My Rival is His Brother Chapter 4

Pairing : Kihyun, Wonkyu, Changkyu.

Rating : T

Warning : YAOI, INCEST, OOC, dan TYPO.

Summary : Changmin mulai bertindak. Bagaimana nasib Kyuhyun selanjutnya?

          Pagi itu, Kyuhyun masih sempat mengecek keadaan ayahnya. Masih sama, banyak mesin-mesin yang bersarang di tubuh ringkih itu. Alat bantu pernafasan dan selang infus. Keadaannya cukup stabil dan terlihat lebih baik dari kemarin-kemarin dan Kyuhyun bersyukur dengan itu.

Pemuda cantik itu tengah menata barang-barangnya. Memasukkan beberapa pakaian kotor ke dalam plastik hitam dan menyiapkan keperluannya sendiri. Rasanya ia malas jika harus menghadiri kelas hari ini. Rasa kantuk karena menunggui ayahnya semalam suntuk membuatnya tak bisa berkonsentrasi.

“Apa aku membolos saja?” Kyuhyun mengambil ponselnya. Mengecek daftar nama di kontaknya. Mengira-ngira siapa yang mungkin bisa dimintai tolong. Ayolah, Kyuhyun juga tidak mau ketinggalan materi apapun. Bisa-bisa beasiswanya akan tercabut.

“Yeobseyo. Sungminie?” Kyuhyun terdiam. Menunggu respon dari suara di sebrang.

“Aku tidak tahu harus menghubungi siapa. Hanya kau yang terfikir olehku.” Suara di sebrang menyambut dengan ramah. Kyuhyun tersenyum. Ia tahu bahwa Sungmin adalah pria yang baik.

“Aku tidak bisa menghadiri kelas. Jadi, lain waktu bisakah aku meminjam catatanmu?” Seorang suster mengetuk pintu kamar inap itu. Kyuhyun memandang sekilas dan kembali fokus pada ponselnya. “Baiklah. Terima kasih. Hubungi aku begitu ada tugas, ne. Annyeong.”

Kyuhyun menutup sambungannya. Melihat suster yang baru dikenalinya itu menghampiri mereka. Memijit kaki ayahnya dan menuliskan sesuatu sesuai dengan yang tertera pada mesin-mesin itu.

“Tadi ada seorang pria yang menitipkan ini pada anda.” ucap suster itu tiba-tiba. Kyuhyun menerima bungkusan itu dan bertanya siapa yang menitipkannya. Tapi, suster itu mengatakan ciri-ciri yang tidak bisa diketahui Kyuhyun. Memakai setelan jas dan terlihat tampan? Siapa?

Begitu suster itu pergi, Kyuhyun segera membuka bungkusannya. Karena terkejut, Kyuhyun reflek membuang kotak berwarna merah yang mengerikan itu. Di kotak, ada seekor anak ayam yang berlumuran darah di sisi-sisi tubuhnya. Kyuhyun memandang dengan perasaan ngeri. Orang gila macam apa yang mengiriminya seperti ini? Ryeowook kah? Tidak. Kyuhyun tahu pasti bahwa Ryeowook bukan psycho yang akan melakukan hal seseram ini. Ryeowook hanya akan mengganggunya secara langsung.

Dengan takut-takut, Kyuhyun mengambil secarik kertas yang ditempel pada bangkai ayam itu. Membacanya dengan seksama.

Cho Kyuhyun. Sebentar lagi kau akan bernasip sama seperti ayam kecil itu. Tapi, tenang saja karena aku tidak akan membunuhmu. Aku lebih suka menyiksa dan menyetubuhimu. Tunggu saja, ya?

Begitu membacanya, Kyuhyun langsung membuangnya. Kyuhyun tidak tahu apa-apa. Seingatnya memang dia tidak disukai oleh banyak orang tapi, tidak pernah ia menerima terror seperti ini sebelumnya. Lalu, siapa yang mengiriminya? Bagaimana orang ini bisa tahu jika Kyuhyun menginap di rumah sakit? Kyuhyun tipe orang yang tertutup, dia tidak pernah menceritakan keadaannya pada siapapun, bahkan pada Siwon sekalipun.

Dengan perasaan kalut, Kyuhyun memunguti kertas dan bangkai itu. Memasukkannya ke dalam plastik dan berniat membuangnya. Karena tidak mungkin membuangnya di sampah kamar, bisa-bisa bau busuknya akan menyebar dan membuat ayahnya tidak nyaman. Jadi, Kyuhyun pergi ke luar membuangnya. Tanpa Kyuhyun sadari, seorang pria terus menerus mengamatinya. Berada di mobilnya yang nyaman dan menyeringai. Selama ini dia memang tidak pernah menemui pemuda itu secara langsung. Melihat dari balik jendela mobilnya, terus memantau dan mengecek buruannya itu. Penyendiri, ketus dan acuh, yang anehnya justru banyak orang tertarik karena sikapnya itu. Cho Kyuhyun memiliki pesona yang luar biasa bahkan pemuda itu mampu membuat seorang Shim Changmin merasa tertantang. Sudah lama ia tidak mendapat buruan yang sebegitu menariknya.

“Tuan, tidakkah sebaiknya anda langsung menculiknya seperti biasa? Tidak bosan hanya melihatnya saja. Tidak ingin menyentuhnya?” tanya sang ajudan. Ia cukup bingung dengan sikap tuannya yang keluar dari karakternya ini.

“Sepertinya aku ingin bermain-main sebentar. Aku bosan.” Changmin terus mengamati pergerakan Kyuhyun.

“Lalu apa tindakan tuan selanjutnya?” tanya anak buahnya lagi. Dengan sabar tentunya karena mereka cukup tahu bahwa permintaan Changmin memang berbeda dan sedikit aneh-aneh.

“Sebenarnya aku ingin membunuh Kibum. Dia cukup berbahaya untukku. Dia tahu asal usulku dan tahu bahwa aku mengincar adiknya.” Ada jeda. Changmin mengambil sebotol kaleng soda dan meminumnya sekali teguk.

“Tuan ingin membunuhnya?” Para bawahannya tidak begitu kaget. Changmin adalah seorang psycho yang memang berbahaya. Memenggal kepala manusia seperti memenggal kepala binatang. Menderita penyakit jiwa namun tidak kelainan mental. Sama seperti orang-orang pada umumnya, Changmin mempunyai pekerjaan. Pekerjaannya membuatnya menjadi kaya dan termasuk pengusaha yang mempengaruhi perekonomian Korea. Selalu tampil menawan, modis dan elegan. Mengikuti banyak kegiatan sosial untuk menyembunyikan ‘kelemahannya’. Itulah Shim Changmin.

“Tidak sekarang. Bukankah aku tadi bilang, aku ingin bermain-main?” Mereka menghela nafas lega. Pasalnya, jika Changmin membunuh seseorang dan jika orang suruhannya itu tertangkap karena ceroboh, maka orang suruhannya itu yang akan dipenjara. Ia mempunyai banyak uang untuk memanipulasi dan membalikkan keadaan. Berbahaya sekali bukan?

“Dia pasti ketakutan sekarang. Meski ini baru permulaan.” Changmin memejamkan matanya. Sudah cukup untuk hari ini lagipula dia juga sudah memukuli Kibum.

“Kita pulang. Besok kita buat rencana yang jauh lebih besar.” Tanpa diperintah dua kali, supirnya segera menginjak pedal gas. Mobil Lamborghini berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan yang tinggi.

***

Kyuhyun merasa bosan. Ia berulang kali mengganti saluran televisinya tapi tidak menemukan satu siaranpun yang menarik hatinya. Sudah dua jam dia menunggu Kibum pulang, sampai-sampai makanannya menjadi dingin, tapi kakaknya itu belum juga pulang. Malam sudah larut dan Kyuhyun semakin cemas. Tidak biasanya pemuda tampan itu tidak memberi kabar jika memang pulang terlambat.

Merasa ngantuk, Kyuhyunpun tertidur. Televisi masih menyala dan dia tertidur di sofa.

Selang beberapa jam, Kibum datang dan berjalan mengendap-endap. Ia bersyukur Kyuhyun tertidur dan tidak melihatnya dalam keadaan babak belur seperti ini. Beruntung, tadi ada seorang pria tua yang menolongnya dan mengobatinya, itulah sebabnya ia pulang terlambat.

Wajahnya membengkak dan luka memar ada di mana-mana. Luka-luka itu hanya diplester seadanya dan diolesi salep tapi cukup membuatnya tak lagi merasakan perih.

“Baby, mengapa menjagamu sesulit ini?” Kibum menatap wajah damai Kyuhyun yang tengah tertidur. Tidak pernah sekalipun, Kibum menganggap Kyuhyun adalah beban. Dia justru merasa bahwa Kyuhyun adalah anugrah dan hadiah yang diberikan Tuhan untuk keluarganya. Kibum hanya takut jika suatu saat nanti ia akan pergi dan tak bisa melindungi Kyuhyun lagi. Ayahnya tak kunjung sadar. Mendiang ibunya juga sudah tenang di sana. Lalu, siapa yang akan menjaga Kyuhyunnya?

“Tuhan. Aku sangat lelah. Aku butuh bantuannmu sekarang. Kumohon Tuhan… Jangan memberi cobaan yang tidak bisa aku tanggung.” Kibum menangis dalam diam. Berusaha sekuat mungkin menahan isakannya, tidak ingin membangunkan Kyuhyun.

