Siwon menginjak rem dan membanting setir ke kiri. Memparkirkan mobilnya di tepi jalanan yang cukup sepi. Menatap mata Kyuhyun lamat-lamat.

‘Shit! What happening to him?’

Kyuhyun tidak tahu mengapa tatapan ini membuatnya gugup. Masih ajeg menatap dengan tatapan yang menurut Kyuhyun ‘aneh’. Tidak nyaman, takut dan juga canggung semakin dirasakan Kyuhyun saat ini. Oh, God.

“Si-siwon?”

Kedua lengan Siwon melingkar dengan santainya di pinggang Kyuhyun. Mata mesum itu semakin mendekat ke arah wajahnya. Tak ada kalimat, hanya seringai yang menakutkan bagi Kyuhyun. Siwon bahkan meletakkan tangannya di dagu Kyuhyun dan memaksanya untuk mendongak.

Kyuhyun tahu Siwon memang namja mesum yang tak tahu aturan. Dia kini berbisik di telinga Kyuhyun dan sesekali menjilatnya. ‘You are fucking, Siwon. You fuck!’

“Jangan berani-berani kabur dariku. Cho Kyuhyun-sshi.”

“Ngghhh…” Kyuhyun mati-matian menahan desahannya. Ia menjauhkan tubuh kekar Siwon dengan kedua tangannya yang bebas. But, He stronger!

“Hen. Hentikan. Nghhh… Ahh. Please, Siwon. Akhh.” Bibir Siwon mulai menjilati leher putih Kyuhyun. Begitu cepat hingga Kyuhyun tidak menyadarinya. Menghisap dan menggigit leher itu hingga membuat Kyuhyun merasakan sensasi yang begitu asing baginya. Kyuhyun terus memberi pukulan yang cukup keras di bahu Siwon. Tapi, itu tak pengaruh. Ia semakin dalam menggigiti bahu yang kini mulai dibukanya sedikit demi sedikit. Putih dan mulus, Siwon sempat terpana.

“No, no, no, Stop it! Siwon, please,”

Siwon menatap wajah cantik Kyuhyun yang kini memerah lengkap dengan wajah polos yang tak berdaya. Ini menyenangkan. Tiba-tiba saja, rasa lelah dan emosi berganti dengan seringainya yang mengerikan.

“Itu hukumanmu, babykyu.”

Tunggu. Siwon semakin dekat. Dekat dan…
CHUP.

KYAAAAAA!!!

Kyuhyun ingin mati rasanya ketika bibir Siwon mengecup singkat bibirnya. Bibir sucinya yang selama ini selalu dijaganya untuk tetap suci dan sekarang? Dia, Choi Siwon mengambil ciuman pertamanya? He did it! He really did it! Oh My God! It’s damn!

“Kau terkejut sekali. Kau masih menganggap itu ciuman pertamamu? Lucu sekali.” Siwon menahan tawanya ketika mengingat dialah yang telah mengambil ciuman pertama anak itu ketika Kyuhyun berumur enam tahun. Rupanya Kyuhyun tidak ingat akan hal itu. Dan tentu saja, saat Kyuhyun mabuk kemarin. Betapa beruntungnya kau, Choi Siwon.

“Kau!” Kyuhyun menunjuk Siwon dengan jari telunjuknya. Menatapnya penuh kebencian.

“You are fucking, Siwon. You fuck! I hate you forever, Choi idiot boy!”
BUGH!
Kyuhyun memukul perut Siwon telak membuat pria berlesung pipi itu meringis kesakitan.

“Ya!”

“Rasakan itu, Fucking boy!”

Kyuhyun tertawa puas dengan hasil kerjanya malam itu. Membuat Siwon kesakitan karena telah mengambil ciuman pertamanya.

“Dari mana saja kau?”

Kyuhyun menghela nafas sambil memandangi seorang pria yang kini tengah duduk dengan santainya di ruang tamu rumahnya. Pria yang sangat dibencinya. Tentu saja, Kyuhyun seharusnya bisa menduganya, pria idiot ini pasti akan mengadu pada ummanya. Ummanya memang lembut bagai bidadari tapi, jangan tanyakan ketika ia marah, ia bahkan lebih mengerikan dibanding Kyuhyun. Uh, mengapa Kyuhyun hidup di tengah-tengah orang-orang yang seperti ini?

“Untung aku segera menemukannya, umma.” Suara Siwon berhasil membuat Kyuhyun menoleh dan mengalihkan pandangannya dari Jaejoong yang siap menelannya hidup-hidup. Wajahnya sarat akan ejekan dan jangan lupakan senyum kemenangannya yang… idiot.

“Hai, umma. Annyeong haseyo, Heechul umma.” Kyuhyun membungkuk, berlagak sopan, setidaknya, ia ingin mendapat pembelaan dari sang calon mertua.

“Dari mana kau?” Kyuhyun kesulitan menelan air liurnya. Pandangan Jaejoong sungguh berbahaya.

“Hm… Chan-Chanyeol umma,” ujar Kyuhyun lengkap dengan cengiran khas miliknya. Siwon ingin tertawa namun ditahannya ketika mata Kyuhyun menangkap ekspresinya.

“Chanyeol? Sudah berapa kali umma bilang, dia itu brandalan tengik yang tidak pantas berteman denganmu!”

“Sudahlah, Jae. Dia masih muda, masih belum mengerti.”

Heechul menenangkan Jaejoong dan matanya mendelik pada sang putra yang masih berusaha menahan tawanya.

“Baiklah. Tapi umma akan menyita kartu kreditmu. No credit cards, no more. Ok.”

Kyuhyun serasa ingin pingsan mendengarnya. Tidak ada uang jajan? Lalu, bagaimana ia bisa membeli kaset-keset game yang sedang dibicarakan oleh teman-temannya? Oh, my.

“Heechul umma.” Kyuhyun mengerucutkan bibirnya dan wajah polosnya mengerjap frustasi ke arahnya. Heechul tidak tega. Wajah polos yang tidak pernah berdosa, bagaimana mungkin Jae tega menghukumnya seperti ini.

“This is not fair, Jae. This error also Siwon, the idiot boy, Jae.” Heechul menatap putranya seakan meminta Siwon membela Kyuhyun juga. Tapi, bukan Siwon jika mengalah untuk kalah. Ia hanya diam dan tak ambil pusing, toh cuma kehilangan kartu kredit.

“Sudahlah. Decision is final. I want to go sleep.”

Dan berakhirlah pembicaraan singkat itu dengan tawa yang menggelegar dari Siwon seakan mengejeknya. Tapi, Kyuhyun tidak bisa berbuat apapun selain pasrah menerimanya. Tentu saja, Heehcul berada di dekat Siwon dan Kyuhyun tidak ingin reputasinya sebagai anak kesayangan yang polos dan tidak berdosa terkubur sia-sia. Yah, ini menyebalkan.
OoO

Pagi yang cerah. Siwon masih tertidur dengan telanjang dada dan hanya memakai celana pendek miliknya. Menikmati hari libur yang aman tentram dan damai yah… kecuali kenyataan mengenai perjodohan, kembali bertemu dengan Cho Kyuhyun, kencan dengan Sulli yang batal. Oh, Tuhan! Siwon ingin segera mengubur Kyuhyun hidup-hidup, terlebih kenyataan bahwa dia telah memiliki hak milik atas apartement yang ada di sebelahnya, tepat di samping Siwon, tentunya dengan bantuan dana dari sang umma yang begitu, begitu, amat menyayanginya.

BIP. BIP. BIP.

Siwon mengerang ketika suara beep terdengar keras dari telepon di samping tempat tidurnya. Matanya mulai menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang telah muncul ke permukaan. Dengan malas, ia terbangun dengan wajah yang kusut karena kesal.

“My Son, Are you Ok? Kau sudah bangun? Bersiap-siaplah hari ini kita akan mengadakan acara untuk membicarakan pernikahanmu. Well, kuharap kau bisa datang tepat waktu. Pukul delapan di rumahku. Bye, Choi.”

Siwon mengerang lagi, duduk perlahan sambil mengusap wajahnya kasar. Meski begitu, ia tetap tampan kecuali kenyataan belum mencukur kumisnya beberapa hari. Ia berdiri dan membuka pintu menuju ke kamar mandi dan berakhir dengan mencuci wajah di wastafel karena terlalu stres. Seriously, dia benar-benar frustasi.

“Siwon?”

Kyuhyun mengejutkan Siwon yang datang tiba-tiba bagai hantu sesaat setelah ia selesai mendongakkan wajahnya. Wajah datar dan tidak bersalahnya membuat Siwon benar-benar berfikir Kyuhyun jelmaan hantu tadi tapi, setelah difikir-fikir, bukankah Kyuhyun memang pemuda datar tanpa rasa bersalah. Exactly! Jantungnya berdegup kencang dan dia mengumpat, masih tak rela Kyuhyun sekarang menjadi tetangganya dan juga membawa kunci duplikatnya. Sungguh sempurna untuk hidup yang telah kacau.

“Ada apa, sih?! Mengagetkan orang saja,”

“Kata Heechul, aku harus ikut denganmu.”

“Aish! Duduklah dulu atau lakukan apapun yang kau suka dan jangan ganggu aku selagi belum pukul delapan. Ok.”

“Oke.”

Kyuhyun duduk di sofa mengindahkan tatapan menusuk dan membunuh dari Siwon. Bagaimanapun, keberadaan remote televisi lebih penting dibanding hal-hal sepele seperti menenangkan Siwon akan hidupnya yang berubah kacau atau apalah yang sedang difikirkan olehnya. Ia mengintip ke bawah meja, tumpukan kertas dan sampah, pakaian kotor yang tergeletak di samping sofanya, namun belum juga menemukan remote yang dicarinya. “Sialan, dimana sih remotenya?”

“Kau bisa bersikap setenang itu setelah mendengar kata pernikahan?”

Siwon menengok setelah sebelumnya mengambil biji-biji kopi dan memasukkannya kedalam coffeemaker, ia tidak bisa hidup tanpa minuman pekat yang harus diminumnya di pagi hari itu.

Kyuhyun acuh saja. Ia duduk kembali ke sofa sambil matanya menatap jijik pada rumah berantakan seorang Choi Siwon.

“Aku tidak punya pilihan lain. Yah- You know, keluargaku bangkrut.”

Siwon mendesah frustasi. Lalu meminum kopi yang mungkin akan menghilangkan kepenatannya. Tidak berhasil, fikirannya masih penuh dengan kata-kata umpatannya sendiri.

“Aku akan pergi mandi.” Siwon berucap sebelum ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dengan Kyuhyun yang hanya bergumam sebagai jawaban. Sial, pemuda itu benar-benar mengacuhkannya.

Pukul delapan. Mereka kemudian masuk ke dalam restoran mewah yang mengharuskan menulis buku tamu untuk dapat masuk ke kelas VIP, tentu saja dengan bayaran yang cukup mahal. Kyuhyun sangat cantik mengenakan kaos yang dipadukan blazer dan Siwon yang terlihat manly dengan gaya kasualnya. Heechul masih asyik bercanda dan bergosip dengan Jaejoong, maklumlah ibu rumah tangga yang bertemu dengan teman lamanya.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?” belum lagi pertanyaan dari sang calon mertua, Yunho yang membuat Siwon ingin segera memperkosa Kyuhyun saat itu juga. Ups,

“Terserah.” Jawaban yang ‘berlagak’ tak perduli meskipun di pikirannya, ia kini membayangkan bagaimana malam pertama mereka. Apakah Kyuhyun akan memukulinya? Atau menendang? Masih untung ditendang bagaimana jika dia tidak mendapat jatah seksnya. Uh, andwae!

“Umma, bagaimana kalau minggu ini?”

Semua menatap Kyuhyun tak percaya.

“Aku ada ujian bulan ini. Semakin cepat, semakin baik.” Datar. Ekspresinya selalu seperti itu. Berbeda dengan Kyuhyun yang dulu dikenalnya. Ia selalu tersenyum, merengek, merengut ataupun menangis. Mengungkapkan apa yang dirasakannya. Sekarang… bahkan Kyuhyun terasa begitu jauh.

“Kau yakin, sayang?” tanya Jae umma hati-hati. Sedangkan Heechul tertawa gembira dan memeluk Hangeng karena terlalu senang akhirnya Kyuhyun menjadi menantunya juga.

“Lalu aku bisa apa? Dipercepat atau ditunda toh akhirnya, aku akan menikah juga dengannya.” Heechul memeluk tangan Kyuhyun. Lembut lalu mengelus rambutnya perlahan.

“Mommy tahu, kau sedang sedih. Tapi, percayalah. Siwon adalah suami terbaik untukmu. Dan aku berjanji, akan menjagamu sebaik mungkin.” ujar Heechul lembut dan menenangkan.

Kyuhyun mengangguk dan lagi-lagi tanpa ekspresi. Siwon bisa melihat kilatan kesedihan disana. Bukannya Siwon tidak sedih. Ia juga sedih. Pernikahan tanpa cinta. Siwon tidak pernah membayangkan hal itu. Tapi, Siwon lebih bisa mengendalikan dirinya berbeda dengan Kyuhyun yang masih labil emosinya. Itulah perbedaan mereka dalam mengatasi perjodohan ini.

“Aku ke toilet sebentar,” ucap Kyuhyun dan langsung beranjak begitu selesai makan. Ia ingin menenangkan dirinya yang tiba-tiba menjadi bad mood ketika mengetahui bahwa pernikahannya adalah lusa. Yah, LUSA! Dipercepat bukan berarti harus Lusa, kan? Ah. Salahkan saja Heechul yang memperalat omongannya tadi.

“ARGGGHHHHH!!!!” Ia berteriak di depan bilik toilet dan seorang namja yang memandanginya tajam serta melotot ke arahnya. Ia mendelik balik, “Apa masalahmu?”

Namja tadi menggelengkan kepalanya, percuma mengurusi orang gila.

Sesampainya di dalam, Kyuhyun sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa salah seorang yang dikenalnya sedang mencuci tangannya di wastafel. Melalui kaca di depan wastafel, ia makin bisa melihat wajah tampan itu dengan jelas. Ia berdehem dan sedikit melirik memastikan bahwa orang ini benar-benar orang yang dikenalnya. Tidak lucu, kan jika dia salah memeluk orang dari belakang dan ternyata salah mengenali orang, Well,

“Uhm… Chanyeol?”

“Oh? Baby?”

Kyuhyun ingin muntah mendengar panggilan menjijikkan itu.

“Mengapa kau bisa disini?”

“Ayahku mengajakku sarapan disini bersama, Uhm… calon umma tiriku.”

Kyuhyun diam tak ingin melanjutkan, bagaimanapun, jika dia sudah bicara, mulutnya tidak akan terkontrol dan mungkin saja akan membuat Chanyeol kesal lalu membullynya habis-habisan di sekolah dengan geng preman, ah, geng pecundang menurut Kyuhyun. Bisa kacau hidupnya.

“Kulihat, kau bersama Heechul Ahjumma. Kau mengenalnya?”

“Kau kenal?”

“Yeah, dia adalah teman akrab ayahku dan kami bertetangga.”

AHAHAHAHA.
Dunia memang sempit.
Dan dunia memang kejam.

“Itu bagus, hehe.” Kyuhyun tertawa canggung dan meredakan kegugupannya. Bagaimana jika seluruh sekolah akan tahu ia akan menikah? Uh, asal tahu saja, kecepatan Chanyeol dalam menyampaikan gosip itu sungguh luar biasa. Melebihi kecepatan 1GB dan kecepatan cahaya. Benar-benar ember bocor, melebihi Kangin, teman sekelasnya yang berjuluk si manusia penggosip.

“Dan bersama, si brengsek sok kaya itu?”

“Oh, Siwon hyung, maksudmu?”

Chanyeol mengangguk dan matanya sarat akan dendam.

“Dia anak Heechul ahjumma. Tapi baru kembali ke Korea.”

“Pantas saja. Dia memang kaya. Tapi berlebihan. Itu bukan apa-apa dibanding ayahku. Yah, you know of course.”

Kyuhyun tersenyum terpaksa. Meladeni Chanyeol sebentar. “Yeah, itu menganggumkan, ayahmu.”

Chanyeol terkekeh, “Ah, biasa saja. Sungguh. Aku bukan miliuner yang berhati busuk.”

Tidak ada yang mengatakan kau adalah seorang miliuner berhati busuk, walau memang iya.
Okay, Kyu, kendalikan mulutmu.

“Baiklah. Aku rasa aku harus pergi. Sampai jumpa, Baby.”

“Hn,”

Chanyeol hanya terkekeh lalu meninggalkan Kyuhyun yang kini termenung sendirian. Jika Chanyeol tahu, tamatlah riwayatnya di sekolah. Kepala sekolah yang berkepala botak itu pasti akan mengeluarkannya dan jangan lupakan ejekan menyakitkan dari teman-temannya yang kelewat menjengkelkan itu. Ah, hidupnya hancur. Masa depannya suram.

“Menyedihkan.”

Kyuhyun merasa ada orang yang berbicara padanya. Ia menatap balik dan mendapati namja yang tadi melihatnya dengan tatapan mengejek dan juga sinis.

“Kau ada masalah denganku?”

“Tidak.”

Kyuhyun lebih memilih mengabaikan si namja berbadan tinggi yang tengah menatapnya penuh tawa mengejek. Ayolah, dia sudah cukup pusing, bingung dan muak dan ditambah lagi pria tidak dikenal yang terus menatapnya dengan tatapan sinis yang bagai dentungan kematian baginya, atau mungkin perasaannya saja?

“Lama sekali, sayang.”

“Maaf, umma.” Kyuhyun menjawab Heechul dengan malas. Sebelum Heechul sempat bertanya mengenai apa yang terjadi pada Kyuhyun, sebuah suara yang familiar mengurungkan niatnya. Ia berdiri dari duduknya dan memeluk rombongan orang-orang yang tengah berbincang dengannya. Kyuhyun tidak perduli, ia masih menunduk merutuki nasibnya sendiri.

“Oh iya, perkenalkan semuanya, ini Cho Kyuhyun. Calon menantuku. Kyuhyun-ah, perkenalkan dirimu!” ucap Heechul lembut. Dengan ogah-ogahan, Kyuhyun berdiri dan mendongak.

Pria itu. Pria tinggi yang menatapnya sinis dengan tatapan mengejek yang menjijikkan.

“Ah. Annyeong haseyo, Cho Kyuhyun imnida.” Kyuhyun menunduk dengan muka bak malaikat lengkap dengan senyum manis yang menawan bagai anak anjing. Junsu memekik senang melihat calon menantu Heechul itu ternyata sangat cantik. Dari dulu, mereka memang menginginkan menantu yang cantik-cantik dan manis untuk anak-anak tampan mereka.

“Wah, cantik sekali,”

Kyuhyun tersenyum canggung.
Sial, aku tampan!

“Kenapa tidak langsung ikut bergabung disini, Junsu?”

“Ah. Iya. Tadi ketika melihatmu, aku ingin menyapamu tapi terlihat sekali bahwa kalian sedang serius membicarakan sesuatu. Aku kan jadi tidak enak.” Heechul menggeret Junsu untuk duduk.

“Kau ini. Seperti orang lain saja. Ah, Changmin, kau juga semakin tampan dan tinggi, ya.”

Pria menjijikkan itu tersenyum lembut berbeda dengan senyum mengejek ketika Kyuhyun terpuruk tadi.

“Dia. Siapa umma?” tanya Kyuhyun memecah keheningan. Heechul tertawa lalu memeluk Junsu agar lebih dekat dengannya.

“Dia adalah adikku, Kyu. Dan ini, Changmin, anaknya.”

Ahahhahahahaha…
Betapa sempitnya?
Sesempit apa dunia ini?
Kenapa harus dia? Namja yang menyebalkan.
Kenapa harus dia yang mengalami posisi ini?
Kenapa?
Kenapa?
0oO

Hari ini adalah hari yang terburuk baginya. Besok, yang seharusnya hari libur Nasional. Dimana seharusnya, ia berkencan dengan semua game-game abadinya atau dia yang pergi bersama dengan Kibum atau dengan Chanyeol yang akan dengan senang hati membelikannya kaset game edisi terbatas. Lalu apa? Besok adalah hari pernikahannya. Pernikahan yang sederhana karena pihak keluarga bodohnya tidak ingin Kyuhyun yang masih sekolah diketahui oleh orang-orang telah menikah. Pernikahan yang cukup melegakan karena dengan begini, Chanyeol bedebah itu tidak akan mengetahuinya dan situasi dapat terkendali. Setidaknya, entah sampai kapan.

“Baby, boleh ya calon suamimu ini mengetahui apartement barumu? Ya?”

“Ya! Lepaskan aku, Yeol.”

Chanyeol suka sekali ketika Kyuhyun mengucapkan namanya. Dengan begitu, mulutnya akan mengerucut imut ketika mengucapkan kata ‘Yeol’ ah… sungguh imut.

“Kau imut sekali, baby.”

“Lepas!”

Kyuhyun mendelik dan meninju lengan Chanyeol dengan sadis membuat sang pemilik lengan memekik tertahan. Kyuhyun beranjak dengan tas ransel yang telah dibenahinya.

“Lihat apa? Aku mau pulang!”

“Boleh ya aku mengantarmu?”

Kyuhyun mengabaikan Chanyeol yang masih memasang wajah minta dikasihani tapi itu tak berpengaruh bagi iblis sepertinya. Meskipun, sebenarnya, ia tidak tega tapi bagaimana jika Chanyeol tahu bahwa sekarang ia tinggal sebelahan dengan pria brengsek satunya lagi?

“Jika kau mengikutiku lagi, tamat riwayatmu!”

Chanyeol menekan dadanya dengan salah satu tangannya yang bebas, seolah-olah menunjukkan gesture dramastis yang memang selalu diperlihatkannya pada Kyuhyun. Tapi, tentu saja itu tak berpengaruh apapun bagi Kyuhyun yang memang memiliki hati iblis.

“Kau kejam, Baby.”

“Terserah!”

Dan Chanyeol yang hanya bisa cemberut menatap kepergiannya. Kyuhyun menghela nafas ketika sudah cukup jauh dengan sunbaenya yang cukup menyebalkan itu. Kini, ia sedang menunggu Siwon datang menjemputnya.

