My Husband, Hotter Than My Fantasy Chapter 3

Pairing : Wonkyu, slight ChanKyu.
Cast : Cho (Choi) Kyuhyun, Choi Siwon, Park Chanyeol, Kim Ryeowook, Kim Kibum, Heechul, Jaejoong, dll.

Happy Reading…
Dont Like, Dont read!

Sebelumnya :
“Kyu, tenanglah. Kita hanya harus mengerjainya, kan?”
Ryeowook adalah teman satu jiwanya. Bersatu untuk mengerjai dan membuat kesal semua teman-teman sekelas, guru-guru baru dan juga adik kelas mereka yang terlihat lemah untuk dibully. Kibum menoleh dan membenarkan letak kacamatanya.
“Oh. Begitu. Baiklah, aku ikut.”
Kyuhyun tertawa lebar dan masih menatap Siwon yang balas menatapnya tersenyum.
‘Mati kau Choi Siwon!’

Chapter 3

Siang itu, Kyuhyun tidak makan di kantin seperti biasanya. Ia justru lebih memilih duduk di kursi depan halaman sekolah mereka. Melihat pertandingan basket dan memberi dukungannya pada Chanyeol yang sedang menggiring bola basket dan menjadi kapten dalam timnya. Kyuhyun bahkan menggunakan spanduk dan meneriaki nama Chanyeol berulang-ulang. Ryeowook menutupi wajahnya karena malu sedangkan Kibum, kabur ke perpustakaan.

“Ya! Kyu, pelankan suaramu! Aku malu.”

“Kenapa harus malu, Wookie?”

Ryeowook mendelik dan memukul kepala Kyuhyun menggunakan botol minumannya. Seketika, Kyuhyun menatapnya garang.

“Kau tanya, kenapa harus malu?” Ryeowook menatap tak percaya lalu melanjutkan, “Bagaimana aku tidak malu jika kau membawa spanduk dan berteriak seperti seorang gadis. Kau lihat, seluruh siswa menatapmu aneh, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun menatap sekeliling dan nyengir.

“Oh, benar. Habisnya, Chanyeol terlihat keren dan kau ingat ini adalah pertandingan final.”

“Lalu?”

“Tentu saja Chanyeolli harus menang.”

Ryeowook menyerah. Berdebat dengan Kyuhyun tidak ada gunanya. Pemuda mungil itu mengambil lolipopnya dan memakannya cepat. Permen manis adalah pengalihan dari perasaan badmoodnya.

Kyuhyun masih ajeg meneriaki nama Chanyeol tetapi tiba-tiba berhenti ketika melihat sesuatu. Karena penasaran kenapa Kyuhyun diam, Ryeowook melihat apa yang membuat Kyuhyun tiba-tiba diam itu. Dan gotcha! Tentu saja yang mampu membuat Kyuhyun diam adalah Byun Baekhyun. Pemuda cantik dan manis yang dikabarkan menyukai sunbae mereka, Chanyeol. Ryeowook tersenyum misterius.

“Ini minumannya, sunbae.”

Kyuhyun makin cemberut.

“Ah, terima kasih, Baek. Kebetulan aku haus sekali.”

Chanyeol menerimanya dan langsung menghabiskan minuman itu. Ia tak menyadari bahwa Kyuhyun kini mengeluarkan aura hitam yang mengerikan.

“Wah, wah, wah. Kau lihat. Mereka romantis sekali, Kyu-ah.”

“Diam kau Wookie!”

Ryeowook makin gencar menggodanya.

“Aku tidak yakin Chanyeol sunbae benar-benar menyukaimu. Bisa saja, kan dia itu berpura-pura menyukaimu untuk mendekati Baekhyun. Apalagi, Baekhyun adalah sahabatmu. Benar, kan?”

Kyuhyun menoleh tak suka dengan arah pembicaraan Ryeowook.

“Ups, mantan sahabat maksudku.”

“Dia menyukaiku, Wookie.”

“Menyukai itu berarti tidak selingkuh, Kyu.”

Kali ini Ryeowook tidak ingin menggodanya lagi. Perkataannya ini bukanlah penghinaan tapi, sebuah nasehat. Memang, dulu, mereka adalah sepasang kekasih yang bahagia, sebelum Baekhyun mulai merayu Chanyeol dan Chanyeol yang saat itu sedang ingin main-main tertangkap basah berciuman dengan Baekhyun. Tentu saja Kyuhyun terluka. Ia bahkan belum pernah berciuman dengan Chanyeol dan justru melihat Chanyeol mencium oranglain.

“Aku membencinya.”

“Siapa? Chanyeol atau Baekhyun?” tanya Ryeowook bingung.

“Keduanya.”

Ryeowook menghela nafas dan menatap mereka berdua kesal. Kyuhyun sempat terpuruk karena itu dan Chanyeol, tanpa tahu malu terus memanggil Kyuhyun dengan panggilan semasa mereka berpacaran dulu. Benar-benar muka tembok!

“Dia masih mengejarmu sampai sekarang?”

Kyuhyun mengangguk imut.

“Kau berjanji untuk menolaknya, kan?”

“Aku menolaknya.” Sergah Kyuhyun tak terima.

“Dan sekarang, kenapa kau meneriakinya seperti seorang fans?”

“Aku hanya ingin berteman dengannya. Selama empat tahun ini, aku memiliki hubungan yang canggung dengannya.”

“Kau sudah memiliki Siwon, Kyu.”

“Aku tahu.”

Kyuhyun tersenyum tipis. Ia menatap Chanyeol cukup lama dan seperti kata orang, Chanyeol ikut menatapnya balik karena merasa diperhatikan. Kyuhyun membuang mukanya lagi.

“Kita pergi, Wookie.”

“Kyuhyun-sshi!” Sebelum mereka sempat beranjak, Chanyeol telah terlebih dahulu memanggil namanya. Kyuhyun panik. Ia ingin pergi tetapi kaki-kaki panjangnya seolah tak bisa digerakkan sama sekali. Jadilah ia disini, menunggu Chanyeol menghampirinya.

“Kau mau pergi kemana? Tidak mau mengucapkan selamat padaku. Aku menang, lho.”

Kyuhyun mendengus, orang bodohpun tahu jika kau menang. Bagaimana tidak tahu jika pria kelebihan tinggi ini berteriak mengelilingi lapangan dan mengucapkan kemenangannya. Persis seperti orang bodoh.

“Ke kantin,” ucap Kyuhyun, kembali jutek. Chanyeol mengerutkan keningnya. Ia kira Kyuhyun akan bersikap baik padanya karena baru saja ia menyemangatinya ternyata, Kyuhyun memang seperti angin. Tidak mudah ditebak.

“Ah, kebetulan sekali. Aku juga lapar. Mau pergi bersamaku?”

“Tidak. Pergi saja bersama Baekhyun. Kau tidak lihat? dia terus menatap kita dengan tatapan mengerikan seperti itu. Aku pergi, Park Chanyeol-sshi.”

“Tunggu.”

Terlambat. Suara Chanyeol kalah cepat dengan langkah kaki Kyuhyun. Ia hanya bisa menatap pemuda manis yang telah lama diinginkannya itu. Bodohnya dirinya dulu pernah melepasnya meski, hubungan mereka saat itu masih terbilang baru dan Chanyeol sempat merasa bahwa dengan berlalunya waktu, ia akan cepat melupakan Kyuhyun namun, ternyata tidak. Waktu empat tahun bahkan tidak mampu membuatnya melupakan cinta pertamanya itu. Park Chanyeol, kau sungguh bodoh!

Kantin saat ini penuh sesak dengan siswa yang mulai berkelahi dengan beberapa siswa lainnya. Guru-guru mulai berdatangan melerai mereka, termasuk Siwon. Ia dengan tegas dan sedikit kemampuan bela diri mampu membuat anak-anak itu diam seketika.

Kyuhyun yang memang dasarnya cuek, tidak terlalu perduli dengan suasana yang mendadak menjadi mencengkam saat Tao, siswa pindahan dari China mulai kembali berkelahi dan karena kemampuan bela dirinya yang mumpuni, terlebih ia mempelajari teknik wushu, pertengkaran tak dapat dielakkan lagi. Kantin menjadi rusuh. Siwon menyuruh beberapa siswa untuk memanggil guru lain karena ia sendiri kewalahan.

BRANG!!!

Makanan Kyuhyun terjatuh ketika siswa yang berkelahi dengan Tao menyenggol nampan yang dipegang Kyuhyun, tentu saja tanpa sengaja.

“Maaf, Kyuhyun-sshi.”

Pria itu membungkuk begitu tahu mencari gara-gara dengan si biang kerok yang selalu berlindung di balik Chanyeol, sang bos besar di sekolah mereka. Mereka segan dan takut dengan Chanyeol.

“Berikan aku kupon makananmu.”

“Nde?”

Pria itu mungkin salah dengar jadi, dia bertanya pada Kyuhyun.

“Kau menjatuhkan makananku jadi, aku butuh kupon makananmu. Atau, kau memang sengaja melakukannya? Kau ingin aku kelaparan di jam siang seperti ini?” tanya Kyuhyun lembut namun berbahaya. Seluruh kantin hening, menatap keduanya.

“Ah, tentu saja. Ini kupon saya, Kyuhyun-sshi.”

“Baiklah. Terima kasih, hm…”

“Kim Jongin imnida.”

“Terima kasih, Jongin sunbae.”

Kyuhyun tersenyum manis dan membuat pria-pria disana untuk sesaat menatapnya kagum. Kyuhyun memang manis dan kulit pucatnya memang selalu bisa mengundang oranglain untuk betah menatapnya lebih lama.

Kantin menjadi lebih tenang dan Siwon lebih bisa mengendalikan keadaan. Siwon kemudian menghampiri Kyuhyun dan duduk di samping pemuda manis itu. Ia juga sempat bertegur sapa dengan Ryeowook yang pernah ditemuinya di pesta pernikahan.

“Kyu, bagaimana mereka bisa bersikap baik padamu?” tanya Siwon penasaran. Kyuhyun mengendikkan bahunya tanda tak tahu, atau tak mau tahu.

“Tentu saja karena mereka takut pada Park Chanyeol. Siapa lagi.”

Kyuhyun mendelik menanggapi ucapan polos dari Ryeowook itu. Sebenarnya, dia berada di pihak mana sih?
“Chanyeol? Lagi-lagi dia. Kau ada hubungan apa dengannya?”

Raut wajah Siwon berubah tegas. Tatapan matanya menjadi tajam bagai pedang. Kyuhyun yang gugup menjawab,

“Dia teman baikku. He is my best friend, oke?”

“Kau yakin? Sepertinya dia menyukaimu.”

Pancing Siwon tapi Kyuhyun tetap diam tak terpancing.

“Baiklah.”

Kyuhyun melihat pelipis Siwon yang berdarah karena melerai anak-anak bengal itu. Ia sedikit khawatir, teringat bagaimana Siwon kemarin merawatnya saat ia sedang kedinginan. Ada perasaan cemas saat Siwon seperti menahan sakit ketika tangannya memegang pelipisnya sendiri.

“Obati lukamu agar tidak infeksi, sonsaengnim.”

“Ini bukan masalah. Kalau begitu, aku pergi dulu.”

Kyuhyun menatap Siwon datar dan tak mencegahnya untuk pergi. Ryeowook yang kesal, menepuk kepala Kyuhyun lagi.

“Akh! Sakit, Wookie. Kau ini apa-apaan, sih?”

“Kau ini! Suamimu terluka dan kau membiarkannya begitu saja?”

“Lalu aku harus bagaimana? Dia sudah dewasa, dia bisa mengobati lukanya sendiri.”

“Bagaimanapun, dia tetap suamimu. Dan sebagai istri yang baik, kau tetap harus melakukan tugasmu dengan baik, Kyu.” Ceramah Ryeowook singkat. Kyuhyun cemberut dan berfikir. Benar juga. Lagipula, hitung-hitung sebagai balas budi karena perlakuan Siwon kemarin.

“Hah. Arraseo. Kalau begitu, aku akan mengobatinya.”

“Baguslah. Cepat sana pergi,” ujar Ryeowook cekikikan, ia cuek saja ketika Kyuhyun masih saja mendumel ini-itu seolah-olah ia tidak perduli. Ryeowook telah mengenal Kyuhyun semenjak sekolah dasar, ia tahu betul bahwa sebenarnya, Kyuhyun juga mengkhawatirkan keadaan Choi Siwon.

“Dasar pembohong! Aku tahu kau merindukannya, Kyuhyun-ah.”

Ryeowook tersenyum menatap Kyuhyun yang kini telah pergi menjauh. Teringat bagaimana hari-hari yang dilalui Kyuhyun semenjak kepergian Siwon ke luar negri. Terpuruk, sering melamun, itulah yang dilalui Kyuhyun ketika salah satu tempatnya bergantung pergi meninggalkannya dan kehadiran Chanyeol yang selalu membuat Kyuhyun tertawalah yang membuat seorang Cho Kyuhyun mulai melupakan kesedihannya.

Ryeowook tersenyum dan ia tidak yakin bahwa Chanyeol yang mudah terhasut dan mudah goyah akan bisa membahagiakan Kyuhyun. Ia yakin Siwonlah suami yang terbaik untuk Kyuhyun. Setidaknya, itulah pikiran polos seorang Kim Ryeowook.

……………………………………………………………………………………………

“Sonsaengnim?”

Kyuhyun menyembulkan kepalanya melirik Siwon yang kini terduduk di ranjang klinik sekolah dengan tatapan yang lugu dan mata bulatnya yang menggemaskan.

Siwon sempat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Kyuhyun dan hampir menjatuhkan botol-botol disana. Kyuhyun nyengir, “Maaf membuatmu kaget, sonsaengnim.”

“Aish! Ada apa? Kenapa kau hobi sekali membuatku kaget, sih?”

Kyuhyun merasa itu bukan pertanyaan. Maka dari itu, ia tidak menjawabnya.

“Aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja. Ternyata, kau baik-baik saja.”

“Tentu saja. Kau kira aku akan mati.”

Kyuhyun tertawa. Ia mengambil alkohol dan kapas lalu mengoleskannya ke pelipis Siwon. Siwon hanya diam sambil beberapa kali mengaduh kesakitan. Kyuhyun menekannya agak keras, sengaja atau tidak?

“Lain kali, jangan sok jagoan jika kau tidak bisa menghadapi mereka. Kau tahu, Tao itu pemegang mendali emas untuk kejuaraan wushu dan Kai, panggilan akrab Jongin tadi, adalah preman yang ditakuti di sekolah karena pintar berkelahi.”

“Apa kau seksi tata usaha? Sok tahu sekali.”

Kyuhyun menekan luka itu lagi.

“Akh! Sakit, Kyu. Kau ini!”

“Aku memberi tahumu, Choi Siwon, bukan karena aku sok tahu.”

“Oke, oke, Ny. Choi. Aku mengerti. Sekarang, cepat obati aku dan jangan menekan-nekan lukaku lagi.”

“Aku tidak mau!”

Kyuhyun berhenti, tidak mau diperintah-perintah oleh Choi Siwon. Dia disini membantu bukan pembantu.

“Kau tidak mau?”

“Tidak. Obati saja sendiri!”

Siwon menatapnya aneh, sama seperti tatapan saat di mobil dulu, tatapan yang berakhir dengan ciuman pertamanya yang diambil secara paksa dulu. Jika mengingatnya, Kyuhyun ingin sekali menendang pantat Siwon.

“Ahhh… Apa yang kau laku-nggh, lakukan, bodoh!”

Siwon menyeringai. Ia melakukannya lagi. Mengurut junior Kyuhyun didalam celananya. Kyuhyun mendesah lagi tapi juga memukul Siwon dan menjauh sejauh-jauhnya.

“Jika kau tidak ingin aku berbuat yang aneh-aneh padamu, lanjutkan pekerjaanmu tadi,” ucap Siwon santai.

Kyuhyun mengumpat. Suaminya ini selalu berfikiran kotor dan juga mesum. Jadi, mau tak mau, ia kembali mengobati Siwon dengan menggerutu di dalam hati.

“Aku suka baumu, istriku.”

Kyuhyun serasa ingin menjedotkan kepala Siwon ke tembok begitu mendengar kata ‘istri’ yang keluar dari mulut Siwon, tapi diurungkannya karena bayangan Jaejoong yang pasti akan menjeburkannya ke sungai Han.

“Wangi, sama seperti dulu.”

DEG. Kyuhyun terdiam. Dulu, seingatnya, Siwon memang sering menyebutnya wangi dan juga memujinya banyak hal, salah satunya adalah betapa manis dan cantiknya Kyuhyun, atau betapa pintar Kyuhyun diantara anak seusianya dulu.