Ia mengelus rambut Kyuhyun yang berwarna madu dengan lembut. Sambil memikirkan cara terbaik untuk menjauhkan Kyuhyun dari pria brengsek bernama Changmin itu. Apakah ia harus pindah rumah? Tidak. Changmin memiliki mata-mata yang bisa dengan mudah akan menemukan mereka? Lalu, bagaimana?

“Apakah aku harus menemui Changmin?” Kibum akan mencobanya. Meski ragu, tapi mereka tidak punya pilihan lain. Changmin terlalu berkuasa untuk dilawan. Satu kebaikan Changmin yang Kibum paham betul. Changmin selalu menepati janjinya. Ia seorang pria gentle yang tidak pernah mengikari janji. Mungkin membuat kesepakatan dengan pria itu akan membuatnya menemukan solusi. Ini adalah cara dangkal untuk memastikan Kyuhyun baik-baik saja. Ya, Kibum harus mencobanya.

Pagi harinya, Kyuhyun dikejutkan dengan dirinya yang sudah berpindah ke kamarnya sendiri. Itu berarti Kibum sudah pulang. Dengan semangat, pemuda cantik itu membuka kamar Kibum yang sudah kosong. Meja makan sudah dipenuhi dengan berbagai makanan untuk sarapan. Ada sup kimchi, sup tahu pedas dan nasi yang sudah masak. Kyuhyun hanya tersenyum. Dia memakan dengan lahap. Tidak menyadari sama sekali jika dirinya tengah dalam ancaman.

Berbanding terbalik dengan Kyuhyun, Kibum justru berkali-kali menghela nafas. Ia kini ada di kantor Shim Changmin. Mereka saling bertatapan dengan tajam. Changmin memasang wajah bak penguasa yang otoriter. Tersenyum merendahkan Kibum.

“Ternyata kau masih hidup. Aku kecewa,” ujarnya sinis. Nadanya dibuat-buat seakan ia benar-benar merasa sedih.

“Aku tidak akan mati semudah itu, Min.” Changmin tertawa. Tawanya begitu keras hingga memekikkan telinga Kibum.

“Aku bisa saja membunuhmu sekarang. Jangan berlagak, kau!” tantangnya. Changmin memang tidak suka dengan orang seperti Kibum. Changmin selalu merasa dirinya paling hebat di antara semua orang. Kibum tak lebih hanya sampah.

“Jangan sentuh adikku!” Kibum berkata dengan suara yang tegas. Nadanya tinggi dan membentak. Changmin berjalan mendekat. Ia tahu ini akan terjadi. Kibum datang dan membuat kesepakatan dengannya. Tentu saja, Kibum tidak punya kekuasaan sepertinya.

“Apa yang bisa kau berikan?”

“Apapun. Asal itu bukan Kyuhyun.”

“Apapun? Kau yakin?” Kibum mengangguk. Changmin mencengkram dagu Kibum dengan kasar. Menatap matanya dengan kilatan tajam yang berbahaya.

“Bagaimana jika kau membunuh ayahmu sendiri. Kau juga tahu, aku sangat suka dengan penderitaan. Nyawamu tidaklah berharga untukku. Aku fikir, aku lebih suka jika kau selalu merasa berdosa seumur hidupmu.”

Kibum tersentak. Itu tidak mungkin. Kyuhyun dan ayahnya sama berharganya. Ia tidak bisa memilih salah satu karena keduanya adalah harta yang berharga baginya. Shim Changmin memang gila.

“Itu satu-satunya yang kuinginkan. Jika kau tidak bisa memenuhinya, maka biarkan aku bermain-main dengan buruanku.” Changmin menyeringai. Ia berjalan ke mejanya dan mengambil pisau lipat yang ada di saku jasnya. Memainkannya seolah itu bukan benda yang berbahaya.

“Mengapa kau begitu kejam, Shim Changmin?” Kibum mengepalkan tangannya. Dia begitu bodoh terjerat dengan kata-kata manis Shim Changmin. Siapa sangka, pria yang terlihat baik dan sempurna di awalnya adalah seorang dengan sakit jiwa. Menawarinya uang dengan iming-iming tanpa bunga. Kibum benar-benar mengutuk dirinya sendiri.

“Aku tidak pernah meniduri orang yang sama dua kali. Setelah aku puas dengan tubuh adikmu, aku akan pergi. Tidak akan muncul lagi di hadapan kalian. Bagaimana?”

“Kau brengsek!”

“Terserah sajalah. Kuanggap kau setuju. Jadi, biarkan aku bermain-main dengan adikmu itu. Kuharap tubuhnya itu bisa memuaskanku di atas ranjang.” Wajah Kibum memerah. Menahan emosi yang meluap-luap. Andai dia bisa, dia ingin membunuh orang ini tapi, sayangnya ajudan-ajudannya tak pernah lepas dari pengawasan atas Changmin. Dia dilindungi dengan baik.

“Ah-satu lagi,” ucapnya. Kibum kemudian berbalik. Menunggu ucapan Changmin yang semoga saja tidak membuatnya kembali terguncang. “Bagaimanapun, kau adalah temanku. Aku akan mengenalkanmu pada dokter syaraf terbaik. Mengirim ayahmu berobat di Amerika. Aku berjanji akan melakukannya tepat setelah aku bisa merasakan Kyuhyun. Deal?”

“Kau memang bajingan. Kau harus menepati janjimu. Satu hal lagi. Teman? Sampai matipun, aku tidak sudi menjadi temanmu.” Kibum kemudian menutup pintu dengan keras. Changmin tertawa. Rencananya berjalan dengan sempurna. Kibum memang mengenalnya dengan baik. Tidak melapor polisi ataupun mengadu. Rupanya dia tahu betul bahwa Changmin bisa saja melakukan suap dan memutar balikkan fakta dengan gampangnya.

“Cho Kyuhyun. Kita bermain sebentar hari ini.” Changmin menancapkan pisau lipat miliknya di meja kerjanya. Ini saatnya. Dia sudah tidak sabar dengan rencananya yang satu ini.

***

          Kyunghee Universitas masih sama. Ramai dengan berbagai aktifitas. Ada yang mengikuti kelas, mengikuti beberapa pameran, dan ada juga yang hanya duduk-duduk bersantai.

Kyuhyun masih sibuk menyalin catatan Sungmin. Beruntung, Sungmin hari ini tidak satu kelas dengan Ryeowook jadi, Kyuhyun tidak perlu harus bertemu dengan pemuda itu. Ia malas menanggapinya.

Sungmin mengulum lolipopnya. Memandangi mahasiswa yang sedang bermain basket. Sesekali ia akan bersorak ketika pemuda yang disukainya memasukkan bola ke dalam ring. Sungmin menyukai sunbae mereka, yang entahlah Kyuhyun sendiri tidak tahu namanya.

“Kyuhyun sshi. Apakah kau sudah mempunyai kekasih?” tanya Sungmin, masih dengan mengulum lolipopnya. Kyuhyun masih tak bergeming. Dia hanya menggeleng.

“Apakah kau tidak menyukai Siwon? Dia tampan, baik, kaya dan juga cerdas. Kau sungguh beruntung, kau tahu.”

“Aku juga heran, mengapa dia kemarin menolak meniduriku,” ujar Kyuhyun santai. Kyuhyun yakin jika Siwon pasti bercerita tentangnya pada Sungmin. Benar saja, Sungmin terlihat tidak terkejut. Ia justru membeberkan alasan Siwon saat itu.

“Ketika melihatmu bergetar ketakutan, dia kemudian menahan dirinya. Dia tidak munafik untuk mengakui bahwa dia memang menginginkannya. Tapi, dia tidak bisa melakukannya tanpa cinta.”

“Dia terlalu sempurna untukku, Min. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dariku.”

Sungmin menggeleng.

“Kau tahu… Terkadang sesuatu yang sempurna tidak perlu yang sempurna juga. Ketidak sempurnaan justru akan melengkapi kesempurnaan itu sendiri.”

Kyuhyun tersenyum. Ia memandangi Sungmin yang masih fokus dengan pertandingan bola basket itu. Menjadi seorang Sungmin sepertinya menyenangkan. Dia tahu siapa yang dicintainya. Menjadi dirinya sendiri meskipun Ryeowook selalu membayanginya.

Sedangkan Kyuhyun? Dia selalu terombang-ambing. Dia bahkan tidak yakin dengan hubungannya sendiri. Hubungan yang rumit dan tidak pasti. Bahkan, Kyuhyun pernah sempat meragukan cintanya pada Kibum. Benarkah dia mencintai Kibum? Bukan karena kebiasaan? Selama ini Kyuhyun memang tidak pernah membiarkan dirinya dekat dengan seseorang selain Kibum. Entahlah. Tidak ada orang lain yang dapat memikatnya terlalu dalam lebih dari yang bisa dilakukan oleh Kibum.

Menjelang sore, Kyuhyun masih berada di pelantaran Kampus. Kibum ternyata tidak bisa menjemputnya dan naasnya, hujan justru mengguyur kota Seoul. Kyuhyun menyesal dia tidak membawa payung tadi. Siapa sangka jika akan hujan toh, tadi cuaca masih hangat dan lumayan panas. Cuaca memang menjadi ekstrim sekarang.

Suara gemericik yang keras dan gemuruh petir yang menyambar menyiutkan nyali beberapa orang yang berniat menerobosnya. Banyak yang tidak membawa payung, itulah sebabnya mereka memilih hanya diam hingga hujan reda.