“Masuklah,” ucap Siwon sambil membuka kaca jendelanya. Dengan wajah yang pucat karena cuaca, Kyuhyun segera saja masuk ke dalam mobil karena tidak tahan dengan cuaca dingin saat ini. Ia mengeratkan mantel tebalnya. Kedinginan. Suasana hening, hanya ketika Siwon mendapat panggilan di ponselnya, suaranya mulai terdengar. Kyuhyun hanya diam menatap pemandangan dari luar jendela.

“Ya, mommy. Aku bersama Kyuhyun sekarang.”

“Hari ini hujan, kan? Jangan biarkan dia terkena satu tetes airpun, You know, Kyuhyun mudah sakit jika terkena air hujan. Siapkan air hangat untuknya setelah pulang, ne?”

Siwon melirik Kyuhyun yang mulai menggigil sekarang. Merasa bersalah karena kecerobohannya yang membiarkan Kyuhyun terkena air hujan tadi. Siwon menyesal. Dia lupa bahwa Kyuhyun memang rentan terhadap udara dingin.

“Arraseo, mommy. Mommy dapat percaya padaku untuk merawatnya.”

“Ok. I trust you. Take care, baby.”

“Ne. Bye mommy. Love you.”

“Love you too, my son.”

Siwon menutup sambungannya dan mempercepat laju mobilnya, berharap dengan begini, mereka akan segera sampai ke apartement dan Siwon bisa merawat Kyuhyun disana.

“Kau istirahat saja, Kyu. Maaf membuatmu seperti ini.” Siwon bergumam lembut seraya mengompres Kyuhyun menggunakan air hangat. Ia juga menyelimuti Kyuhyun dan memasang heater untuk memanaskan ruangan yang masih saja sama dinginnya bagi Kyuhyun.

“Apakah kau lapar? Mau aku buatku bubur?”

“Tidak, hyung. Aku tidak suka makanan lembek dan hambar macam itu. Makan nasi saja ya? Aku, kan tidak sedang sakit, hyung.”

Siwon tersenyum melihat Kyuhyun merengut dan merajuk seperti itu. Entah disadari atau tidak, ia mengecup kening Kyuhyun lama dan membuat Kyuhyun tiba-tiba terkena serangan jantung mendadak. Tubuhnya yang semula kedinginan menjadi lebih hangat dan dadanya berdetak lebih kencang dibanding biasanya.

“Baiklah. Aku akan membeli makanan matang untukmu. Kau tunggu disini, ya? Jaljayo.”

Kyuhyun masih tak bergeming. Matanya mengerjap bingung dan pipinya memerah saat pria yang mengambil ciuman pertamanya itu telah pergi dari hadapannya, meninggalkan suatu rasa yang aneh baginya. Dimana ada suka cita dan juga malu disaat yang sama diperlakukan selembut itu oleh pria yang akhir-akhir ini menjadi musuh bebuyutannya. Ok, stop thinking about that, Kyu! Dia tidak benar-benar baik padamu! Dia hanya merasa bersalah. Ok?

“Kau bodoh, Kyu!”

Kyuhyun memukul kepalanya sendiri ketika lagi-lagi perasaannya seperti ini. Untuk apa ia mengharapkan Choi Siwon seperti dulu menjaganya? Semua sudah berubah. Tak ada lagi Choi Siwon yang dulu selalu melindunginya, selalu menuruti keinginannya. Dan, tak ada lagi Choi Siwon yang akan selalu mengatakan suka seperti dulu. Saat kata suka itu terucap, Kyuhyun merasakan debaran yang sama yang selalu membuatnya merindukan Choi Siwon.

Hari pernikahan berlangsung. Kyuhyun bergerak gelisah dan Siwon yang bosan melihatnya mondar-mandir tak tentu arah seperti itu. Tapi, toh dia hanya membiarkannya dan sibuk dengan Iphone canggihnya.

“Jika kau berani menciumku, kuhajar kau dirumah, Siwon-sshi!”

Siwon mendengus malas.

“Lalu bagaimana? Dimana-mana setelah menikah dan mengucapkan janji, kita harus berciuman di depan mereka, bukan?”

“Tetap saja! Kau tidak boleh menciumku!”

“Sudahlah, Kyu. Lagipula, kita sudah berciuman, kan. Tidak masalah mengulanginya sekali lagi.”

“Cium saja pipiku.” Lucu. Solusi yang tidak membantu. Mana ada hal seperti itu. Kalaupun ada, Siwon lebih memilih tidak ada dan menikmati bibir itu sepuasnya.

“Sudah, Wonnie. Lakukan saja.” Heechul datang dan membelanya. Selalu seperti itu, kan. Heechul bagai malaikat bagi Kyuhyun dan setan bagi putranya sendiri. Siwon menghela nafas kesal dan Kyuhyun yang tersenyum senang.

“Cium pipiku, stupid boy!” ancam Kyuhyun ketika Siwon sudah ancang-ancang menciumnya. Siwon menyeringai dan mencium pipinya. Kyuhyun bernafas lega. Tapi, tunggu dulu… Siwon menjilat pipinya. Dengan cara yang sensual, ia mengemut dan menjilat dengan gerakan lambat.

“Si-siwon.”

“Nikmati saja, my princess.” Dan itu berlangsung cukup lama. Kyuhyun hanya diam saja dan menunggu Siwon menikmati kegiatannya. Beruntung, Kyuhyun didandani seperti pengantin gadis, ia memakai renda yang dapat menutupi perbuatan mesum sang suami. Untung saja.

“Hai, selamat ya, Kyu.”

Kyuhyun yang sialnya mengenakan gaun dan hampir tersandung gaunnya sendiri, menoleh pada Changmin yang menaik-naikkan alisnya.

Uh, Sok kenal, sok dekat.

“Kau tahu, Shim Changmin. Dari beribu-ribu miliaran orang, kenapa harus kau yang menjadi sepupu suami brengsekku.”

“Dan juga, dari banyak gadis yang dikencani oleh sepupu tololku itu, kenapa harus kau yang menjadi istrinya. Kasihan sekali Choi Siwon.”

Kyuhyun melepas sepatunya berniat melempar Changmin tepat di kepalanya tapi karena Changmin punya gerak reflek yang bagus, sepatu jinjit itu justru melenceng dari rencana awal. Sepatu itu justru mengenai tengkuk suaminya yang sedang berbincang-bincang dengan sepupunya yang lain. Kyuhyun melambai innocent dan memamerkan gigi-gigi putihnya. Tawanya seperti anak-anak dan sangat manis. Siwon yang melihatnya hanya pergi berlalu dan tidak terlalu mempermasalahkannya.

“Huwaaaa!!!” Changmin segera saja berlari ketika Kyuhyun sudah ancang-ancang akan melemparnya lagi. Dan… kena kali ini.
0o0

Pagi yang cerah, secerah hati sang namja yang tingginya melebihi batas kenormalan, Park Chanyeol. Sedari pagi, namja ini mengikuti kemanapun sang pemuda cantik pergi. Ke kantin, perpustakaan, dan dimanapun dia berada. Merengek meminta sang pemuda yang masih tidak menghiraukannya untuk bersedia menjadi pendampingnya di acara pesta sekolah mereka.

“Sudah aku bilang, kan. Jangan ikuti aku dan aku sudah punya kekasih, Park Chanyeol!”

“Kekasih? You’re liar! Mana kekasihmu? Kau tidak pernah mengenalkannya padaku.”

“Apa yang harus kulakukan agar kau percaya? Dan berhenti menggangguku!”

“Kalau begitu telfon dia!”

“Baiklah jika itu maumu. Tak masalah.”

Kyuhyun tidak main-main. Ia benar-benar mengeluarkan Iphone miliknya dan entah bagaimana, yang ada difikirannya adalah sang suami. Jadilah, dia yang menghubungi Choi Siwon.

“Hallo, hyung?”

“What?”

“Sayang, apakah kau sibuk?” tanya Kyuhyun berbasa-basi. Tangannya sudah berkeringat dingin dan jantungnya berdebar kencang karena Chanyeol masih memperhatikannya tajam. Bagaimana ini?

“Apa? Kyu, kau salah minum obat?”

“Baguslah jika aku tidak sedang mengganggumu. Aku merindukanmu, sayang. Kapan kau akan menemuiku?”

“Huh?”

“Secepatnya? Baguslah karena aku sudah merindukanmu. Temanku tidak percaya bahwa aku telah memiliki kekasih sehingga dia sering menggangguku, sayang.”

Jeda. Siwon sepertinya berfikir akan sesuatu. Dan Kyuhyun berharap, Siwon segera sadar apa yang terjadi dan membantunya kali ini.

“Chanyeol, kah?”

“Hm. Iya, sayang.”

Siwon menyeringai.

“Jadi kapan kau akan menemuiku? Aku merindukanmu, sayangku.”

“Kapanpun itu aku mau menemuimu, Kyu. Bagaimana jika kita bertemu saat aku mendorong penisku ke dalam lubangmu dan kau mengerang. Bagaimana?”

JDER!

Kyuhyun merasa wajahnya memerah, kurang jelas ekspresi marah atau malu, raut wajahnya tidak bisa ditebak. Chanyeol yang melihat Kyuhyun mengernyit, menatap dengan pandangan ‘Apa- yang- kalian- bicarakan’ dan Kyuhyun yang masih tersenyum canggung berusaha menetralisir wajahnya agar Chanyeol tidak terlalu curiga.

“Benarkah? Baguslah. Aku tunggu, ya.”

“Dengan senang hati. Oh, dan juga, tidak akan berakhir semudah itu. You Know, satu klimaks saja tak akan cukup. Mungkin aku akan melakukannya hingga kau mengerang sampai pagi. Mendesah hingga lubangmu basah dan lengket oleh spermaku. Menjilat tubuh erotismu dan menelan seluruh juniormu di mulutku, lalu…”

“Begitukah? Aku juga sangat merindukanmu. Aku rasa kau cukup sibuk hari ini.”

“Sibuk? Benar. Sibuk memikirkan lubang hangatmu, sayang.”

“Kurasa itu dulu, sayang. Aku tidak mau mengganggumu. Bye, sayang. Love you so much.”

“Penisku mencintaimu juga, Kyu…”

Kyuhyun menutup teleponnya dan tersenyum lembut pada Chanyeol untuk menyembunyikan rasa jijiknya.

“See?”

“Uh. Okay.”

Chanyeol menggaruk tengkuknya canggung. Ia sedih mengetahui kenyataan bahwa pemuda yang telah lama diincarnya ternyata telah memiliki kekasih. Mungkin, Chanyeol harus menyerah untuk kebahagiaan Kyuhyun. Bagaimanapun, kebahagiaan Kyuhyun adalah yang utama untuk seorang Park Chanyeol.

“Baiklah, anak-anak. Hari ini, saya ingin memperkenalkan kalian pada guru baru yang akan mengampu mata pelajaran sejarah. Silahkan, Siwon-sshi.”

Ryeowook teman sebangku yang juga teman baik Kyuhyun menoleh ke arah Kyuhyun yang terlihat acuh mendengar nama guru baru itu sama dengan nama suaminya. Memang hanya Ryeowook dan Kibumlah yang diundang Kyuhyun ketika upacara pernikahan dan Ryeowook yang menjerit histeris karena suami Kyuhyun yang sangat tampan.

DEG!
Apa?

“Annyeong Haseyo, Choi Siwon imnida. Saya adalah guru baru kalian. Semoga kita bisa saling bekerja sama, ne.”

Ryeowook melongo dan Kyuhyun menelan ludah. Seluruh siswi bersorak kegirangan mengetahui guru mereka setampan dan sekeren itu. Kelas mulai ramai dan karena hal itu, Kibum menjadi bangun dari tidur panjangnya. Tangannya masih mengucek matanya yang kini telah berganti memakai kacamata. Menatap sang guru baru dengan pandangan bingung.

“Ada apa, sih?”

Kyuhyun yang kesal memukul belakang kepala Kibum yang memudahkannya melakukan itu karena Kibum duduk di depan bangkunya. Kibum mengaduh kesakitan.

“Kau tidak lihat! Guru baru itu adalah suamiku!” bisiknya sambil bergumam. Kibum menoleh dan menatap lurus ke depan lagi ketika akhirnya ia bisa melihat sang pria yang telah berhasil mengawini iblis macam Kyuhyun. Benar-benar tidak beruntung, eoh? Unlucky boy.

Tampan.
Gagah.
Manly.

Sayangnya, Kibum lebih suka menjadi yang diatas untuk urusan ranjang.

“Oh…”

“Hanya itu reaksimu?”

“Lalu? Harus apa?”

Kibum memang baik. Meskipun dingin dan acuh namun, dia hanya idot saja.

“Kyu, tenanglah. Kita hanya harus mengerjainya, kan?”

Ryeowook adalah teman satu jiwanya. Bersatu untuk mengerjai dan membuat kesal semua teman-teman sekelas, guru-guru baru dan juga adik kelas mereka yang terlihat lemah untuk dibully. Kibum menoleh dan membenarkan letak kacamatanya.

“Oh. Begitu. Baiklah, aku ikut.”

Kyuhyun tertawa lebar dan masih menatap Siwon yang balas menatapnya tersenyum.
‘Mati kau Choi Siwon!’

TBC.
Maafkan Sabrina jika kata-katanya Kyuhyun cenderung kasar dan Siwon yang mesum tingkat dewa kayak gitu. Maklumlah, sering dicecokin temen sabrina hal-hal yg berbau mesum. #plak
Jadi, review ne. Gamsa,

The Melody Chapter 8

Pairing : Just Wonkyu and always that, Slight Kriskyu
Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kris, Kim Kibum, Lee Donghae, Shim Changmin, Cho Taemin, Lee Sungmin, Jung Yunho, dll.
Rated : M (Ini termasuk M, menurutku).

0O0

Don’t Like, Don’t Read, It’s Simple,
No Bashing, No flame and NO SIDER.