Wajah Kyuhyun memerah mengingatnya.

Siwon tidak bisa melihat warna kemerahan itu karena ia sedang dalam posisi duduk di ranjang dan matanya tepat menatap dada Kyuhyun. Entah apa yang difikirkan lelaki mesum itu. Mungkin, sesuatu mengenai dada Kyuhyun.

“Kyu?”

“Apa?”

“Bolehkah aku menjilati dadamu selagi kau mengobatiku?”

Plak!

Kyuhyun memukul kepala Siwon dan kemudian tersadar telah menyakiti sang suami. Ia buru-buru minta maaf dan beralasan reflek. Siwon tidak begitu saja memaafkannya, ini kesempatan bagus untuk mengerjainya. Benar, kan?

“Maaf, hyung. Sungguh, aku tidak sengaja.”

“Kau memukulnya terlalu keras, Kyu! Aku bisa gagar otak karenamu.”

“Ayolah, jangan manja, hyung. Maafkan aku, oke?”

“Tidak bisa. Aku hanya bercanda tapi kau menanggapinya serius bahkan juga memukulku terlalu keras. Aku akan mengatakan pada Jaejoong umma kau telah memukulku.”

Kyuhyun merengut. Terakhir, tidak ada kartu kredit karena Siwon mengadukannya ke ummanya, sekarang? Apalagi yang akan dilakukan ummanya untuk menghukumnya? Menyita kaset-kaset game miliknya? Atau sesuatu yang lebih parah. Aish, Siwon ini!

“Aku tidak akan mengadu, asal kau mau melakukan satu hal untukku. Bagaimana?” tawar Siwon, menyeringai.

Kyuhyun yang merasa ada tanda-tanda bahaya, segera menjauh untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan.
“A-apa itu, sonsaengnim?”

Kyuhyun semakin mundur ketika Siwon menghimpitnya ke tembok. Sial, Kyuhyun bahkan tidak bisa berkutik sekarang.

“Kau cantik, Kyu.”

Kyuhyun tidak tahu harus bicara apa. Wajahnya memerah tanpa alasan yang jelas dan Siwon semakin mendekat. Karena panik, Kyuhyun tidak sengaja menyikut dagu Siwon keras membuat suaminya itu mengaduh kesakitan dan mundur ke belakang.

“Ya! Kyu!” Siwon berkata keras. Kenapa setiap bersama Kyuhyun, selalu ada saja bagian tubuhnya yang terasa sakit.

Kyuhyun tertawa aneh.

“Maaf, hyung. Ini untukmu.”

Kyuhyun kemudian merogoh kantung seragamnya dan menempelkan plester bermotif dinosaurus ke pelipis Siwon. Siwon tersenyum ketika melihat betapa telatennya Kyuhyun sekarang. Belum sempat ia berterima kasih, Kyuhyun sudah berlari terlebih dahulu. Siwon tersenyum dan memegangi pelipisnya sendiri. Mungkin, Kyuhyun memang tidak seburuk yang ia kira.

……………………………………………………………………………………………

Kyuhyun mondar-mandir. Ia berkali-kali mengecek tas ranselnya. Mengeluarkan isinya lalu mencari ke loker yang ada di sudut ruang kelas. Tapi nihil. Barang kesayangannya hilang. Dan Kyuhyun panik sekali. Menggegerkan kelas yang saat itu sedang kosong karena pergantian kelas.

“Kau mencari apa, Kyu? Panik sekali.”

“Wookie… Gelangku. Dimana gelangku?”

“Gelang? Gelang yang kau gantung di ponselmu? Tidak ada?”

“Iya. Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tidak ada.”

Kyuhyun duduk dengan tidak bersemangat. Bukan karena gelang itu mahal sama sekali bukan. Itu hanya gelang berbentuk kerang yang murah yang bisa ditemukan di pasar. Tapi, yang jadi soal adalah kenangan dan history gelang itu sendiri.

“Apa tadi kau menggunakan ponselmu?”

“Tadi malam masih ada dan tadi pagi aku juga masih melihatnya kok.”

Kibum ikut mengomentari sambil mengutak-atik Iphone miliknya.

“Sudahlah, Kyu. Mungkin itu pertanda kalau kau harus melupakannya.”

Ryeowook menyetujui perkataan Kibum. Dan Kyuhyun hanya diam. Entahlah. Ia tidak bisa membedakan mana benci dan mana cinta ketika itu menyangkut Park Chanyeol. Ia membenci pria itu, juga Baekhyun tapi, jauh di alam bawah sadarnya, ia merindukannya. Dan juga, ada bagian dalam dirinya, masih ingin memilikinya. Bukankah itu aneh?

Baekhyun yang tak jauh dari bangku tempat mereka duduk hanya tersenyum tipis. Ia menatap gelang yang dimaksud Kyuhyun dari balik tasnya. Menyembunyikannya dari Kyuhyun.

“Baekhyun-sshi.”

Baekhyun sontak menoleh saat Kyuhyun memanggilnya. Ia tersenyum.

“Ne, Kyuhyun-ah.”

“Kau mencurinya, kan? Gelangku. Kau pasti yang mengambilnya.”

Baekhyun berpura-pura terkejut.

“Ya, Tuhan! Kyu. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu. Aku tidak tahu apa-apa,” ujarnya sok polos dan mendramatisir. Kyuhyun ingin muntah rasanya. Ia muak melihat sikap sok lugu yang selalu ditunjukkan oleh Baekhyun. Inilah mengapa ia bisa kecolongan dan tidak menyadari bahwa Baekhyun menggoda kekasihnya.

“Lalu siapa? Siapa lagi yang tertarik mencuri barang murahan seharga delapan puluh won itu selain kau. Kau ingin memilikinya. Kau ingin menghapus semua kenanganku mengenai Chanyeol.” Teriak Kyuhyun keras sekali. Ia emosi, tanpa sadar tidak bisa mengendalikan suaranya. Seluruh siswa menatap keduanya dan seketika kelas menjadi hening.

Baekhyun merunduk, memasang wajah hampir menangis.

“Kau tega sekali, Kyu. Aku tidak mungkin mencurinya. Aku menyukai Chanyeol sunbae dan aku fikir karena kau dekat dengannya, aku ingin menjadi temanmu dan menjadi lebih dekat lagi denganmu. Tapi, kau justru menuduhku seperti itu,” lirih Baekhyun, hampir serak suaranya karena menahan tangis.

Seluruh siswa menatapnya iba kecuali Ryeowook dan Kibum yang hanya memandangnya datar. Tentu saja mereka tahu seperti apa Baekhyun itu. Mereka berempat dulunya adalah teman akrab semasa SMP.

“Jangan berpura-pura seperti itu, Baekhyun-sshi.” Kyuhyun tahu itu hanya akting. Baekhyun memang pandai berakting. Meski, ia sedikit ragu. Tentu saja, karena Kyuhyun bukan tipikal orang yang punya penilaian buruk seratus persen terhadap oranglain.

Baekhyun hampir menangis dan Luhan, siswa pertukaran pelajar dari China memeluknya dan melotot ke arah Kyuhyun.

“Kau keterlaluan, Kyu-sshi.” Luhan membela Baekhyun.

“Sudah, Luhan. Gwenchana.”

Baekhyun tersenyum kemudian menatap Kyuhyun yang masih terpaku. ‘Aku menang, Kyu. Mati kau!’

Baekhyun melepas pelukan Luhan dan menghampiri Kyuhyun.

“Maaf jika aku membuat kau kesal, Kyu-ah. Tapi, sungguh aku tidak tahu mengenai gelangmu.”

“Kalau begitu, aku akan geledah isi tasmu,” ucap Kyuhyun tiba-tiba. Baekhyun terdiam. Jantungnya berdebar keras dan ia mulai ketakutan. Menyadari gelagat Baekhyun yang menegang, Kyuhyun yakin Baekhyunlah pelakunya. Meskipun, pria mungil itu mampu menyembunyikan ekspresinya dengan sangat baik.

“Bagaimana? Tentunya jika kau bukan pencurinya, kau pasti tidak keberatan, kan?” tantang Kyuhyun sedikit senyum manis.

“Benar. Supaya Kyuhyun-sshi yakin bahwa pelakunya bukan Baekhyun, aku rasa itu ide yang bagus.” Celetuk Eunhyuk. Ia netral dalam hal ini.

Baekhyun masih diam.

“Kurasa Baekhyunlah pencurinya.”

Bisik-bisik teman satu kelas membuat Baekhyun kesal. Ia langsung berteriak dengan mata yang hampir menangis.

“Tentu saja tidak. Baiklah. Kau boleh menggeledah tasku, lokerku dan juga bajuku. Kau tega sekali menuduhku pencuri barang murahan itu, Kyuhyun-sshi.” Baekhyun menatap Kyuhyun penuh kebencian.

“Dengan senang hati. Sekarang minggir.”

Kyuhyun mengambil tas ransel Baekhyun dan sebuah suara yang amat dikenalnya, membuatnya berjingkrak kaget dan tas itu sontak terlepas. Ternyata, Siwon masuk ke kelas dan menggagalkan rencana Kyuhyun. Mau tak mau, Kyuhyun mengembalikan tas itu ke Baekhyun yang menampilkan raut wajah yang lega luar biasa.

“Anak-anak. Mari kita mulai kelas pada jam kelima ini. Kyuhyun-sshi, silahkan duduk. Baekhyun-sshi, kembali ke bangkumu. Dan Luhan, bangkumu kosong dan berhenti mengunyah permen karet selama jam pelajaran berlangsung!”

Luhan nyengir lalu kembali ke bangkunya setelah membuang permen karet itu ke dalam kertas dan memasukkannya ke dalam tong sampah.

Siwon tersenyum puas.

“Nde. Terima kasih, Luhan-sshi. Jadi, kelas kita akan dimulai dengan perkenalan mengenai sejarah dinasti Joseon. Ada yang bersedia membacakannya untukku?”

Kelas hening sepertinya tidak ada yang berminat.

“Saya, Choi sonsaengnim.”

“Wah. Nde, Baekhyun-sshi. Silahkan.”

Wajah Baekhyun memerah ketika Siwon menatapnya dengan lesung pipinya yang menawan. Ia jadi sedikit gugup dipandangi seperti itu. Siwon sonsangenim benar-benar tampan.

“Silahkan dimulai, Baekhyun-sshi.”

Semua siswa diam mendengarkan ketika Baekhyun mulai membaca bukunya. Kecuali, Kyuhyun dan pria bernama Do Kyungsoo. Kyuhyun hanya kesal dengan ekspresi Siwon pada Baekhyun yang sedikit berbeda. Ia benci saat-saat dimana Siwon terus menatap Baekhyun sambil serius mendengarkan pemuda munafik itu berbicara. Ia hanya kesal.

Sedangkan Kyungsoo, ia diam bukan karena terpesona pada Baekhyun atau apa yang diucapkan apalagi terpesona pada Choi Siwon. Ia hanya terus berfikir. Tadi, saat Kyuhyun mengambil tas Baekhyun, Kyungsoo melihat gelang yang dihafalnya milik Kyuhyun terjatuh. Terjatuh dan Kyuhyun tak menyadarinya.

“Kyungsoo, kau kenapa?”

Sehun menyenggol lengannya dan Kyungso terkejut.

“Ah. Tidak apa-apa.”

“Oh. Perhatikan pelajaran Choi sonsaengnim, nanti kau dihukum.”

Kyungsoo mengangguk seadanya. Lalu berbisik pada Sehun lagi.

“Sehun-ah.”

“Hm?”

“Apakah kau berfikir bahwa Baekhyun yang mencuri gelang milik Kyuhyun?”

“Hah? Kenapa bertanya seperti itu?”

“Hanya ingin tahu saja.”

Sehun menggeleng.

“Tentu saja tidak. Semua orang juga tahu mereka mempunyai hubungan yang kurang baik tapi, Kyuhyun tidak sepenuhnya salah, sih. Dia kan hanya bertanya karena gelangnya hilang dan menurutku wajar dia menuduh Baekhyun sebagai pencuri gelang itu tapi, Baekhyun-sshi, dia juga baik jadi mungkin bukan dia pelakunya. Ini hanya kesalahpahaman dan tidak ada yang salah ataupun benar.”

Kyungsoo mengangguk. Mungkin, ia tidak perlu menceritakannya pada Kyuhyun bahwa Baekhyunlah pelakunya bagaimanapun, Baekhyun tetaplah teman baiknya. Setelah ini, Kyungsoo akan mengingatkan Kyuhyun soal gelangnya yang terjatuh di bawah mejanya. Tanpa mengatakan yang terjadi sebenarnya.

……………………………………………………………………………………………

Siwon awalnya ingin melakukan banyak hal untuk rencana minggu indahnya. Pertama, membuat satu cangkir kopi dengan murfin lalu menonton televisi hingga siang hari dan terakhir kencan di hari minggu siang bersama dengan Tiffany, ataupun Sulli, terserahlah. Yah, tapi itu hanya awalnya, karena lagi-lagi, sang umma yang sangat menyayangi Kyuhyun melebihi menyayangi dirinya ternyata menyuruhnya untuk menengok Kyuhyun. Dan karena tak mau mengarang bebas bagaimana pemuda manja itu hidup mandiri jauh dari orangtua, maka Siwon melakukannya.

Berdiri di depan pintu apartement istrinya. Mengetuknya pelan.

Ketukan pertama tak ada jawaban. Ketukan kedua, bunyi barang-barang yang terjatuh dan ketukan ketiga, suara dari dalam apartement semakin keras dan ribut. Siwon mengerutkan keningnya.
“Kyu, kau tidak apa-apa? Boleh aku masuk?”

Masih tak ada jawaban. Pintu juga terkunci. Mau tak mau, Siwon terus menerus mengetuk pintu semakin keras dan pada menit kedua, pintu terbuka oleh sosok yang kini mengenakan piyama bermotif jerapah lalu memandangnya datar.

“Ada apa?”

“Kenapa ribut-ribut didalam? Kau tidak apa-apa, kan?”

Kyuhyun menghela nafas panjang seraya membuka pintunya lebih lebar lagi. Disana, Siwon bisa melihat barang-barang tergeletak tak beraturan disudut ruangan. Penyedot debu, sampah-sampah plastik, tumpukan baju kotor, botol minuman yang menimbulkan bunyi saat Siwon tak sengaja menendangnya dan majalah-majalah yang tercecer di lantai. Siwon tertegun.

“Aku tadi membereskan barang-barangku sebentar tapi kau terus mengetuk pintu keras-keras. Aku gugup dan tak sengaja menyenggol keramik-keramik kesayangan eommaku.”

Kyuhyun menatap pecahan keramik yang konon, kata Jaejoong, itu sangat mahal. Habislah ia! Siwon tertawa prihatin tapi langsung terdiam saat Kyuhyun melotot padanya.

“Oke, oke. Maaf. Aku tak bermaksud menertawakanmu. Jadi, ada yang bisa aku bantu?”

Kyuhyun mengangguk dan mengambil pecahan keramik itu menggunakan tangan sontak, Siwon berteriak dan menahan jari-jari tangannya.

“Kyu, kau bisa terluka jika mengambilnya seperti itu.”

“Sudahlah. Aku tidak apa-apa. Kau bantu saja aku.”

Kyuhyun melepas tangan Siwon secara paksa dan tanpa sengaja, pecahan beling itu melukai tangannya. Kyuhyun reflek menjauhkan tangannya dan Siwon segera mengemut jari tangan Kyuhyun. Bermaksud menghentikan pendarahan.

“Hyung…?”

Kyuhyun terkejut. Jari-jari tangannya terasa basah namun juga hangat. Dadanya berdebar kencang dan seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.

Kyuhyun terus menatap Siwon yang tanpa sungkan terus mengemut dan menghisap jari-jari tangannya. Tidak ada perasaan jijik hanya saja, Kyuhyun malu jika Siwon terus melakukan itu.

“Sudah, hyung.”

“Oh. Oke.”

Siwon tersadar. Ia buru-buru melepas jari tangan Kyuhyun tapi tubuhnya berjalan membimbing Kyuhyun ke wastafel dan membawa jari yang terluka itu menuju air kran yang mengalir. Kyuhyun sedikit berjengit saat rasa sakit itu mulai dirasakannya.

“Sudah tidak sakit?”

“Hn. Terima kasih, hyung.”

Siwon tersenyum lembut. Tanpa banyak bicara, ia mengambil sarung tangan yang ada didekat cucian piring dan mulai mengambil pecahan-pecahan kaca itu. Kyuhyun tersenyum tipis lalu ikut membantu Siwon tapi Siwon menolaknya karena sapu tangan Kyuhyun hanya satu. Kyuhyun merengut.