Kyuhyun kemudian memandang keramaian di sekitarnya, sebagian mereka memandangi ke arah timur, terpaku pada mobil Lamborghini berwarna hitam yang terkesan mewah dan juga mahal. Beberapa saat kemudian, seorang pria memakai setelan jas keluar dari mobil. Ia dipayungi oleh salah satu ajudannya. Semua gadis yang ada di sana menjerit histeris. Layaknya seorang pesohor, pria tadi mengenakan kacamata hitam yang membingkai hidung mancungnya.

Tampan, elegan, modis dan tampak berkharisma. Pria tadi sepertinya tidak menghiraukan gadis-gadis yang terang-terangan mengedipkan matanya. Dia hanya datar saja, menatap lurus ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun sempat terpaku sesaat melihat pemuda itu. Wajahnya tampan meskipun terkesan kekanak-kanakan. Dia tinggi dan gagah. Garis wajahnya terkesan datar namun tegas.

Pemuda tadi berhenti. Melepas kacamatanya dan memandangi Kyuhyun dari atas ke bawah. Ternyata, jika dilihat dari dekat, Kyuhyun jauh lebih manis, berkali-kali lipat.

“Ikut denganku,” ujarnya kemudian. Kyuhyun yang belum siap menerima tarikan tiba-tiba itu hanya bisa pasrah. Dia tidak tahu siapa pria ini, dia juga tidak tahu akan dibawa kemana. Yang pasti, pria ini mencengkram tangannya begitu kuat, mungkin akan menimbulkan bekas merah.

Kyuhyun tak sempat bicara apapun karena pria-pria kekar lainnya justru membekapnya dengan sapu tangan yang telah ditetesi cairan tidur dosis tinggi. Teman-teman Kyuhyun yang ada di sana tidak tahu apa yang terjadi di dalam mobil itu karena kacanya hitam dan tak terlihat dari luar. Mereka justru membicarakan Kyuhyun. Mereka iri dan cemburu karena pemuda itu dijemput oleh seorang pria tampan yang tampak kaya. Menggunjing Kyuhyun, betapa murahan namun beruntungnya dia.

Dan disinilah kehidupan Kyuhyun akan berubah. Akankah semua berbanding terbalik sekarang? Dan, bagaimana nasib Kyuhyun ketika berada di dekat Changmin?

TBC

Annyeong… Sabrina datang kembali. Sebelumnya, Sabrina mau minta maaf buat chingu semua, adegan NC chapter depan adalah pasangan Changkyu. Hayo, siapa Changkyu shipper?

Jadi, buat yang minta Kihyun, Wonkyu. Jeongmal Mianhae. Semoga kalian bisa menghargai keputusanku, ya? #puppy eyes.

Sedikit tambahan, bayangkan Changmin disini seperti di MVnya yang Keep Your Head Down. Whoa… Changmin sangat tampan disitu. #author kumat.

Dan buat akhir, Sabrina udah nentuin jadi tidak bisa mempengaruhi Sabrina lagi. Hehe.

Terakhir, tinggalin komentar ya itu adalah vitamin Sabrina buat cepet update. Maaf kalau mungkin Typo soalnya Sabrina buru-buru. Gomawo,

My Rival is His Brother Chapter 3

My Rival is His Brother Chapter 3

 

Pairing : Kihyun, Wonkyu (Main Cast), Changkyu, Haekyu, Yunkyu.

Ratings : T

Warning : Yaoi, OOC, Incest, and Typo.

Summary : Kedatangan Changmin membawa perubahan besar bagi kehidupan Cho bersaudara.

Bagaimana takdir mereka selanjutnya?

 

CHAPTER 3

 

Kyuhyun nampak membolak-balikkan lembaran demi lembaran buku kalkulusnya. Ia mengamati dengan seksama lalu menuliskan angka-angka di kertas putih. Mencoret bagian yang dianggap salah lalu mengulanginya lagi.

Kyuhyun kemudian melihat ponselnya dan dahinya berkerut saat melihat siapa yang tengah memanggil sambungan teleponnya. Dengan sedikit ragu, ia mengangkatnya.

Yeobseyo, sonsangenim?” Ia mendengarkan dengan serius instruksi dari sang penelpon. Mengangguk meski sang penelpon tidak bisa melihatnya.

Nde, arraseo.” Kyuhyun mengakhiri sambungan itu dan sedikit mendesah pelan. Dengan sedikit tak rela, ia membereskan beberapa tumpukan kertas dan buku kalkulusnya. Memasukkannya ke tas ransel hitam dan segera melenggang pergi dari tempat favoritnya, perpustakaan.

Ia mengetuk pintu kerja Yunho dengan pelan. Setelah mendapat izin masuk dari dalam ruangan, ia membuka kenop pintu dan melangkahkan kakinya tepat di hadapan dosen kalkulusnya itu.

”Bisakah kau membantuku mengurutkan data ini sesuai abjad, Kyuhyun sshi?” pintanya. Kyuhyun mengambil map merah itu dan kemudian mengangguk. Ia duduk tepat di sebrang Yunho. ”Berkas berwarna hijau itu adalah kertas ujian pekan lalu kau bisakan membantuku mengeceknya? Aku sudah menilainya, hanya memastikannya saja.” Kyuhyun kembali mengangguk. Ia masih serius melihat-lihat data yang tadi diberikan Yunho.

Yunho memandangi Kyuhyun lekat. Paras Kyuhyun yang sempurna dengan bentuk badannya yang ramping, mampu membuat seorang Yunho terpikat. Kyuhyun, ia adalah pribadi yang sulit tertebak. Sikap dan prilakunya tak sama ketika berada di ranjang. Desahannya mampu membuat vitalitas seksual Yunho meningkat tajam, gairahnya ketika di ranjang membuat Yunho naik berkali-kali.

”Jangan terus memandangiku, sonsaengnim. Aku tidak bisa berkonsentrasi.” Kyuhyun menyindir Yunho yang sedari tadi menatapnya penuh nafsu.

”Maaf Kyuhyun sshi,” ujarnya kikuk. Kyuhyun menatap Yunho datar, ia tahu apa yang tengah difikirkan Yunho. ”Katakan saja apa yang anda inginkan, sonsaengnim.

”Hm… bisakah kau bermalam denganku malam ini?” Yunho berkata dengan gugup.

”Berapa yang dapat anda bayar? Jika anda bisa membayarku lebih besar daripada malam dahulu, aku akan mempertimbangkannya.”

”Berapapun bahkan jutaan won, aku tak masalah. Tubuhmu adalah mahakarya, Kyuhyun sshi.” Kyuhyun tersenyum meremehkan, ia bergumam dalam hati. ’Pria brengsek.’

”Baiklah, akan kupertimbangkan.” Mereka tak kembali berbicara lagi. Kyuhyun masih sibuk menata berkas-berkas itu, sedangkan Yunho masih memandanginya intens. Sebenarnya ingin rasanya Kyuhyun keluar dari ruangan itu karena sedari tadi Yunho terus menerus memegang pantatnya. Kyuhyun ingin sekali meninju dosennya itu tapi, ia malas berurusan dengan Yunho, takut jika itu mempengaruhi nilai kalkulusnya.

Kyuhyun beberapa kali menggeser tempat duduknya, berusaha menghindari tangan nakal Yunho yang semakin menggrayanginya. Ia merasa suhu tubuhnya lebih panas dari suhu normal dan dahinya nampak sedikit berkeringat. Mereka tidak melakukan apa-apa, hanya saja Kyuhyun merasa tidak nyaman dan terus bergerak.

”Kau tahu… kau mempunyai pantat yang sintal, Kyuhyun ah.” Sungguh, Kyuhyun benar-benar tidak tahan, ia berdiri dari kursinya dan wajahnya mengeras, seperti menahan amarah karena telah dilecehkan.

”Saya belum menyanggupi tawaran anda, Sonsangenim. Jadi, tolong hargai saya,” ujarnya ketus. Yunho tertawa dan mengeluarkan dompetnya. Menarik beberapa lembar uang dalam jumlah yang tidak bisa dikatakan sedikit. Ia melemparnya di meja kerjanya. Menatap Kyuhyun masih penuh nafsu. ”Apakah ini cukup membayar perbuatanku tadi?”

”Anda sungguh-sungguh tidak berpendidikan.” Kyuhyun meninggalkan Yunho dan menutup pintu dengan keras. Ia berjalan cepat, entah kemana, yang ada difikirannya adalah menjauh dari keramaian dan menenangkan diri.

Kyuhyun telah sampai di taman belakang kampusnya. Duduk di bawah pohon besar yang rindang, menikmati semilir angin yang menerpa wajah putihnya. Lagi-lagi, ia merasa sendiri. Pikirannya kalut ketika ia mengingat perkataan dokter beberapa waktu yang lalu. ’Jika anda tidak segera melunasi tagihannya, saya tidak bisa melakukan operasi, Kyuhyun sshi.’

Dan, rasanya Kyuhyun benar-benar putus asa. Yunho menawarkan uang yang bisa ia gunakan untuk membayar sisa tagihan rumah sakit tapi, disisi lain harga dirinya tak mengizinkan itu. Ia juga mengingat tentang Siwon yang menawarinya uang secara cuma-cuma, itu lebih menguntungkan sebenarnya tapi, ah… lagi-lagi ego yang berbicara disini.

”Kyu?”