Chapter 8

“Kyuhyun-ah.” Panggil seorang gadis berulang-ulang. Ia terus menarik-narik lengan sang pemuda agar pemuda yang diajak bicara menoleh kepadanya.
“Ada apa nonna?”
Sang gadis tersenyum.
“Hari ini, aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan. Dia tinggi, wajahnya halus, berseri dan mempunyai lesung pipi yang menawan. Oh, Kyu, kau harus melihatnya.”
Kyuhyun menatap Taemin dan ikut tersenyum. Ia lalu mengelus rambut hitam panjang milik sang gadis.
“Kau menyukainya?”
“Eh?”
Taemin menatap Kyuhyun lama lalu mengangguk malu-malu. Ia adalah tipikal gadis yang sedikit susah untuk jatuh cinta. Dan sekarang, dengan gampangnya, ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pria itu. Sedikit malu tentu saja.
“Kau harus mengenal mereka, Kyu. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang,” ucapnya riang.
“Datang?”
“Hm. Aku memperkerjakan mereka kemarin.”
Kyuhyun hanya mengangguk mengerti. Dan, ketika sosok itu datang, Taemin girang luar biasa. Ia bahkan berteriak dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya.
“Kyu, tolong layani mereka, ya? Aku ke kamar mandi sebentar.” Kyuhyun tertawa saja melihat Taemin yang bersikap seperti itu. Maklum, Kyuhyun belum pernah merasakan jatuh cinta.
Kyuhyun berdiri dari kursi pelanggannya. Menoleh, bermaksud untuk mengajak mereka mengobrol, dan…
DEG!
Pria itu. Pria di mimpinya.
“Hai.” Sapa pria itu tersenyum. Kyuhyun tidak tahu mengapa sebagian tubuhnya terasa lemas untuk digerakkan. Ia bahkan tidak membalas jabatan tangan pria itu. Aneh bukan? Berkali-kali, Kyuhyun menyakinkan pada dirinya sendiri, bahwa itu hanyalah mimpi. Mereka tidak benar-benar saling mengenal. Tapi? Bagaimana mungkin efek dari mimpi itu bahkan masih dirasakannya. Seperti nyata. Pria ini seperti benar-benar telah melecehkannya.
“Apakah ini tempat kerja Taemin?”
Pria itu bicara lagi. Mungkin, tersinggung karena jabatan tangannya diacuhkan- begitu menurut Kyuhyun. Ah… andai Kyuhyun tahu, bahwa Siwon sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Ia hanya merindukan pemuda ini. Baginya, segalanya tak jadi penting kecuali bertemu dengannya.
“Iya.” Singkat. Kyuhyun juga bingung mengapa ia bisa segugup ini. Untunglah, Taemin datang dan mencairkan suasana. Ia mengajak mereka untuk duduk dan mendiskusikan mengenai pekerjaan, sekaligus perjanjian tentang upah yang akan mereka dapatkan. Karena tidak mengerti mengenai uang dan lain-lain, mereka hanya menyetujui tanpa membantah. Taemin senang tentu saja, tapi ia tidak akan mengambil keuntungan dari pria yang disukainya itu. Sepolos apapun mereka.
“Kau sudah melihatnya, kan. Bagaimana menurutmu, Kyu?” Taemin berbisik ketika posisi mereka sudah berjauhan. Dengan malas, Kyuhyun menjawab,
“Tampan, nonna.”
“Benarkan? Dia sangat gagah dan tampan.”
“Hn.”
“Kyu, menurutmu, apakah dia akan menyukaiku?”
“Molla,”
“Hah, kau ini!” Taemin merengut sebal dan Kyuhyun yang tertawa karena menggoda sang kakak.
“Bagaimana kau bisa menyukai orang dengan penampilan aneh seperti itu?” Kyuhyun menatap Siwon dengan pakaian ala drama kolosalnya. Apakah mereka tengah syuting drama sekarang? Mungkinkah mereka aktor? Kyuhyun tidak terlalu sering melihat acara televisi, jadi mungkin, ia tidak tahu.
Semenjak nonnanya mengenalkannya pada mereka, Kyuhyun mulai terlihat akrab, sebenarnya desakan dari sang nonna yang memintanya untuk menjadi penghubung antara dirinya dan sang pujaan hati. Kyuhyun tentu saja setuju-setuju saja, asal nonnanya bahagia.
“Hai, Kyu. Sibuk tidak?”
Kyuhyun menoleh dan tersenyum pada Siwon.
“Ani, hyung. Waeyo?”
Siwon berani bersumpah bahwa saat ini, wajah Kyuhyun sangat dekat dengannya. Wajah yang sangat cantik, wajah yang dirindukannya dan wajah yang selalu ada di mimpi-mimpinya. Siwon harus mati-matian menjaga kontrolnya agar tidak langsung memeluk atau mencium pemuda manis ini. Bagaimanapun, ia masih punya logika dan tidak ingin membuat Kyuhyun menjadi ketakutan.
“Aku ingin membeli beberapa potong baju. Tapi, dimana, ya tempat yang bagus untuk membelinya?”
Kyuhyun menahan tawanya hingga rasanya pipinya sedikit memerah. Sedikit lucu memang melihat mereka memakai pakaian seperti itu. Terkesan sedang syuting sebuah film kolosal. Siwon yang melihat Kyuhyun tertawa, ikut tertawa. Rasanya lega dan juga bahagia, melihat orang yang dicintainya, tertawa lepas karena dirinya.
“Maaf, maaf, hyung. Ok, ayo, aku antar.” Kyuhyun sedang berusaha menahan tawanya dan kemudian mengambil jaket dan melepaskan celemek karyawan yang dipakainya. Siwon senang sekali ketika akhirnya bisa jalan berdua saja dengan Kyuhyun.
“Kyu, Chakaman!”
“Eh? Nonna? Ada apa?”
“Mau kemana kalian?”
“Mengantar Siwon hyung pergi belanja, nonna.”
“Biar aku saja yang mengantarnya, Kyu. Kau jaga cafe saja, ne?” Taemin memasang wajah yang mengharuskan Kyuhyun untuk tetap tinggal. Merasa mengerti dengan code yang dipasang sang nunna, Kyuhyun mengalah dan mengambil celemeknya kembali. Berbeda dengan Siwon yang memasang wajah sebal luar biasa. Taemin ini, selalu mengganggunya dan juga Kyuhyun. Uh,
“Ayo, oppa. Kajja!” Taemin menarik tangan Siwon yang tak kunjung bergerak. Dengan sangat terpaksa, Siwon mengikuti Taemin dan Kyuhyun yang melambai sambil tersenyum innocent. Ah, andai Kyuhyun tahu bahwa Siwon ingin pergi berdua saja dengannya.
“Tunggu sebentar.”
Taemin terlihat bingung ketika Siwon justru berbalik pergi dan berjalan tepat di depan Kyuhyun.
“Siwon hyung?” Kyuhyun bingung ketika Siwon terus menatapnya lama, seakan ada sesuatu yang ingin diomongkannya, namun tidak bisa disampaikan. Mati-matian Kyuhyun harus menahan gugupnya karena matanya bertemu pandang dengan mata tegas dan tajam seorang Choi Siwon.
“Kau harus ikut,” ucap Siwon tegas dan sarat akan perintah. Kyuhyun yang seakan terbius hanya mengangguk mengiyakan dan Taemin yang merengut kesal. Mereka bertiga akhirnya menaiki mobil dan dikemudikan oleh Kyuhyun. Siwon memandang ke luar jendela karena sedari tadi, Taemin tak henti-hentinya menatap wajahnya sambil tersenyum malu-malu. Oh, andai dia bisa menggunakan sihir sesuka hatinya, dia pasti akan menyihir Taemin untuk tetap menatap lurus ke depan. Yah, andai.
“Oppa, ini bagus. Kau beli saja ini.” Kyuhyun tertawa ketika Nunnanya terus mengganggu Choi Siwon dan memilihkan baju ini-itu, tentu saja membuat Siwon risih, Kyuhyun tahu itu tapi, dia tidak bisa berbuat apapun karena baginya, kebahagiaan Nunnanya itu jauh lebih penting.
“Ani.”
“Bagaimana kalau ini?”
Taemin menujuk sebuah blazer berwarna hitam dan sepasang kaos polos berwarna putih. Siwon menatap tak bersemangat.
“Nonna, jangan ganggu dia. Biarkan dia memilih sendiri.”
“Arraseo. Oppa, Kyu, tunggu disini sebentar ya. Ada tas yang ingin kubeli disitu.” Taemin menunjuk salah satu tempat yang menjual berbagai tas bermerek. Kyuhyun mengangguk.
“Jangan sebal begitu, hyung. Nonna memang sangat berisik,” ujar Kyuhyun masih sambil tertawa.
“Ne, arra.”
“Kau ingin baju seperti apa? Apa perlu aku membantumu?”
“Semua baju yang sesuai dengan uangku ini, Kyu.” Siwon menunjukkan beberapa lembar uang won yang tadi didapatkannya ketika melakukan pertunjukan sulap. Kyuhyun mengangguk mengerti.
“Kau bingung ya, hyung?”
“Eh? Iya,” gugup Siwon.
“Kau dari luar negeri?”
“Eh? Apa? Hm… ne.”
Tanpa banyak bertanya lagi, Kyuhyun menggaret Siwon dan kemudian memilihkan dengan telaten empat baju yang paling murah namun juga tidak kampungan. Ternyata, selera Kyuhyun cukup bagus. Kesemua baju yang dipilihnya, tidak mengecewakan dari selera Siwon yang tidak terlalu mencolok dan Siwon sepanjang hari tersenyum-senyum ketika Kyuhyun memilihkan baju untuknya. Seperti seorang istri yang melayani suaminya, eoh?
“Jika uangnya kurang, pakai uangku dulu, hyung.”
“Eh? Ani. Aku tidak mau, Kyu.”
“Tidak apa.” Kyuhyun tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih, mirip seperti peri dengan wajah yang halus berseri. Jika ini negeri sihir, akan banyak ras yang memukau seperti peri namun, bagi Siwon, Kyuhyunlah ras terbaik dalam hidupnya.
“Oppa.” Taemin datang membawa satu tenteng barang belanjaan dan mereka yang selesai membeli baju. Dengan buru-buru, Siwon segera menarik Kyuhyun untuk pulang tanpa mengindahkan Taemin.
“Yak! Kyuhyun-ah, chakaman.” Taemin berteriak agak keras membuat Kyuhyun menoleh tapi tidak dengan Siwon.
“Siwon hyung, pelan-pelan. Tunggu Taemin nonna.”
“Terserah. Aku hanya ingin tidur.”
Siwon tetap menggaret Kyuhyun dan sepanjang perjalanan, Siwon tetap saja mengacuhkan Taemin membuat Taemin jengkel sekali. ‘Apa aku berbuat salah’ fikir Taemin saat itu. Dia sedikit curiga dengan sikap Siwon yang sangat lembut pada Kyuhyun tapi sangat dingin padanya.
“Won, darimana saja kau?”
“Pergi membeli baju.” Siwon menjawab pertanyaan Donghae sambil memberikan baju-baju itu ke teman-temannya. Matanya melirik Kyuhyun yang sepertinya akan pergi lagi. ‘Kemana lagi dia?’
“Nonna, aku pergi dulu, ne. Annyeong, Siwon hyung, semua.” Kyuhyun melambai pada Taemin dan menunduk pada Siwon dan teman-temannya. Ia sedikit tergesa ketika tanpa disadari, Siwon menarik tangannya.
“Aku belum tahu betul mengenai Seoul. Bisakah aku pergi bersamamu?”
“Eh? Oh, ok.” Kyuhyun menjawab dengan gugup karena pertanyaan Siwon yang tiba-tiba dan juga senyum menawannya yang membuat dadanya berdebar kencang. Meski setelahnya, Kyuhyun nyatanya tetap mengacuhkan getaran itu. Menganggapnya seperti biasa.
Sepanjang perjalanan mengelilingi kota Seoul, baik Kyuhyun maupun Siwon hanya diam saja. Kyuhyun masih serius mengemudikan mobilnya sedangkan Siwon yang masih menganggap diam adalah pilihan yang tepat.
“Hyung, kau tunggu disini ya? Aku mau menemui gadis itu sebentar.”
Kyuhyun menepikan mobilnya ketika melihat seorang gadis yang dikenalnya sebagai adik kelasnya di sekolah. Siwon hanya mengangguk samar meski matanya menyiratkan ketidaksukaan.
Dari balik kaca, Siwon dapat melihat ekspresi Kyuhyun yang tampak gembira saat bersama dengan gadis itu. Siwon cemburu. Ya, dia sangat cemburu. Dari tubuhnya bahkan suhunya meningkat tajam dan kuku-kukunya memanjang seiring rasa emosinya makin tak terkendali. Melihat Kyuhyun yang tertawa lepas, membuat Siwon makin tak bisa mengontrol kekuatannya. Ia membuka pintu mobil dan merafalkan mantra dari jauh untuk gadis itu. Gadis itu tiba-tiba saja menggigil seperti ketakutan.
“Eun Soo, Eun Soo, gwenchana?”
Gadis itu masih tetap mengeluh kesakitan. Kyuhyun menunduk dan menenangkannya.
“Siwon hyung?”
Kyuhyun ditarik oleh Siwon ke dalam mobil. Berkali-kali, Kyuhyun berusaha berontak tapi tenaga Siwon memang tak bisa dikatakan lemah, justru terlalu kuat baginya.
“Masuk!”
Kyuhyun beringsut mundur ketika sekilas mata Siwon dilihatnya berubah menjadi merah. Kyuhyun takut. Ada sesuatu dalam diri Siwon yang membuatnya ketakutan, tapi apa?
“Hyung?”
Kyuhyun bingung. Wajah Siwon semakin mendekat dan tubuhnya semakin tertindih tubuh berotot Siwon. Rasanya seperti de javu. Dia pernah mengalami ini tapi dengan siapa? Dia bahkan tidak mempunyai pacar ataupun teman dekat. Dia hanya mempunyai Taemin nonna yang selalu disampingnya.
Kyuhyun berusaha mendorong Siwon sekeras dan sekuat yang ia bisa tapi, bahkan Siwon tak beranjak satu inchipun. Dan ketika Kyuhyun akan membuka pintu mobil untuk keluar dari situasi yang kurang nyaman ini, tangan Siwon mencegahnya.
“Si-Siwon-Sshi, aku ingin keluar,” ucapnya pelan dan gugup karena ketakutan.
“Siapa gadis itu?” tanyanya dingin dan tegas.
“I-Itu… temanku.”
“Teman? Kau bahkan memegang tangannya tadi? Apa itu yang disebut teman, hah?” Siwon tidak bisa mengontrol emosinya lagi, ia bahkan menghancurkan kursi jok mobil dengan tangannya sekali tepuk. Sungguh… Kyuhyun terkejut dan ketakutan sekali. Apa Siwon itu monster?
“Katakan padaku, siapa dia, hah?”
“Sungguh… hiks… dia temanku. Hiks…” Karena ketakutan, Kyuhyun tak sanggup lagi membendung air matanya. Ia menangis dan tanpa sadar, Siwon mulai mundur dan memeluknya. Ia menyesal membuat Kyuhyun ketakutan. Ini diluar rencananya. Ia hanya takut, cemas, dan cemburu. Berebut dari ayahnya saja sudah membuatnya frustasi dan ingin mati rasanya.
“Uljima. Mianhae, mianhae. Jangan takut, Kyu. Aku tidak akan menyakitimu.”
Bahu Kyuhyun bergetar dan Siwon yang masih memeluknya sambil menepuk punggungnya pelan. Cukup lama hingga akhirnya Kyuhyun mulai kembali tenang.
“Maafkan, hyung.”
Kyuhyun tidak munafik untuk mengakui ia ketakutan dan hanya mengangguk karena takut membuat pria ini tambah marah dan menyakitinya. Tahu apa yang difikirkan Kyuhyun, Siwon memikirkan cara lain melalui tindakan yang bisa membuat Kyuhyun nyaman dan tidak berfikir bahwa Siwon dapat menyakitinya. Tentu saja, Siwon tidak mungkin menyakiti pemuda ini. Pemuda yang amat dicintainya.
“Saranghae,”
Siwon mencium Kyuhyun cepat dan tiba-tiba dan membuat Kyuhyun diam mematung dan juga kaget. Ia diam saja. Takut dan tidak ingin melawan. Meskipun, jauh didalam hatinya, ia sedih, marah karena ciuman pertamanya diambil oleh seorang pria, bukan dengan seorang gadis.
Merasa Kyuhyun diam, Siwon semakin dalam menciumnya. Tangannya yang berada di pinggang Kyuhyun, beralih memegang tengkuk sang namja agar ciuman itu tetap lekat dan menyatu. Melumatnya dan sesekali menghisap dalam-dalam, menimbulkan frisksi yang mendebarkan bagi keduanya. Hisapan itu mengeluarkan suara ciuman yang khas. Tangan Kyuhyun tanpa sadar, memegang dan mencengkram baju bagian atas Siwon. Ia kini mulai memejamkan matanya dan tanpa membalas lumatan Siwon, ia ikut menikmati ciuman pertamanya itu; lebih tepatnya, ciuman pertama baginya.
Mereka masih terlena oleh kenikmatan yang diciptakan oleh gerakan-gerakan sensual keduanya. Fantasi yang membuat gejolak didalam tubuh mereka memanas seiring naiknya hormon mereka. Siwon bahkan mulai mengaitkan lidahnya ketika Kyuhyun mulai membalas dan membuka mulutnya. Mulut Kyuhyun begitu hangat saat dirasakannya sejak lama. Merindu dengan kehangatan mulut ini. Semakin menindih tubuh mungil itu dan Kyuhyun yang menurunkan kursi mobil agar keduanya terlentang. Siwon menyeringai dalam hati, sepertinya Kyuhyun mulai terangsang.
Kyuhyun yang seorang manusia, membutuhkan udara. Meski tak rela, Siwon akhirnya melepaskannya.
“Saranghae,”
Siwon tidak membiarkan Kyuhyun bernafas sejenak, ia segera meraup leher jenjang yang selalu menggodanya itu. Mengendus dan menyesap aroma yang memabukkannya. Kyuhyun mendongak dan mendesah. Nalarnya menyatakan, ini salah. Tapi, tindakannya selalu mengkhianati nalarnya sendiri. Tangan Kyuhyun bahkan mendorong kepala Siwon agar terus mencumbui lehernya. Ini memabukkan. Ini sangat nikmat. Seluruh tubuhnya menjadi panas meski ia sedang tidak sakit demam.
Siwon bisa mendengar desahan Kyuhyun tapi begitu logikanya mulai kembali, ia sadar, bahwa ini salah. Bahkan ketika mereka masih sepasang kekasih dulu, Kyuhyun tidak mengijinkannya menyentuh lebih dari ini. Bagaimana mungkin ia mengambil kesucian Kyuhyun disaat Kyuhyun tidak mengingat semua kenangan mereka. Siwon ingin, penyatuan mereka haruslah dilandasi oleh cinta. Dan Siwon tahu, bahwa Kyuhyun tidak mencintainya; setidaknya hingga ia mengingat semuanya.
“Maaf,”
Siwon beranjak dari tubuh Kyuhyun dan ketika beranjak, tangannya menekan kursi terlalu keras dan terdengarlah suara patahan yang langsung membuat pemuda cantik di antara mereka semakin yakin, bahwa Siwon bukanlah manusia biasa.
“Maaf soal kursimu juga.”
Siwon menggaruk tengkuknya canggung. Tidak punya alasan untuk apa yang terjadi hari ini.
“Kau… Kau bukan manusia?”
Kyuhyun bahkan melupakan urat malunya setelah apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Baginya, pertanyaan ini jauh lebih penting ketimbang mempertanyakan soal ciuman pertamanya.
Dan ketika Siwon tidak segera menjawabnya, Kyuhyun langsung tahu bahwa apa yang difikirkannya adalah kebenaran. Tanpa rasa bersalah, ia membuka pintu mobil dan memanggil taksi untuk pergi dari hadapan pria yang dianggapnya sebagai monster ini. Siwon terpaku. Kecewa dan sedih. Tapi, bukankah Kyuhyun tidak ingat apa-apa. Apakah ini yang juga dirasakan oleh ayahnya? Sungguh, ini pertama kalinya, Siwon tidak bisa menyalahkan Kris atas apa yang telah diperbuatnya. Cho Kyuhyun memang mampu membuat mereka gila. Bukankah itu hebat? Cho Kyuhyun, kau memang sangat hebat.
***
“Yak! Kyuhyun-ah, dimana Siwon oppa? Apakah kau lupa, Siwon oppa itu tidak terlalu mengenal Seoul, kau tahu? Tanggung jawab! Cari dia sampai ketemu!”
Taemin memarahi Kyuhyun habis-habisan saat pemuda itu datang dan mengabari bahwa ia meninggalkan Siwon dan parahnya, ia lupa tempat yang tadi. Kyuhyun memang memiliki ingatan yang buruk.
“Jika kau cemas, kau saja yang mencarinya,” ucap Kyuhyun santai. Ia tidak mau berurusan dengan pria itu. Pria monster itu.
“Apa kau bilang?” pekik Taemin, sedikit berlebihan.
“Sudahlah. Biar kami saja yang mencarinya, nonna.” Jawab Donghae melerai pertengkaran keduanya. Kyuhyun menatap Donghae tak suka karena merasa dikasihani.
“Tidak bisa. Biar anak ini yang melakukannya. Bukankah orangtua kita mengajari untuk melakukan tanggung jawab.”
Kibum menghela nafas lagi.
“Biar kami saja. Kami bisa mengatasi ini,” ucap Kibum final yang entah mengapa, Taemin enggan membantah lagi karena sorot dan suara yang terkesan mengintimidasi itu. Yah, bukankah Kibum selalu bisa mengatasi masalah seperti ini.
“Kau tidak mau ikut? Lucu, dimana letak tanggung jawabmu itu.” Sindir Changmin ketika ia melewati Kyuhyun yang masih diam di tempat. Merasa dihina, akhirnya, mau tak mau, Kyuhyun mengikuti mereka dari belakang sambil berfikir, apakah mereka sama dengan Choi Siwon, bukan manusia?
“Lalu? Kita harus naik apa?”
“Taxi.”
Kyuhyun menjawab pertanyaan Donghae dengan malas. Ia segera menghentikan taxi dan duduk di kursi paling depan karena tidak mau berdekatan dengan mereka. Makhluk aneh dari negeri antah berantah, setidaknya itulah fikiran jujur Cho Kyuhyun tapi, mengapa ia mau saja terhanyut dan justru menikmati ciuman dari makhluk bukan manusia itu? Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil merutuk dalam hati.
“Apakah kau tidak bisa mengingat dimana kau meninggalkan Siwon?” Changmin masih menyudutkan Kyuhyun sedari tadi meskipun Donghae terus menyikutnya agar bersikap yang sopan pada Kyuhyun tapi, Changmin adalah orang yang netral, ia tidak akan memihak siapapun, apalagi Kyuhyun.
“Molla,”
“Ya! Cho Kyuhyun!”
“Berhenti memojokkannya, Min!”
“Aish! Hae, kau selalu membelanya. Bukankah Siwon juga temanmu?”
“Dia bisa menjaga dirinya sendiri.” Jawab Kibum dan Donghae yang mengangguk. Changmin mendesah frustasi dan tidak berani bicara lagi meskipun ada banyak sindiran untuk pemuda cantik yang pernah hampir diperkosanya itu.
“Bukan disini? Lalu dimana?”
Changmin jengah juga saat sudah puluhan kali, mereka mengelilingi kota Seoul dan tidak mendapatkan hasil apapun. Donghae menatap Kibum dan menyuruhnya untuk menggunakan kemampuannya. Meskipun, Kibum sempat menolak, toh akhirnya, ia melakukannya juga karena tidak tega dengan Kyuhyun yang sedari tadi tampak tertekan.
“Dia ada di taman bunga dengan atap kaca dan bunga-bunga matahari disisi-sisi kanan dan kirinya. Tempat yang seperti itu, dimana, Kyuhyun-ah?”
Kyuhyun menatap Kibum heran dengan wajah polosnya.
“Seodongg Park? Taman dengan rumah kaca?”
Kibum mengangguk.
“Baiklah, Kajja. Kita kesana, Kyu-ah,” ucap Donghae tak sabar.
“Arra.”
Mereka kemudian menuju tempat yang dimaksud oleh Kibum. Kyuhyun tidak tahu mengapa ia percaya saja dengan ucapan pemuda dingin itu. Dibanding dengan Donghae dan Changmin, ia memang lebih mempercayai tatapan lembut dari seorang Kim Kibum dan mungkin saja, Kibum itu manusia sama sepertinya.
“Ah! Itu dia! Wonnie!”
Donghae dan Changmin berlarian menyusul Siwon sedangkan Kibum dan Kyuhyun hanya berjalan santai dengan pemikiran yang berbeda. Kyuhyun yang merasa bersalah dan juga canggung dan Kibum yang mencemaskan Siwon. Mereka kemudian saling menatap dan Kyuhyun yang meminta maaf karena meninggalkannya sendirian. Siwon tersenyum maklum tapi, Kibum bisa tahu bahwa ada luka disana. Tidak perlu bercerita panjang lebar karena Kibum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Ayo pulang, Won.”
“Pulang kemana?”
Mereka terdiam sebentar. Benar, mereka tidak punya tempat tinggal tapi hari sudah malam. Bagaimana?
“Tinggal di apartementku saja. Meski Taemin nonna ingin menampung kalian, tapi, Taemin nonna tetaplah seorang gadis. Tidak mungkin kalian tinggal bersama seorang gadis sendirian. Jadi, tinggallah bersamaku untuk sementara waktu.”
“Jeongmal?”
Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum riang memasang wajah anak-anak.
“Ini sebagai permintaan maafku, kajja!”
Mereka kemudian melesat ke apartement Kyuhyun yang megah dan juga mewah. Bahkan di apartement sebesar itu, terdapat ruang musik pribadi. Mereka terkagum-kagum dengan desain interior yang super mewah. Kyuhyunnya memang orang yang berada, setidaknya, itu yang difikirkan Siwon.
“Kalian pilih saja, kamar manapun yang kalian suka. Aku tidur dulu, ya. Jaljayo.” Kyuhyun menunduk lalu pergi ke kamarnya. Cuaca sangat dingin bahkan hujan turun dengan deras dan petir yang menggelegar keras. Kyuhyun menarik selimut tebalnya dan sesekali ketakutan dengan suara petir yang menyambar. Tiba-tiba, saat sedang berkutat pada ketakutannya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dengan malas, ia membuka pintu bermotif kayu tersebut.
“Siwon hyung?”
“Kau sedang ketakutan? Apa perlu bantuanku?”
“Ani.”
Kyuhyun akan menutup pintunya lagi tapi tiba-tiba saja angin menerjang dan Kyuhyun berani bersumpah, pintu itu tidak bisa ditutup lagi. Kyuhyun menelan ludahnya gugup. Siwon benar-benar bukan manusia. Dia kini mendekatinya dan setiap kali langkah kakinya dapat didengar oleh Kyuhyun, setiap itu pula lampu kamar Kyuhyun sedikit demi sedikit menjadi remang. Kyuhyun mundur secara perlahan, takut membangunkan macan tidur seperti Choi Siwon.
“Si-Si-Siwon?”
Kyuhyun tidak bisa mundur lagi karena belakangnya adalah tembok yang dingin. Berkali-kali, ia berdoa dalam hati soal keselamatannya.
“Aku tidak akan menyakitimu, Babykyu.”
“Mwo? Babykyu?”
“Saranghae.”
“Hmphhh…”
Siwon mencium Kyuhyun ganas. Kuat dan cekatan. Melumat setiap inchi dan setiap cela di bibir dan mulut seperti buah apel itu. Kyuhyun belingsatan, ia meronta dan memukul dada bidang Siwon yang secara otomatis, tangannya tiba-tiba menjadi mati rasa. Kyuhyun tahu, ini bukan apa yang diperintahkan otaknya untuk tetap melawan. Ini nyata. Choi Siwon memang memiliki suatu kekuatan magis yang sangat aneh.
Dan setelah itu, suara dentuman pintu kamarnya yang tertutup dapat didengarnya dengan jelas. Kyuhyun masih menggelengkan kepalanya dan Siwon kemudian memegang tengkuk dan dagu sang namja cantik agar tidak mengelak dari cumbuannya.
Mereka masih berpagutan hingga terdengarlah suara Taemin yang mengetuk kamarnya. Kyuhyun frustasi, ia takut ketahuan sedang berciuman dengan pria yang disukai oleh nonnanya itu. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya yang dengan tidak tahu dirinya, justru memeluk leher Siwon dan menekan tengkuknya. Sungguh, ini bukan keinginannya.
“Kyu, gwenchana? Apa kau sudah tidur? Kau tidak sedang ketakutan karena mendengar suara petir, kan?”
Suara itu membuat hati Kyuhyun meringis. Ia tidak tahu mengapa, ciuman itu malah semakin dalam dan menuntut. Cumbuan itu kini melibatkan lidah yang memiliki rasa yang ‘aneh’ bagi Kyuhyun. Ia memejamkan matanya kuat-kuat saat lidah Siwon membelit dan menimbulkan friksi yang memabukkan. Sekarang, ia merasa tangannya dapat digerakkan dan kenyataan bahwa ia kini tak sekalipun merubah posisi tangannya, membuat Kyuhyun memaki dirinya sendiri karena sekali lagi, ia terhanyut oleh ciuman dari seorang pria bernama Choi Siwon.
“Kyu? Buka pintunya! Gwenchana?”
Taemin mencoba membuka pintu yang sekarang sudah terkunci. Kyuhyun tak perduli lagi, ia mulai membalas lumatan Siwon dan menjambak rambutnya untuk menyalurkan kenikmatan saat ini. Persetan soal nonnanya. Dan ia tak perduli ataupun ketakutan lagi dengan suara petir yang masih ajeg terdengar gemuruh.
“Hahh… Si… Siwon, ah…”
Lidah Siwon menjilati seluruh area wajah Kyuhyun dan tangannya yang mengelus lembut seluruh bagian tubuhnya. Perutnya yang rata, pinggul, dan juga daerah selangkangannya yang bagai tersengat saat disentuh dengan sangat ahli, menimbulkan rangsangan yang luar biasa nikmat. Kyuhyun bahkan memajukan tubuhnya ketika alat kelamin mereka bergesekan. Kyuhyun ingin lebih, lebih dan lebih dari nikmat seperti ini.
“Ahhh, Siwon, jilat, ah.”
Kyuhyun bahkan tanpa sungkan memerintahkan pria ini untuk menjilat juniornya yang tegak mengacung ketika Siwon berjongkok dan hanya terus memandanginya.
“Boleh aku lepaskan?”
“Ahhh… Lepas! Lepas semua, ahh… Siwon.”
Siwon menyeringai lalu melepas celana piyama milik Kyuhyun beserta Celana dalamnya. Mengeluarkan junior yang sudah tegak menantang. Tanpa pembicaraan lagi, Siwon segera mengulum junior itu dan memaju mundurkan dengan tenaga yang extra cepat. Kyuhyun terkejut, ia menggigit bibirnya ketika telinganya mendengar, Taemin masih berada di depan pintu. Nonnanya itu memang yang akan selalu menenangkannya ketika petir menyambar karena itu, Taemin tidak mudah menyerah.
“Hnnn… Ah, Ah,”
Kyuhyun berusaha mati-matian menahan suara yang seenaknya keluar itu. Siwon masih asyik menikmati pekerjaannya dan Kyuhyun yang memejamkan matanya sambil menengadah ke atas, menikmati kenikmatan yang pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya menjadi panas, keringat mulai membanjiri pelipis dan rambutnya yang mulai basah oleh keringat. Sepertinya, ia akan mengeluarkan air maninya saat tubuhnya tiba-tiba berkontraksi hebat dan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.
“Siwon, ak… aku keluar, Ahhh…”
Siwon mempercepat kulumannya sambil matanya menatap wajah sang pemuda yang kini memerah dengan nafsu yang amat kentara timbul di guratan-guratan wajah cantiknya.
Sperma Kyuhyun keluar meluber hingga ke wajah Siwon. Ia menelannya sekali tenggak dan menimbulkan bunyi lumrah ketika menelan sesuatu. Kyuhyun menatap ke bawah dan pipinya bersemu merah ketika mendengar suara Siwon yang menelan spermanya dengan suara yang cukup keras, seolah tak jijik dengan rasa asin dan amis dari sperma itu. Kyuhyun akui, ia cukup tersanjung.
“Kyu, Nonna masuk ya.”
Terdengar suara kunci masuk ke lubang pintu. Benar, Kyuhyun baru ingat bahwa nonnanya itu memiliki kunci cadangan untuk masing-masing kamar. Ia segera mengenakan celana dalam dan celana piyamanya tergesa-gesa kemudian menatap Siwon yang dengan tenang hanya tersenyum.
“Selamat tidur. Saranghae,”
Siwon bahkan sempat mengecup bibir Kyuhyun singkat dan Kyuhyun yang melotot karena ketenangan Siwon saat itu. Tak lama, pintu terbuka dan dalam hitungan detik, Siwon benar-benar hilang dari pandangannya. Ia tahu ini bukan mimpi, bahkan ia masih bisa merasakan spermanya yang basah dan bau amisnya yang memenuhi ruang kamarnya. Dengan gugup, ia menatap Taemin dengan pandangan takut-takut.
“Kyu, Gwenchana?”
Kyuhyun menghampiri Taemin karena takut dengan spermanya yang masih tercecer di lantai. Meski, Siwon menelannya cukup banyak.
“Bau apa ini?”
“Itu…”
“Kau habis mimpi basah, ya?”
Kyuhyun tidak punya pilihan lain selain mengangguk dengan wajah yang merona hebat karena malu. Taemin hanya manggut-manggut maklum. Ia mengelus rambut pirang Kyuhyun dan mengecup keningnya lama. Seolah memberi ketenangan pada adiknya yang masih ketakutan dengan petir di usianya yang sudah beranjak remaja.
“Tidurlah. Besok, kau harus pergi ke Sekolah, bukan?”
Mata Kyuhyun berubah sendu ketika mengingat kesalahannya yang telah berciuman dengan Choi Siwon dibelakang nonnanya. Tapi, Kyuhyun akui, kenikmatan dan ketegangan yang dirasakannya, lebih memacu adrenalinnya dan itu mendebarkan.
“Saranghae,”
“Nado saranghae, nan nonna.”
Kyuhyun tersenyum tulus dan memeluk Taemin. Setidaknya, mereka belum menjadi sepasang kekasih, jadi masih wajar jika dia berciuman dengan Choi Siwon dan entah mengapa, Kyuhyun menginginkannya lagi. Yah, menginginkan berciuman dengan Choi Siwon.
0o0