“lebih baik kau membuatkan aku jus jeruk saja dan aku akan membantumu membereskan kekacauan ini. Oke?”

“Hah. Oke.”

Kyuhyun lalu menuju dapurnya. Membuka lemari es tapi persediaan jus jeruk kosong. Menuangkan susu kedalam gelas tapi hanya separuh yang tersisa. Tak ada apapun di kulkas. Kyuhyun baru ingat bahwa ia tidak pernah berbelanja apapun dan belanjaan Heechul kemarin sudah mulai habis.

Sambil berbicara tak jelas, Kyuhyun mulai mengambil juicer yang diletakkannya di atas lemari dapur. Membuka bungkusnya karena tak pernah digunakan lalu mencucinya sebentar karena juicer itu berdebu. Kyuhyun terbatuk.

“Kyu, kau tidak apa disitu?” tanya Siwon dari ruang tamu.

“Tentu saja, hyung. Aku baik-baik saja. Kalau hanya membuat jus jeruk saja, tentu aku bisa, hyung.”

Kyuhyun sebenarnya tidak yakin dengan kata-katanya sendiri tapi tentu saja ia tidak mau tampil terlalu buruk didepan suaminya itu. Dengan perlahan, ia menancapkan kabel ke kontak listrik lalu membuka kulkas mencari jeruk, atau lemon, atau jerus nipis, yang penting adalah jeruk! Bukankah tadi Siwon bilang, ia ingin jus jeruk.

Ketemu. Ia membelahnya menjadi dua lalu memasukkannya kedalam juicer. Ia menekan alat itu sedikit keras dan alat itu mengeluarkan suara yang aneh, seperti debuman mesin montor yang tentu saja membuat Kyuhyun panik luar biasa. Ia menekan makin keras dan memukul-mukul juicer biadab itu. Juicer itu bergerak ke kanan dan ke kiri secara konstan. Kyuhyun bukan hanya panik tapi juga kesal. Ia mengocok juicer malang itu dan sesekali memukulnya keras. Kabel itu terlepas secara paksa dari kontak listrik dan juicer itu terjatuh ke lantai.

Siwon yang mendengar suara gaduh segera menghampiri Kyuhyun yang tersenyum aneh di hadapannya.

“Juicernya ternyata rusak.”

Hah. Siwon bukan orang bodoh yang tidak tahu bahwa Kyuhyun tidak sengaja menjatuhkan juicer itu dan bukannya juicer itu rusak. Ia mengambil barang malang itu lalu meneliknya lebih jauh. Kyuhyun tidak paham. Ia hanya diam.

“Berikan aku obeng. Aku bisa memperbaikinya.”

“Hah?”

“Obeng. Obeng, Kyu.”

“Iya, aku ambilkan.”

Siwon masih serius menatap alat itu dan berteriak menyuruh Kyuhyun untuk segera membawa alat yang dibutuhkannya.

“Hyung, obeng itu bentuknya bagaimana?” tanya Kyuhyun disana. Ia melihat-lihat satu set peralatan asing yang kemarin diletakkan Heechul disana. Seperti perkakas untuk perbaikan alat eletronik.

“Bentuknya seperti guling milikmu. Untuk melepaskan sekrup.”

“Ada dua yang bentuknya mirip guling dan spidol. Yang mana, hyung?”

“Bawa saja dua-duanya, Kyu.” Jawab Siwon masih serius menatap alat itu. Kyuhyun berlarian membawa barang yang dimaksud lalu Siwon mengambil salah satunya. Memutar sekrup dan melihat didalamnya.

“Ini parah. Kau benar-benar merusaknya, Kyu.”

Kyuhyun cemberut.

“Beli saja yang baru. Lagipula, alat itu benar-benar membuatku kesal. Aku sudah membelah jeruk itu menjadi dua dan alat itu tetap bersuara aneh.”

Siwon menggeleng dan meletakkan alat itu. Ia tidak bisa memperbaikinya. Lagipula Kyuhyun merusaknya terlalu parah.

“Tapi, tidak dengan memukul-mukulnya juga, kan?”

Kyuhyun cemberut, kali ini Siwon tersenyum maklum. Ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin dan meneguknya seketika.

“Air putih juga tidak apa-apa jika kau tidak bisa membuat jus.”

Kyuhyun mengangguk.

“Aku sudah membereskan pecahan kacamu. Maaf membuatmu terkejut tadi.”

“Tidak apa-apa, hyung. Aku tidak terlalu fanatik seperti eommaku yang akan menangis jika salah satu barang antik kesayangannya pecah. Aku hanya takut dengan eommaku.”

“Kalau begitu, biar aku yang bicara padanya besok. Aku yakin, dia pasti mengerti.”

“Tidak semudah itu, hyung. Eomma itu keras kepala.”

Siwon terkekeh. Keras kepala, sama seperti anaknya, fikirnya.

“Lalu, harus bagaimana? Membelinya dengan yang baru?”

Kyuhyun meletakkan jari telunjuknya di dagu, pertanda jika ia sedang berfikir lalu mengangguk ragu. Ragu jika Siwon bersedia susah-susah melakukannya. Tapi, Siwon justru tersenyum dan mengajaknya ikut membelinya.

“Aku tidak tahu seperti apa bentuk keramik itu jadi, kita beli bersama.”

Kyuhyun tersenyum lebar dan secara reflek, memeluk Siwon yang kini mematung kaget.

“Terima kasih, hyung. Kau baik sekali.”

“Eh? I-iya, Kyu…”

Siwon semakin gugup saat Kyuhyun tak juga melepaskan pelukannya. Karena cukup lama mereka seperti itu, Siwon akhirnya ikut membalas pelukan Kyuhyun dan tersenyum juga. Mungkin hubungan mereka akan lebih baik mulai saat ini.

……………………………………………………………………………………………

Dan ternyata, Siwon salah. Hubungan mereka tidak lebih baik dan sifat Kyuhyun serta kenakalannya semakin menjadi-jadi. Lihat saja, keadaannya saat ini. Kursi tempatnya duduk sengaja dibubuhi lem cair yang sontak saja, membuat pantat seksinya sukses tak bisa mencium udara bebas. Ryeowook, Kyuhyun dan juga Kibum tertawa cekikikan dan siswa-siswa di kelas yang tidak mengerti dengan gelagat trio iblis itu hanya bingung sambil menatap Siwon yang masih duduk meski kelasnya sudah berakhir.

“Sonsaengnim, kenapa anda tidak meninggalkan kelas? Ini kan sudah waktunya Han sonsaengnim mengajar?” tanya Kyungsoo, polos. Kyuhyun makin kencang tertawa sedang Siwon menahan emosinya.

“Mungkin sonsaengnim masih betah mengajar disini? Atau mungkin, ia ingin menggantikan Mr. Han mengajar. Benar, kan, sonsaengnim?”

Siwon ingin sekali menghajar pemuda yang dengan tampang tak berdosa itu berpura-pura polos di hadapannya. tapi, itu tidaklah penting yang terpenting sekarang, apa yang harus dilakukannya?

Siwon ingin mati saja rasanya. Mommy, aku menyerah. Aku tidak mau lagi mengajar disini.

Kyuhyun yang melihat wajah frustasi Siwon, mau tak mau merasa iba juga. Ia berdiri dan seluruh siswa menatapnya seketika.

“Aku baru ingat, Han sonsaengnim tadi memberi tahuku untuk langsung berganti pakaian olahraga dan segera ke lapangan sekarang.”

Ini bukanlah sebuah kebohongan. Mr. Han memang meminta Kyuhyun agar mereka semua ke lapangan dan Kyuhyun yang awalnya ingin menunda-nunda terpaksa harus menggagalkannya karena ia tidak ingin Siwon mendapat malu lebih dari ini. Kyuhyun juga masih punya hati kan.

“Tapi, saat ini sedang hujan, Kyu-ah. Pelajaran olahraga memangnya tidak diganti dengan materi, ya?” tanya Baekhyun.

Kyuhyun yang memang dasarnya tidak suka dengan Baekhyun, menjawab dengan sedikit ketus,

“Aku tidak tahu. Aku adalah ketua kelas. Aku yang bertanggung jawab disini dan bukannya kau, Baekhyun-sshi. Tanyakan saja langsung pada Han sonsaengnim jika kau meragukanku.”

Seluruh siswa mengerti. Mereka mulai mengambil kunci lokernya dan mengambil baju olahraga mereka termasuk Baekhyun yang hanya diam tak membalas perkataan Kyuhyun.

“Sonsaengnim, kenapa masih disini?”

Siwon tersenyum kaku menanggapi pertanyaan Oh Sehun. “Saya masih harus meneliti perkejaan kalian tadi.”

Siwon mengambil map miliknya dan mulai mengoreksi tugas-tugas siswanya. Kyuhyun tersenyum misterius.

“Kami permisi dulu, sonsaengnim,” ucap mereka serempak. Siwon tersenyum canggung dan ikut membalas.

Ryeowook dan Kibum meninggalkan Kyuhyun hanya berdua saja dengan Siwon, sebelum mereka sempat berkata ‘Jangan macam-macam! Ini sekolah’ atau ‘Jangan melakukan hal mesum disini, Kyu.’ Semacam itu, membuat Kyuhyun ingin segera mengubur mereka hidup-hidup. Memang apa yang akan mereka lakukan? Kyuhyun hanya ingin menyelesaikan masalah yang ia buat. Just that! Tidak lebih, oke.

“Sudah puas?” tanya Siwon dingin.

“Ayolah, hyung. Aku hanya bercanda. Kenapa kau menanggapinya serius.”

“Bercandamu kelewatan, Kyu.”

“Kau marah?”

“Menurutmu?”

Kyuhyun tahu ia kelewatan.

“Oke. Mian, hyung.”

Kyuhyun membantu Siwon untuk lepas dan nyatanya sulit. Lem itu benar-benar melakukan tugasnya dengan semestinya tapi, ini terlalu berlebihan. Lem ini kuat sekali, Ya Tuhan!

“Lem apa yang kau gunakan, Kyu. Kenapa susah sekali?”

“Lem kayu, hyung.”

Pletak!

Siwon memukul kepala Kyuhyun. Sontak, pemuda cantik itu mundur ke belakang sambil memegang kepalanya yang berdenyut-denyut nyeri.

“Kau gila, hah? Lem itu kuat sekali, pabbo!”

“Mana aku tahu, hyung.”

Kyuhyun kembali berusaha. Tapi tetap saja sulit. Seharusnya, ia meminta bantuan teman-temannya tadi. Mereka pasti tertawa-tawa membayangkan Kyuhyun melakukannya sendirian. Uh, tidak setia kawan.

“Lebih baik, kau lepaskan celanamu, hyung.” Usul Kyuhyun yang langsung ditolak Siwon mentah-mentah. Apa iya dia harus setengah telanjang? Enak saja.

“Aku punya celana olahraga. Aku akan mengambilnya.” Kyuhyun berbalik dan mengambil celananya di loker. Ketemu. Ia berjalan ke depan untuk memberikannya pada Siwon.

“Cepat lepas, hyung. Kau mau duduk disana selamanya, apa?”

“Kau kira ini salah siapa?”

Siwon bergumam kesal. Ia sedikit ragu saat melepas celananya.

Kyuhyun memasang wajah datar melihat Siwon hanya mengenakan celana dalamnya saja.

“Jangan melihat kesini, Kyu.”

“Memangnya kenapa? Milik kita sama, kan?” ucap Kyuhyun santai. Siwon lagi-lagi masih sabar. Menahan emosinya yang sudah diubun-ubun itu. Lalu mulai memakai celana olahraga milik Kyuhyun cepat-cepat. Sedangkan Kyuhyun, ia masih berusaha melepaskan celana itu dari kursi.

Berhasil. Ia memberikannya lagi pada Siwon.

“Pakai ini.”

“Kau tidak lihat ada bekas lem di bagian belakang.”

“Lalu, kau mau memakai celanaku sampai jam sekolah berakhir, begitu? Akan ada rumor jika kau menggunakan itu, hyung,” ucap Kyuhyun sok bijak. Siwon diam. Benar juga.

Akhirnya, ia melepas celana itu dan memberikannya pada Kyuhyun. Meskipun bagian belakang ada sisa lem berwarna putih tapi, daripada setengah telanjang.

Lain halnya dengan Siwon yang sekarang mulai bernafas lega karena masalahnya terselesaikan, pemuda cantik dan manis bernama Byun Baekhyun tampak kebingungan mencari-cari ponselnya. Do Kyungsoo yang merupakan teman baiknya memandangnya bingung.

“Ada apa, Baek?” tanya Kyungsoo, lembut. Baekhyun tersenyum dan masih mencari-cari ponselnya.

“Gwenchana, Do.”

“Kau kehilangan sesuatu?” tanya Kyungsoo lagi. Kali ini Baekhyun mengangguk.

“Ponselku. Dimana, ya?”

“Ah, ponsel yang memiliki gantungan kelinci putih?”

“Iya, kau tahu dimana?”

“Kau ini bagaimana sih, Baek. Sepertinya selama kelas berlangsung, kau tidak membuka ponselmu. Mungkin masih didalam tasmu.”

Baekhyun bernafas lega. Ia kira ponselnya tertinggal di rumah dan ia tidak bisa menghubungi kakaknya untuk mengantarkannya ke rumah. Bisa repot nanti.

“Oh, begitu. Terima kasih, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo mengangguk.

“Eh tunggu, Baek.”

“Nde?”

“Sepertinya gantungan ponselmu mirip milik Kyuhyun-sshi yang dulu, sebelum ia menggantinya dengan gantungan kerang itu. Kebetulan sekali, ya?”

Baekhyun diam. Tidak ada yang tahu bahwa mereka dulunya adalah teman baik. Kecuali, Ryeowook dan juga Kibum. Seluruh sekolah juga tahu kalau mereka itu bermusuhan.

“Benar, kebetulan sekali.”

“Tapi, hubungan kalian sepertinya tidak akrab, ya?”

Baekhyun tertawa untuk mengatasi kegugupannya. Kyungsoo dengan wajah polosnya melanjutkan,

“Kalian tidak pernah berbicara dan jika Kyuhyun-sshi ada perlu denganmu dia akan berbicara ketus dan jadi menyebalkan. Tapi, kau tidak apa-apa, kan diperlakukan seperti itu?”

Kyungsoo tampak khawatir.

“Ne, gwenchana. Aku mau mengambil ponselku dulu, ya, Kyungsoo.”

Baekhyun segera berlari menghindari Kyungsoo. Soal mengenai Kyuhyun adalah sesuatu yang sensitif bagi mereka. Sudah empat tahun hubungan mereka seperti itu dan Baekhyun akan berusaha untuk menghindarinya.

Ketika Baekhyun akan membuka pintu kelas, ia bisa melihat dari balik kaca seseorang yang sangat dikenalnya, Cho Kyuhyun dan juga Choi Siwon gurunya tengah berbincang soal sesuatu. Bukan mengenai itu yang membuat Baekhyun menganga dan hampir berteriak, tapi saat Siwon sonsangenim yang dikenalnya sebagai guru yang sopan dan ramah memakai celananya yang saat itu hanya memakai celana dalam di hadapan Kyuhyun.

“Cepatlah, hyung. Nanti bisa ketahuan.”

Baekhyun tak percaya dengan telinganya sendiri. Untuk kali pertama, ia meragukan keasahan telinganya.

“Sabarlah, Kyu. Kau kira gara-gara siapa aku seperti ini.”

Kyuhyun terlihat santai dan tanpa beban melihat Siwon yang setengah telanjang itu. Berbeda dengan Baekhyun yang hampir pingsan melihatnya karena malu.

“Sudah? Aku mau ganti baju dulu, hyung.”

“Oke. Terima kasih, Kyu.”

Baekhyun yang menyadari situasi, segera bersembunyi dibalik tembok. Kyuhyun dan Siwon keluar bersama dan berpisah saat di persimpangan lorong. Baekhyun masih terkejut. Ia bahkan tidak mendengar seseorang memanggilnya karena terlalu berkutat pada pemikirannya. Ia ingin percaya Kyuhyun tapi…

“Baekhyun-sshi!”

Orang itu menepuk pundak Baekhyun saat pria mungil itu tak kunjung menjawab sapaannya. Baekhyun sontak terlonjak karena kaget.

“Ya, Tuhan! Sunbae. Kau membuatku kaget.”

Pria itu cemberut, terkesan dipaksakan.

“Habisnya kau diam saja saat aku memanggilmu. Kau sedang apa disini?”

“Aku? Aku ingin ke kelas mengambil ponselku. Aku ada kelas olahraga setelah ini jadi, sunbae jangan berfikir bahwa aku sedang membolos, ya.”

Pria itu tertawa lalu menggeleng.