”Siwon sshi?” kaget Kyuhyun. Baru saja ia memikirkan mengenai pria bermarga Choi itu dan sekarang pria itu tepat di sampingnya. Panjang umur sekali.

”Kau tidak ada kelas?” Siwon duduk agak menjauh, takut-takut Kyuhyun akan merasa tidak nyaman ketika mereka terlalu dekat.

”Hm… dua jam lagi.” Hening. Tampaknya mereka masih canggung satu sama lain.

”Apakah kau mempunyai masalah?” Siwon bisa melihat wajah Kyuhyun yang sedikit berbeda. Seakan penuh tekanan. Ia tahu dengan pasti sifat Kyuhyun. Pria yang selalu berusaha terlihat tegar namun rapuh di dalam.

”Jika kau ada masalah, kau bisa mengatakannya padaku. Aku akan membantumu sebisaku, Kyu.” Siwon memamerkan kedua lesung pipinya, tertawa dengan cengiran yang khas.

“Jangan bersikap baik padaku, Choi Siwon. Berhenti berpura-pura bahwa kau peduli.” Sengit Kyuhyun. Ia tidak suka apabila ada oranglain yang mencampuri urusannya, terlebih itu adalah Choi Siwon, pria yang tak jauh beda dengan pria ‘brengsek’ lainnya.

“Aku memang peduli padamu, Kyu.” Kyuhyun hanya diam. Menoleh ke arah pria yang dua tahun lebih tua darinya itu. Menyelami kedua bola mata Siwon yang sarat akan ketulusan. Hatinya sedikit tergugah. Semua perlakuan manis Siwon, sikap melindunginya sebenarnya sedikit meruntuhkan dinding es Kyuhyun. Perlahan namun pasti.

”Baiklah. Kurasa ada baiknya jika aku pergi.” Siwon sudah akan beranjak namun, tiba-tiba Kyuhyun memanggil namanya. ”Siwon sshi.” Membuat Siwon berdebar-debar. Jantungnya memang selalu saja seperti ini saat di dekat Kyuhyun. Pria pemilik lesung pipi itu kembali duduk sambil menenangkan detak jantungnya.

”Hari itu… aku belum sempat mendengar pembelaanmu karena terlalu emosi. Kufikir itu penting untuk mengetahuinya sekarang ini.” Kyuhyun mengatakan dengan nada yang lembut bukan ketus dan datar seperti biasanya.

”Maksudmu?” Oke, Siwon hari ini menjadi bodoh dan tidak peka. Tapi, setelah ia mulai bisa mengendalikan dirinya, ia cepat-cepat berbicara. ”Maksudmu mengenai malam itu?”

Kyuhyun mengangguk.

”Sebenarnya, pembelaan apapun tidak akan membenarkan perbuatanku. Jadi, tidak ada yang harus kukatakan.” Siwon menunduk, tak berani menatap Kyuhyun yang andai ia tahu bahwa pria manis itu tengah tersenyum.

”Apakah saat itu kau mabuk?”

”Hm.”

”Sudah kuduga. Bau alkoholmu sangat kuat. Kau tidak menyadarinya atau kau tak ingat?” tanya Kyuhyun lagi, persis seperti mengintrogasi.

”Aku tidak sadar awalnya tapi, begitu aku bangun, aku segera mengingatnya.” Wajah Kyuhyun sedikit memerah mengingat malam itu.

”Maaf Kyuhyun sshi. Aku benar-benar…”

”Tidak apa. Mungkin pembicaraan ini membuat hatiku sedikit tenang untuk memaafkanmu.” Siwon tersenyum lebar. Ini bukan mimpi kan? Kyuhyun sungguh bicara seperti itu.

”Terima kasih karena kau memberikanku sebuah kesempatan.”

”Semua orang berhak mendapatkan kesempatan. Anggap saja, ini balas budiku karena dulu kau pernah menyelamatkanku.” Kyuhyun berdiri dari duduknya. Membersihkan celananya yang sedikit kotor dan kemudian berjalan pergi meninggalkan Siwon yang kini melompat kegirangan. Apakah ia mempunyai harapan untuk mendapatkan Kyuhyun? Ah- memikirkannya saja membuat jantung Siwon berdetak tak karuan. Bagaimana jika itu menjadi kenyataan?

***

          Beberapa kali Kyuhyun meremas ujung sweaternya. Berjalan mondar-mandir dan sesekali berhenti lalu berbalik lagi. Gugup dan juga cemas melanda dirinya. Kibum juga sama, bedanya ia masih cukup tenang dan tidak banyak bergerak meski kentara sekali rasa was-was di wajahnya.

“Bagaimana, uisa?” tanya Kyuhyun cepat. Pria yang ditanya itu hanya melepas maskernya dan menatap keduanya dengan tatapan prihatin.

“Saat ini keadaannya sudah cukup buruk. Jika tidak segera dilakukan operasi, saya tidak bisa menjamin bahwa tuan Cho akan selamat.”

“M-mwo? Uisa, saya mohon… selamatkan dia. Saya benar-benar akan membayar tagihan itu tapi, saya butuh waktu,” ujar Kyuhyun panik.

“Saya minta maaf Kyuhyun sshi. Ini kebijakan rumah sakit dan saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya permisi dulu.”

“Uisa? Uisa?!!” Kyuhyun berteriak dan berusaha menghampiri sang dokter yang semakin menjauh namun, dengan sigap Kibum menahannya. Ia mengelus punggung Kyuhyun lembut, mencoba menenangkan adiknya yang masih terus menangis. Kyuhyun benar-benar tidak punya pilihan lagi sekarang. Ia harus memilih antara Yunho atau Siwon karena malam ini ayahnya harus segera dioperasi.

“Aku akan mendapatkan uang sesegera mungkin. Hyung, kau tunggu disini,” ujarnya dengan suara yang masih menahan tangis; bergetar. Kibum menggeleng. Ia tahu dengan pasti apa yang akan dilakukan oleh adiknya itu.

“Kau tetap disini! Aku yang akan mencari uangnya!” Perintah Kibum, tegas dan dingin.

“Kau? Jika kau yang mencarinya, kau akan menemui para rentenir itu dan kau justru membuat kita semakin susah, hyung!” sentak Kyuhyun tak mau kalah. Keduanya memang sama-sama keras kepala. Sama-sama berego tinggi.

“Lalu, bagaimana denganmu? Kau akan menemui pria-pria hidung belang itu, bukan?” sindir Kibum.

“Itu lebih baik daripada membiarkan ayah meninggal,” sanggah Kyuhyun cepat. Kyuhyun harus berfikir dingin saat ini.

“Aku tidak mengizinkanmu pergi. Aku yang bertanggung jawab disini, aku yang tertua.” Kibum masih keukeuh mempertahankan argumennya. Baginya, apapun akan ia lakukan asal Kyuhyun tidak kembali ke pekerjaan itu.

“Kau egois hyung…” lirih Kyuhyun. Nadanya tidak lagi setinggi tadi. Kecemasan cukup membuat emosinya kembali mereda.

“Egois? Kau bilang aku egois? Aku hanya ingin menjadi kakak yang baik untukmu.”

“Kakak? Mana ada kakak yang menyetubuhi adiknya sendiri,” jawab Kyuhyun frontal dan menyindir. Kibum menghela nafas. Pembicaraan ini tidak pernah ada ujungnya. Selalu berakhir pada perdebatan yang panjang.

“Aku akan mencari pinjaman. Kau harus tunggu disini.” Ada guratan kelelahan pada wajah tampan Kibum. Buru-buru Kyuhyun mencegatnya. Pinjaman? Kyuhyun tidak ingin hutang-hutang mereka semakin menumpuk.

“Hutang kita sudah cukup banyak, Cho Kibum,” ujarnya kasar.

“Aku tidak peduli! Aku akan membayarnya.”

“Kemarin para brandal-brandal itu mencarimu, kau tahu? Kau bahkan belum melunasinya dan kau akan meminjam lagi?” tuntut Kyuhyun, dia benar-benar membuat emosi Kibum semakin memuncak. Lelaki itu bahkan baru menyelesaikan pekerjaannya di toko dan sekarang ia dipojokkan oleh adiknya sendiri. Sungguh, kesabaran Kibum juga ada batasnya.

Merasa Kibum tak lagi menyanggah, dengan cepat Kyuhyun menyambar tasnya. Ia sudah memutuskan akan pergi kemana sekarang.

“Kau harus pilih hyung! Apakah kau akan membiarkan ayah meninggal?” Kibum hanya diam. Ia menunduk dengan tangan yang terus terkepal erat, membuat kuku-kukunya memutih. “Aku anggap itu sebagai jawabanmu. Aku pergi.” Dan Kyuhyun pergi begitu saja tanpa Kibum bisa menahannya.

“ARRGGHH?!! Brengsek!!” Kibum memukul dinding dengan tangan kanannya. Memukulnya terus berulang-ulang tak perduli bahwa tangannya mulai meneteskan darah segar. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri. Sekali lagi- entah sudah keberapa kali, ia gagal menahan Kyuhyun. Gagal mencegah Kyuhyun melakukan perbuatan yang setiap kali ia memikirkannya, setiap kali itu juga ia merasa dadanya sesak. Seperti ribuan jarum yang menusuk jantungnya, menimbulkan luka yang tidak juga kering sampai sekarang.