Mentari pagi masih terbit seperti biasanya. Taemin yang memasakkan sarapan untuk Kyuhyun yang akan bersiap-siap pergi ke sekolah. Sudah menjadi rutinitas yang biasa. Para maid yang membantu Taemin untuk mempersiapkan semua keperluan Kyuhyun yang memang sangat dimanjakan itu. Kyuhyun sudah memakai seragamnya dan sedang membaca salah satu buku matematika dan mulutnya yang mengunyah roti gandum berisi sosis, daging dan keju kesukaannya. Ia sedikit melirik ketika rombongan Siwon menghampiri keduanya lalu kembali mengalihkan pandangannya pada bukunya. Seolah-olah, tak terjadi apa-apa.
“Pagi, semuanya.” Sapa Donghae ramah di pagi hari yang cerah.
“Pagi,” ucap taemin membalas perkataan Donghae.
“Wah, nonna, kau memasak apa? Ternyata, selain cantik dan manis, kau juga sangat pintar memasak, ya. Benar-benar calon istri idaman.”
Taemin merona dipuji seperti itu. Arah pandangnya ke arah sang namja berlesung pipi yang justru tengah menatap sang adik sepupu dengan intens.
“Nonna, boleh aku mencicipi masakanmu?”
“Tentu.” Taemin melepaskan celemek yang ada di tubuhnya lalu menghampiri meja makan, menaruh berbagai piring dengan jenis makanan yang berbeda. Donghae membantunya dan beberapa kali terus memuji keahiannya ini-itu membuat Kyuhyun tersenyum simpul, ternyata, Donghae hyung memang sangat playboy. Begitu fikirnya.
“Baiklah. Kalian makan dulu dan bersiap-siaplah untuk pergi bekerja.”
Mereka mengangguk ragu.
“Oh iya, Kyu, apa kau mau kuantar?”
“Aniyo, nonna. Aku dijemput Yesungie hyung.”
Dahi Siwon berkerut saat Kyuhyun memanggil namanya dengan panggilan semesra itu- menurutnya. Sedikit cemas dan cemburu, tentu saja.
“Aku selesai. Nonna, hyungie, aku berangkat dulu, ya?”
Kyuhyun beranjak dari kursi dan menghampiri Taemin seraya mencium pipinya sekilas. Dan, begitu pandangannya beralih pada sosok Choi Siwon, ia gelagapan setengah mati. Pandangan itu berbeda. Bukan pandangan lembut seperti biasa, tapi pandangan mematikan seperti kemarin saat Eun Soo tiba-tiba bergetar kesakitan. Apakah itu ulah Siwon? Tidak mungkin.
“Yesung hyung!”
Pria itu berbalik dan tersenyum ketika melihat Kyuhyun menghampirinya dan tersenyum. Pria itu memeluk Kyuhyun sekilas lalu mengacak rambut pirangnya dengan tangannya yang bebas mendapat tanggapan yang heboh dari sang pemilik rambut.
“Hyung, aku merapikan rambutku sepuluh menit, kau tahu! Jangan merusak tatanan rambutku!” Kyuhyun merengut sambil bergumam pelan. Yesung terkekeh pelan. Diusapnya kening Kyuhyun lama dan membenarkan letak poni-poninya yang kini tak rapi lagi karena ulahnya.
“Ayo berangkat,” ucap Yesung lembut. Kyuhyun tersenyum dan menyetujui perkataan sahabatnya itu. Tanpa banyak pembicaraan, mereka masuk kedalam mobil Lamborghini milik Yesung.
“Keluar!”
“Siwon hyung?”
Kyuhyun melongo ketika Siwon menghampiri keduanya dan berdiri tepat didepan mobil milik Yesung, bermaksud menghalangi laju sang pengemudi. Yesung menoleh seakan bertanya, ‘Siapa itu?’ dan Kyuhyun yang tersenyum canggung menjawab teman nonnanya.
“Lebih baik kita keluar, hyung.”
“Ah. Ini sudah terlambat. Apa sih yang mau dibicarakan orang itu.”
“Sudahlah, ayo keluar.”
Yesung yang memang dasarnya keras kepala, tak mau begitu saja menuruti perkataan sang teman baik. Tanpa bersalah dan berfikir, ia memundurkan mobilnya dan berbelok hampir saja menyerempet sang pria tampan. Siwon menyeringai. Ia tiba-tiba berada di depan mobil itu lagi membuat Kyuhyun maupun Yesung terpana tak percaya.
“Aku sudah bilang, keluar!”
Siwon meremukkan mobil bagian depan milik Yesung hanya menggunakan tangan kosong dan hanya sebuah remasan biasa. Yesung menatap Siwon dengan horor dan Kyuhyun yang panik luar biasa. Siwon mengerikan.
“Hyung, ayo keluar.”
“N-ne.”
Mereka berdua sama-sama takut. Dengan langkah yang pelan menghampiri Siwon yang masih memasang wajah datarnya.
“Kau pergi duluan, biar Kyuhyun aku yang mengantarnya.”
“Ne, Sunbaenim.” Yesung berlari terbirit-birit dan segera melajukan mobil mewahnya. Persetan soal rugi-merugi, baginya keselamatan tubuhnya jauh lebih penting daripada lecet di mobilnya. Maklumlah, Yesung adalah orang yang berada sama seperti Kyuhyun.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak suka melihatmu bersamanya, Kyu.”
“Mwo? Apa urusannya denganmu? Kau bukanlah siapa-siapaku.”
“Aku berhak.”
“Lucu sekali, setelah kita berciuman, seolah-olah kau mengambil alih kendali diriku. Apa aku terlihat sebegitu murahannya bagimu?” Sinis Kyuhyun dengan mata yang menatap tajam bagai elang.
Siwon terdiam. Percuma, Kyuhyun tidak mengingatnya.
“Dan karenamu, aku akan terlambat ke sekolah.”
“Tenanglah. Aku akan mengantarmu.”
“Mengantar? Kau bahkan tidak mempunyai mobil.”
Tanpa banyak jawaban, mungkin terlalu lelah, Siwon segera menggandeng tangan Kyuhyun dan dalam hitungan detik, melalui cahaya-cahaya putih yang samar dan ruangan benderang yang bersinar, Kyuhyun sudah sampai di depan gerbang sekolahnya.
“A-Apa-Apaan?”
Kyuhyun melotot dengan mata yang berbulat sempurna.
“Selamat belajar, babykyu.”
“Jangan mendekat.”
Kyuhyun memperingatkan Siwon ketika pria itu hampir saja menciumnya. Meski, ia harus mengakui, Siwon pencium yang hebat, nyatanya, kejadian hari ini mampu membuat Kyuhyun sangat ketakutan setengah mati. Mungkin, ia harus menjaga jarak dengan Choi Siwon.
“Aku tidak suka penolakan, sayang.”
Kyuhyun berani bersumpah, tubuhnya bergerak sendiri. Melumat bibir Siwon dengan gairah yang menggebu-gebu. Ini bukan dia. Siwon melakukan pelecehan padanya. Siwon pasti yang melakukannya.
“Ahhh… Cu-cuk-cukup.” Kyuhyun bahkan tak mampu hanya mengeluarkan satu kata karena bibirnya yang kini mengkhianati dirinya. Sedikit kasihan, Siwon melepas mantranya dan secara otomatis, tubuh Kyuhyun sedikit terjungkal ketika pemberontakan yang dilakukannya berhasil dan tubuhnya tidak begitu siap. Siwon memegangi pinggang Kyuhyun siaga dan tersenyum, atau menyeringai.
“Jangan-jangan… Kau benar-benar yang melakukannya di mimpiku itu?”
“Yeah, Baby. Itu aku.”
“Yak! Lepaskan tanganmu dari pinggangku, namja mesum!”
“Arraseo. Belajar yang rajin, babykyu.”
“Aku bukan babymu!”
Dan berakhir dengan Kyuhyun yang berlari meninggalkan Siwon. Siwon terkikik geli melihat Kyuhyunnya marah namun juga malu seperti itu. Bagaimanapun, meskipun kemungkinan terburuk Kyuhyun tidak bisa mengingatnya lagi, ia harus membuat pemuda cantik itu jatuh cinta padanya untuk yang kedua kalinya, sebelum Kris, ayahnya mendahuluinya. Karena sekarang, ia bisa merasakan aura ayahnya mulai mendekat mencoba mencari Kyuhyun. Aura yang sangat dikenalinya. Mungkin, waktunya sudah dekat sekarang.
0o0

“Selamat datang.” Kyuhyun menyapa setiap pengunjung dengan ramah. Ia dengan senyum merekahnya, melayani para tamu. Selalu seperti ini, setelah selesai menyelesaikan sekolahnya, Kyuhyun akan membantu Taemin mengurus cafe mereka, hitung-hitung untuk menyibukkan dirinya. Yesung, teman satu-satunya yang dimilikinya juga cukup disibukkan dengan urusan perusahaan ayahnya. Hanya Taeminlah yang selalu menemani hari-hari sepinya.
“Kulihat, Kyuhyun cukup bahagia berada di sini. Jika dia berada di dunia sihir, dia terlihat selalu ketakutan dan juga merasa tertekan. Benar tidak?” Donghae menatap Kyuhyun cukup lama. Ada perasaan sedih ketika mengatakan hal itu. Karena semenjak Kyuhyun datang dan hadir di kehidupan mereka, ada perubahan besar baginya. Bertemu dan berteman dengan Kibum, tertawa sepanjang hari dan jangan lupakan juga sikap Siwon yang berubah drastis ketika mengenalnya. Lebih menjadi manusiawi.
“Aku tidak tahu, apakah Kyuhyun lebih memilih tinggal disini ketika ia mengingat semuanya? Terkadang, aku takut.” Kali ini Kibum. Dia bahkan sudah hampir menangis sekarang. Dan Donghae yang menatapnya kaget. Bagaimana Kibum bisa semelankolis seperti ini?
“Menurut penglihatanmu, Kyuhyun akan tinggal dimana? Apakah tetap disini, atau mengikuti kita ke dunia sihir?” tanya Donghae, kali ini menatap Kibum serius.
Hening.
Semua menatap Kibum yang masih terdiam, kecuali Changmin yang tidak mau tahu. Pria paling tinggi itu dengan nyamannya menikmati berbagai hidangan yang tadi disiapkan oleh Taemin; untuk Siwon sebenarnya.
“Aku belum bisa memastikan.”
Semua mendesah kecewa.
“Kyuhyun-ah!” Seorang pria tiba-tiba saja memanggilnya cukup kencang. Kyuhyun menoleh dan tersenyum sumringah ketika melihat pria itu datang. Ia bahkan memeluknya dan membuat Siwon cemburu. Berkali-kali, Donghae mencoba mengingatkannya untuk tidak menggunakan sihirnya guna menghajar pria tak tahu diri itu- menurut Siwon.
“Bagaimana kabarmu? Kulihat kau semakin kurus saja.” Pria itu mengamati Kyuhyun dengan seksama dan mengeluh ketika mendapati sang pemuda tampak lebih kurus dari biasanya.
“Baik, hyung. Kau kemari sendirian? Dimana istrimu, hyung?”
“Dia ada dirumah, mengurus putra kami. Sebenarnya, aku datang kemari ingin menanyakan sesuatu, Kyu.” Pria tadi merubah mimik mukanya menjadi lebih serius, berbeda dari beberapa detik yang lalu yang masih terlihat santai.
“Mengenai apa, hyung?” Kyuhyun ikut penasaran. Dia bahkan menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah pria itu.
“Lihatlah ini.”
Pria itu menunjukkan sebuah foto. Foto lama mereka. Mungkin, ketika Zhoumi- nama pria itu, menikah dengan gadis keturunan China- Korea yang sekarang telah memiliki seorang putra.
Kyuhyun tersenyum mengingat peristiwa itu. Dimana sang hyung- kakak angkatnya menikah dan menangis selama upacara pernikahan berlangsung. Kyuhyun bahkan tidak percaya, mengapa sang pengantin pria bisa menangis dan mempelai wanita yang menenangkannya.
“Lihat ini, Kyu.” Zhoumi masih memasang wajah serius sementara Kyuhyun yang tersenyum mengingat kejadian tersebut.
“Apa sih, hyung?”
“Lihat baik-baik, wajah-wajah yang ada di foto ini.” Perintah Zhoumi yang bagi Kyuhyun adalah perintah yang aneh. Tentu saja, wajah-wajah mereka adalah keluarga besar mereka. Lalu, apa yang aneh?
DEG!
“Kau mengerti? Ini aneh, Kyu. Ini yang menjadi kekhawatiranku selama ini. Lebih tepatnya, selama beberapa tahun belakangan ini.”
“H-hyung… In-ini.”
Belum sempat, Kyuhyun mencerna apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja, suara keras terdengar dari luar cafe. Seperti suara benda terjatuh dengan sangat keras. Orang-orang berbondong-bondong ikut melihat ke luar tetapi, berlari masuk ke dalam lagi.
“Tolong… Arghhh!” Orang-orang yang berada di luar berteriak meminta tolong dan ketika Kyuhyun ingin ikut melihat apa yang terjadi, Choi Siwon menghalanginya. Memintanya untuk tetap tinggal.
“Berbahaya. Kau tetap disampingku. Mengerti?”
Kyuhyun hanya mengangguk. Ia masih bisa melihat, dibalik bahu kekar Siwon, dua orang pria; yang satu tinggi dan sangat tampan, dan yang satunya lagi, memiliki wajah yang manis, sedang menyeret dan menganiaya orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dengan sesuatu yang aneh. Seperti, sihir?
“Berhenti! Jangan bergerak!” Berpuluh-puluh polisi datang dengan mobil mereka. Mereka dengan formasi melingkar, menodong pistol tepat di depan sang penjahat yang mengenakan pakaian yang sama yang dipakai oleh Choi Siwon.
“Letakkan senjata kalian dan menyerahlah!” Perintah salah satu polisi. Tapi, pria yang paling tinggi justru tertawa meremehkan.
“Senjata? Senjata apa, tuan-tuan? Aku tidak menggunakan senjata.”
“Aku bilang jangan bergerak!”
BLUSHHH!!!
Para polisi itu terpental oleh satu tarikan tangan sang pria tinggi. Bukan hanya terpental, dada dan lengan mereka seperti tergores oleh sesuatu yang tembus pandang. Mereka merintih kesakitan dan tidak banyak bergerak.
“Ku tanya sekali lagi, dimana Cho Kyuhyun?”
DEG!
“Aku?” Kyuhyun semakin beringsut mundur dan membenamkan tubuhnya sendiri ke punggung tegap Siwon. Seingatnya, ia tidak pernah mempunyai masalah dengan siapapun. Ia tidak pernah berhutang ataupun menyakiti oranglain. Kyuhyun bahkan tidak mempunyai teman dekat.
“Wah. Wah. Wah. Siwon-sshi. Rupanya, kau selangkah lebih cepat dibanding aku, ya?”
Siwon tidak takut sama sekali. Ia bahkan tersenyum.
“Tidak biasanya anda terlambat, aboji.”
Aboji? Kyuhyun semakin mundur ketika mengetahui bahwa penjahat ini adalah ayah dari Choi Siwon. Yang jelas, ia juga takut pada Siwon.
“Ah. Cho Kyuhyun. Bersembunyi disana rupanya.” Kyuhyun ketakutan. Tapi, begitu tangan kekar Siwon melindunginya dari belakang, ada rasa tenang dan terlindungi. Kyuhyun menurut saja. Dia kembali bersembunyi di belakang punggung tegap Siwon.
“Kemarilah, Kyu. Aku tak akan melukaimu.”
Kyuhyun masih diam.
“Kau tidak mau kemari?” tanyanya lembut tapi berbahaya.
“Siapa kau? Mengapa kau mencari adikku?” Zhoumi yang tak tahan dengan ketegangan ini, segera memblokir jalan Kris.
“Minggir atau kubunuh kau!” Sungmin mengancamnya. Tapi, Kris menahannya dan menatap Zhoumi seksama.
“Adik?”
“Ya, Kyuhyun adalah adikku.”
Kris tersenyum singkat lalu mendorong tubuh Zhoumi seperti mendorong kertas. Zhoumi terjatuh dan terpental namun, Kris cukup baik tidak melukainya. Bagaimanapun, dia adalah kakak dari pria yang dicintainya, kan?
“Hyung!”
“Jangan, Kyu. Tetaplah disini!”
Siwon maju, tak tahan lagi dengan semua ini. Ia mengeluarkan remahan-remahan magma yang mendidih, berubah menjadi gumpalan gelembung sabun yang menemaninya dalam pertarungan.
Siwon mengambil salah satu gelembung miliknya lalu berkali-kali melepaskannya ke arah Kris. Semua orang panik. Mereka berteriak dan berlari menghindar. Bahkan ada juga yang datang meliputnya.
“Kau kira ini saja cukup mengalahkanku?” Kris menahan serangan Siwon dengan sayap emasnya. Ia menggumamkan sesuatu, mungkin mantra dan muncullah sesosok hollogram mirip burung phonix. Mengitari Siwon dan menyerang menggunakan mulutnya.
“Jangan membantuku! Diam disitu!” Siwon berkata tegas pada teman-temannya yang kini khawatir.
Sungmin bahkan ikut membantu Kris menyerang Siwon. Namun, sekuat apapun mereka berusaha, Siwon masih terlalu tangguh untuk dikalahkan semudah itu. Ia kuat sekali.
Kyuhyun kebingungan. Ia juga sangat ketakutan dengan peristiwa aneh diluar nalarnya ini. Dengan pikiran yang kacau, Kyuhyun berlari keluar cafe melalui pintu di belakang bersama Taemin.
“Ayo, nonna, kita keluar.”
“Zhoumi?”
“Dia akan menyusul kita.”
Mereka berdua keluar dengan selamat dan memanggil taksi karena kedua mobil mereka telah rusak parah. Menunggu sesaat untuk menunggu Zhoumi.
“Ayo kita pergi, hyung.”
“Ne.” Mereka lalu menaiki taksi dengan buru-buru. Tak menyadari bahwa Kibum menatapnya dengan tatapan sedih dan kecewa. Meskipun, Kibum tahu bahwa ini bukanlah kesalahan Kyuhyun yang tak mengingat apapun, namun, jujur, ia kecewa dengan tindakan Kyuhyun saat ini.
“Kau yakin tak mengenal orang mengerikan itu, Kyu?” tanya Zhoumi berkali-kali. Entah sudah keberapa kalinya Kyuhyun menjawab pertanyaan itu.
“Aku bilang, tidak, hyung. Kau tidak percaya padaku?”
“Tapi, bagaimana dia bisa tahu namamu dan mencarimu?”
“Molla,” jawabnya singkat, seakan tak perduli.
“Bagaimana dengan Siwon oppa? Apa kita harus meninggalkannya seperti ini?”
Kyuhyun menatap Taemin marah.
“Apakah aku akan membiarkanmu terluka? Lagipula, apa yang kau harapkan dari pria aneh dan monster sepertinya.”
“Kyu, bagaimanapun, dia mencoba untuk melindungimu.” Zhoumi mencoba menjelaskan dengan hati-hati.
“Terserah.”
Taemin menatap Kyuhyun aneh.
“Ada sesuatu yang terjadi padamu, Kyu.”
“Apa, sih, nonna?” Kyuhyun jengah juga. Ia sedang berfikir mengenai situasi ini dan dua orang ini tidak berhenti mengganggunya.
“Batu giok itu. Dimulai dari situ, bukan?”
Taemin tahu segala sesuatu mengenai Kyuhyun. Ia juga tahu cerita mengenai batu giok dan soal mimpi yang tiba-tiba menjadi seperti nyata. Tentu saja, kecuali kenyataan bahwa Siwon pria di mimpinya.
Kyuhyun diam. Menatap kalung giok itu lekat dan itu berlangsung lama hingga mereka tiba di rumah.
“Tidurlah. Kau pasti lelah. Kita tunggu perkembangan berita itu besok.”
“Benar. Aku yakin media meliputnya.” Tambah Zhoumi menanggapi ucapan Taemin. Kyuhyun menurut saja. Ia mencoba tertidur meskipun fikirannya masih kalut. Berkali-kali, ia menggenggam batu giok itu. Ada sesuatu. Sesuatu yang tiba-tiba di ingatnya.
“Hyung…”
Kyuhyun memegangi kepalanya. Berteriak dan terus menerus merintih sakit. Ia ingat semuanya. Segalanya. Semua kenangan itu seolah hantaman besar bagi kepalanya. Setiap kenangan, membuat kepalanya sakit luar biasa.
“Kyu. Kau kenapa? Apa yang terjadi?” Taemin cemas sekali. Ia berusaha menghubungi Zhoumi yang baru beberapa menit yang lalu pulang ke rumahnya. Ia tidak bisa menghubungi kedua orangtua Kyuhyun karena mereka sedang berada di luar negri. Kyuhyun adalah tanggung jawabnya.
“Arghhh. Sakit, nonna…”
Kyuhyun makin kesakitan ketika ingatan terakhir menghantam kepalanya telak. Bagaimana ia menangis seorang diri ketika akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke dunianya.
“Kyu. Kyu. Kau mendengarku?”
Taemin cemas ketika Kyuhyun tiba-tiba menjadi diam.
“Siwon hyung.”
“Apa?” Taemin bingung. Kyuhyun hanya bergumam sedari tadi.
“Kyu. Kyu. Mau kemana?” Kyuhyun tidak perduli. Tidak perduli ketika Taemin memanggil-manggil namanya. Tak perduli ketika ia hanya mengenakan piyama tendy-nya. Tak perduli juga ketika kakinya panas oleh jalanan karena ia lupa memakai sandalnya. Yang jelas, saat ini yang ada di kepalanya hanyalah Choi Siwon. Betapa bodohnya dia yang meninggalkannya seperti itu.
Cafe kosong. Dengan sisa-sisa pertempuran yang hampir meremukkan cafe mewah tersebut. Kyuhyun berlarian di sekitar cafe untuk menemukan mereka. Mencari diantara puing-puing bangunan yang telah roboh.
“Siwon hyung…”
Tidak ada.
“Jangan bercanda. Keluarlah!”
Tidak ada. Kyuhyun mulai terisak.
“Bukankah kalian kemari untuk menjemputku? Dimana kalian?”
Kyuhyun terjatuh. Menangis sambil memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Bagaimana bisa, ia pergi meninggalkan mereka yang sedang bertempur untuknya. Bagaimana bisa…?
“Kumohon. Hiks… Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, hyung.” Kyuhyun menangis keras sekali. Ia tidak perduli ketika dadanya begitu sakit karena tangannya yang terus menerus memukuli dadanya sedemikian rupa. Baginya, sakit di hatinya jauh lebih sakit. Ia cemas. Apakah mereka terluka? Apakah mereka marah? Apakah mereka kecewa? Apakah mereka tidak akan kembali lagi? Apa yang bisa dilakukan oleh manusia biasa sepertinya? Selain hanya menunggu melodi itu datang atau mereka yang menjemputnya? Dan bagaimana bisa ia jatuh cinta pada sosok di negeri itu? Sosok yang selalu dirindukannya bahkan hingga dua bulan semenjak kejadian itu. Ya- dua bulan, tanpa jejak, tanpa kabar, dan tanpa tanda-tanda.