“Aku juga. Aku ada latihan basket untuk kejuaraan antar sekolah jadi, Park Sonsaengnim mengijinkanku untuk absen.”

“Oh. Sunbae hebat!”

Baekhyun tersenyum tulus.

“Lalu dimana Kyuhyun? Kau tidak bersamanya?”

Senyum Baekhyun pudar berganti dengan wajah ketus yang menyebalkan.

“Aku tidak tahu.”

Chanyeol, pria itu tampak kecewa. Ia lalu pergi saat beberapa teman satu timnya memintanya untuk segera latihan. Ia pamit dan tersenyum pada Baekhyun.

“Kyuhyun lagi, Kyuhyun lagi. Apa bagusnya sih dia? Lihat saja, Kyu. Aku akan membalasmu. Membalas sakit hatiku karena Chanyeol lebih menyukaimu. Lihat saja.”

Baekhyun menyeringai mengingat kejadian tadi. Ini bisa menjadi senjata yang ampuh baginya untuk menghancurkan Kyuhyun dan membuat Park Chanyeol membencinya. Tinggal menunggu waktu yang tepat baginya untuk melancarkan aksinya.

TBC

Annyeong. Mfkn Sabrina yg update lama bgt. Kemarin ada UAS dan banyak bgt tugas dr dosen, mana uas2nya susah2 lagi. Argghh! Tapi, sudah cukup puas karena pidana saya lg2 dpet A. Ye malah curhat. Haha.
Apakah berasa sinetron chapter ini? Hahaha. Yg pnting g ada scene cewe’nya tertabrak mobil tapi dia ga lari malah teriak gaje atau ga ada scene dimana sang pemeran utama tertukar atau hilang ingatan ya. Hihi. Uh, kapan pesinetronnan di Indonesia itu bisa lebih ‘cerdas’ #geleng2, dan kyaknya sutradara indonesia itu lebih mentingin episode daripada cerita ya.
Oke, drpda bahas yg g penting, Sabrina mau cerita nih chingu. Sabrina kemarin baca di salah satu blog, yang mengatakan bahwa Chanyeol EXO itu palsu. Dia itu pura2 baik padahal sombong. Sumpah itu Sabrina kesel bgt. Secara bias Sabrina di EXO kan Chanyeol. Pdhal yah, menurut PD(produser Director)nya law of the jungle, sepanjang dia syuting sm artis, Chanyeollah yg pling disukai krn dia ceria dan ramah trs waktu salah satu tim terluka jarinya, Chanyeol bahkan nangis krn khawatir. Sombong dr mana coba? Lgian anak2 EXO pd suka deket2 dia. Masa org sombong bnyk yg demen. Kan ngga kan. Jadi, buat temenku yg bilang, masa’ ada lagu berjudul srigala. Hello, itu bukannya aneh, tp itu namanya kreatif. Oke. Sabrina sebel sm orang yg sok2 benci korea pdhal dia ngga tau apa2 tentang korea. Dan lucunya lg, orang itu Sabrina pengaruhi eh malah jd Sparkyu juga sama kyk Sabrina. Katanya, Kyu itu keren di Bonamana, bening bgt waktu liat video2 Kyu di laptopnya Sabrina. Dsr labil, keke.
OK. Mksih ya udah baca curcolnya Sabrina yg g pntg ini. Setelah akhirnya berkutat sama UAS dan belajar TOEFL mati2an, akhirnya Sabrina come back. Semoga tetap pada prinsip awal Sabrina, satu minggu satu cerita, Amin. Jadi, tenang aja g ada cerita yg bakal Sabrina gantung. MRIHBnya juga bakal come back kalau The Melodynya kelar kok. Mohon reviewnya ya. Gamsahamnida. Annyeong, ^_~

Iklan

My Husband, Hotter than my Fantasy Chapter 2

Don’t Like, Don’t Read!
Enjoy…

Chapter 2
“Pernikahan.”

Wonkyu Story…

Entah sudah keberapa kalinya, Siwon memutari Seoul. Berkali-kali, ia berteriak frustasi karena kelakuan Kyuhyun yang benar-benar membuat emosinya meledak. Seharusnya, sekarang ia sedang berkencan dengan Sulli atau mungkin dengan Tiffany dan pergi berkencan ke taman hiburan, menonton film dan mungkin juga menghabiskan waktu seharian di tempat tidurnya yang nyaman. Yah- seharusnya.

“Ah. Aku bisa gila.” Siwon membanting setir ke kanan dengan kasar. Ia tidak habis fikir, mengapa ia bisa bertemu dengan Kyuhyun dan berakhir dengan pernikahan yang menurutnya konyol. OK, Siwon akui, Kyuhyun sangat seksi dan menarik, tapi tidak untuk kepribadiannya. Itu bonus yang sangat buruk.

“Yeobseyo. Hyung, apakah kau sedang sibuk?” Siwon masih menyetir sedang telinganya sudah dipasangi earphone agar tidak terlalu mengganggu kemudinya.

“Tidak juga. Aku sedang di cafe kopiku. Waeyo?”

“Bisakah aku meminta bantuan mencari Kyuhyun?”

“Kyuhyun? Ada apa dengannya? Dia mencari masalah lagi?” Siwon menjawab dengan malas. Ia tidak menjelaskan secara rinci karena fisiknya yang sudah terlalu lelah. Dia hanya berharap Yesung yang sudah dianggapnya sebagai kakak membantunya menangani sang bocah bengal.

“Kau yang lebih dekat dengannya. Jadi hanya kau yang bisa membantuku. This a emergency, hyung. My mommy would kill me if not take it home. Yeah- you know my mommy, right?”

“Arraseo. Aku akan coba mencarinya.” Siwon menghela nafas lega. Tidak percuma dia menghubungi Yesung. Yesung memang dekat dengan Kyuhyun selama ini. Mereka bertiga sebenarnya adalah tetangga yang rukun, sebelum akhirnya mereka berpisah dengan kehidupannya masing-masing.

“Won.” Yesung menyela sebelum Siwon menutup teleponnya.

“Nde?”

“Kyuhyun hanya bingung. Dia merindukanmu tapi dia juga merasa kecewa. Aku rasa dia hanya tidak tahu cara menyampaikan perasaannya. You know, maybe he is awkward to you after such a long time no see you.”

Siwon terdiam. Mengingat bagaimana perpisahan mereka yang menyakitkan. Mungkin, pantas jika Kyuhyun membencinya. Disaat mereka saling ketergantungan dan membutuhkan, Siwon tiba-tiba memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Meninggalkan Kyuhyun yang masih manis, Kyuhyun yang masih manja. Lalu, sekarang? Bagaimana hari-hari yang dilalui oleh Kyuhyun hingga seperti itu? Mungkin juga karena kekecewaannya pada Siwon.

“Aku tahu, hyung. Aku juga bingung harus bersikap bagaimana.”

“Just be patient, ok? Kyuhyun memang tidak mudah diurus. Kau tahu itu, kan?” Siwon tersenyum mendengar ejekan Yesung.

“Baiklah, hyung. Hubungi aku jika kau sudah menemukannya. Gomawo, hyung.”

“Nde.”

Siwon memutus sambungan dan terus menyetir mobilnya sesuai dengan nalurinya. Tak ada tujuan pasti, hanya kecemasan dan rasa bersalah yang seolah melumpuhkan otaknya. Takut terjadi sesuatu pada Kyuhyun kecilnya. Hari sudah menjelang malam. Kyuhyun yang dulu sangat takut dengan kegelapan. Dia tidak bisa berkelahi dan sangat manja. Tidak bisa melakukan apapun seorang diri. Siwon sangat mencemaskan Kyuhyun.
CKITTT!

Siwon memberhentikan mobilnya secara mendadak. Siluet tubuh itu mirip seperti Kyuhyun. Tanpa berfikir lagi, ia memparkir mobilnya sembarangan dan segera menghampiri pemuda yang kini dikelilingi oleh pemuda-pemuda lainnya.

“Kebetulan sekali kita bertemu disini, ya, Cho Kyuhyun.” Pemuda yang tampak paling bengal menghampiri Kyuhyun yang masih memasang wajah datar.

“Yeah- unlucky day to meet you,” ujar Kyuhyun acuh.

“Sial,”

Kyuhyun tidak bergeming ketika pemuda itu mencengkram kerah seragamnya. Ia bahkan tersenyum mengejek dan memasang wajah menyebalkan andalannya. Oh great! Siwon merutuki sikap Kyuhyun yang justru semakin mempersuram keadaan. Apakah Kyuhyun tidak pernah bisa membaca situasi?

“Lepaskan dia.”

Siwon memegang tangan pemuda itu dan menghempaskannya kasar. Ia membawa Kyuhyun untuk berlindung di belakangnya. Kyuhyun yang terkejut dengan kedatangan Siwon, hanya bisa mengerjapkan matanya bingung.

“Siapa kau? jangan ikut campur!”

“I’m him husband.”

Siwon menjawab penuh penekanan dan seperti sebuah bom yang meledak, jawaban itu mampu membuat Kyuhyun dan pria-pria itu terkejut dan sempat mati-matian menahan tawanya, kecuali Kyuhyun tentu saja.

“Husband?” Pemuda itu tertawa kencang.

‘Siwon. Calm down. Calm down.’

“Kau lebih pantas menjadi pengasuh anak ini.”

BUGH!!!
Kyuhyun semakin bingung ketika tiba-tiba saja, Siwon memukul pria itu membabi buta. Ia hanya diam tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak terlalu pintar berkelahi. Kalaupun, terjadi hal seperti ini, biasanya, Chanyeol yang akan melindunginya dan mereka yang berakhir dengan sangsi dari sekolah. Tapi, sekarang yang menyelamatkannya… Choi Siwon?

Kyuhyun tidak percaya Siwon mampu mengalahkan dan melumpuhkan kelima pria itu seorang diri. Pantaslah dia menyandang prestasi di bidang beladiri. Kemampuannya mumpuni.

“Ayo pulang,” ujar Siwon tergesa. Menggandeng Kyuhyun dan lari membawanya ke dalam mobil. Tanpa banyak percakapan yang berarti, mereka segera pergi dari tempat terkutuk itu.

“Siapa mereka? Bagaimana bisa kau berurusan dengan pemuda brandal seperti itu, hah?”

Kyuhyun mendengus kesal ketika indra pendengarannya menangkap omelan dari Siwon lengkap dengan sindiran-sindiran mengejek. Ayolah. Kyuhyun bukan anak kecil lagi.

“I ask you, Cho.”

“Chanyeol friend.”

“Huh? Dia pengaruh buruk untukmu?”

Kyuhyun menoleh menatap Siwon tak suka.

“He is my best friend, pabbo!”

Siwon menginjak rem dan membanting setir ke kiri. Memparkirkan mobilnya di tepi jalanan yang cukup sepi. Menatap mata Kyuhyun lamat-lamat.

‘Shit! What happening to him?’

Kyuhyun tidak tahu mengapa tatapan ini membuatnya gugup. Masih ajeg menatap dengan tatapan yang menurut Kyuhyun ‘aneh’. Tidak nyaman, takut dan juga canggung semakin dirasakan Kyuhyun saat ini. Oh, God.

“Si-siwon?”

Kedua lengan Siwon melingkar dengan santainya di pinggang Kyuhyun. Mata mesum itu semakin mendekat ke arah wajahnya. Tak ada kalimat, hanya seringai yang menakutkan bagi Kyuhyun. Siwon bahkan meletakkan tangannya di dagu Kyuhyun dan memaksanya untuk mendongak.

Kyuhyun tahu Siwon memang namja mesum yang tak tahu aturan. Dia kini berbisik di telinga Kyuhyun dan sesekali menjilatnya. ‘You are fucking, Siwon. You fuck!’

“Jangan berani-berani kabur dariku. Cho Kyuhyun-sshi.”

“Ngghhh…” Kyuhyun mati-matian menahan desahannya. Ia menjauhkan tubuh kekar Siwon dengan kedua tangannya yang bebas. But, He stronger!

“Hen. Hentikan. Nghhh… Ahh. Please, Siwon. Akhh.” Bibir Siwon mulai menjilati leher putih Kyuhyun. Begitu cepat hingga Kyuhyun tidak menyadarinya. Menghisap dan menggigit leher itu hingga membuat Kyuhyun merasakan sensasi yang begitu asing baginya. Kyuhyun terus memberi pukulan yang cukup keras di bahu Siwon. Tapi, itu tak pengaruh. Ia semakin dalam menggigiti bahu yang kini mulai dibukanya sedikit demi sedikit. Putih dan mulus, Siwon sempat terpana.

“No, no, no, Stop it! Siwon, please,”

Siwon menatap wajah cantik Kyuhyun yang kini memerah lengkap dengan wajah polos yang tak berdaya. Ini menyenangkan. Tiba-tiba saja, rasa lelah dan emosi berganti dengan seringainya yang mengerikan.

“Itu hukumanmu, babykyu.”

Tunggu. Siwon semakin dekat. Dekat dan…
CHUP.

KYAAAAAA!!!

Kyuhyun ingin mati rasanya ketika bibir Siwon mengecup singkat bibirnya. Bibir sucinya yang selama ini selalu dijaganya untuk tetap suci dan sekarang? Dia, Choi Siwon mengambil ciuman pertamanya? He did it! He really did it! Oh My God! It’s damn!

“Kau terkejut sekali. Kau masih menganggap itu ciuman pertamamu? Lucu sekali.” Siwon menahan tawanya ketika mengingat dialah yang telah mengambil ciuman pertama anak itu ketika Kyuhyun berumur enam tahun. Rupanya Kyuhyun tidak ingat akan hal itu. Dan tentu saja, saat Kyuhyun mabuk kemarin. Betapa beruntungnya kau, Choi Siwon.

“Kau!” Kyuhyun menunjuk Siwon dengan jari telunjuknya. Menatapnya penuh kebencian.

“You are fucking, Siwon. You fuck! I hate you forever, Choi idiot boy!”
BUGH!
Kyuhyun memukul perut Siwon telak membuat pria berlesung pipi itu meringis kesakitan.

“Ya!”

“Rasakan itu, Fucking boy!”

Kyuhyun tertawa puas dengan hasil kerjanya malam itu. Membuat Siwon kesakitan karena telah mengambil ciuman pertamanya.

“Dari mana saja kau?”

Kyuhyun menghela nafas sambil memandangi seorang pria yang kini tengah duduk dengan santainya di ruang tamu rumahnya. Pria yang sangat dibencinya. Tentu saja, Kyuhyun seharusnya bisa menduganya, pria idiot ini pasti akan mengadu pada ummanya. Ummanya memang lembut bagai bidadari tapi, jangan tanyakan ketika ia marah, ia bahkan lebih mengerikan dibanding Kyuhyun. Uh, mengapa Kyuhyun hidup di tengah-tengah orang-orang yang seperti ini?

“Untung aku segera menemukannya, umma.” Suara Siwon berhasil membuat Kyuhyun menoleh dan mengalihkan pandangannya dari Jaejoong yang siap menelannya hidup-hidup. Wajahnya sarat akan ejekan dan jangan lupakan senyum kemenangannya yang… idiot.

“Hai, umma. Annyeong haseyo, Heechul umma.” Kyuhyun membungkuk, berlagak sopan, setidaknya, ia ingin mendapat pembelaan dari sang calon mertua.

“Dari mana kau?” Kyuhyun kesulitan menelan air liurnya. Pandangan Jaejoong sungguh berbahaya.

“Hm… Chan-Chanyeol umma,” ujar Kyuhyun lengkap dengan cengiran khas miliknya. Siwon ingin tertawa namun ditahannya ketika mata Kyuhyun menangkap ekspresinya.

“Chanyeol? Sudah berapa kali umma bilang, dia itu brandalan tengik yang tidak pantas berteman denganmu!”

“Sudahlah, Jae. Dia masih muda, masih belum mengerti.”

Heechul menenangkan Jaejoong dan matanya mendelik pada sang putra yang masih berusaha menahan tawanya.

“Baiklah. Tapi umma akan menyita kartu kreditmu. No credit cards, no more. Ok.”

Kyuhyun serasa ingin pingsan mendengarnya. Tidak ada uang jajan? Lalu, bagaimana ia bisa membeli kaset-keset game yang sedang dibicarakan oleh teman-temannya? Oh, my.

“Heechul umma.” Kyuhyun mengerucutkan bibirnya dan wajah polosnya mengerjap frustasi ke arahnya. Heechul tidak tega. Wajah polos yang tidak pernah berdosa, bagaimana mungkin Jae tega menghukumnya seperti ini.

“This is not fair, Jae. This error also Siwon, the idiot boy, Jae.” Heechul menatap putranya seakan meminta Siwon membela Kyuhyun juga. Tapi, bukan Siwon jika mengalah untuk kalah. Ia hanya diam dan tak ambil pusing, toh cuma kehilangan kartu kredit.