***

Kyuhyun menghembuskan nafasnya. Ragu? Tentu saja. Tapi, ini pilihannya. Ia tidak akan kembali karena ia sudah terlanjur jauh. Memejamkan mata sejenak ketika bayangan Kibum terus mendesak pikirannya. Hati kecilnya selalu melarangnya untuk kembali seperti ini tapi, ia tidak punya pilihan. Keadaannya sekarang tidak memungkinkannya untuk memilih.

Ting… Tong…

Jemari jenjangnya terus memilin ujung sweater. Jantungnya berdegup kencang seiring dengan terbukanya pintu apartement, menampilkan sosok pria tinggi tampan yang mempunyai lesung pipi, Choi Siwon. Ya, pilihannya jatuh pada pria itu.

Dengan kegugupannya, Choi Siwon mempersilakan tamunya itu untuk masuk. Ia menawarkan minuman tapi, Kyuhyun buru-buru menggeleng. Ada yang lebih penting sekarang.

“Aku butuh uang, Siwon sshi.” Kyuhyun memulai percakapan dengan nada dingin seperti biasa.

“Ah- Nde.” Siwon masih gugup. “Berapa yang kau inginkan?” Kyuhyun menyebut nominalnya dan tanpa ragu atau menanyakan apapun, Siwon segera mengambil uang yang diperlukan dan memberikannya pada Kyuhyun.

“Aku tidak bisa mengembalikannya, Siwon sshi. Aku sudah mempunyai banyak hutang sekarang.”

“Tidak perlu, Kyu. Kau tidak perlu mengembalikannya. Itu tidak seberapa kok.”

“Tidak seberapa yang kau maksud, tetaplah uang, Siwon sshi.” Kyuhyun sedikit kecewa dengan pemikiran pria itu. Uang yang dianggap tidak seberapa itu, adalah harga untuk nyawa ayahnya.

“Karena itu, aku tidak akan membawa uang ini secara cuma-cuma.” Belum sempat Siwon menjawab atau menyanggah, Kyuhyun sudah berdiri dan mendekati tempatnya duduk. Dengan gerakan lambat, yang entah mengapa seperti gerakan slow motion di mata Siwon, Kyuhyun mulai membuka kancing sweater merahnya. Gerakannya seduktif, mampu menggoda semua pasang mata yang melihatnya. Ia mulai menanggalkan sweaternya, memperlihatkan bahunya yang seperti awan; putih dan juga lembut.

Siwon menelan ludah gugup. Ya Tuhan- Demi apapun, ia juga pria normal. Sesuatu yang seperti ini tentu saja mendesak area bawahnya. Siwon tidak munafik untuk mengakuinya, bahwa pria ini selalu bisa membuatnya ‘terbangun.’ Terlebih, dia adalah Cho Kyuhyun, orang yang paling dicintainya selama kurang lebih satu tahun belakangan ini.

“Aku punya harga diri yang tinggi, Siwon sshi. Aku tidak bisa menerima uang itu tanpa melakukan apapun. Karena itu, lakukan apapun yang kau mau. Aku tahu kau menginginkannya. Bukankah saat itu, aku membuatmu terpuaskan?” tanya Kyuhyun yang entah menyindir atau menggoda tapi, wajahnya masih sama, datar. Berbeda dengan Siwon yang tegang dan sedikit terkejut. Matanya tidak sekalipun memalingkannya dari pemandangan indah di depannya ini.

“Kyu… Ka-kau serius?” Siwon menelan ludahnya. Ini benar-benar ujian berat. Apakah ia akan melakukannya lagi dengan Kyuhyun? Ini menguntungkan sebenarnya. Ia tidak sedang mabuk, ia akan merasakan nikmat yang dulu sempat tidak ia sadari sepenuhnya. Belum lagi, Kyuhyun yang menawarkan dirinya. Ya Tuhan- Siwon sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Ini kesempatan langka, bukan?

“Cepat selesaikan dan biarkan aku pergi,” ucap Kyuhyun sedikit gugup. Siwon berdiri dan memandangi Kyuhyun lekat. Tubuh yang sempurna, tanpa cacat juga wajah yang rupawan. Siwon benar-benar beruntung malam ini.

“Kau yang meminta, Kyu…” Siwon menyeringai, ia mulai membuka pakaiannya satu persatu. Sedangkan Kyuhyun, ia memejamkan matanya. Ini bukan yang pertama tentu saja tapi manusiawi jika ia tetap merasa takut dan juga gugup.

***

Beberapa jam kemudian, Kyuhyun datang membawa uang, mengisi kuesioner yang dibutuhkan dan kemudian pernyataan persetujuan dari keluarga. Agak tergesa-gesa karena Kyuhyun tidak ingin ayahnya mengalami kondisi yang lebih buruk.

Operasi berjalan lambat. Kyuhyun dan Kibum menunggu dengan was-was. Tidak saling bicara karena Kyuhyun sadar bahwa Kibum sedang marah padanya. Hanya sesekali, Kyuhyun akan melirik Kibum yang selalu memasang wajah datarnya, tak memperdulikan tatapan Kyuhyun yang seakan meminta maaf.

“Hyung?” panggil Kyuhyun. Kibum tak menjawab. Ingin rasanya Kyuhyun menangis sekarang juga. Baginya, jika seluruh dunia mengacuhkannya dan memandang rendah dirinya, Kyuhyun tak pernah mempermasalahkan itu karena Kibum selalu disisinya. Lalu, bagaimana jika Kibum juga mengacuhkannya? Kyuhyun bisa gila jika itu terjadi.

“Aku benar-benar tak punya pilihan lain, hyung.” Ada jeda di ucapannya, Kyuhyun melihat wajah Kibum yang masih menunjukkan wajah dinginnya. “Kau kira aku tidak merasa tertekan? Aku kecewa pada diriku sendiri. Sejak ayah kecelakaan satu tahun yang lalu, aku tidak pernah bisa berfikir jernih. Bagiku, keselamatan appa adalah yang utama.”

Kibum mendongakkan wajahnya dan sedikit terkejut melihat Kyuhyun mulai terisak. Ia tahu dengan pasti penderitaan yang dialami oleh Kyuhyun. Ayahnya tidak pernah sadar semenjak kecelakaan itu dan sedikit demi sedikit hal itu mengubah kepribadiannya. Kyuhyun yang dulunya manja dan kekanak-kanakan berubah menjadi seseorang yang bertanggung jawab dan cenderung menutup diri.

“Aku sungguh-sungguh mencintaimu, hyung. Tidak perduli bahwa kau satu darah denganku, aku rela mengambil resiko apapun,” ujar Kyuhyun lagi.

Kibum menghela nafasnya, tidak mudah untuk menjalin hubungan terlarang seperti ini. Berbagai fikiran buruk terus berkelebat di kepalanya. Siapa yang akan menerima cinta sedarah? Apakah Kyuhyun akan dipandang sebelah mata? Apakah ayahnya akan merestui mereka? Kibum tidak ingin Kyuhyun tertekan dengan semua ini. Kyuhyun berhak mendapatkan kebahagiaannya. Ia berhak untuk bahagia.

“Aku tidak berharap sesuatu yang besar, hyung. Menikah dan akhir yang bahagia, hanya sebuah angan-angan belaka.” Keduanya saling diam. Menyelami perasaan masing-masing yang entah mengapa tidak pernah ada ujungnya. Baik Kyuhyun maupun Kibum, sama-sama merasa pesimis mengenai hubungan mereka yang sudah menginjak tiga tahun itu. Kyuhyun hanya tersenyum tipis mengingat kenangan-kenangan indahnya bersama Kibum. Cinta pertamanya.

Sinar mentari mulai menampakkan diri. Burung-burung bersahutan menyambut indahnya pagi yang cukup cerah dan juga hangat. Cho bersaudara terlihat sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Sesekali, mereka akan mencoba berbicara pada ayahnya yang bisa dipastikan tidak ikut menyahut ucapan anak-anaknya.

“Hyung pulang dulu, ada kelas pagi hari ini,” ujar Kibum sambil menata barang-barangnya. Operasi kemarin malam dinyatakan berhasil, karena itu mereka sudah bisa bernafas lega sekarang.

“Baiklah. Aku akan menjaga appa disini. Kelasku masih tiga jam lagi.” Kibum mengangguk dan membenarkan letak ranselnya. Ia menghampiri Kyuhyun dan mencium keningnya. Lama sekali, seakan menyesapi aroma Kyuhyun yang terus menguar memabukkannya.

Kibum sudah akan beranjak pergi sebelum tangan Kyuhyun mencegahnya. “Hyung, aku mencintaimu.” Dan Kyuhyun langsung membungkam bibir tipis Kibum, melumatnya penuh gairah.

Tangan Kyuhyun sudah melingkar pada leher Kibum, memajukan tubuhnya agar saling lekat. Kibum tak membalas ciuman Kyuhyun, hanya membiarkan tanpa menolak. Sedangkan Kyuhyun, ia masih terhanyut dalam ciuman sepihaknya. Menggigit dan menjilat kedua belahan bibir Kibum, bergantian atas dan bawah dan mau tak mau membuat Kibum sedikit tegang. Ia mulai membalas ciuman Kyuhyun.

“Nggh…” desahan Kyuhyun membuat birahi Kibum semakin naik. Ia bahkan sudah berani menggesekkan area selangkangan mereka, membuat keduanya semakin intim. Lidah Kibum melesak dan mendominasi seluruh mulut Kyuhyun, seakan membenarkan bahwa ialah yang memegang kuasa dalam hubungan mereka.

Dalam pagutannya, tanpa sengaja Kibum membuka matanya dan melirik tubuh ayahnya yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Segera saja, ia menghentikannya.