“Aku mungkin terlalu dungu, hingga tak memahami apa itu cinta. Atau mungkin aku terlalu tolol tidak mengenal siapa dirimu. Apakah aku berhak marah? Takdir seperti apa yang akan kujalani? Begitu setiap harinya aku berfikir. Menangis? Aku tak lagi menangis karena kebodohanku itu. Yang kulakukan kini hanyalah menunggumu. Meskipun orang-orang akan mengatakan aku ini terlalu dungu karena masih menunggumu, tak apa. Karena bagiku, menunggu dan mencintaimu adalah sesuatu yang indah. Aku hanya ingin mencintaimu dalam diam. Aku hanya ingin mencintaimu dalam kesederhanaan. Karena kesederhanaan dalam mencintai, adalah ‘percaya’.

Dua bulan kemudian-

Seorang pemuda berkulit pucat tampak serius memainkan nada-nada di grandpiano miliknya. Ia beberapa kali terlihat tersenyum lalu kemudian diam memikirkan sesuatu.
“Kyuhyun-ah.”
Pemuda itu menoleh dan tersenyum. Ia berhenti bermain lalu menghampiri seorang gadis yang kini tengah menatapnya serius.
“Ada apa, nonna?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini penting.” Pemuda itu tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang remeh temeh. Gadis itu, Taemin, seolah sedang ketakutan akan suatu hal.
“Duduklah dulu, nonna.” Kyuhyun menggeret kursi untuk sang gadis.
“Lihatlah ini.” Taemin membuka tas berwarna biru muda miliknya, lalu mengeluarkan sebuah foto. Foto yang sama yang ditunjukkan oleh Zhoumi satu tahun silam. Foto yang juga membuatnya terkejut.
“Kau yakin kau ikut, kan?”
Kyuhyun menggeleng kuat.
“Nonna, kau bahkan disampingku ketika foto itu diambil.”
Taemin mengerang frustasi. Ia bahkan berteriak dengan nada yang kencang,
“Lalu, mengapa wajahmu tidak ada di dalam foto, Kyuhyun-ah?”

TBC

Annyeong… ^^ Mungkin kalian bisa pada menebak ending cerita ini, soalnya readers2ku pada kritis dan pinter2 semua sihh #dipeluk. Dan, ada beberapa readers yang minta Nc di smsnya. Hm… Sabrina tidak tahu apakah saya harus menulis NC di FF ini… Mungkin tidak, ya, mungkin juga hanyalah sekilas saja #digebuk. Soal NC me NC, mungkin Next FF adalah wadah yg pas buat itu soalnya ceritanya mendukung sih. #daddy kan mesum abis disitu.
Oh ya mohon reviewnya dan sekali lagi, jeongmal mianhae kembali memisahkan wonkyu tapi, next chapter, daddy akan ketemu sama mommy kok…
Ditunggu ya, Sabrina akan cepet update lagi.

My Husband, Hotter than my Fantasy Chapter 1

{Judul awal, My Teacher My Husband, saya ganti karena terlalu banyak judul yang sama.}

My Husband, Hotter than my Fantasy
Chapter 1

“Pertemuan kembali”

Pagi itu, seperti biasa, keluarga Cho akan terdengar gaduh. Sudah menjadi rutinitas bahwa anak tunggal mereka akan terlihat bertengkar dengan Choi Siwon- anak bungsu keluarga Choi yang merupakan tetangga mereka. Entah itu memperebutkan sesuatu, berbeda pendapat, atau saling mengejek. Kedua orangtua mereka harus banyak bersabar menghadapi mereka.
“Ini milikku, stupid boy!” namja yang lebih muda berteriak kencang sekali.
“You’re an idiot, It’s my mine. Mommy, right?” Choi Siwon, yang lebih tua bukannya mengalah, ia justru mengadu pada ibunya. Ibu Siwon terlihat tidak enak pada Ny. Cho yang hanya terkekeh pelan.
“Ne, itu milikmu, Siwonnie.” Ny. Cho membenarkan yang berlanjut dengan rengekan dari putra tunggalnya.
“Andwae! It’s my mine.”
Ny. Cho buru-buru memisahkan mereka. Lalu menggendong sang putra ke pangkuannya. Mengatakan dengan hati-hati bahwa mainan yang sedang diperebutkan adalah milik Choi Siwon. Ny. Cho ingin mengajarkan pada mereka bahwa mencuri dan menggunakan barang milik oranglain adalah salah. Tapi salah dimengerti oleh sang putra. Ia menghentakkan kaki-kaki mungilnya dan pergi begitu saja. Ke kamarnya.
“You alright? I’m sorry,” ujar Siwon menyesal. Ia menghampiri Kyuhyun dan memegangi tangannya.
“Pergi! Aku membencimu,” ujar Kyuhyun kecil sedikit merengut. Ia bahkan tidak mau menatap Siwon meski hanya beberapa detik.
“I’m sorry. Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?”
Kyuhyun kecil menoleh dan tersenyum manis.
“Berikan aku mainan robotmu!”
“Mwo? Aniya.” Kyuhyun terdiam. Mata beningnya sudah akan mengeluarkan air mata namun, sebelum Kyuhyun mulai menangis, Siwon yang saat itu berumur sembilan tahun langsung memeluk tubuh mungil Kyuhyun.
“Uljima. Nde. Kau boleh memilikinya.”
“Jinjayo?”
“Tentu saja.” Mantap Siwon. Ia menatap mata bulat Kyuhyun yang bening laksana rembulan. Wajah putihnya yang halus tanpa cela juga bibir penuh yang terlihat seperti permen. Siwon ingin mencicipi rasa bibir itu. Pasti manis.
“Hm. Kyunnie.”
“Nde, hyung?”
“Tutup matamu.”
“Untuk apa?” tanya Kyuhyun tak mau begitu saja menurut.
“Just close!” Kyuhyun merengut sebentar lalu menutup matanya. Begitu tertutup, Siwon segera saja mencium bibir mungil itu. Mencumbunya, mengemut seolah bibir Kyuhyun adalah permen. Manis dan memabukkan. Ia juga menghisapnya kuat-kuat karena terasa sangat lembut. Menghisap penuh gairah. Ia seolah lupa bahwa Kyuhyun masih terlalu kecil untuk mengetahui hal-hal seperti itu. Ayolah, Kyuhyun bahkan masih berumur enam tahun dan terkadang masih mengompol.
“Apa itu, hyung?”
“Sekarang, buka mulutmu!” Siwon yang bingung dengan jawabannya lantas menggantinya dengan sebuah perintah. Karena Kyuhyun masih terbayang robot mainan milik Siwon, mau tak mau, ia menurutinya dengan sabar. Kyuhyun membuka mulutnya.
Siwon dengan cepat lalu memasukkan lidahnya. Memutar-mutar lidahnya mencoba mencari posisi yang menyamankannya. Ia juga melilit lidah mungil Kyuhyun untuk kemudian menyedotnya kuat. Kyuhyun kecil sedikit jijik dengan perlakuan Siwon namun tidak menolak. Toh, ia juga sering mengemut dan menggigit jari jempol Siwon. Mungkin, Siwon ingin membalasnya, begitu fikir sang bocah lugu. Uh, Siwon, You’re an lucky!
Karena Siwon terlalu bernafsu, Kyuhyun terjatuh dan tubuhnya terbaring di ranjang. Siwon masih melanjutkan pagutannya. Lebih dalam dan menekan tengkuk sang namja cantik.
Mendesah ketika bibirnya makin merasakan manisnya bibir mungil tersebut. Berbeda dengan Siwon yang mendesah-desah, Kyuhyun kecil yang tak mengerti apapun, tidak mendesah dan hanya memejamkan matanya. Ia merasa nikmat namun tak mengerti apa yang tengah menyerang bibirnya. Ia dengan patuh masih terus menutup matanya.
“Kyunie, bisa kau rahasiakan apa yang barusan terjadi?” Siwon memberikan robot mainannya dan Kyuhyun yang mengangguk patuh.
“Ne, hyung.” Mereka bergandengan tangan sepanjang jalan. Kyuhyun yang tak tahu apapun dengan riang, memainkan robot mainannya sedangkan Siwon, ia tersenyum lega. Pasalnya, setelah ciuman yang membuat bibir merah Kyuhyun bengkak, tangan Siwon juga sempat menggrayangi tubuh mungil itu. Dan yang lebih parahnya, tangan Kyuhyun dituntunnya untuk mengurut junior kecilnya. Siwon benar-benar mesum.
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu, Kyuhyun yang manis berubah menjadi namja menyebalkan yang sedikit agak- freak dan tumbuh menjadi namja yang keras kepala. Mereka tak lagi dekat karena baik Kyuhyun maupun Siwon melanjutkan sekolah mereka di Luar negeri. London, Kyuhyun dan New York Siwon. Meski terkadang mereka sering bertemu ketika keluarga mereka berkumpul. Yah- keluarga Choi dan Cho masih sangat akrab.
“Mommy? Ada apa?” Siwon sedikit terkejut ketika sang ibunda yang terkenal sangat galak itu tiba-tiba datang ke apartmentnya.
“Siapa dia?” tanya Heechul, ibu Siwon yang kini memandang tak suka ke arah seorang gadis yang berpakaian seksi. Baginya, Kyuhyun jauh lebih cantik dibanding gadis murahan ini.
“Ah- temanku, Mommy.”
“Bagus sekali. Baru satu minggu kau kembali ke Korea sudah berani membawa gadis ke rumah.” Sindir Heechul tajam. Ia bahkan mendekati gadis itu dan menarik tali branya dari dressnya. Sontak, sang gadis terkejut bukan main.
“Syukurlah, kau masih pakai bra.”
“Mommy!”
“Maaf. Saya permisi dulu.” Sang gadis buru-buru pamit. Siwon melotot ke arah sang umma yang kini dengan santainya duduk di sofa dan mengacuhkannya.
“Mommy, berhenti berbuat seperti ini. I’ve grown now. Aku berhak mendapatkan pendamping.”
“Maksudmu, gadis murahan yang seperti wanita bugil itu? Mommy tidak sudi mempunyai menantu seperti itu.”
Siwon ikut duduk di sofa. Heechul itu benar-benar keras kepala, akan percuma membantah atau berdebat dengannya. Lebih baik menanyakan apa maunya. Itu lebih baik sekarang.
“So? What kind of law do you want, mommy?”
“Kyuhyun. Mommy ingin mempunyai menantu seperti dia.” Heechul tersenyum antusias. Sedangkan Siwon? Jangan tanya. Dia hanya bisa melongo tak percaya. Kyuhyun? Oh, ayolah. Terakhir yang ia dengar, Kyuhyun terlibat perkelahian dengan sesama pelajar. Melanggar lalu lintas dan mendapatkan banyak surat tilang, belum lagi sikapnya yang sedikit- kasar. Ok, Siwon akui ia dulu sempat jatuh cinta pada pemuda cantik itu tapi itu dulu. Cinta pertama. Apalah arti cinta pertama untuk pria seusianya. Dulu dan sekarang adalah sesuatu yang berbeda.
“Are you kidding, mommy? Stop it, This is not funny.” Siwon ingin mati rasanya ketika sang umma justru tersenyum dan menggeleng. Apa ini? Ini tidak mungkin.
“Kau tahu, keluarga Cho terlibat hutang karena anjloknya saham perusahaan mereka. It is an opportunity for us.” Tampaknya sang umma benar-benar gila menganggap hutang keluarga Cho sebagai suatu kesempatan.
“Lalu?”
“Ayahmu bilang, kita bisa menggunakan ini untuk menikahkan kalian. Hangeng akan memberikan dana yang dibutuhkan perusahaan keluarga Cho dan… Kyuhyun akan jadi menantu kita.” Tsk! Ummanya sekarang benar-benar gila, lengkap dengan teriakannya yang bagai dengungan kematian bagi Siwon. Lengkap sudah penderitaan seorang Choi Siwon.
“Jadi?” Siwon tak mengerti. Ia kini dipaksa-paksa oleh ummanya untuk menjemput Kyuhyun di sebuah club malam. Sebenarnya, meski Siwon itu mesum, ia tidak pernah- atau jarang ke tempat seperti ini. Ia tidak terlalu suka kebisingan.
“Jadi jika kau tidak membawa Kyuhyun pulang ke apartementmu, kau akan mati, Choi!”
Mendengus.
“Kau juga Choi, Mommy!” Heechul melambaikan tangannya. Meninggalkan sang putra yang hingga kini masih menggumam tak jelas.
“Hah.” Siwon dengan tak rela, akhirnya mencari keberadaan Kyuhyun. Ketemu. Pria itu tak sulit dicari selain karena dia –ehem- cantik, dia juga gampang jadi pusat perhatian. Bayangkan saja, Kyuhyun kini tengah berteriak-teriak bagaikan orang gila. Sambil mabuk, ia memegangi kerah orang-orang yang lewat seakan menantangnya.
“Kyu.” Siwon menghentikan perbuatannya sebelum benar-benar terjadi keributan besar. Ia juga mewakili Kyuhyun untuk meminta maaf kepada orang-orang.
“Brengsek! Apa-apaan keluarga Choi itu, menyuruhku menikah dengan putranya. Menikah? I was young, and I did not want to marry now. Brengsek!” umpat Kyuhyun kesal. Ia bahkan membanting Iphonenya dan hancur berkeping-keping.
“Hey! Just relaxed. Tell me what’s going on?” Siwon mencoba mengajak bicara Kyuhyun. Meski, ia tahu masalah yang tengah dihadapi pemuda ini. Yah- masalah yang sama dengannya.
“Relaxed? Are you kidding? Menikah dengan orang yang tidak begitu aku kenal. Menikah di usia muda. Kau kira aku bisa tenang jika masa mudaku direnggut? Of course not, sir.” Siwon ingin tertawa ketika mendengar Kyuhyun memanggilnya tuan. Sepertinya, Kyuhyun masih belum tahu bahwa calon suaminya lah yang kini sedang bicara dengannya. Kyuhyun benar-benar mabuk.
“So? What to do? Menabrak mobilnya atau membakar perusahaannya? Begitu? You’re crazy if you do it, Kyuhyun-sshi,” ujar namja bermarga Choi itu sedikit terkekeh.
“Oh, yes, I’m crazy.” Kyuhyun mengacak-acak rambut pirangnya lalu menegak segelas vodka lagi sekali tenggak.
“Stop, Kyu! Kau terlihat menyedihkan.” Siwon menjauhkan gelas-gelas vodka lainnya. Ia bahkan memelototi sang bartender yang akan memberikan Kyuhyun minuman lagi.
“Apa yang harus aku lakukan, sir? Aku benci menjadi lemah.” Siwon bisa melihat ada genangan air di sudut matanya. Siwon mengenal Kyuhyun cukup baik. Meski dia terlihat kasar, freak, dan berlidah tajam, tetapi, dia itu sebenarnya sangat sensitif. Mereka berteman baik semenjak kecil namun saling terpisah ketika keluarga mereka pindah ke luar negeri. Dan sekarang, mereka bertemu kembali ketika sudah saling beranjak dewasa.
“Home first, ok?” Siwon dengan sabar, memapah Kyuhyun yang sudah mulai tak sadarkan diri. Membayar supir pengganti dan mengantarnya ke rumah. Kyuhyun tinggal dengan kedua orangtuanya, berbeda dengannya yang tinggal di apartment seorang diri. Mungkin karena Kyuhyun masih seorang pelajar.
“Ah… Choi brengsek!”
Oh my God. Bahkan di tidurnya, Kyuhyun masih sempat-sempatnya mengumpat dirinya.
“Ah. Kau berat sekali, Kyu.” Siwon berbaring di ranjang di sebelah Kyuhyun. Menghela nafas sebanyak-banyaknya setelah memapah Kyuhyun hingga ke apartmentnya. Sungguh melelahkan. Ia akan menghubungi sang umma untuk mengantar pemuda brandal ini ke rumahnya; karena Siwon tidak tahu alamat rumah Kyuhyun, sebelum sang pemuda kembali merancau tak jelas.
“Hah. Panas sekali disini.” Kyuhyun tidak berhenti meracau. Karena lelah dan sudah kehabisan akal, Siwon segera membekap mulutnya dengan tangan kekarnya. Tapi, Kyuhyun berontak. Ia terus meronta dan terlepaslah tangan Siwon. Kyuhyun hampir terjatuh dan Siwon memegangi pinggangnya.
Ternyata pinggang Kyuhyun sangat ramping, begitulah pikiran Siwon. Sungguh, meski sudah hampir satu jam mereka bersama, tak pernah sekalipun pikiran itu berkelebat di benak Siwon. Pikiran-pikiran kotor. Katakanlah, dia mesum, nasty, atau naughty. Yang jelas, saat ini, Kyuhyun begitu sangat… Ah… menggoda.
“Chanyeol, Do not touch my ass,” ujar Kyuhyun sedikit bergumam ketika Siwon meremas bokongnya.
“Ternyata ini juga sangat gempal, eoh, Cho Kyuhyun.” Siwon sudah hilang kendali. Meskipun, Kyuhyun sedang mabuk dan tidak menyadari perbuatannya, ia tidak perduli. Omong kosong dengan logika.
“Ah, No, not there.” Kyuhyun sedikit menolak ketika tangan Siwon memegang daerah selangkangannya. Namun, dengan keras kepalanya, Siwon tetap menggoda daerah-daerah itu. Ia senang dan semakin terangsang ketika mendengar lenguhan Kyuhyun.
“Kiss me. Do whatever you want, Chanyeol!”
Chanyeol? Pacarnya kah? Persetan soal itu.
“Of course, dear. Anything for you.” Siwon menyeringai. Ia mencium Kyuhyun tiba-tiba. Bibirnya menghisap bibir kemerahan itu hingga membengkak dan melumatnya penuh nafsu dan kasar. Menghisap, menjilat, mengemut, memainkannya sesuka hatinya. Ini menggairahkan. Bagaimana mungkin dia tidak sadar bahwa selama satu jam ini ia menyia-nyiakan kenikmatan seperti ini. Oh. Bibir ini sungguh manis dan penuh.