“Sudahlah. Decision is final. I want to go sleep.”

Dan berakhirlah pembicaraan singkat itu dengan tawa yang menggelegar dari Siwon seakan mengejeknya. Tapi, Kyuhyun tidak bisa berbuat apapun selain pasrah menerimanya. Tentu saja, Heehcul berada di dekat Siwon dan Kyuhyun tidak ingin reputasinya sebagai anak kesayangan yang polos dan tidak berdosa terkubur sia-sia. Yah, ini menyebalkan.
OoO

Pagi yang cerah. Siwon masih tertidur dengan telanjang dada dan hanya memakai celana pendek miliknya. Menikmati hari libur yang aman tentram dan damai yah… kecuali kenyataan mengenai perjodohan, kembali bertemu dengan Cho Kyuhyun, kencan dengan Sulli yang batal. Oh, Tuhan! Siwon ingin segera mengubur Kyuhyun hidup-hidup, terlebih kenyataan bahwa dia telah memiliki hak milik atas apartement yang ada di sebelahnya, tepat di samping Siwon, tentunya dengan bantuan dana dari sang umma yang begitu, begitu, amat menyayanginya.

BIP. BIP. BIP.

Siwon mengerang ketika suara beep terdengar keras dari telepon di samping tempat tidurnya. Matanya mulai menyesuaikan diri dengan cahaya matahari yang telah muncul ke permukaan. Dengan malas, ia terbangun dengan wajah yang kusut karena kesal.

“My Son, Are you Ok? Kau sudah bangun? Bersiap-siaplah hari ini kita akan mengadakan acara untuk membicarakan pernikahanmu. Well, kuharap kau bisa datang tepat waktu. Pukul delapan di rumahku. Bye, Choi.”

Siwon mengerang lagi, duduk perlahan sambil mengusap wajahnya kasar. Meski begitu, ia tetap tampan kecuali kenyataan belum mencukur kumisnya beberapa hari. Ia berdiri dan membuka pintu menuju ke kamar mandi dan berakhir dengan mencuci wajah di wastafel karena terlalu stres. Seriously, dia benar-benar frustasi.

“Siwon?”

Kyuhyun mengejutkan Siwon yang datang tiba-tiba bagai hantu sesaat setelah ia selesai mendongakkan wajahnya. Wajah datar dan tidak bersalahnya membuat Siwon benar-benar berfikir Kyuhyun jelmaan hantu tadi tapi, setelah difikir-fikir, bukankah Kyuhyun memang pemuda datar tanpa rasa bersalah. Exactly! Jantungnya berdegup kencang dan dia mengumpat, masih tak rela Kyuhyun sekarang menjadi tetangganya dan juga membawa kunci duplikatnya. Sungguh sempurna untuk hidup yang telah kacau.

“Ada apa, sih?! Mengagetkan orang saja,”

“Kata Heechul, aku harus ikut denganmu.”

“Aish! Duduklah dulu atau lakukan apapun yang kau suka dan jangan ganggu aku selagi belum pukul delapan. Ok.”

“Oke.”

Kyuhyun duduk di sofa mengindahkan tatapan menusuk dan membunuh dari Siwon. Bagaimanapun, keberadaan remote televisi lebih penting dibanding hal-hal sepele seperti menenangkan Siwon akan hidupnya yang berubah kacau atau apalah yang sedang difikirkan olehnya. Ia mengintip ke bawah meja, tumpukan kertas dan sampah, pakaian kotor yang tergeletak di samping sofanya, namun belum juga menemukan remote yang dicarinya. “Sialan, dimana sih remotenya?”

“Kau bisa bersikap setenang itu setelah mendengar kata pernikahan?”

Siwon menengok setelah sebelumnya mengambil biji-biji kopi dan memasukkannya kedalam coffeemaker, ia tidak bisa hidup tanpa minuman pekat yang harus diminumnya di pagi hari itu.

Kyuhyun acuh saja. Ia duduk kembali ke sofa sambil matanya menatap jijik pada rumah berantakan seorang Choi Siwon.

“Aku tidak punya pilihan lain. Yah- You know, keluargaku bangkrut.”

Siwon mendesah frustasi. Lalu meminum kopi yang mungkin akan menghilangkan kepenatannya. Tidak berhasil, fikirannya masih penuh dengan kata-kata umpatannya sendiri.

“Aku akan pergi mandi.” Siwon berucap sebelum ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi, dengan Kyuhyun yang hanya bergumam sebagai jawaban. Sial, pemuda itu benar-benar mengacuhkannya.

Pukul delapan. Mereka kemudian masuk ke dalam restoran mewah yang mengharuskan menulis buku tamu untuk dapat masuk ke kelas VIP, tentu saja dengan bayaran yang cukup mahal. Kyuhyun sangat cantik mengenakan kaos yang dipadukan blazer dan Siwon yang terlihat manly dengan gaya kasualnya. Heechul masih asyik bercanda dan bergosip dengan Jaejoong, maklumlah ibu rumah tangga yang bertemu dengan teman lamanya.

“Jadi, kapan kalian akan menikah?” belum lagi pertanyaan dari sang calon mertua, Yunho yang membuat Siwon ingin segera memperkosa Kyuhyun saat itu juga. Ups,

“Terserah.” Jawaban yang ‘berlagak’ tak perduli meskipun di pikirannya, ia kini membayangkan bagaimana malam pertama mereka. Apakah Kyuhyun akan memukulinya? Atau menendang? Masih untung ditendang bagaimana jika dia tidak mendapat jatah seksnya. Uh, andwae!

“Umma, bagaimana kalau minggu ini?”

Semua menatap Kyuhyun tak percaya.

“Aku ada ujian bulan ini. Semakin cepat, semakin baik.” Datar. Ekspresinya selalu seperti itu. Berbeda dengan Kyuhyun yang dulu dikenalnya. Ia selalu tersenyum, merengek, merengut ataupun menangis. Mengungkapkan apa yang dirasakannya. Sekarang… bahkan Kyuhyun terasa begitu jauh.

“Kau yakin, sayang?” tanya Jae umma hati-hati. Sedangkan Heechul tertawa gembira dan memeluk Hangeng karena terlalu senang akhirnya Kyuhyun menjadi menantunya juga.

“Lalu aku bisa apa? Dipercepat atau ditunda toh akhirnya, aku akan menikah juga dengannya.” Heechul memeluk tangan Kyuhyun. Lembut lalu mengelus rambutnya perlahan.

“Mommy tahu, kau sedang sedih. Tapi, percayalah. Siwon adalah suami terbaik untukmu. Dan aku berjanji, akan menjagamu sebaik mungkin.” ujar Heechul lembut dan menenangkan.

Kyuhyun mengangguk dan lagi-lagi tanpa ekspresi. Siwon bisa melihat kilatan kesedihan disana. Bukannya Siwon tidak sedih. Ia juga sedih. Pernikahan tanpa cinta. Siwon tidak pernah membayangkan hal itu. Tapi, Siwon lebih bisa mengendalikan dirinya berbeda dengan Kyuhyun yang masih labil emosinya. Itulah perbedaan mereka dalam mengatasi perjodohan ini.

“Aku ke toilet sebentar,” ucap Kyuhyun dan langsung beranjak begitu selesai makan. Ia ingin menenangkan dirinya yang tiba-tiba menjadi bad mood ketika mengetahui bahwa pernikahannya adalah lusa. Yah, LUSA! Dipercepat bukan berarti harus Lusa, kan? Ah. Salahkan saja Heechul yang memperalat omongannya tadi.

“ARGGGHHHHH!!!!” Ia berteriak di depan bilik toilet dan seorang namja yang memandanginya tajam serta melotot ke arahnya. Ia mendelik balik, “Apa masalahmu?”

Namja tadi menggelengkan kepalanya, percuma mengurusi orang gila.

Sesampainya di dalam, Kyuhyun sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa salah seorang yang dikenalnya sedang mencuci tangannya di wastafel. Melalui kaca di depan wastafel, ia makin bisa melihat wajah tampan itu dengan jelas. Ia berdehem dan sedikit melirik memastikan bahwa orang ini benar-benar orang yang dikenalnya. Tidak lucu, kan jika dia salah memeluk orang dari belakang dan ternyata salah mengenali orang, Well,

“Uhm… Chanyeol?”

“Oh? Baby?”

Kyuhyun ingin muntah mendengar panggilan menjijikkan itu.

“Mengapa kau bisa disini?”

“Ayahku mengajakku sarapan disini bersama, Uhm… calon umma tiriku.”

Kyuhyun diam tak ingin melanjutkan, bagaimanapun, jika dia sudah bicara, mulutnya tidak akan terkontrol dan mungkin saja akan membuat Chanyeol kesal lalu membullynya habis-habisan di sekolah dengan geng preman, ah, geng pecundang menurut Kyuhyun. Bisa kacau hidupnya.

“Kulihat, kau bersama Heechul Ahjumma. Kau mengenalnya?”

“Kau kenal?”

“Yeah, dia adalah teman akrab ayahku dan kami bertetangga.”

AHAHAHAHA.
Dunia memang sempit.
Dan dunia memang kejam.

“Itu bagus, hehe.” Kyuhyun tertawa canggung dan meredakan kegugupannya. Bagaimana jika seluruh sekolah akan tahu ia akan menikah? Uh, asal tahu saja, kecepatan Chanyeol dalam menyampaikan gosip itu sungguh luar biasa. Melebihi kecepatan 1GB dan kecepatan cahaya. Benar-benar ember bocor, melebihi Kangin, teman sekelasnya yang berjuluk si manusia penggosip.

“Dan bersama, si brengsek sok kaya itu?”

“Oh, Siwon hyung, maksudmu?”

Chanyeol mengangguk dan matanya sarat akan dendam.

“Dia anak Heechul ahjumma. Tapi baru kembali ke Korea.”

“Pantas saja. Dia memang kaya. Tapi berlebihan. Itu bukan apa-apa dibanding ayahku. Yah, you know of course.”

Kyuhyun tersenyum terpaksa. Meladeni Chanyeol sebentar. “Yeah, itu menganggumkan, ayahmu.”

Chanyeol terkekeh, “Ah, biasa saja. Sungguh. Aku bukan miliuner yang berhati busuk.”

Tidak ada yang mengatakan kau adalah seorang miliuner berhati busuk, walau memang iya.
Okay, Kyu, kendalikan mulutmu.

“Baiklah. Aku rasa aku harus pergi. Sampai jumpa, Baby.”

“Hn,”

Chanyeol hanya terkekeh lalu meninggalkan Kyuhyun yang kini termenung sendirian. Jika Chanyeol tahu, tamatlah riwayatnya di sekolah. Kepala sekolah yang berkepala botak itu pasti akan mengeluarkannya dan jangan lupakan ejekan menyakitkan dari teman-temannya yang kelewat menjengkelkan itu. Ah, hidupnya hancur. Masa depannya suram.

“Menyedihkan.”

Kyuhyun merasa ada orang yang berbicara padanya. Ia menatap balik dan mendapati namja yang tadi melihatnya dengan tatapan mengejek dan juga sinis.

“Kau ada masalah denganku?”

“Tidak.”

Kyuhyun lebih memilih mengabaikan si namja berbadan tinggi yang tengah menatapnya penuh tawa mengejek. Ayolah, dia sudah cukup pusing, bingung dan muak dan ditambah lagi pria tidak dikenal yang terus menatapnya dengan tatapan sinis yang bagai dentungan kematian baginya, atau mungkin perasaannya saja?

“Lama sekali, sayang.”

“Maaf, umma.” Kyuhyun menjawab Heechul dengan malas. Sebelum Heechul sempat bertanya mengenai apa yang terjadi pada Kyuhyun, sebuah suara yang familiar mengurungkan niatnya. Ia berdiri dari duduknya dan memeluk rombongan orang-orang yang tengah berbincang dengannya. Kyuhyun tidak perduli, ia masih menunduk merutuki nasibnya sendiri.

“Oh iya, perkenalkan semuanya, ini Cho Kyuhyun. Calon menantuku. Kyuhyun-ah, perkenalkan dirimu!” ucap Heechul lembut. Dengan ogah-ogahan, Kyuhyun berdiri dan mendongak.

Pria itu. Pria tinggi yang menatapnya sinis dengan tatapan mengejek yang menjijikkan.

“Ah. Annyeong haseyo, Cho Kyuhyun imnida.” Kyuhyun menunduk dengan muka bak malaikat lengkap dengan senyum manis yang menawan bagai anak anjing. Junsu memekik senang melihat calon menantu Heechul itu ternyata sangat cantik. Dari dulu, mereka memang menginginkan menantu yang cantik-cantik dan manis untuk anak-anak tampan mereka.

“Wah, cantik sekali,”

Kyuhyun tersenyum canggung.
Sial, aku tampan!

“Kenapa tidak langsung ikut bergabung disini, Junsu?”

“Ah. Iya. Tadi ketika melihatmu, aku ingin menyapamu tapi terlihat sekali bahwa kalian sedang serius membicarakan sesuatu. Aku kan jadi tidak enak.” Heechul menggeret Junsu untuk duduk.

“Kau ini. Seperti orang lain saja. Ah, Changmin, kau juga semakin tampan dan tinggi, ya.”

Pria menjijikkan itu tersenyum lembut berbeda dengan senyum mengejek ketika Kyuhyun terpuruk tadi.

“Dia. Siapa umma?” tanya Kyuhyun memecah keheningan. Heechul tertawa lalu memeluk Junsu agar lebih dekat dengannya.

“Dia adalah adikku, Kyu. Dan ini, Changmin, anaknya.”

Ahahhahahahaha…
Betapa sempitnya?
Sesempit apa dunia ini?
Kenapa harus dia? Namja yang menyebalkan.
Kenapa harus dia yang mengalami posisi ini?
Kenapa?
Kenapa?
0oO

Hari ini adalah hari yang terburuk baginya. Besok, yang seharusnya hari libur Nasional. Dimana seharusnya, ia berkencan dengan semua game-game abadinya atau dia yang pergi bersama dengan Kibum atau dengan Chanyeol yang akan dengan senang hati membelikannya kaset game edisi terbatas. Lalu apa? Besok adalah hari pernikahannya. Pernikahan yang sederhana karena pihak keluarga bodohnya tidak ingin Kyuhyun yang masih sekolah diketahui oleh orang-orang telah menikah. Pernikahan yang cukup melegakan karena dengan begini, Chanyeol bedebah itu tidak akan mengetahuinya dan situasi dapat terkendali. Setidaknya, entah sampai kapan.

“Baby, boleh ya calon suamimu ini mengetahui apartement barumu? Ya?”

“Ya! Lepaskan aku, Yeol.”

Chanyeol suka sekali ketika Kyuhyun mengucapkan namanya. Dengan begitu, mulutnya akan mengerucut imut ketika mengucapkan kata ‘Yeol’ ah… sungguh imut.

“Kau imut sekali, baby.”

“Lepas!”

Kyuhyun mendelik dan meninju lengan Chanyeol dengan sadis membuat sang pemilik lengan memekik tertahan. Kyuhyun beranjak dengan tas ransel yang telah dibenahinya.

“Lihat apa? Aku mau pulang!”

“Boleh ya aku mengantarmu?”

Kyuhyun mengabaikan Chanyeol yang masih memasang wajah minta dikasihani tapi itu tak berpengaruh bagi iblis sepertinya. Meskipun, sebenarnya, ia tidak tega tapi bagaimana jika Chanyeol tahu bahwa sekarang ia tinggal sebelahan dengan pria brengsek satunya lagi?

“Jika kau mengikutiku lagi, tamat riwayatmu!”

Chanyeol menekan dadanya dengan salah satu tangannya yang bebas, seolah-olah menunjukkan gesture dramastis yang memang selalu diperlihatkannya pada Kyuhyun. Tapi, tentu saja itu tak berpengaruh apapun bagi Kyuhyun yang memang memiliki hati iblis.

“Kau kejam, Baby.”

“Terserah!”

Dan Chanyeol yang hanya bisa cemberut menatap kepergiannya. Kyuhyun menghela nafas ketika sudah cukup jauh dengan sunbaenya yang cukup menyebalkan itu. Kini, ia sedang menunggu Siwon datang menjemputnya.

“Masuklah,” ucap Siwon sambil membuka kaca jendelanya. Dengan wajah yang pucat karena cuaca, Kyuhyun segera saja masuk ke dalam mobil karena tidak tahan dengan cuaca dingin saat ini. Ia mengeratkan mantel tebalnya. Kedinginan. Suasana hening, hanya ketika Siwon mendapat panggilan di ponselnya, suaranya mulai terdengar. Kyuhyun hanya diam menatap pemandangan dari luar jendela.