“Hyung, pergi dulu. Hyung tidak ingin terlambat,” ujarnya buru-buru. Kyuhyun merengut tak suka. Ia menggembungkan kedua pipinya; pose merajuk. Kibum hanya tersenyum tipis dan membelai rambut sewarna madu itu. “Kita bisa melanjutkan lain kali, baby.” Kyuhyun tersenyum cerah, Ah- cepat sekali perubahan ekspresinya itu.

“Hyung, katakan kau mencintaiku juga,” ujar Kyuhyun sambil menggandeng lengan Kibum.

“Katakan apa?” Kibum tersenyum saat melihat raut wajah adiknya yang menggemaskan itu. Bibir merahnya yang sedikit maju dan matanya yang menyipit. Kibum suka sekali menggoda Kyuhyun. Hanya untuk melihat ekspresinya itu tentu saja.

“Na-do Sa-rang-hae-yo. Katakan begitu hyung! Kau tidak mencintaiku lagi?”

“Baiklah, baiklah. Arraseo. Nado.” Kibum mengacak rambut Kyuhyun yang belum disisir. Walaupun begitu, Kyuhyun tetap terlihat manis.

“Poppo!” Kyuhyun menunjukkan pipi kirinya tepat di depan Kibum. Tak mau membuang waktu dan terlambat, Kibum segera mencium pipinya singkat. Kyuhyun tersenyum cerah, menunjukkan deretan gigi putihnya.

“Sekarang, lepaskan tangan hyung. Mau sampai kapan kau menahanku?”

“Hehehe, iya hyung. Kyunie lupa,” jawabnya disertai cengiran khasnya. Kyuhyun melambaikan tangannya mengantar kepergian Kibum. Entah perasaannya saja atau apa, Kyuhyun merasa ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Firasat buruk.

***

“Hai, hai Cho Kibum.” Beberapa gerombolan pria bertubuh kekar mengelilingi Kibum yang kini sedikit tegang. Pria-pria ini tentunya ia tahu. Kelompok rentenir yang pernah Kibum pinjam uangnya.

“Mau apa kalian?” Kibum memasang wajah datar andalannya. Sang ketua dari kelompok itu tertawa keras. “Mau apa? Tentu saja, menagih uangku.”

“Aku sudah bilang bahwa aku butuh waktu.”

“Dan aku juga sudah bilang, bahwa aku tidak ingin menambah jangka waktumu.” Pria itu memberi kode pada bawahannya yang dengan gesit, langsung memukuli Kibum. Kibum kewalahan menghadapi banyaknya pria-pria itu. Ia kalah jumlah.

“Aku mempunyai tawaran yang menarik untukmu, Cho Kibum.” Pria itu mendekati Kibum yang terus saja memuntahkan darah di mulutnya. Ia menyeringai dan memasang wajah penuh kemenangan. “Kemarin, saat aku menagih di rumahmu… Aku melihat ada seorang pemuda cantik yang tinggal disana. Adikmu, Cho Kyuhyun.” Tubuh Kibum menegang mendengar penuturan pria di depannya ini. Jika saja, ia berani macam-macam terhadap Kyuhyun-nya, Kibum tidak akan segan-segan untuk menghabisi pria ini dengan tangannya sendiri.

“Serahkan dia padaku dengan itu, kuanggap hutangmu lunas. Bagaimana? Penawaran yang menarik bukan?”

“Brengsek kau! Sampai matipun, aku tidak akan menyerahkan Kyuhyun padamu!” bentak Kibum. Wajahnya tak lagi datar seperti biasa. Wajahnya berubah menjadi panik dan juga ketakutan.

“Kalau begitu, aku yang akan merebutnya darimu. Kau tahu, dia sangat cantik dan juga tampan dalam waktu yang sama. Dia sesuai dengan seleraku, Kibum sshi.”

“Brengsek!” Kibum hampir melayangkan pukulan pada ketuanya itu tapi, naas para anak buahnya lebih gesit. Mereka kembali memukuli Kibum bertubi-tubi. Kibum jatuh dan kepalanya terasa penat. Ia tidak bisa bertahan lagi, segalanya terasa berputar-putar. “Shim Changmin… Kubunuh kau jika berani menyentuhnya.” Dan itu, kata terakhirnya sebelum semuanya menjadi gelap.

Pria yang dipanggil Changmin itu hanya tertawa. Ia meninggalkan Kibum tanpa perasaan. Kibum masih bernafas atau tidak, ia tidak perduli karena sekarang ia telah menemukan mainan barunya, Cho Kyuhyun. Changmin pastikan Kyuhyun akan segera berada di tangannya dalam waktu dekat ini. Mungkin menyiksanya sedikit dan menyekapnya adalah ide yang bagus. Changmin sangat menyukai saat-saat dimana orang yang menjadi buruannya tersiksa lalu menyetubuhinya dengan kasar. Melihat luka-luka hasil karyanya saat berhubungan intim adalah sesuatu yang ia amat sukai.

“Apa yang harus kita lakukan, tuan?” Changmin melototkan matanya tak suka ke arah bawahannya yang dengan seenaknya merusak bayangan-bayangan indahnya akan tubuh Kyuhyun. Ia memukul kepala pria botak itu. Berani sekali dia!

“Cari dia di kampusnya, Pabbo! Jangan menimbulkan kecurigaan apapun. Saat keadaan menguntungkan, culik dia! Mudah bukan?” Changmin menyeringai dan kemudian tertawa keras. “Cepat lakukan bodoh! Apa yang kau tunggu?” bentaknya lagi.

“Baik, tuan.” Dan, inilah awal dari kehidupan Cho bersaudara. Awal yang akan mengubah segalanya. Awal dari sebuah titik balik dari hubungan mereka ke depannya.

TBC

Annyeong… Apakah sudah cukup panjang?

Kalau ada yang tanya, apakah Siwon ngelakuin ‘itu’ ma Kyu atau nggak? Silakan tunggu jawabannya di chapter depan ya.

Btw… Awalnya Sabrina mau masukin part NC di chapter ini. Tapi, Sabrina ngurungin niat itu karena Sabrina gak percaya diri buat nulisnya. Tapi, ada beberapa readers yang minta buat NCnya gak diskip… Sabrina kembali mikirin itu. Jadi, Sabrina minta saran buat Chingu semua; “Apakah perlu ada NC?” kalau iya, “Pairing mana?”

Kalau banyak yang pengen NC, Sabrina buatin deh. Mungkin di protect karena Sabrina pengen sekalian buat yg hot #apadeh

Ada yang tanya juga soal pairing. Pairing di FF ini tentunya Wonkyu dan Kihyun. Ini gak akan melenceng dari niat Sabrina sejak awal bahwa ini FF Kihyun angst jadi, selalu ada kemungkinan akhir yang berbeda. Ditunggu aja ya.

Makasih buat yang ngasih komentar. Sebagai admin baru, Sabrina gak nyangka ada yang suka tulisan Sabrina. Ditunggu Commentnya ya. Gomawo,

FF Kyuhyun uke// yaoi// My Rival is His Brother Chapter 2

Chapter 2 :

”Hei, Cho Kyuhyun!” Kyuhyun menoleh belum sempat ia memandang siapa yang memanggilnya, pipinya sudah ditampar kasar. Kyuhyun kesakitan, tapi ia tidak menunjukkannya. Ia adalah pria yang dingin di luar, hanya di hadapan Cho Kibumlah ia menjadi sosok dirinya yang sebenarnya.

”Kau tidur dengan Yesung hyung?” bentaknya. Kim Ryeowook memandang penuh kebencian pada Kyuhyun, menghiraukan tatapan-tatapan tidak suka karena mengganggu ketenangan perpustakaan. Kyuhyun tersenyum mengejek. ”Dia yang memaksa meniduriku, aku sudah menolak bagaimanapun aku sudah mempunyai janji saat itu. Kau tahu, kekasihmu itu belum membayarku sama sekali.” Ryeowook mendencih, ia menjambak rambut Kyuhyun. Kyuhyun hanya diam, tidak menunjukkan ekspresi apapun.

”Pria jalang!” makinya. Kyuhyun melepaskan tangan Ryeowook yang menjambaknya. Manik matanya nampak menyiratkan keterlukaan yang mendalam. Ia berseru marah. ”Apa maumu?” tanyanya sinis. Ryeowook menunjukkan beberapa foto. ”Berhenti menjadi manusia murahan!” hardiknya.

”Lalu apa pedulimu? Hidupku milikku sendiri.” Ryeowook sudah akan bersiap melakukan serangan sebelum seseorang menginstrupsi. ”Berhenti mengganggunya!” Siwon menahan tangan Ryeowook, ia nampak marah terlihat dari cara pandangnya.

”Kau tidak apa-apa, Kyu?” Siwon memperhatikan Kyuhyun, memastikan semua dalam keadaan baik. Kyuhyun hanya mengangguk, tanpa senyuman di wajahnya.

”Cih… Kali ini Choi Siwon, lihatlah betapa murahannya dirimu,” ujar Ryeowook kasar. Kyuhyun tersenyum, menyeringai seolah menantang. ”Kau hanya iri. Tidak punya seseorang yang akan membelamu, ya?” sindirnya. Ryeowook terlihat marah tapi, ia tahu akan percuma selama masih ada Siwon.