Thing. Thong.

“Shit!” Siwon mengumpat. Dengan hati-hati, ia membimbing Kyuhyun untuk kembali berbaring di ranjang. Berniat membuka pintu dan mengomeli siapapun yang telah mengganggu aktifitasnya.
Clek
“Mommy?” Siwon mendengus tak suka. Dengan begini, dia tidak akan bisa melanjutkan yang tadi- ehem- mencium bibir Kyuhyun yang begitu manis. Uh. Lupakan, Choi Siwon!
“Dimana dia?” tanya Heechul seketika. Merindukan sang calon menantu kesayangan.
“Yeah- He was in the room. Sleep.” Siwon membuka pintunya lebih lebar seraya menunjukkan dimana letak kamarnya.
“Mau minum apa, Mommy?” Siwon mengambil gelas di meja dan membuka kulkasnya. Mengambil Jus jeruk dan menuangkannya cepat-cepat, mungkin dengan begini, mommynya akan cepat pulang. So childish!
“Aku akan lama disini, jadi jangan harap kau bisa mengusirku dengan jus jerukmu itu.”
Siwon tersenyum canggung. Apakah Heechul memang bisa membaca pikirannya?
Siwon duduk di sofa tepat di sebrang Heechul. Dia berkali-kali mengumpat dalam hati. Dia benar-benar ingin melanjutkan ciuman tadi. Mommy, just go home.
“Jadi, bisakah kau membangunkan Kyuhyun?”
“Huh? bangunkan saja sendiri,” ujar Siwon acuh. Heechul dengan ekspresi datar, segera saja membuka pintu kamar dan kemudian berakhir dengan sebuah teriakan melengking kala mendapati Kyuhyun dengan bau alkohol dan mabuk berat. Siwon malas sekali. Malas menghadapi beruang besar itu. Jika sudah marah, Heechul itu akan lebih menakutkan dibanding apapun. Oh, ok, mungkin Kyuhyun akan lebih menakutkan.
“What this is, Siwon?”
“Huh? Can not you see? Dia mabuk.”
“I know. Tapi, mengapa kau tidak mencegahnya?”
“Dia tidak terkendali tadi. Aku sudah coba menghentikannya, Mommy. Ok?”
“Malam ini, biarlah dia tidur disini.”
“What?” Tunggu. Siwon bukannya tak senang, sebaliknya, ia justru gembira luar biasa. Kyuhyun akan menginap disini? Oh, mimpi apa semalam.
“Kau tidak suka?”
“Hm. Whatever. I want to sleep.” Siwon tidak menggubris Heechul, ia justru berlalu begitu saja. Mungkin nanti malam ia akan mencicipi bibir kenyal itu lagi. Ok. Stop dirty minded, Siwon! Cho Kyuhyun, your lips, is so… damn.
“Ok. Jaga Kyuhyun baik-baik.”
“Hn,” jawabnya berlagak acuh.
Begitu Heechul pergi, Siwon segera menghampiri Kyuhyun. Dan. Lihatlah. Bagaimana posisi tubuhnya kini begitu seksi. Terlentang tak berdaya dan… Ouh. Bibirnya sedikit terbuka karena menggumamkan sesuatu.
“Dear, aku datang.” Siwon sudah bersiap akan mencium boneka tak bergerak itu sebelum…
Brakk
Tendangan kuat dari Kyuhyun membuatnya terjatuh begitu saja, lengkap dengan dentuman keras karena pantatnya menyentuh lantai. Sakit sekali.
“Aish! Dasar brandal!”
***
Siwon terbangun di pagi hari dengan punggung yang sakit dan pinggang yang remuk. Dia semalaman tidur di sofa karena kaki Kyuhyun menendang-nendang tak karuan. Ah. Dia menyumpahi dirinya sendiri mengapa ia tidak tidur di ranjang yang sama dengan Kyuhyun saja, jadi mungkin dia bisa beruntung memegangi bokongnya. Stop it, Siwon!
“Kau sudah bangun? Kemarilah!” Siwon bisa melihat Kyuhyun dengan wajah datarnya, berjalan ke meja makan, lengkap dengan wajah penuh emosi sekaligus datar. Agak susah menjelaskan ekspresi pemuda manis itu. Yang jelas, tak ada senyum, tak ada perkataan apapun.
“Apa maksudmu membawaku ke tempatmu, hah? Dan hentikan senyum idiotmu itu, Choi!” ujar Kyuhyun setengah berteriak. Tetapi di telinga Siwon, itu seperti gumaman yang indah. Dengan sumringah, ia menghampiri Kyuhyun.
“Mommy memintaku menjagamu. My princess.”
“Hah? Did you say something?”
“Mengatakan apa?” Siwon masih belum menyadari ucapannya tadi. Dia masih sibuk menata makanan dan meletakkannya di piring. Beruntunglah, Kyuhyun yang acuh. Ia tidak terlalu perduli dengan ucapan Siwon.
“Antar aku pulang!” Kyuhyun berdiri. Ia akan membuka pintu apartment sebelum menengok lagi karena tidak mendapat jawaban.
“Stupid boy, Are you hear?”
Siwon tidak fokus. Tatapannya masih ajeg pada kedua bokong yang kini pergi menjauhinya. Saat ini, Kyuhyun mengenakan kemeja putih longgar tanpa celana. Mungkin kemarin malam ia kepanasan dan melepas celananya. Siwon dapat melihat dengan jelas. Mulus, tanpa bulu dan kemeja kebesaran itu membuat kesan imut untuk Kyuhyun. Oh. My. Siwon, kau benar-benar beruntung. Pemandangan yang indah.
“Kau ingin aku pulang sendiri?”
“hah? No. No. Ok. Wait a minute.” Siwon belum jengah menatap paha Kyuhyun. Ia bahkan tidak perduli jika Kyuhyun mendapatinya dengan tatapan nakal seperti itu. Yang ada di pikirannya adalah, enggan menatap hal lain selain kedua pasang paha putih tanpa cela tersebut.
“Baiklah. Aku tunggu di parkiran.”
“Ok.”
Kyuhyun berbalik dan Siwon dengan tidak rela beralih menatap wajah cantiknya. Kyuhyun mendelik dan dengan teriakan supernya, berhasil memecah lamunan Siwon akan pikiran-pikiran kotornya.
“Jadi maksudmu, aku harus ke parkiran hanya menggunakan kemeja ini, begitu? What do you think?”
Hah? Siwon pernah mendengar kalau Kyuhyun itu aneh, tidak mudah ditebak. Tapi, siapa menyangka jika dia benar-benar freak seperti ini. Hei, kemana Kyuhyun yang dulu sangat manis itu?
Dengan pasrah, hari itu berkali-kali ia menjadi korban pelampiasan kemarahan Kyuhyun. Berteriak, memukuli dan mengumpat. Meski Kyuhyun itu cantik tapi dengan perilakunya yang seperti ini, siapa yang akan jatuh cinta dengannya? Oh, benar, ada pria yang bernama Chanyeol. Hm… paling juga Kyuhyun yang mengidolakannya. Tidak mungkin pria itu jatuh hati pada nenek sihir seperti Kyuhyun. Begitu fikir Siwon.
Pagi hari setelah kejadian itu, dengan wajah yang kesal luar biasa, Cho Kyuhyun datang ke sekolah. Ketika pulang sekolahpun, moodnya semakin memburuk ketika tepat di depan gerbang sekolah, Ia sudah disambut oleh gerombolan- pecundang menurut Kyuhyun. Kyuhyun menatap mereka dengan tatapan bosan dan tidak perduli. Namun, tangannya dicekal ketika ia akan melangkah pergi. Mau tak mau, Kyuhyun menoleh juga.
“What’s wrong?” tanyanya acuh, hampir tidak perduli. Sedangkan yang ditanyai begitu, justru lebih tidak perduli dengan tanggapan sinis tersebut. Ia lebih menyukai mengganggu pemuda manis tersebut ketimbang marah-marah karena alasan sepele seperti itu.
“Uhm. I’ve never seen that before.” Pemuda berandal itu, menarik pergelangan tangan Kyuhyun yang di jarinya tersemat cincin berkilau, yang diyakininya adalah berlian. Keningnya berkerut menyadari perubahan ekspresi Kyuhyun yang tiba-tiba menjadi panik.
“My mommy. This is his favourite things, yeah- begitulah.”
Pemuda itu mengangguk.
“So, kau sudah memutuskan jawabannya?”
“Hm, aku tidak yakin, Yeol.”
Pemuda yang dipanggil Yeol tersebut terlihat kecewa. Dia benar-benar menginginkan pemuda di depannya ini, tapi, pemuda ini justru menolaknya di depan teman-teman dan anak buahnya. Mau ditaruh dimana muka tampannya? Uh,
“Aku pergi dulu, dah,” ujar Kyuhyun dengan muka tidak perduli yang menyebalkan. Chanyeol menghampirinya dengan langkah panjangnya, menarik Kyuhyun mendekat.
“Aku antar pulang, ok?”
“Huh? No, I can go home alone.”
“Cho Kyuhyun!”
Instrupsi tak terduga membuat dua orang tersebut menoleh. Secara bersamaan dahi keduanya berkerut menyadari ada sosok lain yang menghampiri Kyuhyun dan bahkan menarik tangannya. Chanyeol sebal saat tarikan itu membuat genggaman tangannya dan Kyuhyun terlepas.
“Ayo pulang.” Kyuhyun kaget ketika Siwon menariknya begitu saja. Menyeretnya dengan paksa seakan ia adalah orang yang tak berguna. Lihat saja, pergelangan tangannya yang kini telah memerah.
“Hey, What is happening today? Lepaskan, Choi!”
Siwon tidak sedikitpun menghentikan langkah kakinya. Sudah cukup kesal baginya karena sang umma yang tiba-tiba menghancurkan kencan indahnya bersama Sulli dan menyuruhnya menjemput bocah ingusan ini.
“What the hell are you doing? Hey, berhenti! Lepaskan aku, pabboya!”
“Diam kau!” Siwon berteriak keras dan memaksa Kyuhyun untuk diam menatapnya. Kyuhyun terkejut dengan sikap Siwon yang seperti ini. Terlihat kesal akan sesuatu. Tapi, tak perlu seperti ini juga, kan?
“Masuk!” Siwon membuka pintu mobil dan menyuruh Kyuhyun dengan tatapan mengintimindasi. Kyuhyun yang sudah sedikit ketakutan, akhirnya menurut juga. Ia masuk dengan raut wajah yang kesal dan juga terpaksa.
“Bisakah kau bersikap lebih lembut padanya.” Suara serak yang bicara padanya, membuat Siwon menoleh dan menatap sang pria dengan tatapan marah.
“Siapa kau? Jangan ikut campur!”
Kyuhyun mengalihkan pandangan pada Chanyeol melalui kaca mobil milik Siwon. Bisa dia lihat, tatapan yang serius di antara keduanya.
Chanyeol tertawa mendengar jawaban Siwon. Reflek atau mungkin memang keinginannya, Chanyeol membuka pintu mobil dan mengalihkan tatapannya pada pemuda yang kini menjadi rebutan dua namja tersebut.
“Dia pulang denganku. Biasanya, juga seperti itu.”
Siwon terkejut dengan reaksi Chanyeol. Seolah memang naluri seorang pria yang tak mau kalah, Siwon juga melakukan hal yang sama, menutup pintu mobil cukup keras. Bunyi ‘blam’ mengiringi tindakan Siwon saat itu. Membuat Kyuhyun terlonjak karena terkejut.
“Tapi, ibunya menyuruhku untuk menjemputnya. Jadi, bisakah kau menyingkirkan tangan kotormu itu dari sedan mewahku?”
Chanyeol mati-matian menahan emosinya mendengar ejekan Siwon. Dengan berat hati, ia mundur dan membiarkan Siwon membawa Kyuhyun pergi.
Siwon tersenyum mengejek.
“Baguslah jika kau mengerti. Dasar bocah ingusan.”
Siwon tidak terlalu perduli dengan wajah Chanyeol yang terlihat tersinggung. Yang ada di benaknya saat ini adalah membawa Kyuhyun pulang dan melanjutkan kencannya dengan Sulli- pacar barunya. Baru beberapa meter dari sekolahnya, ia sudah harus mendengar umpatan dan teriakan Kyuhyun yang sangat menjemukan.
“Choi Siwon!”
Kyuhyun berteriak keras ketika Siwon sama sekali tak memperdulikannya. Ia kemudian melayangkan beberapa pukulan di lengan dan mencubuti perut berotot Siwon.
“Akh! Sakit, Kyu.”
“Bagaimana bisa kau menghina Chanyeol seperti itu, hah?” Kyuhyun berteriak dengan nada yang amat ketus. Ia tidak suka saat seseorang menghina ataupun merendahkan Chanyeol. Baginya, meskipun Chanyeol itu menyebalkan, perkataan Siwon sudah sangat keterlaluan tadi. Dan lagi, Chanyeol adalah pria yang berpengaruh bagi hidupnya.
“Jadi itu yang bernama Chanyeol. Uh. Tidak lebih tampan dariku.” Gumam Siwon pelan.
“Turunkan aku!”
“Diamlah!”
“Kau tidak mendengarku? Kau tuli? Aku bilang turunkan aku, stupid boy!”
“Kau kira aku ingin mengantarmu? Jika bisa memilih, aku lebih memilih tidur di tempat tidurku yang nyaman daripada harus bersama dengan nenek sihir sepertimu.”
“What? Nenek sihir? Kaulah penyihirnya dan aku sang putri. Sekarang turunkan aku!”
“Diam kau!”
“Your damn! I hate you. Choi Siwon, aku membencimu.” Kyuhyun berteriak keras seakan tak perduli dengan telinga Siwon yang berada di dekatnya. Baginya yang terpenting adalah pergi menjauh dari sosok menyebalkan ini.
“Yes, I know because I hate you too, Cho!”
“Aku lebih membencimu!”
“Ya! Berhenti mengomel, Kyu.”
“Kau makhluk menjijikkan yang lebih rendah dari bokongku. Kau tahu.”
“Bisakah kau diam?” Siwon mulai jengah juga. Ia malas meladeni Kyuhyun yang sedang dalam mood buruk. Baginya, Kyuhyun hampir sama dengan sang umma, Heechul.
“Kau ingin aku diam? Cium dulu bokongku.”
Siwon menatap Kyuhyun sekilas lalu menyeringai.
“Baiklah. Dengan senang hati, akan kucium bokongmu. Depan dan belakang, keduanya juga boleh.” Kyuhyun hanya bisa melongo mendengar jawaban Siwon. Belum lagi, ketika Siwon menambah perkatannya.
“Tapi, sebenarnya, aku lebih suka mencium yang bagian depan saja. Kau ingin aku mengulumnya?”
Kyuhyun merasa panas di bagian ubun-ubunnya. Ingin rasanya, ia menonjok muka sok polos ini. Menelannya hidup-hidup agar tak lagi bertemu dengan pria berwajah pastor namun, berhati iblis ini. Sungguh, jika kau mengenal sosok Choi Siwon lebih dekat lagi, kau akan menemukan bahwa sosok ini tak sebaik yang orang-orang fikirkan. Choi Siwon memang tidak pernah berubah.
“Berhenti berfikiran jorok dan turunkan aku!”
“Jika kau tak ingin kuperkosa disini, diam kau!”
Siwon berkata dengan nada yang tegas. Semua orang tahu bahwa Siwon selalu memegang kata-katanya dan karena hal itulah, Kyuhyun bisa diam seperti sekarang ini.
“Turunlah!”
Kyuhyun menatap tempat di sekelilingnya itu dengan tatapan heran. Ini bukan rumahnya, lalu dimana ini? Dan, sebelum sang pemuda cantik bertanya, Siwon sudah menjawab pertanyaannya tadi.
“Mommy menyuruhku membawamu kemari.”
“Untuk apa? Aku tidak mau.”
“Jangan banyak bicara dan turunlah!”
Kyuhyun menggeleng dan tetap di tempat. Membuat Siwon tanpa sadar, membuka pintu dan menggotong Kyuhyun bagai karung beras. Umpatan dan teriakan Kyuhyun bahkan tak mampu menghentikan tindakan Siwon tersebut.
“Ya! Choi Siwon!” Kyuhyun memukul-mukul punggung Siwon yang masih menggotongnya di bahu. Melakukan tindakan anarkis yang justru membuat sang pemilik bahu makin mengeratkan pegangannya.
BRUK!
Siwon mendudukkan Kyuhyun di sofa di salah satu sudut ruangan. Dengan bokong yang nyeri karena Siwon memperlakukannya dengan kasar dan sedikit sadis.
“Pilihlah satu dan cepat selesaikan ini.”
“Pilih apa?”
“Baju pengantin.”
“M-mwo?”
Siwon tidak suka penolakan. Ia kembali menyeret Kyuhyun dan menyuruhnya untuk menjajal semua pakaian-pakaian tersebut. Jangan katakan, ia tidak kesal dengan semua ini. Siwon sudah sangat frustasi. Pertama, menikah dengan Kyuhyun. Lalu, Memutuskan hubungannya dengan perempuan-perempuan yang kini sedang dia kencani. Ayolah, Siwon tidak suka terikat dan lebih suka hidup bebas dengan mengencani mereka semua. Dan ini adalah pukulan telak bagi seorang Choi Siwon.
“Kau akan menyesal, Choi. I Hate you, Idiot boy.” Kyuhyun menoleh dan sempat menyeringai sebelum benar-benar masuk ke kamar ganti. Karena sudah lelah, Siwon tidak terlalu memperdulikan gerak-gerik Kyuhyun yang sebenarnya sedikit aneh itu. Cukup lama ia menunggu Kyuhyun untuk berganti baju.
“Ma-maaf tuan.” Siwon mendongak menatap para pelayan butik yang tampak seperti ketakutan. Dengan perasaan yang sedikit tak enak- melihat wajah mereka, Siwon bertanya,
“Ada apa?”
“Hm… Begini, pemuda yang datang bersama anda. Dia…”
“Dia kenapa? Katakan dengan jelas.”
“Dia. Hm… Kabur, tuan.”
“Mwo? Arrghhh, ya Tuhan!”
Erangan frustasi membuat beberapa pelayan di butik tersebut terlihat ketakutan. Ia berkali-kali mengacak rambut hitamnya dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal. Dan, bunyi Iphone miliknya membuatnya menghentikan aksi berteriak yang beberapa detik yang lalu, gencar dilakukan olehnya.
“Yeobseyo???!! Eh? Jae Umma.” Siwon melembutkan suaranya ketika tahu bahwa calon mertuanya yang tengah menelponnya. Jae berbeda dengan sang umma yang bagai iblis, ia lembut dan ibarat surga dan neraka, keduanya berbeda dan bertolak belakang.
“Kau sedang bersama Kyuhyunnie sekarang?” tanya Jae dengan nada gembira yang kekanak-kanakan.
“Ne, Umma,” jawab Siwon berbohong karena panik. Ia menjadi gelisah ketika pendengarannya menangkap suara sang ibu yang tengah menginstrupsi perkataan Jaejoong.
“Cepat pulang, Wonnie. Dan bawa juga baju yang sudah kalian pilih, ya.” Heechul mengatakan dengan nada yang lumayan lembut tapi, Siwon tahu dengan pasti itu bukan jaminan bahwa sang umma akan tetap bernada lembut seperti itu kalau saja mereka tahu bahwa Kyuhyun sekarang telah kabur dan jangan lupakan juga kenyataan bahwa mereka belum memilih baju satupun. Oh My God! Siwon, you can crazy!
“Siwon? Are you hear? Kau masih hidup, kan?” Heechul berteriak-teriak dengan nada yang keras membuyarkan lamunan Siwon akan kematian dirinya sebentar lagi. Oh, Tuhan! Apa yang harus dikatakannya nanti.
“Ah. Of course, mommy.” Jawab Siwon sekenanya.
“Cepat pulang ya. Mommy rindu menantuku.” Siwon menghela nafas iri. Heechul bahkan tidak pernah mengatakan merindukannya meskipun dia pergi ke luar negri sekalipun. Oh, Heechul, teganya dirimu.
“Kami akan pergi makan dulu. Mungkin sedikit telat.” Suara di sebrang tak terdengar menjawab perkataan Siwon. Membuat Siwon sedikit gelisah menunggunya.
“Oke. Jangan terlalu malam, dear. Remember it and take care him.”
“Yes, I did. Bye, mommy.”
“Bye, Choi.”
“You Choi too, Heechul.” Heechul terkekeh mendengar Siwon memanggil namanya. Kebiasaannya ketika ia marah ataupun kesal dengan sang umma. Uh, so chilldish.
“Ahhhh…” Entah sudah keberapa kalinya hari itu, Siwon menghela nafas frustasi. Bagaimana ini? Dimana bocah ingusan itu? Awas saja kau Cho, akan kubalas perbuatanmu padaku. Lihat saja. Akan kubuat kau menyesal.