“Ya, mommy. Aku bersama Kyuhyun sekarang.”

“Hari ini hujan, kan? Jangan biarkan dia terkena satu tetes airpun, You know, Kyuhyun mudah sakit jika terkena air hujan. Siapkan air hangat untuknya setelah pulang, ne?”

Siwon melirik Kyuhyun yang mulai menggigil sekarang. Merasa bersalah karena kecerobohannya yang membiarkan Kyuhyun terkena air hujan tadi. Siwon menyesal. Dia lupa bahwa Kyuhyun memang rentan terhadap udara dingin.

“Arraseo, mommy. Mommy dapat percaya padaku untuk merawatnya.”

“Ok. I trust you. Take care, baby.”

“Ne. Bye mommy. Love you.”

“Love you too, my son.”

Siwon menutup sambungannya dan mempercepat laju mobilnya, berharap dengan begini, mereka akan segera sampai ke apartement dan Siwon bisa merawat Kyuhyun disana.

“Kau istirahat saja, Kyu. Maaf membuatmu seperti ini.” Siwon bergumam lembut seraya mengompres Kyuhyun menggunakan air hangat. Ia juga menyelimuti Kyuhyun dan memasang heater untuk memanaskan ruangan yang masih saja sama dinginnya bagi Kyuhyun.

“Apakah kau lapar? Mau aku buatku bubur?”

“Tidak, hyung. Aku tidak suka makanan lembek dan hambar macam itu. Makan nasi saja ya? Aku, kan tidak sedang sakit, hyung.”

Siwon tersenyum melihat Kyuhyun merengut dan merajuk seperti itu. Entah disadari atau tidak, ia mengecup kening Kyuhyun lama dan membuat Kyuhyun tiba-tiba terkena serangan jantung mendadak. Tubuhnya yang semula kedinginan menjadi lebih hangat dan dadanya berdetak lebih kencang dibanding biasanya.

“Baiklah. Aku akan membeli makanan matang untukmu. Kau tunggu disini, ya? Jaljayo.”

Kyuhyun masih tak bergeming. Matanya mengerjap bingung dan pipinya memerah saat pria yang mengambil ciuman pertamanya itu telah pergi dari hadapannya, meninggalkan suatu rasa yang aneh baginya. Dimana ada suka cita dan juga malu disaat yang sama diperlakukan selembut itu oleh pria yang akhir-akhir ini menjadi musuh bebuyutannya. Ok, stop thinking about that, Kyu! Dia tidak benar-benar baik padamu! Dia hanya merasa bersalah. Ok?

“Kau bodoh, Kyu!”

Kyuhyun memukul kepalanya sendiri ketika lagi-lagi perasaannya seperti ini. Untuk apa ia mengharapkan Choi Siwon seperti dulu menjaganya? Semua sudah berubah. Tak ada lagi Choi Siwon yang dulu selalu melindunginya, selalu menuruti keinginannya. Dan, tak ada lagi Choi Siwon yang akan selalu mengatakan suka seperti dulu. Saat kata suka itu terucap, Kyuhyun merasakan debaran yang sama yang selalu membuatnya merindukan Choi Siwon.

Hari pernikahan berlangsung. Kyuhyun bergerak gelisah dan Siwon yang bosan melihatnya mondar-mandir tak tentu arah seperti itu. Tapi, toh dia hanya membiarkannya dan sibuk dengan Iphone canggihnya.

“Jika kau berani menciumku, kuhajar kau dirumah, Siwon-sshi!”

Siwon mendengus malas.

“Lalu bagaimana? Dimana-mana setelah menikah dan mengucapkan janji, kita harus berciuman di depan mereka, bukan?”

“Tetap saja! Kau tidak boleh menciumku!”

“Sudahlah, Kyu. Lagipula, kita sudah berciuman, kan. Tidak masalah mengulanginya sekali lagi.”

“Cium saja pipiku.” Lucu. Solusi yang tidak membantu. Mana ada hal seperti itu. Kalaupun ada, Siwon lebih memilih tidak ada dan menikmati bibir itu sepuasnya.

“Sudah, Wonnie. Lakukan saja.” Heechul datang dan membelanya. Selalu seperti itu, kan. Heechul bagai malaikat bagi Kyuhyun dan setan bagi putranya sendiri. Siwon menghela nafas kesal dan Kyuhyun yang tersenyum senang.

“Cium pipiku, stupid boy!” ancam Kyuhyun ketika Siwon sudah ancang-ancang menciumnya. Siwon menyeringai dan mencium pipinya. Kyuhyun bernafas lega. Tapi, tunggu dulu… Siwon menjilat pipinya. Dengan cara yang sensual, ia mengemut dan menjilat dengan gerakan lambat.

“Si-siwon.”

“Nikmati saja, my princess.” Dan itu berlangsung cukup lama. Kyuhyun hanya diam saja dan menunggu Siwon menikmati kegiatannya. Beruntung, Kyuhyun didandani seperti pengantin gadis, ia memakai renda yang dapat menutupi perbuatan mesum sang suami. Untung saja.

“Hai, selamat ya, Kyu.”

Kyuhyun yang sialnya mengenakan gaun dan hampir tersandung gaunnya sendiri, menoleh pada Changmin yang menaik-naikkan alisnya.

Uh, Sok kenal, sok dekat.

“Kau tahu, Shim Changmin. Dari beribu-ribu miliaran orang, kenapa harus kau yang menjadi sepupu suami brengsekku.”

“Dan juga, dari banyak gadis yang dikencani oleh sepupu tololku itu, kenapa harus kau yang menjadi istrinya. Kasihan sekali Choi Siwon.”

Kyuhyun melepas sepatunya berniat melempar Changmin tepat di kepalanya tapi karena Changmin punya gerak reflek yang bagus, sepatu jinjit itu justru melenceng dari rencana awal. Sepatu itu justru mengenai tengkuk suaminya yang sedang berbincang-bincang dengan sepupunya yang lain. Kyuhyun melambai innocent dan memamerkan gigi-gigi putihnya. Tawanya seperti anak-anak dan sangat manis. Siwon yang melihatnya hanya pergi berlalu dan tidak terlalu mempermasalahkannya.

“Huwaaaa!!!” Changmin segera saja berlari ketika Kyuhyun sudah ancang-ancang akan melemparnya lagi. Dan… kena kali ini.
0o0

Pagi yang cerah, secerah hati sang namja yang tingginya melebihi batas kenormalan, Park Chanyeol. Sedari pagi, namja ini mengikuti kemanapun sang pemuda cantik pergi. Ke kantin, perpustakaan, dan dimanapun dia berada. Merengek meminta sang pemuda yang masih tidak menghiraukannya untuk bersedia menjadi pendampingnya di acara pesta sekolah mereka.

“Sudah aku bilang, kan. Jangan ikuti aku dan aku sudah punya kekasih, Park Chanyeol!”

“Kekasih? You’re liar! Mana kekasihmu? Kau tidak pernah mengenalkannya padaku.”

“Apa yang harus kulakukan agar kau percaya? Dan berhenti menggangguku!”

“Kalau begitu telfon dia!”

“Baiklah jika itu maumu. Tak masalah.”

Kyuhyun tidak main-main. Ia benar-benar mengeluarkan Iphone miliknya dan entah bagaimana, yang ada difikirannya adalah sang suami. Jadilah, dia yang menghubungi Choi Siwon.

“Hallo, hyung?”

“What?”

“Sayang, apakah kau sibuk?” tanya Kyuhyun berbasa-basi. Tangannya sudah berkeringat dingin dan jantungnya berdebar kencang karena Chanyeol masih memperhatikannya tajam. Bagaimana ini?

“Apa? Kyu, kau salah minum obat?”

“Baguslah jika aku tidak sedang mengganggumu. Aku merindukanmu, sayang. Kapan kau akan menemuiku?”

“Huh?”

“Secepatnya? Baguslah karena aku sudah merindukanmu. Temanku tidak percaya bahwa aku telah memiliki kekasih sehingga dia sering menggangguku, sayang.”

Jeda. Siwon sepertinya berfikir akan sesuatu. Dan Kyuhyun berharap, Siwon segera sadar apa yang terjadi dan membantunya kali ini.

“Chanyeol, kah?”

“Hm. Iya, sayang.”

Siwon menyeringai.

“Jadi kapan kau akan menemuiku? Aku merindukanmu, sayangku.”

“Kapanpun itu aku mau menemuimu, Kyu. Bagaimana jika kita bertemu saat aku mendorong penisku ke dalam lubangmu dan kau mengerang. Bagaimana?”

JDER!

Kyuhyun merasa wajahnya memerah, kurang jelas ekspresi marah atau malu, raut wajahnya tidak bisa ditebak. Chanyeol yang melihat Kyuhyun mengernyit, menatap dengan pandangan ‘Apa- yang- kalian- bicarakan’ dan Kyuhyun yang masih tersenyum canggung berusaha menetralisir wajahnya agar Chanyeol tidak terlalu curiga.

“Benarkah? Baguslah. Aku tunggu, ya.”

“Dengan senang hati. Oh, dan juga, tidak akan berakhir semudah itu. You Know, satu klimaks saja tak akan cukup. Mungkin aku akan melakukannya hingga kau mengerang sampai pagi. Mendesah hingga lubangmu basah dan lengket oleh spermaku. Menjilat tubuh erotismu dan menelan seluruh juniormu di mulutku, lalu…”

“Begitukah? Aku juga sangat merindukanmu. Aku rasa kau cukup sibuk hari ini.”

“Sibuk? Benar. Sibuk memikirkan lubang hangatmu, sayang.”

“Kurasa itu dulu, sayang. Aku tidak mau mengganggumu. Bye, sayang. Love you so much.”

“Penisku mencintaimu juga, Kyu…”

Kyuhyun menutup teleponnya dan tersenyum lembut pada Chanyeol untuk menyembunyikan rasa jijiknya.

“See?”

“Uh. Okay.”

Chanyeol menggaruk tengkuknya canggung. Ia sedih mengetahui kenyataan bahwa pemuda yang telah lama diincarnya ternyata telah memiliki kekasih. Mungkin, Chanyeol harus menyerah untuk kebahagiaan Kyuhyun. Bagaimanapun, kebahagiaan Kyuhyun adalah yang utama untuk seorang Park Chanyeol.

“Baiklah, anak-anak. Hari ini, saya ingin memperkenalkan kalian pada guru baru yang akan mengampu mata pelajaran sejarah. Silahkan, Siwon-sshi.”

Ryeowook teman sebangku yang juga teman baik Kyuhyun menoleh ke arah Kyuhyun yang terlihat acuh mendengar nama guru baru itu sama dengan nama suaminya. Memang hanya Ryeowook dan Kibumlah yang diundang Kyuhyun ketika upacara pernikahan dan Ryeowook yang menjerit histeris karena suami Kyuhyun yang sangat tampan.

DEG!
Apa?

“Annyeong Haseyo, Choi Siwon imnida. Saya adalah guru baru kalian. Semoga kita bisa saling bekerja sama, ne.”

Ryeowook melongo dan Kyuhyun menelan ludah. Seluruh siswi bersorak kegirangan mengetahui guru mereka setampan dan sekeren itu. Kelas mulai ramai dan karena hal itu, Kibum menjadi bangun dari tidur panjangnya. Tangannya masih mengucek matanya yang kini telah berganti memakai kacamata. Menatap sang guru baru dengan pandangan bingung.

“Ada apa, sih?”

Kyuhyun yang kesal memukul belakang kepala Kibum yang memudahkannya melakukan itu karena Kibum duduk di depan bangkunya. Kibum mengaduh kesakitan.

“Kau tidak lihat! Guru baru itu adalah suamiku!” bisiknya sambil bergumam. Kibum menoleh dan menatap lurus ke depan lagi ketika akhirnya ia bisa melihat sang pria yang telah berhasil mengawini iblis macam Kyuhyun. Benar-benar tidak beruntung, eoh? Unlucky boy.

Tampan.
Gagah.
Manly.

Sayangnya, Kibum lebih suka menjadi yang diatas untuk urusan ranjang.

“Oh…”

“Hanya itu reaksimu?”

“Lalu? Harus apa?”

Kibum memang baik. Meskipun dingin dan acuh namun, dia hanya idot saja.

“Kyu, tenanglah. Kita hanya harus mengerjainya, kan?”

Ryeowook adalah teman satu jiwanya. Bersatu untuk mengerjai dan membuat kesal semua teman-teman sekelas, guru-guru baru dan juga adik kelas mereka yang terlihat lemah untuk dibully. Kibum menoleh dan membenarkan letak kacamatanya.

“Oh. Begitu. Baiklah, aku ikut.”

Kyuhyun tertawa lebar dan masih menatap Siwon yang balas menatapnya tersenyum.
‘Mati kau Choi Siwon!’

TBC.
Maafkan Sabrina jika kata-katanya Kyuhyun cenderung kasar dan Siwon yang mesum tingkat dewa kayak gitu. Maklumlah, sering dicecokin temen sabrina hal-hal yg berbau mesum. #plak
Jadi, review ne. Gamsa,

My Husband, Hotter than my Fantasy Chapter 1

{Judul awal, My Teacher My Husband, saya ganti karena terlalu banyak judul yang sama.}

My Husband, Hotter than my Fantasy
Chapter 1

“Pertemuan kembali”