”Kali ini kau kulepaskan. Tidak untuk lain kali.” tegasnya. Ia pergi meninggalkan keduanya dengan tangan terkepal, ’Awas saja kau Cho Kyuhyun.’

***

Siwon memberikan satu gelas kopi panas. Dengan hati-hati, Kyuhyun menerimanya. ”Gomawo,” ujarnya lembut. Siwon membalasnya dengan senyuman, ciri khasnya. Mereka tengah berada di taman kampus dekat dengan danau. Sinar mentari sedikit meredup, tampaknya cuaca akan segera hujan.

”Yesung hyung, apakah…” tanya Siwon memulai pembicaraan.

”Kau tahu dengan jelas. Apa masih perlu ditanyakan?” potong Kyuhyun cepat.

”Kau bisa berhenti Kyu, berapapun yang kau inginkan, sebut saja nominalnya aku akan-”

”Aku bukan pengemis dan berhenti bersikap baik padaku.” Siwon tersenyum, sekedar mencairkan suasana yang mendadak menjadi canggung.

”Aku hanya mengkhawatirkanmu, Kyu.” Kyuhyun berdiri dari bangku taman yang didudukinya, ia tersenyum hambar. ”Kau hanyalah pria brengsek yang sama seperti mereka. Kau kira dengan kau memberiku beberapa tumpukan uang, aku akan bersikap baik padamu? Kau bukanlah apa-apa bagiku,” ujarnya ketus. Siwon tidak tersinggung, sebenarnya ia sudah tahu mengenai sifat Kyuhyun yang cenderung berlidah tajam yang introvert.

”Maaf,” lirihnya.

”Kenapa kau meminta maaf. Ah… benar, aku lupa. Kau Choi Siwon, pria bodoh yang selalu bersikap baik bahkan meskipun aku selalu bersikap ketus.”

”Aku mencintaimu, Kyu.” Kyuhyun menoleh, tatapan matanya seolah menyiratkan ketidakpercayaan,

”Aku tahu kau tidak akan pernah membalasnya… tapi-”

”Jika kau tahu kenapa masih mencintaiku?” Siwon berdiri, mensejajarkan tubuhnya dengan Kyuhyun. Dipandanginya wajah Kyuhyun. Putih pucat dengan mata karamelnya yang mampu menghipnotis siapapun dan bibirnya yang semerah cerry, pantaslah jika ia dikagumi oleh banyak orang.

”Aku tidak tahu. Terserah jika kau menganggapku bodoh. Tapi… hatiku milikku sendiri. Jadi, biarlah aku tetap mencintaimu.”

Pabo!” sentak Kyuhyun, ia berlari meninggalkan Siwon yang memandangnya sendu.

Siwon tersenyum pahit, ia masih setia melihat punggung Kyuhyun yang semakin menjauh meninggalkannya. Ia ingat pertemuan pertamanya dengan Kyuhyun, seperti kaset yang selalu terputar di memorinya.

Flasback

 

Siwon PROV

”Choi Siwon!” aku tersedak. Aku akan menyumpahi orang yang mengganggu acara makanku namun, belum sempat aku melakukannya sang tersangka utama yang tak lain adalah sahabat baikku nampak panik.

”Tolong aku.”

”Hah? Apa?” Dengan tampang yang mungkin bodoh, aku celingak-celinguk tidak jelas. ”Siapa yang mengejarmu?” Sungmin memukul kepalaku dengan sendok, ia nampak kesal.

”Ini bukan tentang aku. Ini tentang Kyuhyun.”

”Kyuhyun? Ah- pria penuh dengan skandal itu.”

”Bukan saatnya untuk itu. Dengar… Ryeowook menelanjangi Kyuhyun di atap kampus. Kumohon bantu dia.” ucapnya parau.

”Kenapa bukan kau?” tanyaku santai. Mungkin karena terlalu santai, ia kembali memukul kepalaku, kesal mungkin.

Pabo! Jika Ryeowook tahu, habislah aku.”

”Kau takut sekali dengan Ryeowook, pecundang!” Sungmin melotot. ”Kau fikir aku suka berteman dengannya. Jika bukan karena ayahnya yang dermawan membiayai sekolahku, aku sudah menghabisinya dengan matrial art milikku.” aku tertawa mengejek, namun ia meninju lenganku.

”Jadi, maksudmu aku harus jadi pahlawan penolongnya begitu?” Sambungku. Sungmin mengangguk antusias. Sebenarnya Sungmin anak yang baik dan polos hanya saja, keadaanlah yang membuatnya menjadi gembong gosip bersama Ryeowook dan Eunhyuk.

”Tidak, aku tidak mau berurusan dengannya. Bisa-bisa aku akan terkena skandal.” tolakku halus.

”Kumohon. Kau tega membiarkannya telanjang seperti itu?”

”Aku bahkan tidak mengenalnya.”

”Tidak penting. Cepat pergi atau aku akan membunuhmu.” Sungmin sudah ancang-ancang melemparku dengan sepatunya, membuatku mau tak mau harus pergi menolong Kyuhyun sekarang juga.

Dengan mendumel dan sedikit tak ikhlas, aku menuju atap sekolah. Mataku terasa kaku ketika melihat tubuh putih mulus yang hanya ditutupi oleh jaket pink sebatas paha, yang aku yakini itu adalah jaket milik Sungmin. Sesuatu di sekitar selangkangannya tidak tertutupi dengan sempurna, berwarna merah muda yang terlihat kecil dan imut. Paha mulusnya begitu halus tanpa bulu. Sungguh inilah pesona seorang Cho Kyuhyun, benar kata orang! Ah- Choi Siwon pabo, apa yang kau fikirkan? Kenapa jadi mesum seperti ini? Kyuhyun ketakutan begitu aku mendekatinya.

”Jangan takut Kyu, aku kemari untuk menolongmu.” Aku menyerahkan kaos hijau muda dan celana skinny jeans yang aku temukan di jok mobilku. Dengan sedikit ragu, Kyuhyun mengambilnya.

”Bisakah kau membalikkan badanmu?” tanya Kyuhyun dengan air mata yang masih terus menetes. Hidung dan pipinya sedikit memerah karena menangis, membuat Kyuhyun semakin cantik di mataku.

”Hm. Arraseo.” Aku membalikkan badanku. Dadaku sedikit berdesir ketika suara Kyuhyun kembali tertangkap di indra pendengaranku.

”Terima kasih, Hm…”

”Siwon, Choi Siwon.” Entah kenapa aku menjadi gugup, memalukan.

”Ah- Ne. Choneun Cho Kyuhyun imnida.”

”Aku tahu.”

”Ya, pasti karena reputasiku yang buruk. Kurasa semua orang tahu siapa aku.”

”Maaf.” Ah- sial! Kenapa aku mengatakan itu, kenapa aku jadi gugup seperti ini.

”Kau boleh berbalik, aku sudah selesai.” Aku kembali terpesona ketika melihat penampilan Kyuhyun. Kaos itu lumayan kedodoran dan celana jeansnya cukup ketat membuat kaki jenjangnya terpampang dengan jelas. Ia menghapus air matanya, matanya mengerjap pelan membuatnya makin terlihat manis. Ya… sejak saat itulah, aku telah menaruh hati pada Kyuhyun. Satu kesalahanku yang sampai saat ini masih membuatku menyesalinya. Aku pernah memperkosanya. Kebodohanku yang membuatku melakukan itu dan aku masih ingat, aku menangis sambil berulang kali memohon agar dia memaafkanku. Dia memandangku penuh kebencian sejak itu. Aku yakin dia pasti menganggapku namja brengsek seperti yang lain, setidaknya sejak saat itu.

Siwon PROV END

 

Flasback OFF

 

ff Kyuhyun uke// yaoi// My Rival is His Brother

Featured

Pairing: Kihyun, Wonkyu, Haekyu, Changkyu, Yunkyu, dll.

Rate: T

Desclimer: Cerita ini milikku!

PS: NO PLAGIARSM !

 WARNING: YAOI // INCEST // 

SUMMARY: Meski kita saling memiliki, saling mencintai, namun ragaku tak sepenuhnya menjadi miliknya. Aku tahu hubungan kita salah, bahkan dikutuk namun, pesonanya mampu mengikatku ke dalam benang tak terlihat, benang yang melintasi batas hati kami masing-masing.

ENJOYED THE STORY >_<

Chapter 1

Seorang pria tengah asyik bersendau gurau dengan beberapa temannya. Mereka tengah berada di kelas, menunggu sang dosen memasuki kelas yang ternyata tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Pria cantik baru saja datang. Mengenakan kaos berlengan panjang berwarna babby blue dan dipadukan dengan syal berwarna hitam yang bertengger di leher mulusnya, membuat beberapa orang menelan ludah, meratapi betapa sempurnanya mahakarya Tuhan yang satu ini.

”Sstt… Kudengar, dia menggaet Yunho sonsangenim.” salah seorang pria diantara mereka mulai bergosip, pria berambut kuning mulai menanggapi, ”Ah- pantas saja! Aku juga merasa Yunho sonsangenim selalu mencuri pandang dengannya akhir-akhir ini.”

”Bahkan sebelumnya, ia tidur dengan Siwon!” ujar pria yang diketahui bernama Sungmin. Pria lain nampak terkejut, ”Siwon? Kau yakin? Pangeran kampus yang dijuluki Prince Charming itu?” Pria berambut pirang masih tak percaya.