TBC

Annyeong… FF baru nih, semangat baru. Jgn protes kenapa judulnya aneh kyk gt. #ngancem
Pasti kalian g nyangka kan, Chanyeol yg akan jadi rival daddy. Soalnya, entah mengapa saya pengen masukin anak2 EXO di FF saya. Tahun ini mereka tuh prestasinya… wow bgt. meskipun saya tu elf sejati, saya sangat bangga sama EXo yang udah ngangkat asia di mata internasional, sama kayak suju, cuma sedikit iri karena suju gak come back-come back #malah curhat.
Oke deh, kalau pengen ini lanjut, cukup review dan kasih saya saran dan unek2nya ya.
Gamsahamnida, readers2ku tersayang. Love you yahhh…

The Melody Chapter 7

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Pair : Wonkyu, KrisKyu.

Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kris (Wu Yi Fan), Kim Kibum, Lee Donghae, Jung Yunho, Shim Changmin, Lee Sungmin.

Genre : Mystery, Supernatural, Romance, dan Fantasy

Rate : M (a little)

Warning : YAOI, OOC, Typo.

 

Don’t Like, Don’t Read

 

Chapter 7

 

       Pertarungan itu masih berlangsung alot. Kibum bukanlah musuh yang mudah dihadapi, begitupula Siwon. Mereka tanpa gentar terus menerus menekan kubu Kris hingga tumbanglah Donghae di hadapan mereka, Sungmin tertawa penuh kemenangan dan membawa tubuh Donghae di depan mereka.

       “Lepaskan Donghae, Sungmin!” Siwon menggeram marah. Ia memaki dan hampir saja menghampiri Sungmin sebelum Kibum menahannya. Siwon emosional tetapi Kibum lebih tenang dan cenderung pemikir.

       “Kau ingin dia? Serahkan Kyuhyun terlebih dahulu.”

       “Tidak akan pernah!”

       Kibum masih pusing. Ilusi Yunho mau tak mau sedikit mempengaruhinya. Ia terhuyung ke belakang dan ilusi itu makin menyudutkan sistem bawah sadarnya.

       “Akh!”

    Kibum terjatuh dan Siwon dengan sigap menghampirinya. Ia menolongnya dengan memusatkan energi mereka berdua dan sedikit berhasil. Kibum kembali membuka matanya.

       “Bawa mereka dan penjarakan mereka. Aku tidak mau tahu sebelum Kyuhyun kembali padaku, apapun yang terjadi, jangan lepaskan mereka.”

       “Baik, Master.”

       Prajurit istana sudah datang dan kemudian membawa mereka namun, sebelum mereka menyentuh tangan Kibum dan menyekalnya dengan batuan penghilang energi, pemuda dingin itu melesat bagai angin dan menghilang bersamaan dengan hembusan angin. Merubah dirinya menjadi naga namun hilang kemudian.

       “Sial! Dasar prajurit bodoh! Tangkap dia!” Kris panik. Kibum tidak boleh lolos apapun yang terjadi. Dia berbahaya dan mempunyai kekuatan yang mengerikan.

       Siwon tersenyum misterius. Sebenarnya, itulah rencana mereka. Selemah apapun Siwon, Kris masih tandingannya. tetapi, belum waktunya. Bagaimanapun, ilmu hitam Sungmin cukup berbahaya bagi mereka.

       “Kami kehilangan Kibum, Yang Mulia.”

       “Dasar brengsek!”

       Kris mengumpat berkali-kali. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain tetap menahan Siwon dan juga Donghae.

       “Kurasa ini tidak baik. Kibum cukup berbahaya bagi kita,” ujar Sungmin serius. Kris terlihat berfikir lalu tersenyum tenang.

       “Kelemahan Kibum adalah Kyuhyun. Lebih baik berfikir untuk temukan Kyuhyun ketimbang berfikir macam-macam. Cari dia!”

       “Ne, Master.”

***

 

Malam itu, suasana sangat sepi. Beberapa penjaga lalu lalang dan berjaga dengan kesetiaannya. Meski mengantuk, tak sekalipun mereka memejamkan mata mereka walau hanya untuk mengobati kepenatan dan rasa kantuknya. Hingga tiba-tiba…

“PENYUSUP! BUNYIKAN ALARM!” Teriakan keras menggema di seantero istana. Tampaknya, pasukan kerajaan mencurigai adanya oknum misterius yang berkelebat masuk dalam daerah terlarang istana. Dentang bel memekakkan telinga. Gemanya menusuk dari menara-menara tinggi istana kerajaan. Penanda waktu sontak berhenti berdenyut dan mengubah semua warnanya menjadi merah gelap dan biru terang secara bergantian. Barisan kesatria mulai terpencar dan mencari sang penyusup. Sementara itu, jauh di atas salah satu menara istana, terlihat satu sosok yang merapat pada pojok langit-langit. Ia turun, tanpa suara, setelah barisan patroli kesatria menjauh.
Sosok pemuda ini memakai baju beserta jubah berwarna hitam. Hanya scarf putihnya sajalah yang terlihat bersih mengkilap. Angin segar mengibas rambut hitam acak-acakan sosok ini. Menambah kesan manly juga tampan.

“Menyenangkan juga,” ujarnya senang. Baginya suasana bahaya seperti ini justru dianggap seperti permainan belaka. Tak lebih. Saat hendak melangkah, ia menginjak ranting. Sontak patroli kesatria curiga dan hendak kembali.

“Dasar cecunguk bodoh,” ucapnya pelan. Ia langsung memilih hal pertama yang terlintas di kepalanya. Ia melompat tinggi, menunjukkan dirinya pada patroli kesatria. Sekali lagi, Kim Kibum kembali mengguncang istana.

“Ayo tangkap aku kalau bisa.” Kibum tersenyum dan menggosok kedua tangannya; ‘Aku ingin menjadi angin.’kemudian Kecepatan lesat Kibum meningkat. Ia membuat para pegawal istana kesulitan mengejarnya, tak hanya dalam kecepatan. Menara berundak didakinya dengan lesatan tinggi.Kibum melompat masuk ke dalam jendela pertama dari menara tempatnya bernaung. Sementara, para prajurit kalang kabut mencarinya. Sekarang bergantilah Kibum yang memperhatikan ruangan itu. Ruang besar dengan warna-warna megah dan penuh aura kekuasaan seakan turut menceritakan keagungan
sang pemilik. Permadani merah nan romantis menyelimuti lantai. Ornamen-ornamen dan dekorasi perak dengan pola ukiran tiga mata menyala memenuhi hampir seluruh ruangan. Satu yang
menarik perhatian Kibum adalah atribut-atribut bersolek yang tergantung dekat kaca besar itu. Meski begitu di dekat kaca itu disandingkan sepasang ranjang. Sebuah tempat tidur besar dengan menjadi perhatian Kibum berikutnya. Lambang
kerajaan menempel di kepala kasur. Ditutupi oleh seprei dan kelambu besar. Tepat pada saat itulah ia mendengar adanya suara yang bercakap-cakap di seberang pintu kayu coklat hitam. Ia hendak mengambil ancang-ancang kabur tapi patroli kesatria masih berseliweran di bawah. Ia bosan main kejar-kejaran. Kolong ranjang adalah tempat terbaik yang ia pikirkan. Tak lupa ia meramalkan mantra Sumbat Suara. Ia mampu mendengar suara tapi siapapun tak bisa mendengar suaranya.

Pintu kamar terbuka setengah. Kibum mendapati dua pasang kaki berdiri di antara pintu masuk.

 “Yang Mulia.” Kibum menduga ini adalah kamar pribadi Kris, terlihat dari bagaimana mewah serta megahnya kamar tersebut. Kesempatan baik.

“Bagaimana? Kau menemukannya, Kasim Han?”

“Ne.”

Ranjang di atas Kibum bergetar ringan. Satu dua gerakan ringan dari getar ranjang menandakan sosok di atas tengah merebahkan diri.

“Dia kembali ke dunia manusia, Master.”

“Siapa yang mengirimnya?”

“Saya kira itu Changmin.”

“Ah. Pemuda brandal itu. Selalu mencari masalah denganku.”

Kris kemudian beranjak dan membuka lemari kecil berlapis gading dan mengambil ceret berlapis emas, dua buah cangkir, dua sendok perak, dan tatakannya. Ia menuang air ke ceretitu. Dalam sehirupan napas, uap panas mengepul dari mulut ceret. Air panas instan dari ceret berelemen api ini telah siap.Kris memberi ruang bagi Kasim Han untuk menabur daun teh. Setiap cangkir diberi dua helai daun.

“Apa yang harus saya lakukan, Yang Mulia? Apakah saya harus membawanya kemari?”

“Tidak perlu. Membawanya kemari hanya membuat mereka kembali bertemu.”

“Lalu?”

“Biar aku yang menemuinya. Jika kami tidak bisa bersatu di dunia ini, mungkin dunia manusia bisa mempersatukan kami.”

Kris mengaduk air di kedua cangkir itu secara bersamaan dengan ritme yang stabil. Warna air dalam cangkir perlahan berubah menjadi berwarna coklat. Embun kecil mengisi sisi-sisi cangkir keduanya diiringi uap panas. Aroma manis teh bertebaran mengisi kamar.

“Anda yakin?”

Kris tersenyum dan menambahkan dua balok gula dalam cangkir mereka.

“Sangat yakin.”

Mereka kemudian menikmati teh mereka. Menyesap aroma dan rasa manisnya yang masih tersisa beberapa tegak lagi.

“Anda sangat mencintainya, ya?”

Kris terkekeh lalu mengangguk.

“Sekarang silakan minum teh anda kembali, Kasim Han.” ujar Kris menawarkan teh. Acara minum teh kembali dilanjutkan. Layaknya kebiasaan masyarakat negeri itu, acara minum teh selalu diiringi dengan obrolan santai.

“Bagaimana dengan Kibum?”

“Hm. Aku akan membunuhnya.”

“Bagaimana caranya? Dia adalah legenda. Naga emas yang memiliki kekuatan yang mengerikan.”

“Kau hanya belum tahu kelemahannya. Jika kau tahu, kau pasti akan tenang sama sepertiku.”

“Kelemahan? Dia punya kelemahan seperti itu?”

 Kris menutup pesta minum teh itu dengan satu tegukan besar. Panas teh itu meluncur begitu saja melewati kerongkongannya. Panas namun nikmat.

“Punya. Dan dalam waktu dekat, aku akan membunuhnya.”

Pintu kamar tiba-tiba saja diketuk. Kibum terkejut dan bersiap untuk kaburnamun, ia menunggu waktu yang tepat. Kris kemudian membukakan pintu sekedarnya.

 “Ada urusan apa kalian?” Seorang pria besar berumur sekitar 40 tahun-an membungkuk hormat.

“Yang Mulia, hamba mohon ijin untuk masuk kamar pribadi anda. Kami mendapat laporan adanya penyusup yang masuk dalam daerah istana.”

“Di kamarku? Dan aku tidak mengetahui keberadaannya? Begitu?”

“Hamba tak berani… tapi para dayang sempat mendengar suara-suara aneh dari menara ini dan mereka melaporkannya pada kami. Kami khawatir penyusup itu
sedang bersembunyi di ruangan anda, Yang Mulia.” Pengawal itu menyilangkan tangan
kiri di bahu kanan dan berlutut.

“Tidak ada siapapun disini. Pergilah!”

“Tapi, Yang Mulia…”

“Aku bilang pergi!”

“Baik, Yang Mulia.” Pengawal itupun tak mampu berbuat apapun selain menurut dan kemudian beranjak pergi.

Begitu pintu tertutup, Kris segera saja mencium dan mengendus aroma-aroma yang mencurigakan. Melihat ke seluruh pelosok dan penjuru kamar dan tentu saja, kolong ranjang. Namun, nihil. Tidak ada siapapun disana. Hanya angin malam yang bertiup dari sela-sela jendela di sana.

“Apakah itu kau, Kim Kibum?”

 

***

 

Begitulah hidup. Beberapa telah terluka sejak lama. Beberapa berusaha menyangkalnya. Beberapa coba menutupinya dengan keangkuhan. Dan beberapa menyalakan api cinta lalu memadamkannya dengan cemoohan, atau dengan ketidak pedulian yang terus melekat. Atau sebaliknya, merekalah yang melekat pada luka itu sehingga masa lalu selalu menyelubungi kehidupannya. Orang yang bahagia tidak menoleh ke belakang. Tidak juga melihat ke depan. Ia hanya hidup di dalam hari ini.

“Sudah bangun, sayang?”

Tetapi ada juga untuk menemukan kebahagiaan, seseorang hanya harus hidup pada satu waktu—ia hanya harus hidup bagi waktu itu saja. Ia harus menghidupkan kembali masa lalunya. Segelap apa pun itu. Ia juga harus hidup bagi masa depan. Betapapun tidak menentunya. Jadi, kita bisa memilih satu di antara keduanya.

“Ne, Eomma.” Kyuhyun masih bingung. Ia hanya ingat, terakhir kali ia mengikuti suara di saat pentas dan setelahnya, semuanya gelap. Mungkin ia pingsan. Mungkin, ia anemia atau frustasi. Entahlah. Kyuhyun tidak bisa berfikir.

“Cho Kyuhyun! Cepat mandi!” Teriakan sang ibunda membuyarkan lamunannya. Dengan langkah yang panjang dan terburu-buru, Kyuhyun segera mengambil handuk dan melenggang ke kamar mandi. Melupakan fikiran-fikiran anehnya.

***

       “Akhirnya!”

Kyuhyun menaiki ranjangnya. Ia kemudian berusaha tetap tenang dan mengenyahkan pikiran-pikiran anehnya seharian ini. Terutama mengenai kalung giok yang tiba-tiba ada di lehernya. Beberapa menit berusaha, Kyuhyun hampir saja jatuh tertidur sebelum sesuatu yang mengagetkan terjadi. Kalung giok itu tiba-tiba saja menjadi panas. Kyuhyun tanpa fikir panjang, langsung mencabut dan membantingnya ke lantai karena terlalu panik.

“Apa yang terjadi?”

Kalung itu kemudian bercahaya terang lalu memudar berkali-kali. Bersamaan dengan itu, kalung itu juga bergerak ke sana kemari. Entah bagaimana, tiba-tiba Kyuhyun merasa cemas, khawatir, dan juga takut. Ia juga bingung kenapa hari ini dirinya begitu aneh. Ya- semenjak ia mendengar melodi aneh itu. Ia jadi gila sekarang.

“Seseorang! Kemari! Tolong aku!”

Dan, tiba-tiba saja, Kyuhyun tidak menemukan dirinya di kamarnya lagi. Gelap. Gelap. Dan tidak ada apapun. Suara Kyuhyun bahkan bergema ketika ia mencoba berteriak. Kyuhyun takut. Ia ketakutan luar biasa.

“Hiks… dimana ini? Apa ini mimpi?” tanyanya pada diri sendiri.

Slurp. Slurp.

Kyuhyun bisa mendengar suara seseorang menjilati sesuatu. Keras dan terus menerus. Semakin terang, sedikit demi sedikit, Kyuhyun dapat melihat asal suara itu.

Seseorang.

Duduk bersila memunggunginya. Menjilat sesuatu.

Slurp. Slurp.

“Siapa disana?”

Orang itu berhenti melakukan sesuatu. Dengan itu, tetesan darah mengucur dari tangannya. Mungkin sedari tadi, ia menghisap darah dan berhenti saat Kyuhyun bersuara.

“Ka-kau siapa?” Kyuhyun menelan ludah gugup.

Orang itu perlahan menengok. Sudut bibirnya terkoyak dan berdarah. Wajahnya hancur oleh sesuatu dan daging di wajahnya timbul oleh sayatan yang ada dimana-mana.

Kyuhyun menangis terisak ketika sosok menakutkan itu mendekatinya. Terus. Dan terus. Semakin dekat dan Kyuhyun bisa merasakan sosok itu memandangi lehernya.

Barulah Kyuhyun tahu sosok itu membawa tubuh manusia dan menjilati darahnya. Kyuhyun ingin berteriak tapi suaranya tercekat.

“Kyu? Kyu? Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun bisa mendengar suara lain. Suara yang tak asing namun juga tak dikenalnya. Suara itu terus memanggilnya dan bersamaan dengan itu, cahaya mulai melingkupi ruangan gelap itu. Sosok itu menghilang berganti dengan tempat yang mirip dengan hutan. Banyak pohon-pohon disana. Juga beberapa bunga. Indah. Subur dan tentram.

Disana, ada seorang pemuda yang tengah memunggunginya. Barulah, ketika pemuda itu menengok, Kyuhyun bisa melihat pria itu tampan dan juga berkarisma. Dengan lesung pipitnya, ia tersenyum dan menghampiri Kyuhyun.

Anehnya, didalam mimpi itu- karena Kyuhyun fikir itu mimpi, ia seperti mengenal pria itu. Kyuhyun ikut tersenyum lalu memeluknya.

“Bogosipo,” ujar Kyuhyun pelan. Ia memeluk semakin erat kala pria itu seperti akan menghentikan semuanya. Mencoba untuk pergi dan menghindar.

“Aku tak bisa, Kyu. Kau harus disini. Jaga dirimu baik-baik. Hiduplah dengan baik. Kau mengerti?”

“Hyung…” Kyuhyun bisa merasakan nafas hangatnya lalu sentuhan bibir itu di bibirnya. Nyaman ia rasakan ketika bibir itu melumatnya pelan, menyesap penuh kerinduan dan juga gairah. Tangan Kyuhyun merangsak ke dada bidangnya, mencoba menahan sebisa mungkin. Mereka saling menghisap dan Kyuhyun melenguh ketika tangan kekar pria itu meraba-raba daerah sensitifnya. Paha, lekukan pinggang, leher dan bagian selangkangannya. Kyuhyun paham apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tidak menolak, tapi, sekali lagi, di mimpi ini, Kyuhyun tak kuasa menolak. Ada rasa cinta yang tak dimengerti olehnya sendiri. Seakan tubuh ini, fikiran ini, dan apa yang ia ucapkan bukanlah dia.

“Bolehkah?” tanya orang itu. Kyuhyun dengan mata sayu dan tatapan menggoda, membalas dan kembali melumat bibir pria itu dengan cumbuan yang panjang. Berfikir, Kyuhyun tak menolak sentuhannya, pria itu mulai melanjutkan. Dibelainya bagian dalam puncak kenikmatannya lalu mengorek dengan jari-jari tangannya. Desahan itu membuat segalanya semakin meningkat.

“Ah. Ah. Hyung, ah.”

Jari itu terampil memainkan ‘mainan’ barunya. Melesat, terkadang memutar mengikuti keinginan sang pemilik tubuh. Ia meliukkan tubuhnya ketika beberapa bagian ternikmatnya disentuh. Titik itu membuatnya melayang dan tanpa sadar mendesah, berteriak ketika cairan tubuhnya mulai mengucur deras.

“Ahhh… hyung… Ak-aku…”

Tepat ketika jari itu keluar, suara pria itu berbisik di telinganya. Lembut, seakan ada perhatian dan rasa sayang disana.

“Tunggu aku, Kyu. Aku pasti akan datang menjemputmu.”

“Ne, hyung.” Kyuhyun merasa jantungnya berdetak lebih keras, lebih cepat tatkala tangan-tangan pria itu menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Mencumbui dan menyesap aroma di tubuhnya bagai kecanduan.

“Setelah kita bertemu, aku akan benar-benar memasukkan milikku kedalam tubuhmu. Merasukimu untuk yang pertama kalinya.”

Kyuhyun tidak marah. Aneh sekali ketika pria ini yang mengucapkannya, ada ribuan perasaan tergelitik timbul di dadanya. Ia justru bisa merasakan rasa panas dan nafsu di tubuhnya. Pria ini, mampu membuatnya terbang melayang hingga ke puncak tertinggi.

Dan bersamaan dengan itu, Kyuhyun terbangun.

Bingung. Kaget dan lebih ketakutan lagi ketika bagian anusnya terasa sedikit perih akibat pemasukan sesuatu. Apakah sama seperti di mimpinya? Tapi… bagaimana bisa?

“Siapa pria itu?”

Kyuhyun meremas sprei kasurnya dan berkali-kali memegangi kepalanya, mencoba mengingat-ingat siapa pria di mimpinya tapi, nihil. Dia tidak mengenal pria itu.

***

 

Baru saja Siwon membaringkan diri untuk tidur di kamar tahanan yang berdinding dingin, dia sudah dibangunkan oleh Donghae.

“Ini waktunya, Won,” bisiknya. Merapikan kemejanya serta menyiapkan energi dan ancang-ancang untuk menggerakkan kakinya yang dapat seperti bayangan. Salah satu keahlian Donghae.

“Dimana Kibum?”

“Kurasa dia sedikit terlambat. Tidak biasanya dia datang terlambat.”

“Mungkin ada sesuatu yang harus diurusnya.” Siwon merapatkan kelima jari-jarinya. Merafalkan sesuatu dan membentuk sebuah gelembung sabun yang panas bagai magma. Keahlian Siwon tentu saja elemen api di tangannya.

“Kim Kibum!”

Kibum meloncat dan menembus sel-sel tahanan dengan tubuh lenturnya. Membantu Siwon mematahkan mantra sel besi dengan magma milik Siwon.

Besi-besi itu meleleh dan mereka segera kabur dari tempat itu.

“Kau sudah menemui Changmin?” tanya Siwon tergesa, sambil berlari, meloncat.

“Dia menunggu di tebing. Dia akan membawa kita ke tempat Kyuhyun.”

“Bagaimana kau bisa menyakinkannya berada di pihak kita?” Donghae sedikit cemas. Bagaimanapun, Changmin bukan tipikal orang yang bisa dipercaya.

“Dia hanya ingin membunuh Kris karena dendam kedua orangtuanya. Dan aku menyakinkannya, bahwa kita tidak berada di pihak Kris lagi.”

“Bagus sekali.” Donghae tersenyum.

“Cepatlah! Waktu kita tak banyak. Kris mempunyai rencana yang sama seperti kita.”

“Hah? Apa maksudmu?” tanya Siwon, menoleh pada Kibum.

“Dia juga akan menyusul Kyuhyun menggunakan Sungmin.” Jawab Kibum sambil terus berlari.

Mereka kemudian melompat menyusuri jalanan kecil gelap dan lembap menuju ke tebing, keheningan hanya dipecahkan oleh langkah-langkah mereka. Kegelapan yang semula pekat sekarang memudar menjadi terang. Tangan dan kaki mereka mulai kedingingan.