Pagi itu, seperti biasa, keluarga Cho akan terdengar gaduh. Sudah menjadi rutinitas bahwa anak tunggal mereka akan terlihat bertengkar dengan Choi Siwon- anak bungsu keluarga Choi yang merupakan tetangga mereka. Entah itu memperebutkan sesuatu, berbeda pendapat, atau saling mengejek. Kedua orangtua mereka harus banyak bersabar menghadapi mereka.
“Ini milikku, stupid boy!” namja yang lebih muda berteriak kencang sekali.
“You’re an idiot, It’s my mine. Mommy, right?” Choi Siwon, yang lebih tua bukannya mengalah, ia justru mengadu pada ibunya. Ibu Siwon terlihat tidak enak pada Ny. Cho yang hanya terkekeh pelan.
“Ne, itu milikmu, Siwonnie.” Ny. Cho membenarkan yang berlanjut dengan rengekan dari putra tunggalnya.
“Andwae! It’s my mine.”
Ny. Cho buru-buru memisahkan mereka. Lalu menggendong sang putra ke pangkuannya. Mengatakan dengan hati-hati bahwa mainan yang sedang diperebutkan adalah milik Choi Siwon. Ny. Cho ingin mengajarkan pada mereka bahwa mencuri dan menggunakan barang milik oranglain adalah salah. Tapi salah dimengerti oleh sang putra. Ia menghentakkan kaki-kaki mungilnya dan pergi begitu saja. Ke kamarnya.
“You alright? I’m sorry,” ujar Siwon menyesal. Ia menghampiri Kyuhyun dan memegangi tangannya.
“Pergi! Aku membencimu,” ujar Kyuhyun kecil sedikit merengut. Ia bahkan tidak mau menatap Siwon meski hanya beberapa detik.
“I’m sorry. Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?”
Kyuhyun kecil menoleh dan tersenyum manis.
“Berikan aku mainan robotmu!”
“Mwo? Aniya.” Kyuhyun terdiam. Mata beningnya sudah akan mengeluarkan air mata namun, sebelum Kyuhyun mulai menangis, Siwon yang saat itu berumur sembilan tahun langsung memeluk tubuh mungil Kyuhyun.
“Uljima. Nde. Kau boleh memilikinya.”
“Jinjayo?”
“Tentu saja.” Mantap Siwon. Ia menatap mata bulat Kyuhyun yang bening laksana rembulan. Wajah putihnya yang halus tanpa cela juga bibir penuh yang terlihat seperti permen. Siwon ingin mencicipi rasa bibir itu. Pasti manis.
“Hm. Kyunnie.”
“Nde, hyung?”
“Tutup matamu.”
“Untuk apa?” tanya Kyuhyun tak mau begitu saja menurut.
“Just close!” Kyuhyun merengut sebentar lalu menutup matanya. Begitu tertutup, Siwon segera saja mencium bibir mungil itu. Mencumbunya, mengemut seolah bibir Kyuhyun adalah permen. Manis dan memabukkan. Ia juga menghisapnya kuat-kuat karena terasa sangat lembut. Menghisap penuh gairah. Ia seolah lupa bahwa Kyuhyun masih terlalu kecil untuk mengetahui hal-hal seperti itu. Ayolah, Kyuhyun bahkan masih berumur enam tahun dan terkadang masih mengompol.
“Apa itu, hyung?”
“Sekarang, buka mulutmu!” Siwon yang bingung dengan jawabannya lantas menggantinya dengan sebuah perintah. Karena Kyuhyun masih terbayang robot mainan milik Siwon, mau tak mau, ia menurutinya dengan sabar. Kyuhyun membuka mulutnya.
Siwon dengan cepat lalu memasukkan lidahnya. Memutar-mutar lidahnya mencoba mencari posisi yang menyamankannya. Ia juga melilit lidah mungil Kyuhyun untuk kemudian menyedotnya kuat. Kyuhyun kecil sedikit jijik dengan perlakuan Siwon namun tidak menolak. Toh, ia juga sering mengemut dan menggigit jari jempol Siwon. Mungkin, Siwon ingin membalasnya, begitu fikir sang bocah lugu. Uh, Siwon, You’re an lucky!
Karena Siwon terlalu bernafsu, Kyuhyun terjatuh dan tubuhnya terbaring di ranjang. Siwon masih melanjutkan pagutannya. Lebih dalam dan menekan tengkuk sang namja cantik.
Mendesah ketika bibirnya makin merasakan manisnya bibir mungil tersebut. Berbeda dengan Siwon yang mendesah-desah, Kyuhyun kecil yang tak mengerti apapun, tidak mendesah dan hanya memejamkan matanya. Ia merasa nikmat namun tak mengerti apa yang tengah menyerang bibirnya. Ia dengan patuh masih terus menutup matanya.
“Kyunie, bisa kau rahasiakan apa yang barusan terjadi?” Siwon memberikan robot mainannya dan Kyuhyun yang mengangguk patuh.
“Ne, hyung.” Mereka bergandengan tangan sepanjang jalan. Kyuhyun yang tak tahu apapun dengan riang, memainkan robot mainannya sedangkan Siwon, ia tersenyum lega. Pasalnya, setelah ciuman yang membuat bibir merah Kyuhyun bengkak, tangan Siwon juga sempat menggrayangi tubuh mungil itu. Dan yang lebih parahnya, tangan Kyuhyun dituntunnya untuk mengurut junior kecilnya. Siwon benar-benar mesum.
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu, Kyuhyun yang manis berubah menjadi namja menyebalkan yang sedikit agak- freak dan tumbuh menjadi namja yang keras kepala. Mereka tak lagi dekat karena baik Kyuhyun maupun Siwon melanjutkan sekolah mereka di Luar negeri. London, Kyuhyun dan New York Siwon. Meski terkadang mereka sering bertemu ketika keluarga mereka berkumpul. Yah- keluarga Choi dan Cho masih sangat akrab.
“Mommy? Ada apa?” Siwon sedikit terkejut ketika sang ibunda yang terkenal sangat galak itu tiba-tiba datang ke apartmentnya.
“Siapa dia?” tanya Heechul, ibu Siwon yang kini memandang tak suka ke arah seorang gadis yang berpakaian seksi. Baginya, Kyuhyun jauh lebih cantik dibanding gadis murahan ini.
“Ah- temanku, Mommy.”
“Bagus sekali. Baru satu minggu kau kembali ke Korea sudah berani membawa gadis ke rumah.” Sindir Heechul tajam. Ia bahkan mendekati gadis itu dan menarik tali branya dari dressnya. Sontak, sang gadis terkejut bukan main.
“Syukurlah, kau masih pakai bra.”
“Mommy!”
“Maaf. Saya permisi dulu.” Sang gadis buru-buru pamit. Siwon melotot ke arah sang umma yang kini dengan santainya duduk di sofa dan mengacuhkannya.
“Mommy, berhenti berbuat seperti ini. I’ve grown now. Aku berhak mendapatkan pendamping.”
“Maksudmu, gadis murahan yang seperti wanita bugil itu? Mommy tidak sudi mempunyai menantu seperti itu.”
Siwon ikut duduk di sofa. Heechul itu benar-benar keras kepala, akan percuma membantah atau berdebat dengannya. Lebih baik menanyakan apa maunya. Itu lebih baik sekarang.
“So? What kind of law do you want, mommy?”
“Kyuhyun. Mommy ingin mempunyai menantu seperti dia.” Heechul tersenyum antusias. Sedangkan Siwon? Jangan tanya. Dia hanya bisa melongo tak percaya. Kyuhyun? Oh, ayolah. Terakhir yang ia dengar, Kyuhyun terlibat perkelahian dengan sesama pelajar. Melanggar lalu lintas dan mendapatkan banyak surat tilang, belum lagi sikapnya yang sedikit- kasar. Ok, Siwon akui ia dulu sempat jatuh cinta pada pemuda cantik itu tapi itu dulu. Cinta pertama. Apalah arti cinta pertama untuk pria seusianya. Dulu dan sekarang adalah sesuatu yang berbeda.
“Are you kidding, mommy? Stop it, This is not funny.” Siwon ingin mati rasanya ketika sang umma justru tersenyum dan menggeleng. Apa ini? Ini tidak mungkin.
“Kau tahu, keluarga Cho terlibat hutang karena anjloknya saham perusahaan mereka. It is an opportunity for us.” Tampaknya sang umma benar-benar gila menganggap hutang keluarga Cho sebagai suatu kesempatan.
“Lalu?”
“Ayahmu bilang, kita bisa menggunakan ini untuk menikahkan kalian. Hangeng akan memberikan dana yang dibutuhkan perusahaan keluarga Cho dan… Kyuhyun akan jadi menantu kita.” Tsk! Ummanya sekarang benar-benar gila, lengkap dengan teriakannya yang bagai dengungan kematian bagi Siwon. Lengkap sudah penderitaan seorang Choi Siwon.
“Jadi?” Siwon tak mengerti. Ia kini dipaksa-paksa oleh ummanya untuk menjemput Kyuhyun di sebuah club malam. Sebenarnya, meski Siwon itu mesum, ia tidak pernah- atau jarang ke tempat seperti ini. Ia tidak terlalu suka kebisingan.
“Jadi jika kau tidak membawa Kyuhyun pulang ke apartementmu, kau akan mati, Choi!”
Mendengus.
“Kau juga Choi, Mommy!” Heechul melambaikan tangannya. Meninggalkan sang putra yang hingga kini masih menggumam tak jelas.
“Hah.” Siwon dengan tak rela, akhirnya mencari keberadaan Kyuhyun. Ketemu. Pria itu tak sulit dicari selain karena dia –ehem- cantik, dia juga gampang jadi pusat perhatian. Bayangkan saja, Kyuhyun kini tengah berteriak-teriak bagaikan orang gila. Sambil mabuk, ia memegangi kerah orang-orang yang lewat seakan menantangnya.
“Kyu.” Siwon menghentikan perbuatannya sebelum benar-benar terjadi keributan besar. Ia juga mewakili Kyuhyun untuk meminta maaf kepada orang-orang.
“Brengsek! Apa-apaan keluarga Choi itu, menyuruhku menikah dengan putranya. Menikah? I was young, and I did not want to marry now. Brengsek!” umpat Kyuhyun kesal. Ia bahkan membanting Iphonenya dan hancur berkeping-keping.
“Hey! Just relaxed. Tell me what’s going on?” Siwon mencoba mengajak bicara Kyuhyun. Meski, ia tahu masalah yang tengah dihadapi pemuda ini. Yah- masalah yang sama dengannya.
“Relaxed? Are you kidding? Menikah dengan orang yang tidak begitu aku kenal. Menikah di usia muda. Kau kira aku bisa tenang jika masa mudaku direnggut? Of course not, sir.” Siwon ingin tertawa ketika mendengar Kyuhyun memanggilnya tuan. Sepertinya, Kyuhyun masih belum tahu bahwa calon suaminya lah yang kini sedang bicara dengannya. Kyuhyun benar-benar mabuk.
“So? What to do? Menabrak mobilnya atau membakar perusahaannya? Begitu? You’re crazy if you do it, Kyuhyun-sshi,” ujar namja bermarga Choi itu sedikit terkekeh.
“Oh, yes, I’m crazy.” Kyuhyun mengacak-acak rambut pirangnya lalu menegak segelas vodka lagi sekali tenggak.
“Stop, Kyu! Kau terlihat menyedihkan.” Siwon menjauhkan gelas-gelas vodka lainnya. Ia bahkan memelototi sang bartender yang akan memberikan Kyuhyun minuman lagi.
“Apa yang harus aku lakukan, sir? Aku benci menjadi lemah.” Siwon bisa melihat ada genangan air di sudut matanya. Siwon mengenal Kyuhyun cukup baik. Meski dia terlihat kasar, freak, dan berlidah tajam, tetapi, dia itu sebenarnya sangat sensitif. Mereka berteman baik semenjak kecil namun saling terpisah ketika keluarga mereka pindah ke luar negeri. Dan sekarang, mereka bertemu kembali ketika sudah saling beranjak dewasa.
“Home first, ok?” Siwon dengan sabar, memapah Kyuhyun yang sudah mulai tak sadarkan diri. Membayar supir pengganti dan mengantarnya ke rumah. Kyuhyun tinggal dengan kedua orangtuanya, berbeda dengannya yang tinggal di apartment seorang diri. Mungkin karena Kyuhyun masih seorang pelajar.
“Ah… Choi brengsek!”
Oh my God. Bahkan di tidurnya, Kyuhyun masih sempat-sempatnya mengumpat dirinya.
“Ah. Kau berat sekali, Kyu.” Siwon berbaring di ranjang di sebelah Kyuhyun. Menghela nafas sebanyak-banyaknya setelah memapah Kyuhyun hingga ke apartmentnya. Sungguh melelahkan. Ia akan menghubungi sang umma untuk mengantar pemuda brandal ini ke rumahnya; karena Siwon tidak tahu alamat rumah Kyuhyun, sebelum sang pemuda kembali merancau tak jelas.
“Hah. Panas sekali disini.” Kyuhyun tidak berhenti meracau. Karena lelah dan sudah kehabisan akal, Siwon segera membekap mulutnya dengan tangan kekarnya. Tapi, Kyuhyun berontak. Ia terus meronta dan terlepaslah tangan Siwon. Kyuhyun hampir terjatuh dan Siwon memegangi pinggangnya.
Ternyata pinggang Kyuhyun sangat ramping, begitulah pikiran Siwon. Sungguh, meski sudah hampir satu jam mereka bersama, tak pernah sekalipun pikiran itu berkelebat di benak Siwon. Pikiran-pikiran kotor. Katakanlah, dia mesum, nasty, atau naughty. Yang jelas, saat ini, Kyuhyun begitu sangat… Ah… menggoda.
“Chanyeol, Do not touch my ass,” ujar Kyuhyun sedikit bergumam ketika Siwon meremas bokongnya.
“Ternyata ini juga sangat gempal, eoh, Cho Kyuhyun.” Siwon sudah hilang kendali. Meskipun, Kyuhyun sedang mabuk dan tidak menyadari perbuatannya, ia tidak perduli. Omong kosong dengan logika.
“Ah, No, not there.” Kyuhyun sedikit menolak ketika tangan Siwon memegang daerah selangkangannya. Namun, dengan keras kepalanya, Siwon tetap menggoda daerah-daerah itu. Ia senang dan semakin terangsang ketika mendengar lenguhan Kyuhyun.
“Kiss me. Do whatever you want, Chanyeol!”
Chanyeol? Pacarnya kah? Persetan soal itu.
“Of course, dear. Anything for you.” Siwon menyeringai. Ia mencium Kyuhyun tiba-tiba. Bibirnya menghisap bibir kemerahan itu hingga membengkak dan melumatnya penuh nafsu dan kasar. Menghisap, menjilat, mengemut, memainkannya sesuka hatinya. Ini menggairahkan. Bagaimana mungkin dia tidak sadar bahwa selama satu jam ini ia menyia-nyiakan kenikmatan seperti ini. Oh. Bibir ini sungguh manis dan penuh.

Thing. Thong.