”Apa mau kalian?” sentak sang pria cantik. Rupanya ia diam-diam mendengar pembicaraan para penggosip itu. Tatapan matanya menunjukkan ketidak nyamanan, meskipun wajahnya datar dan cenderung tak menunjukkan ekspresi apapun.

”Tidak ada.” jawab pria bernama Ryeowook. Mereka memang terkenal sebagai kumpulan pria penggosip. Desas-desus yang selama ini beredar dikampus adalah karena gunjingan mereka.

”Kalian membicarakanku.” sinis Kyuhyun. Pria berambut pirang yang bernama Eunhyuk hanya tersenyum, ”Bukankah itu kenyataannya? Bukankah itu memang julukanmu? Pelacur!”

Plak!

Seluruh siswa yang berada di kelas terkejut. Eunhyuk yang pipinya agak memerah karena tamparan dari pria cantik melotot tajam ke arahnya.

”Meskipun aku hina seperti apa yang kalian pikirkan, bahkan meskipun aku pelacur sekalipun, setidaknya hargai aku!” Pria cantik meninggalkan kelas, bahkan ia tak perduli ketika Yunho sonsangenim telah memasuki kelas.

Sang pria cantik mendongakkan wajahnya, menatap hamparan langit yang terbentang luas, matanya yang bulat perlahan menurunkan lelehan air mata. Ia refleks menoleh ketika merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Ia memandang datar pada pria yang kerap menyewanya itu.

”Kyuhyun sshi, sedang apa disini?” Pria cantik itu buru-buru menghapus air matanya, ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan orang lain.

”Membolos.” jawabnya acuh.

”Malam ini ada waktu?” Kyuhyun tersenyum hambar, ia yakin perkataan selanjutnya adalah-

”Bagaimana jika ke apartemenku?” Bingo. Tepat dugaan Kyuhyun.

”Tidak.”

”Ayolah, Kyu… Kubayar tiga kali lipat jika perlu.” Kyuhyun menatap Donghae, ia tersenyum miris, ’Inilah kelemahanku. Uang.’ batinnya kesal.

”Bagaimana?” desak Donghae, ia cukup memaksa kali ini. Kyuhyun hanya mengangguk, tanpa ekspresi.

Gomawo. Kujemput pukul delapan. Sampai jumpa, chagiya.” Donghae melumat bibir Kyuhyun cukup lama dan kemudian meremas pantat Kyuhyun sesaat sebelum pergi. Tanpa mereka sadari, sedari tadi seorang namja tengah memperhatikan mereka. Tangannya terkepal kuat. Wajahnya menyiratkan ketidak sukaan yang mendalam.

”Menemui Donghae?” Kyuhyun melonjat kaget, ia menengok kebelakang dan mendapati sang kakak tengah menatapnya tajam, membuatnya harus menelan ludah gugup, ”An-aniya.” Kyuhyun menunduk, tak berani memandang kedalam mata kakak kandungnya itu.

Hyung tahu. Tadi Hyung mendengar pembicaraan kalian di taman.” Kibum menyenderkan tubuhnya ke tembok, tangannya ia letakkan didepan dada.

”Maaf hyung.”

”Berhenti melakukan ini, Kyunie… Jangan kecewakan hyung.” Kibum memandang sendu ke arah adiknya. Bagaimanapun, ia tidak menyukai bahkan membenci pekerjaan adiknya itu.

”Ini satu-satunya jalan keluar hyung. Aku ingin appa tetap hidup.” bibir merah Kyuhyun bergetar, menandakan ia tengah menangis hebat sekarang.

”Aku… aku yang akan bekerja, Kyu. Tinggalkanlah pekerjaan menjijikkan itu.” bentak Kibum.

”Kau kira berapa gajimu, hyung. Itu tidak cukup untuk pengobatan ayah.”

”Aku akan mencari pekerjaan lain. Jadi-”

”Cukup hyung. Aku akan pergi.” Kyuhyun berbalik, tapi tubuhnya meremang ketika ia mendengar perkataan kakaknya.

”Aku mencintaimu, Kyu. Maaf, hyung tidak bisa melindungimu.”

”Aku pergi.” pamitnya. Ada perasaan bahagia sekaligus nyeri ketika mendengar perkataan Kibum. Kyuhyun tahu ia salah. Tapi, ia akan lebih merasa bersalah jika tidak menyelamatkan ayahnya yang terbaring di rumah sakit.

Kibum menghela nafas panjang, tubuhnya tak lagi tegap sekarang. Ia marah, kecewa dan sedih. Kibum merasa tidak menjadi kakak yang baik untuknya. Ia menyesali dirinya sendiri karena membiarkan adik yang juga sangat dicintainya itu menjalani kehidupan seperti ini.

Kyuhyun berjalan tertatih dan sedikit lambat ketika masuk ke apartemennya. Maklumlah permainan Donghae tidak bisa dibilang lembut, bahkan cenderung kasar. Kyuhyun menutup pintu perlahan, ia tidak ingin Kibum melihat keadaannya yang seperti ini. Ia malu dan kecewa pada dirinya sendiri.

”Biar ku bantu.” Kyuhyun terkejut ketika mendapati kakaknya membantunya berjalan. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Kibum menuntun Kyuhyun ke kamar, memilihkan piyama untuknya dan kemudian masuk ke kamar mandi, menyiapkan air hangat.

”Mandilah, kau pasti lelah.” Sebelum Kibum keluar kamar, Kyuhyun memeluknya dari belakang. Menyenderkan kepalanya di punggung tegap kakak tercintanya itu.

”Maaf. Karena tubuh ini bukan hanya untukmu. Maaf karena meskipun keadaanku yang hina ini, aku tetap masih berani mencintaimu. Maafkan aku, hyung…

”Kyu-”

”Jika kau ingin pergi dariku, inilah saatnya hyung. Karena semakin lama hal ini akan semakin melukai kita.” Kyuhyun terisak, ia sesenggukan, ia tak peduli jika semua orang mengatakan bahwa ia cengeng, jika dihadapan Kibumlah Kyuhyun bisa menjadi dirinya sendiri. Kibum membalikkan tubuhnya dan kemudian memegang kedua bahu adiknya yang terlihat bergetar, ”Tidak Kyu, Tidak akan pernah. Apapun dan bagaimanapun hyung tidak akan pernah melepasmu. Aku mencintaimu, Kyu. Lebih dari diriku sendiri.”

”Tapi, aku kotor, aku hina seperti yang dikatakan oleh mereka ak…” Kibum tak tahan lagi, ia mencium Kyuhyun tepat di bibir. Mereka masih hanyut dalam ciuman memabukkan itu, bahkan Kibum semakin dalam menciumnya. Menjilat, menekan dan menghisap kuat belahan bibir yang selalu menggodanya itu. Kyuhyun menjambak rambut Kibum ketika Kibum mulai membuat kissmark di lehernya. Tapi, tiba-tiba Kyuhyun mendorong tubuh Kibum, membuat Kibum sedikit kesal karena merasa terganggu, ”Hyung, aku baru selesai bercinta, tidakkah kau merasa jijik pada tubuh ini?” Kyuhyun menunduk, sedangkan Kibum hanya tersenyum lembut. Dibelainya rambut kuning kecoklatan milik adiknya itu, ”Aku tidak pernah merasa jijik padamu, Kyu.”

”Tadi kau bilang, pekerjaanku menjijikkan,” sungut Kyuhyun. Ia memajukan bibir bawahnya, membuat Kibum terkikik pelan, ”Pekerjaan. Bukan dirimu.”

Ani. Itu sama.” balas Kyuhyun, ia tidak mau menatap Kibum, jujur, ia sempat kesal tadi.

”Kau marah?” tanyanya. Kyuhyun hanya mengangguk lucu, membuat Kibum semakin tak tahan untuk ’menyantap’ adiknya itu.

”Aku akan membuatmu senang malam ini, Kyu.” Tanpa basa-basi, Kibum menggendong Kyuhyun dan menghempaskan tubuh ringkih itu ke ranjang. Wajah Kyuhyun memerah, antara kaget dan malu.

Hyung, hyung, aku lelah. Berhenti.” Kibum menghentikan aktivitasnya menggerayangi tubuh Kyuhyun, meski kesal tapi ia tetap menurut. Ia tidak ingin memaksa dan menyakiti orang yang dicintainya itu. Kibum turun dari ranjang, membenarkan pakaiannya dan membantu Kyuhyun berdiri, ”Maaf, kau pasti lelah.”

”Sudah lama sejak kita tidak bercinta. Kau pasti kecewa padaku kan hyung?” Kyuhyun kembali terisak, ”Tidak kyu. Aku mencintaimu, bukan tubuhmu.”

”Terima kasih hyung, saranghaeyo.”

Nado, Kyu.”

TBC

Annyeong >_<  Ini publish pertamaku. . Yang biasanya baca dan comment sekarang beraniin diri buat nulis, keke. meskipun dari kecil cita-cita saya emang jadi penulis , g ada yang tanya ya?,hehe.

Sabrina sendiri lagi proses pembuatan novel dan hampir 200 lembar, tapi berhubung sabrina Kpop dan buat penghilang kejenuhan menulis pake bahasa baku yang kudu bagus, akhirnya saya mencoba nulis ff yang malah jadi gaje gini. . .

OK deh, daripada ntar malah jadi curhat, sabrina berharap kalian mau ngasih komentar kalian disini dengan begitu saya akan ngelanjutin nie ff.

Comment ya, karena comment kalian sangat berharga dan ibarat motivasi untuk saya.

Ghamsahamnida >_<