“Shim Changmin!”

“Kalian sudah datang?”

“Kita lakukan sekarang?” tanya Siwon.

“Jangan buru-buru, hyungku sayang.”

“Apa yang kau tunggu?” desak Siwon tak sabaran.

“Kita punya aturan. Pertama, jangan sembarangan menggunakan sihir disana.”

“Aku tahu,” celetuk Donghae malas. Ia memang tidak pernah suka dengan Changmin.

“Dan lagi, Kyuhyun adalah manusia dan demi kerahasiaan, ia tidak akan mengingat apapun selama berada di sini.”

“Yah- aku tahu.” Siwon menunduk sedih. Dilupakan oleh orang yang dia cintai adalah kenyataan terpahit yang pernah dialaminya.

“Baiklah. Mari kita mulai perjalanan kita.” Mereka semua melesat ke sebuah dimensi lain melalui celah pintu yang sama, dalam deru angin dan pusaran warna. Kemudian… Kaki mereka menghantam tanah. Donghae terhuyung menabrak Kibum dan Kibum terjatuh. Yang lain bergeletakan di tanah. Mereka semua dilihat oleh banyak orang karena saling tumpang tindih di tengah-tengah stasiun kereta. Ya, mereka mendarat di stasiun kereta.

Kibum melepaskan diri dari Donghae dan berdiri. Mereka telah tiba di sini, ditempat dimana Kyuhyun berada.

“Lalu dimana kita?” Donghae menatap ke kanan dan ke kiri sedangkan mereka semua juga sama, bingung. Bahkan Kibum yang biasa diandalkan di saat seperti inipun, tidak tahu harus berbuat apa.

“Bagaimana jika kita bertanya pada orang-orang dimana rumah Cho Kyuhyun?” usul Donghae.

“Kau kira semua orang tahu Kyuhyun. Ini dunia manusia. Bukan negeri sihir,” ucap Changmin ketus.

“Aroma mereka juga sama. Tidak bisa melacak aroma Kyuhyun.” Siwon menutup hidungnya dengan kedua tangannya. Ia memang sensitive terhadap aroma manusia dan selain Kyuhyunnya, ia benci aroma ini.

“Kita jalan saja. Siapa tahu ada petunjuk.” Saran Kibum yang langsung disetujui oleh mereka. Kemudian sambil tetap mengagumi berbagai peralatan canggih di dunia manusia, mereka menyeberangi jalanan yang ramai dengan lalu lalang mobil, tak bisa memungkiri bahwa mereka terkejut dengan mobil-mobil yang berseliweran sepanjang jalan.

Setelah berjalan kira-kira dua puluh menit, tampak sebuah taman kota yang indah. Tak seindah hutan dan taman negeri mereka, tapi setidaknya cukup untuk beristirahat. Mereka kemudian melepas penat disana. Menghirup udara sebanyak-banyaknya.

“Lihat! Gadis di kota ini semuanya cantik-cantik,” ujar Donghae semangat. Memang, sedari tadi orang-orang sibuk memandangi mereka. Mereka tampan tentu saja, poin plus untuk gadis-gadis tapi, pakaian dan gaya mereka mengundang pertanyaan. Dengan baju yang dibalut dengan jubah hitam lengkap dengan sepatu boot klasik yang terkesan etnik. Siapa yang memakai pakaian ala kerajaan seperti itu di era modern seperti sekarang? Pastilah hanya mereka.

“Sepertinya kita salah kostum.” Changmin menutupi wajahnya dengan tangannya sebisa mungkin. Meskipun, itu sama sekali tak membantu. Wajahnya tetap dapat terlihat dengan jelas.

“Bagaimana caranya kita menemukan Kyuhyun?” Kibum bertanya dan mereka kemudian berfikir keras. Lalu, entah kebetulan atau apa, mereka mempunyai ide yang sama; berpura-pura menjadi manusia untuk menemukan Kyuhyun.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

“Pertama, ganti pakaian ini,” ucap Siwon menjawab pertanyaan Changmin yang langsung disetujui oleh mereka- kompak.

“Kedua, mungkin kita bisa mendapatkan uang dengan cara seperti itu.” Siwon menunjuk beberapa gerombolan yang tengah menyanyi di tengah-tengah kerumunan. Mereka menari dan beberapa dari mereka juga menunjukkan keahlian sulap.

“Mwoya? Mereka bisa menggunakan sihir? Tapi kenapa aku tak bisa merasakan auranya?” tanya Changmin polos.

       “Itu tipuan, Changmin.” Siwon menggeret Changmin dan Donghae juga Kibum yang berjalan sendiri untuk membentuk formasi di tengah-tengah orang-orang yang lewat. Dengan ketampanan mereka, baru beberapa menit, mereka sudah menjadi pusat perhatian ketika Siwon mulai menujukkan keahlian ‘sihir’nya- yang dianggap sulap oleh mereka. Hanya dalam beberapa menit, uang mereka telah terkumpul, cukup banyak dan membuat gerombolan pesulap tadi terlihat kesal.

       “Selamat siang.” Sapa seorang gadis. Ramah dengan senyum manisnya. Gadis itu menggunakan dres selutut berwarna merah dan pita di bandonya yang menambah kesan imut.

       “Selamat siang juga nona manis.” Jawab Donghae cepat.

       “Saya tertarik dengan permainan sulap kalian. Taemin imnida.”

       “Halo. Aku Donghae. Ini Kibum, Changmin dan pria yang ada di ujung, Siwon.”

       Gadis itu menunduk dan terkekeh melihat Donghae yang sedikit genit padanya.

       “Saya manager restoran yang ada di Gangnam. Apakah mungkin kalian tertarik bekerjasama denganku?”

       “Bekerja sama?” tanya Siwon mengulang.

       Gadis itu mengangguk.

       “Kalian tampil di restoranku. Aku yakin, sulap kalian akan menarik perhatian banyak orang.” Jelas Taemin, yakin.

       Mereka saling berpandangan dan mengirim pesan satu sama lain menggunakan telepati dan disepakati bahwa ini adalah permulaan yang bagus. Mungkin saja, jalan menuju Kyuhyun akan semakin mudah.

       “Baiklah. Kami terima.” Siwon tersenyum dan Taemin yang menatapnya hanya bisa terkagum dengan senyuman manisnya. Pemuda tampan yang memiliki lesung pipi yang indah. Pria ini sungguh sangat tampan. Apakah dia dari negeri dongeng?

       “Ah- iya. Aku senang mendengarnya, Siwon-sshi.” Gadis itu menunduk saat Siwon juga ikut tersenyum. Dan Kibum menatapnya tak suka. Ia merasa aneh pada gadis ini. Semoga dugaannya salah meskipun, dugaannya tidak pernah meleset.

       “Petualangan baru akan dimulai.” Seru Donghae sedikit tertantang. Mereka semua tertawa menikmati suasana baru ditempat ini. Sedikit melupakan peristiwa yang memakan tenaga, fikiran dan mental mereka beberapa hari belakangan ini. Sedikit rileks dan mencoba hal baru, apa salahnya?

       Tapi, tidak dengan Siwon.

       Ia cemas. Rindu dan sangat khawatir. Menemui Kyuhyun di mimpinya adalah cara pengecut yang pernah dilakukannya tapi, demi rasa rindunya yang teramat dalam, Siwon tak segan melakukan itu.

       “Kau cemas?” tanya Kibum, menyadari perubahan Siwon.

       “Hn,”

       “Tenanglah. Dia baik-baik saja disini.”

       “Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya ketika ia tidak mengingatku lagi, Kibum.”

       “Kyuhyun akan segera mengingatmu. Aku yakin itu.”

       “Kau yakin sekali.” Dengus Siwon sedikit sebal. Kibum terkekeh sebentar dan kemudian menatap batu giok yang ada di lehernya. Kalung yang sama dengan yang diberikannya pada Kyuhyun.

       “Karena aku sangat mengenalnya.”

 

Flashback ON

       Siang itu, sosok pemuda berwajah cantik yang dikenal dengan sebutan- sang anggrek, nampak kebingungan mencari kelasnya. Setelah penobatannya sebagai permaisuri, iapun dididik guna menjadikan dirinya lebih memahami mengenai masalah istana. Meski sebenarnya, ia menolak dan malas melakukannya.

       Iapun masuk.

Para bangsawan saling bergumam. Semua mata sekarang tertuju padanya. Sang anggrek hanya mendengus acuh. Namun, tatapan mata mereka menunjukkan bahwa ia adalah makhluk yang paling hina karena menyandang status sebagai ‘manusia’. Lama-lama, ia kesal juga. Iapun hampir bangkit pergi meninggalkan kelas hingga tangannya dicekal oleh salah seorang yang ia sendiri tidak tahu siapa namanya.

“Pengecut.”

“Apa?”

“Kau pengecut karena kau menghindari mereka. Jika kau kuat seperti yang kau fikirkan, maka, tunjukkan pada mereka bahwa kau lebih baik dibanding sampah-sampah itu. Jadilah pemenang dan tunjukkan bahwa merekalah pecundang yang sesungguhnya.”

Sang anggrek menatap aneh pada pemuda yang sama sekali tidak terganggu dengan status manusianya, justru pemuda ini mengerti perasaannya. Bukankah ini aneh?

“Kau tidak ingat padaku?”

“Hah?”

Pemuda itu menyeringai lalu memperlihatkan sebuah suling berwarna perak yang dipegangnya. Kontan, sang anggrek melotot karena barulah ia tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang memanggilnya ke dunia tempatnya tinggal sekarang.

“Siapa namamu?”

“Kim Kibum,” ujarnya terkekeh melihat betapa sang anggrek merengut tak suka. Ekspresi yang lucu- baginya.

“Maukah kau menjadi temanku?”

Kibum tertegun. Teman?

“Kau belum tahu siapa aku.”

“Aku tahu. Pembunuh bayaran yang berjuluk naga emas. Dan, aku juga tahu bahwa kaulah penyelamat hidupku.”

“Penyelamat?”

Sang anggrek menyangga dagunya dengan tangan kanannya. Matanya menerawang jauh dan binar-binar itu terlihat indah di mata Kibum.

“Di dunia manusia, aku selalu dilecehkan oleh ayahku dan mendapat perlakuan kasar dari ibu tiriku. Disana seperti neraka dan aku ingin mati setiap harinya.” Ia tersenyum lalu menatap Kibum dengan mata yang hampir mengeluarkan tangisnya. “Dan melodimu itu, membuatku terbebas dari kesakitanku. Bertemu dengan orang yang aku cintai dan melahirkan anak-anakku yang manis. Bukankah itu sebuah penyelamatan?”

Kibum tidak tahu mengapa, tapi inilah pertama kali ada seseorang yang ingin berteman dengannya. Pria kaku yang mengerikan dan juga kejam. Semua orang takut dan segan terhadapnya, tapi dia… dia bahkan sekarang menangis didepannya. Menunjukkan betapa lemah dan rapuh dirinya. Bukankah seseorang yang menangis di depanmu adalah orang yang menganggapmu berarti. Dan Kibum, tersentuh untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Tahun-tahun berlalu. Kibum yang hidup sebatang kara mulai menemukan alur hidupnya semenjak mengenal pemuda cantik itu. Ia mulai tertawa dan menemukan arti hidup yang sempat dipertanyakannya. Bahwa hidup bukanlah hanya mengenai membunuh.

“Berhenti! Permaisuri, aku bilang hentikan!” Kibum berteriak kencang. Sang anggrek terkejut lalu mulai terisak.

“Kau mau kemana?” tanya Kibum pelan ketika emosinya mulai menghilang. Ia khawatir mengenai kondisi mental sang permaisuri.

“Aku akan menemui suamiku. Dia dalam bahaya, Bumie.”

“Sekarang? Ini bahaya.”

“Aku tidak perduli!” dia berkata dengan keras, sebelum Kibum bisa menyelanya lagi. Dia hampir mengharapkan gumaman lagi, tetapi keheningan yang timbul kelihatan jauh lebih pekat dari sebelumnya. Akhirnya, ia menggunakan sihirnya untuk membentengi Kibum dan melompat ke suatu tempat seorang diri. Kibum bukannya tidak dapat mematahkan sihir itu, ia dapat- namun, kemauan yang kuat dari sang anggrek meruntuhkan segala egonya. Ia mencoba mengalah, mencoba meredam emosinya demi sang anggrek, satu-satunya teman dalam hidupnya yang pekat.

Dengan diiringi kecemasan yang luar biasa, Kibum akhirnya tak dapat menahan segala keingintahuannya. Ia lalu meruntuhkan sekat tersebut dan terbang berganti naga, membaui aroma sang permaisuri negerinya. Dan disanalah ia, menguping dari kejauhan beberapa orang yang terlihat bercakap-cakap. Kibum tak dapat mengenali sosok yang kini mengenakan topeng kulitnya, mungkin dialah sang master.

Tubuh sang anggrek bergetar. Tak mengerti apa yang tengah mengganggu hatinya, Kibum bisa melihat, dengan luka mengangga yang cukup parah, ia pergi dan meninggalkan ketiga orang itu.

“Permaisuri…” ujar Kibum pelan, perasaannya antara sedih dan juga khawatir. Ia akan mengikutinya lagi sebelum tiba-tiba,

“ARRGGHHH!” Sang Master memegangi kepalanya yang berdenyut bagai pompaan ganas. Ia jatuh pingsan dan seorang pria cantik dan manis terus menerus memegangi kepalanya dan mengucapkan mantra aneh yang mungkin adalah ilmu hitam.

Kibum semakin mendekat dan mensegel kekuatannya.

“Kau melakukan tugasmu dengan baik, Sungmin. Dengan begini, penghianat itu tidak akan mengorek informasi apapun mengenai negeri ini. Ia tidak akan bisa menemukan Yang Mulia.”

“Nde, Prof. Park.” Sungmin lemas. Seluruh persendiannya dan tenaga dalamnya terkuras habis.

“Aku akan membawa Yang Mulia ke suatu tempat yang aman. Ia tidak akan mengingat apapun, jadi rahasiakan ini.”

“Arraseo.”

***

 

Sang anggrek tertawa seperti orang gila. Percakapan ketiga orang itu mengisyaratkan bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan Kris, suaminya. Dan lagi, batu terlarang ini telah menunjukkan bagaimana reinkarnasinya kelak. Mencintai putranya sendiri, mengkhianati suaminya dan itu membuatnya marah, kecewa dan juga sedih. Takdir yang lucu, bukan? Ia amat mencintai sang master. Mencintai seluruh tindakan kejamnya, perlakuan lembutnya dan bahkan semua titahnya yang terkadang diluar nalar. Tapi… Cho Kyuhyun? Bahkan meminta Sungmin membunuhnya belumlah cukup baginya.

“Rupanya kau disini, sayang?”

Sang anggrek mendongak dan terkejut. Ia bersiap akan lari tapi orang itu menahan selendang gaunnya dengan kuat. Ia menjambak rambutnya dan menghantamkannya ke tanah yang dingin. Sang anggrek kesakitan.

“Akhh!”

Orang itu mencekik lehernya. Nafasnya hampir saja putus dan dia melawan. Menusuk perut orang itu dengan kuku-kuku tangannya yang kemudian memanjang bagai pedang. Lalu berbalik dan memasang siaga kuda-kuda ketika ia mulai dapat mengendalikan tubuhnya.

“Kurang ajar kau!”

BLES!

Pedang. Ada sebuah pedang yang menancap di belakangnya. Melalui celah sudut matanya yang kini berair, sang anggrek dapat melihat… Choi Yunho, anaknya sendiri, menusuknya dengan pedang yang berkilat tajam. Ia jatuh dengan luka yang amat dalam. Bukan. Bukan luka di perutnya yang membuatnya terisak pilu. Tapi, luka di hatinya yang lebih dalam dibanding apapun. Tidak ada seorang ibupun, yang senang saat seorang anak membentaknya, saat seorang anak melukainya. Tidak ada. Sang anggrek menangis. Dan saat itulah, Kibum datang dengan kebatinan yang kuat diantara mereka.

Ia datang dan kalap. Menyerang Prof. Park dengan membabi buta dan juga Yunho. Ia bisa merasakan, rasa emosi yang kuat dan kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Kibum. Tiba-tiba kenangan itu terlintas. Saat mereka tertawa bersama, menjahili orang-orang bersama, dan bagaimana bingungnya Kibum ketika ia menangis karena suaminya mengacuhkannya. Sang anggrek tersenyum, setidaknya, ada orang yang benar-benar peduli padanya.

“Kubunuh kau Yunho!”

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menyeret kakinya dan memeluk kaki-kaki Kibum.

“Jangan bunuh dia, Kibum-ah. Kumohon…” Terisak. Dengan pelan, ia mengatakannya. Hati Kibum mencelos. Yunho yang kritis tak mampu berbuat apapun. Kibum adalah kelemahannya. Kibum sangat kuat untuk ditandingi.

“Permaisuri?”

Kibum menangis. Dia, seorang pria yang dingin dan kejam, menangis ketika satu-satunya orang yang dianggapnya sebagai keluarganya sendiri dalam keadaan sekarat. Jantungnya seperti terhantam sesuatu dan tangisnya entah mengapa tak kunjung berhenti. Ini adalah pertama kalinya, seorang Kim Kibum menangis.

“Maaf. Maaf karena aku tak bisa menemanimu. Maaf, karena aku tidak bisa jadi temanmu lagi.”

“Hiks… jebal. Bertahanlah.”

“Kau tahu… Aku bahagia. Hidup disini. Mengenalnya dan bertemu denganmu. Di dunia manusia, aku tak pernah tertawa seperti saat bersamamu. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan, terimakasih karena mengirimku kemari dan terima kasih karena kau menangis untukku saat ini.”

“Bodoh! Jangan bicara lagi! Aku akan membawamu ke tabib.”

Sang anggrek menahan Kibum yang akan pergi. Dengan darah yang tercecer dimana-mana, ia memeluk Kibum dan kemudian menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya. Di dekapan Kibum.

“Permaisuri… Ba-bangun.” Kibum tak percaya. Berkali-kali, ia menghentakkan tubuh itu. Dingin dan memucat. Kibum semakin terisak. Dipegangnya tangan mungil itu dan mencari-cari titik nadinya. Tidak ada.

Kibum memeluk tubuh kurus itu. Mengucapkan namanya berkali-kali dan terus menangis. Ada sesuatu yang hampa di hidupnya yang tanpa arti, ketika akhirnya, ia menemukan orang yang selalu membuatnya tertawa. Kini hidupnya kosong dan juga hampa.

“Aku berjanji. Jika aku diberi kesempatan sekali lagi untuk bertemu denganmu, aku akan melindungimu. Melindungimu lebih baik lagi.”

Kibum mengelus rambutnya. Memandangi wajah itu untuk terakhir kalinya.

“Tuhan. Beri aku kesempatan. Kesempatan untuk menjaganya sekali lagi.”

Dan setelah itu, dengan wajah yang dipenuhi dengan aura menguar yang sangat menakutkan, ia mendekati Yunho yang sudah ketakutan.

Tapi, ada serangan yang menghentikannya. Meski ia hidup abadi, ia juga tak mau mengambil resiko. Kibum kemudian hilang bagai angin dan membawa dendam hingga sekarang ini. Hidup dengan membunuh dan berhenti saat Yunho yang tanpa tahu malu mendatanginya dan memintanya menjadi anak buahnya. Tentu Kibum menolaknya, tapi begitu sebuah batu meteor memperlihatkan seorang pria tampan yang ia kenali sebagai Kris berjalan berdampingan dengan sosok itu, barulah, ia berubah fikiran. Titik yang mengubah hidupnya.

“Aku akan mengirimmu untuk menjaganya. Namanya Cho Kyuhyun.”

“…”

“Sebelumnya, aku telah meminta Kris untuk menjaganya.”

“Apa maumu?”

“Tidak ada. Aku hanya ingin berbaik hati mempertemukan kalian dan memintamu menjaganya. Hanya itu. Ayolah, jangan memandangiku seperti itu.”

Yunho sedikit ciut nyali ketika Kibum terus menatapnya tajam. Posisinya sebagai penguasa membuat Kibum tak bisa berkutik untuk melawannya. Meski, ia adalah ras yang kuat, mungkin terkuat- ia tidak akan bisa menyentuh Yunho satu ujung rambut saja. Itulah sebabnya, membunuh Ayahnya adalah obsesinya selama ini, menggunakan Kibum dan Kyuhyun. Yunho memang licik dan juga culas.

“Aku bersumpah, akan membunuhmu suatu saat nanti. Waktu yang tepat.”

Yunho tertawa.

“Coba saja, Kibum. Dan lihatlah menggunakan ilmumu itu, apakah di masa depan, berakhir happy ending untuk kalian semua? Kurasa tidak.” Ia menyeringai.

“Kita lihat saja nanti.”

Sejak saat itulah, dunia kelam Kibum tak lagi terlihat. Mengenal Kyuhyun, ia juga mendapatkan teman-teman baru. Siwon, dan Donghae. Kibum masih ingat, ia pernah bertemu Siwon saat pemuda itu berusia enam tahun. Masih terlalu kecil untuk merasakan bagaimana kengerian perang itu. Bagaimana culasnya saudara kandungnya itu. Tapi, Kibum tetap bersyukur, di hidupnya yang abadi dan membuatnya bosan, ia dapat bertemu dengan sosok itu lagi, meski mereka berbeda, tapi Kibum bisa melihat, sosok Kyuhyun jauh lebih memiliki hati yang lapang dan tulus dan itulah yang disukai olehnya.

 

TBC

Annyeong… hehe, mf ya telat update. Gimana, gimana, udah ngikutin voting buat next ffnya? Hm… kalau belum ikutan ya. Setelah chapter ini, Sabrina mau bikinin Ffnya. Hore, akhirnya New FF. Hihi.

Pairing, of course Wonkyu, (kan Sabrina suruh pilih 2); satu wonkyu dan satu yg pemenang kedua, pairing acak, Suju, TVXQ, dan Exo. Kenapa Exo? Karena Sabrina mengikuti alur per-KPOP-an yg lumayan banyak minta EXO.hihi.

Kyaknya nih 3 chapter lg bakalan End jd, mohon dukungannya ya chingu. Gomawo, #cium reader satu2.

Love u,