“Shit!” Siwon mengumpat. Dengan hati-hati, ia membimbing Kyuhyun untuk kembali berbaring di ranjang. Berniat membuka pintu dan mengomeli siapapun yang telah mengganggu aktifitasnya.
Clek
“Mommy?” Siwon mendengus tak suka. Dengan begini, dia tidak akan bisa melanjutkan yang tadi- ehem- mencium bibir Kyuhyun yang begitu manis. Uh. Lupakan, Choi Siwon!
“Dimana dia?” tanya Heechul seketika. Merindukan sang calon menantu kesayangan.
“Yeah- He was in the room. Sleep.” Siwon membuka pintunya lebih lebar seraya menunjukkan dimana letak kamarnya.
“Mau minum apa, Mommy?” Siwon mengambil gelas di meja dan membuka kulkasnya. Mengambil Jus jeruk dan menuangkannya cepat-cepat, mungkin dengan begini, mommynya akan cepat pulang. So childish!
“Aku akan lama disini, jadi jangan harap kau bisa mengusirku dengan jus jerukmu itu.”
Siwon tersenyum canggung. Apakah Heechul memang bisa membaca pikirannya?
Siwon duduk di sofa tepat di sebrang Heechul. Dia berkali-kali mengumpat dalam hati. Dia benar-benar ingin melanjutkan ciuman tadi. Mommy, just go home.
“Jadi, bisakah kau membangunkan Kyuhyun?”
“Huh? bangunkan saja sendiri,” ujar Siwon acuh. Heechul dengan ekspresi datar, segera saja membuka pintu kamar dan kemudian berakhir dengan sebuah teriakan melengking kala mendapati Kyuhyun dengan bau alkohol dan mabuk berat. Siwon malas sekali. Malas menghadapi beruang besar itu. Jika sudah marah, Heechul itu akan lebih menakutkan dibanding apapun. Oh, ok, mungkin Kyuhyun akan lebih menakutkan.
“What this is, Siwon?”
“Huh? Can not you see? Dia mabuk.”
“I know. Tapi, mengapa kau tidak mencegahnya?”
“Dia tidak terkendali tadi. Aku sudah coba menghentikannya, Mommy. Ok?”
“Malam ini, biarlah dia tidur disini.”
“What?” Tunggu. Siwon bukannya tak senang, sebaliknya, ia justru gembira luar biasa. Kyuhyun akan menginap disini? Oh, mimpi apa semalam.
“Kau tidak suka?”
“Hm. Whatever. I want to sleep.” Siwon tidak menggubris Heechul, ia justru berlalu begitu saja. Mungkin nanti malam ia akan mencicipi bibir kenyal itu lagi. Ok. Stop dirty minded, Siwon! Cho Kyuhyun, your lips, is so… damn.
“Ok. Jaga Kyuhyun baik-baik.”
“Hn,” jawabnya berlagak acuh.
Begitu Heechul pergi, Siwon segera menghampiri Kyuhyun. Dan. Lihatlah. Bagaimana posisi tubuhnya kini begitu seksi. Terlentang tak berdaya dan… Ouh. Bibirnya sedikit terbuka karena menggumamkan sesuatu.
“Dear, aku datang.” Siwon sudah bersiap akan mencium boneka tak bergerak itu sebelum…
Brakk
Tendangan kuat dari Kyuhyun membuatnya terjatuh begitu saja, lengkap dengan dentuman keras karena pantatnya menyentuh lantai. Sakit sekali.
“Aish! Dasar brandal!”
***
Siwon terbangun di pagi hari dengan punggung yang sakit dan pinggang yang remuk. Dia semalaman tidur di sofa karena kaki Kyuhyun menendang-nendang tak karuan. Ah. Dia menyumpahi dirinya sendiri mengapa ia tidak tidur di ranjang yang sama dengan Kyuhyun saja, jadi mungkin dia bisa beruntung memegangi bokongnya. Stop it, Siwon!
“Kau sudah bangun? Kemarilah!” Siwon bisa melihat Kyuhyun dengan wajah datarnya, berjalan ke meja makan, lengkap dengan wajah penuh emosi sekaligus datar. Agak susah menjelaskan ekspresi pemuda manis itu. Yang jelas, tak ada senyum, tak ada perkataan apapun.
“Apa maksudmu membawaku ke tempatmu, hah? Dan hentikan senyum idiotmu itu, Choi!” ujar Kyuhyun setengah berteriak. Tetapi di telinga Siwon, itu seperti gumaman yang indah. Dengan sumringah, ia menghampiri Kyuhyun.
“Mommy memintaku menjagamu. My princess.”
“Hah? Did you say something?”
“Mengatakan apa?” Siwon masih belum menyadari ucapannya tadi. Dia masih sibuk menata makanan dan meletakkannya di piring. Beruntunglah, Kyuhyun yang acuh. Ia tidak terlalu perduli dengan ucapan Siwon.
“Antar aku pulang!” Kyuhyun berdiri. Ia akan membuka pintu apartment sebelum menengok lagi karena tidak mendapat jawaban.
“Stupid boy, Are you hear?”
Siwon tidak fokus. Tatapannya masih ajeg pada kedua bokong yang kini pergi menjauhinya. Saat ini, Kyuhyun mengenakan kemeja putih longgar tanpa celana. Mungkin kemarin malam ia kepanasan dan melepas celananya. Siwon dapat melihat dengan jelas. Mulus, tanpa bulu dan kemeja kebesaran itu membuat kesan imut untuk Kyuhyun. Oh. My. Siwon, kau benar-benar beruntung. Pemandangan yang indah.
“Kau ingin aku pulang sendiri?”
“hah? No. No. Ok. Wait a minute.” Siwon belum jengah menatap paha Kyuhyun. Ia bahkan tidak perduli jika Kyuhyun mendapatinya dengan tatapan nakal seperti itu. Yang ada di pikirannya adalah, enggan menatap hal lain selain kedua pasang paha putih tanpa cela tersebut.
“Baiklah. Aku tunggu di parkiran.”
“Ok.”
Kyuhyun berbalik dan Siwon dengan tidak rela beralih menatap wajah cantiknya. Kyuhyun mendelik dan dengan teriakan supernya, berhasil memecah lamunan Siwon akan pikiran-pikiran kotornya.
“Jadi maksudmu, aku harus ke parkiran hanya menggunakan kemeja ini, begitu? What do you think?”
Hah? Siwon pernah mendengar kalau Kyuhyun itu aneh, tidak mudah ditebak. Tapi, siapa menyangka jika dia benar-benar freak seperti ini. Hei, kemana Kyuhyun yang dulu sangat manis itu?
Dengan pasrah, hari itu berkali-kali ia menjadi korban pelampiasan kemarahan Kyuhyun. Berteriak, memukuli dan mengumpat. Meski Kyuhyun itu cantik tapi dengan perilakunya yang seperti ini, siapa yang akan jatuh cinta dengannya? Oh, benar, ada pria yang bernama Chanyeol. Hm… paling juga Kyuhyun yang mengidolakannya. Tidak mungkin pria itu jatuh hati pada nenek sihir seperti Kyuhyun. Begitu fikir Siwon.
Pagi hari setelah kejadian itu, dengan wajah yang kesal luar biasa, Cho Kyuhyun datang ke sekolah. Ketika pulang sekolahpun, moodnya semakin memburuk ketika tepat di depan gerbang sekolah, Ia sudah disambut oleh gerombolan- pecundang menurut Kyuhyun. Kyuhyun menatap mereka dengan tatapan bosan dan tidak perduli. Namun, tangannya dicekal ketika ia akan melangkah pergi. Mau tak mau, Kyuhyun menoleh juga.
“What’s wrong?” tanyanya acuh, hampir tidak perduli. Sedangkan yang ditanyai begitu, justru lebih tidak perduli dengan tanggapan sinis tersebut. Ia lebih menyukai mengganggu pemuda manis tersebut ketimbang marah-marah karena alasan sepele seperti itu.
“Uhm. I’ve never seen that before.” Pemuda berandal itu, menarik pergelangan tangan Kyuhyun yang di jarinya tersemat cincin berkilau, yang diyakininya adalah berlian. Keningnya berkerut menyadari perubahan ekspresi Kyuhyun yang tiba-tiba menjadi panik.
“My mommy. This is his favourite things, yeah- begitulah.”
Pemuda itu mengangguk.
“So, kau sudah memutuskan jawabannya?”
“Hm, aku tidak yakin, Yeol.”
Pemuda yang dipanggil Yeol tersebut terlihat kecewa. Dia benar-benar menginginkan pemuda di depannya ini, tapi, pemuda ini justru menolaknya di depan teman-teman dan anak buahnya. Mau ditaruh dimana muka tampannya? Uh,
“Aku pergi dulu, dah,” ujar Kyuhyun dengan muka tidak perduli yang menyebalkan. Chanyeol menghampirinya dengan langkah panjangnya, menarik Kyuhyun mendekat.
“Aku antar pulang, ok?”
“Huh? No, I can go home alone.”
“Cho Kyuhyun!”
Instrupsi tak terduga membuat dua orang tersebut menoleh. Secara bersamaan dahi keduanya berkerut menyadari ada sosok lain yang menghampiri Kyuhyun dan bahkan menarik tangannya. Chanyeol sebal saat tarikan itu membuat genggaman tangannya dan Kyuhyun terlepas.
“Ayo pulang.” Kyuhyun kaget ketika Siwon menariknya begitu saja. Menyeretnya dengan paksa seakan ia adalah orang yang tak berguna. Lihat saja, pergelangan tangannya yang kini telah memerah.
“Hey, What is happening today? Lepaskan, Choi!”
Siwon tidak sedikitpun menghentikan langkah kakinya. Sudah cukup kesal baginya karena sang umma yang tiba-tiba menghancurkan kencan indahnya bersama Sulli dan menyuruhnya menjemput bocah ingusan ini.
“What the hell are you doing? Hey, berhenti! Lepaskan aku, pabboya!”
“Diam kau!” Siwon berteriak keras dan memaksa Kyuhyun untuk diam menatapnya. Kyuhyun terkejut dengan sikap Siwon yang seperti ini. Terlihat kesal akan sesuatu. Tapi, tak perlu seperti ini juga, kan?
“Masuk!” Siwon membuka pintu mobil dan menyuruh Kyuhyun dengan tatapan mengintimindasi. Kyuhyun yang sudah sedikit ketakutan, akhirnya menurut juga. Ia masuk dengan raut wajah yang kesal dan juga terpaksa.
“Bisakah kau bersikap lebih lembut padanya.” Suara serak yang bicara padanya, membuat Siwon menoleh dan menatap sang pria dengan tatapan marah.
“Siapa kau? Jangan ikut campur!”
Kyuhyun mengalihkan pandangan pada Chanyeol melalui kaca mobil milik Siwon. Bisa dia lihat, tatapan yang serius di antara keduanya.
Chanyeol tertawa mendengar jawaban Siwon. Reflek atau mungkin memang keinginannya, Chanyeol membuka pintu mobil dan mengalihkan tatapannya pada pemuda yang kini menjadi rebutan dua namja tersebut.
“Dia pulang denganku. Biasanya, juga seperti itu.”
Siwon terkejut dengan reaksi Chanyeol. Seolah memang naluri seorang pria yang tak mau kalah, Siwon juga melakukan hal yang sama, menutup pintu mobil cukup keras. Bunyi ‘blam’ mengiringi tindakan Siwon saat itu. Membuat Kyuhyun terlonjak karena terkejut.
“Tapi, ibunya menyuruhku untuk menjemputnya. Jadi, bisakah kau menyingkirkan tangan kotormu itu dari sedan mewahku?”
Chanyeol mati-matian menahan emosinya mendengar ejekan Siwon. Dengan berat hati, ia mundur dan membiarkan Siwon membawa Kyuhyun pergi.
Siwon tersenyum mengejek.
“Baguslah jika kau mengerti. Dasar bocah ingusan.”
Siwon tidak terlalu perduli dengan wajah Chanyeol yang terlihat tersinggung. Yang ada di benaknya saat ini adalah membawa Kyuhyun pulang dan melanjutkan kencannya dengan Sulli- pacar barunya. Baru beberapa meter dari sekolahnya, ia sudah harus mendengar umpatan dan teriakan Kyuhyun yang sangat menjemukan.
“Choi Siwon!”
Kyuhyun berteriak keras ketika Siwon sama sekali tak memperdulikannya. Ia kemudian melayangkan beberapa pukulan di lengan dan mencubuti perut berotot Siwon.
“Akh! Sakit, Kyu.”
“Bagaimana bisa kau menghina Chanyeol seperti itu, hah?” Kyuhyun berteriak dengan nada yang amat ketus. Ia tidak suka saat seseorang menghina ataupun merendahkan Chanyeol. Baginya, meskipun Chanyeol itu menyebalkan, perkataan Siwon sudah sangat keterlaluan tadi. Dan lagi, Chanyeol adalah pria yang berpengaruh bagi hidupnya.
“Jadi itu yang bernama Chanyeol. Uh. Tidak lebih tampan dariku.” Gumam Siwon pelan.
“Turunkan aku!”
“Diamlah!”
“Kau tidak mendengarku? Kau tuli? Aku bilang turunkan aku, stupid boy!”
“Kau kira aku ingin mengantarmu? Jika bisa memilih, aku lebih memilih tidur di tempat tidurku yang nyaman daripada harus bersama dengan nenek sihir sepertimu.”
“What? Nenek sihir? Kaulah penyihirnya dan aku sang putri. Sekarang turunkan aku!”
“Diam kau!”
“Your damn! I hate you. Choi Siwon, aku membencimu.” Kyuhyun berteriak keras seakan tak perduli dengan telinga Siwon yang berada di dekatnya. Baginya yang terpenting adalah pergi menjauh dari sosok menyebalkan ini.
“Yes, I know because I hate you too, Cho!”
“Aku lebih membencimu!”
“Ya! Berhenti mengomel, Kyu.”
“Kau makhluk menjijikkan yang lebih rendah dari bokongku. Kau tahu.”
“Bisakah kau diam?” Siwon mulai jengah juga. Ia malas meladeni Kyuhyun yang sedang dalam mood buruk. Baginya, Kyuhyun hampir sama dengan sang umma, Heechul.
“Kau ingin aku diam? Cium dulu bokongku.”
Siwon menatap Kyuhyun sekilas lalu menyeringai.
“Baiklah. Dengan senang hati, akan kucium bokongmu. Depan dan belakang, keduanya juga boleh.” Kyuhyun hanya bisa melongo mendengar jawaban Siwon. Belum lagi, ketika Siwon menambah perkatannya.
“Tapi, sebenarnya, aku lebih suka mencium yang bagian depan saja. Kau ingin aku mengulumnya?”
Kyuhyun merasa panas di bagian ubun-ubunnya. Ingin rasanya, ia menonjok muka sok polos ini. Menelannya hidup-hidup agar tak lagi bertemu dengan pria berwajah pastor namun, berhati iblis ini. Sungguh, jika kau mengenal sosok Choi Siwon lebih dekat lagi, kau akan menemukan bahwa sosok ini tak sebaik yang orang-orang fikirkan. Choi Siwon memang tidak pernah berubah.
“Berhenti berfikiran jorok dan turunkan aku!”
“Jika kau tak ingin kuperkosa disini, diam kau!”
Siwon berkata dengan nada yang tegas. Semua orang tahu bahwa Siwon selalu memegang kata-katanya dan karena hal itulah, Kyuhyun bisa diam seperti sekarang ini.
“Turunlah!”
Kyuhyun menatap tempat di sekelilingnya itu dengan tatapan heran. Ini bukan rumahnya, lalu dimana ini? Dan, sebelum sang pemuda cantik bertanya, Siwon sudah menjawab pertanyaannya tadi.
“Mommy menyuruhku membawamu kemari.”
“Untuk apa? Aku tidak mau.”
“Jangan banyak bicara dan turunlah!”
Kyuhyun menggeleng dan tetap di tempat. Membuat Siwon tanpa sadar, membuka pintu dan menggotong Kyuhyun bagai karung beras. Umpatan dan teriakan Kyuhyun bahkan tak mampu menghentikan tindakan Siwon tersebut.
“Ya! Choi Siwon!” Kyuhyun memukul-mukul punggung Siwon yang masih menggotongnya di bahu. Melakukan tindakan anarkis yang justru membuat sang pemilik bahu makin mengeratkan pegangannya.
BRUK!
Siwon mendudukkan Kyuhyun di sofa di salah satu sudut ruangan. Dengan bokong yang nyeri karena Siwon memperlakukannya dengan kasar dan sedikit sadis.
“Pilihlah satu dan cepat selesaikan ini.”
“Pilih apa?”
“Baju pengantin.”
“M-mwo?”
Siwon tidak suka penolakan. Ia kembali menyeret Kyuhyun dan menyuruhnya untuk menjajal semua pakaian-pakaian tersebut. Jangan katakan, ia tidak kesal dengan semua ini. Siwon sudah sangat frustasi. Pertama, menikah dengan Kyuhyun. Lalu, Memutuskan hubungannya dengan perempuan-perempuan yang kini sedang dia kencani. Ayolah, Siwon tidak suka terikat dan lebih suka hidup bebas dengan mengencani mereka semua. Dan ini adalah pukulan telak bagi seorang Choi Siwon.
“Kau akan menyesal, Choi. I Hate you, Idiot boy.” Kyuhyun menoleh dan sempat menyeringai sebelum benar-benar masuk ke kamar ganti. Karena sudah lelah, Siwon tidak terlalu memperdulikan gerak-gerik Kyuhyun yang sebenarnya sedikit aneh itu. Cukup lama ia menunggu Kyuhyun untuk berganti baju.
“Ma-maaf tuan.” Siwon mendongak menatap para pelayan butik yang tampak seperti ketakutan. Dengan perasaan yang sedikit tak enak- melihat wajah mereka, Siwon bertanya,
“Ada apa?”
“Hm… Begini, pemuda yang datang bersama anda. Dia…”
“Dia kenapa? Katakan dengan jelas.”
“Dia. Hm… Kabur, tuan.”
“Mwo? Arrghhh, ya Tuhan!”
Erangan frustasi membuat beberapa pelayan di butik tersebut terlihat ketakutan. Ia berkali-kali mengacak rambut hitamnya dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal. Dan, bunyi Iphone miliknya membuatnya menghentikan aksi berteriak yang beberapa detik yang lalu, gencar dilakukan olehnya.
“Yeobseyo???!! Eh? Jae Umma.” Siwon melembutkan suaranya ketika tahu bahwa calon mertuanya yang tengah menelponnya. Jae berbeda dengan sang umma yang bagai iblis, ia lembut dan ibarat surga dan neraka, keduanya berbeda dan bertolak belakang.
“Kau sedang bersama Kyuhyunnie sekarang?” tanya Jae dengan nada gembira yang kekanak-kanakan.
“Ne, Umma,” jawab Siwon berbohong karena panik. Ia menjadi gelisah ketika pendengarannya menangkap suara sang ibu yang tengah menginstrupsi perkataan Jaejoong.
“Cepat pulang, Wonnie. Dan bawa juga baju yang sudah kalian pilih, ya.” Heechul mengatakan dengan nada yang lumayan lembut tapi, Siwon tahu dengan pasti itu bukan jaminan bahwa sang umma akan tetap bernada lembut seperti itu kalau saja mereka tahu bahwa Kyuhyun sekarang telah kabur dan jangan lupakan juga kenyataan bahwa mereka belum memilih baju satupun. Oh My God! Siwon, you can crazy!
“Siwon? Are you hear? Kau masih hidup, kan?” Heechul berteriak-teriak dengan nada yang keras membuyarkan lamunan Siwon akan kematian dirinya sebentar lagi. Oh, Tuhan! Apa yang harus dikatakannya nanti.
“Ah. Of course, mommy.” Jawab Siwon sekenanya.
“Cepat pulang ya. Mommy rindu menantuku.” Siwon menghela nafas iri. Heechul bahkan tidak pernah mengatakan merindukannya meskipun dia pergi ke luar negri sekalipun. Oh, Heechul, teganya dirimu.
“Kami akan pergi makan dulu. Mungkin sedikit telat.” Suara di sebrang tak terdengar menjawab perkataan Siwon. Membuat Siwon sedikit gelisah menunggunya.
“Oke. Jangan terlalu malam, dear. Remember it and take care him.”
“Yes, I did. Bye, mommy.”
“Bye, Choi.”
“You Choi too, Heechul.” Heechul terkekeh mendengar Siwon memanggil namanya. Kebiasaannya ketika ia marah ataupun kesal dengan sang umma. Uh, so chilldish.
“Ahhhh…” Entah sudah keberapa kalinya hari itu, Siwon menghela nafas frustasi. Bagaimana ini? Dimana bocah ingusan itu? Awas saja kau Cho, akan kubalas perbuatanmu padaku. Lihat saja. Akan kubuat kau menyesal.

TBC

Annyeong… FF baru nih, semangat baru. Jgn protes kenapa judulnya aneh kyk gt. #ngancem
Pasti kalian g nyangka kan, Chanyeol yg akan jadi rival daddy. Soalnya, entah mengapa saya pengen masukin anak2 EXO di FF saya. Tahun ini mereka tuh prestasinya… wow bgt. meskipun saya tu elf sejati, saya sangat bangga sama EXo yang udah ngangkat asia di mata internasional, sama kayak suju, cuma sedikit iri karena suju gak come back-come back #malah curhat.
Oke deh, kalau pengen ini lanjut, cukup review dan kasih saya saran dan unek2nya ya.
Gamsahamnida, readers2ku tersayang. Love you yahhh…