The Melody Chapter 8

Pairing : Just Wonkyu and always that, Slight Kriskyu
Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kris, Kim Kibum, Lee Donghae, Shim Changmin, Cho Taemin, Lee Sungmin, Jung Yunho, dll.
Rated : M (Ini termasuk M, menurutku).

0O0

Don’t Like, Don’t Read, It’s Simple,
No Bashing, No flame and NO SIDER.

Chapter 8

“Kyuhyun-ah.” Panggil seorang gadis berulang-ulang. Ia terus menarik-narik lengan sang pemuda agar pemuda yang diajak bicara menoleh kepadanya.
“Ada apa nonna?”
Sang gadis tersenyum.
“Hari ini, aku bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan. Dia tinggi, wajahnya halus, berseri dan mempunyai lesung pipi yang menawan. Oh, Kyu, kau harus melihatnya.”
Kyuhyun menatap Taemin dan ikut tersenyum. Ia lalu mengelus rambut hitam panjang milik sang gadis.
“Kau menyukainya?”
“Eh?”
Taemin menatap Kyuhyun lama lalu mengangguk malu-malu. Ia adalah tipikal gadis yang sedikit susah untuk jatuh cinta. Dan sekarang, dengan gampangnya, ia jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap pria itu. Sedikit malu tentu saja.
“Kau harus mengenal mereka, Kyu. Mungkin sebentar lagi mereka akan datang,” ucapnya riang.
“Datang?”
“Hm. Aku memperkerjakan mereka kemarin.”
Kyuhyun hanya mengangguk mengerti. Dan, ketika sosok itu datang, Taemin girang luar biasa. Ia bahkan berteriak dan kemudian pergi ke kamar mandi untuk merapikan penampilannya.
“Kyu, tolong layani mereka, ya? Aku ke kamar mandi sebentar.” Kyuhyun tertawa saja melihat Taemin yang bersikap seperti itu. Maklum, Kyuhyun belum pernah merasakan jatuh cinta.
Kyuhyun berdiri dari kursi pelanggannya. Menoleh, bermaksud untuk mengajak mereka mengobrol, dan…
DEG!
Pria itu. Pria di mimpinya.
“Hai.” Sapa pria itu tersenyum. Kyuhyun tidak tahu mengapa sebagian tubuhnya terasa lemas untuk digerakkan. Ia bahkan tidak membalas jabatan tangan pria itu. Aneh bukan? Berkali-kali, Kyuhyun menyakinkan pada dirinya sendiri, bahwa itu hanyalah mimpi. Mereka tidak benar-benar saling mengenal. Tapi? Bagaimana mungkin efek dari mimpi itu bahkan masih dirasakannya. Seperti nyata. Pria ini seperti benar-benar telah melecehkannya.
“Apakah ini tempat kerja Taemin?”
Pria itu bicara lagi. Mungkin, tersinggung karena jabatan tangannya diacuhkan- begitu menurut Kyuhyun. Ah… andai Kyuhyun tahu, bahwa Siwon sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Ia hanya merindukan pemuda ini. Baginya, segalanya tak jadi penting kecuali bertemu dengannya.
“Iya.” Singkat. Kyuhyun juga bingung mengapa ia bisa segugup ini. Untunglah, Taemin datang dan mencairkan suasana. Ia mengajak mereka untuk duduk dan mendiskusikan mengenai pekerjaan, sekaligus perjanjian tentang upah yang akan mereka dapatkan. Karena tidak mengerti mengenai uang dan lain-lain, mereka hanya menyetujui tanpa membantah. Taemin senang tentu saja, tapi ia tidak akan mengambil keuntungan dari pria yang disukainya itu. Sepolos apapun mereka.
“Kau sudah melihatnya, kan. Bagaimana menurutmu, Kyu?” Taemin berbisik ketika posisi mereka sudah berjauhan. Dengan malas, Kyuhyun menjawab,
“Tampan, nonna.”
“Benarkan? Dia sangat gagah dan tampan.”
“Hn.”
“Kyu, menurutmu, apakah dia akan menyukaiku?”
“Molla,”
“Hah, kau ini!” Taemin merengut sebal dan Kyuhyun yang tertawa karena menggoda sang kakak.
“Bagaimana kau bisa menyukai orang dengan penampilan aneh seperti itu?” Kyuhyun menatap Siwon dengan pakaian ala drama kolosalnya. Apakah mereka tengah syuting drama sekarang? Mungkinkah mereka aktor? Kyuhyun tidak terlalu sering melihat acara televisi, jadi mungkin, ia tidak tahu.
Semenjak nonnanya mengenalkannya pada mereka, Kyuhyun mulai terlihat akrab, sebenarnya desakan dari sang nonna yang memintanya untuk menjadi penghubung antara dirinya dan sang pujaan hati. Kyuhyun tentu saja setuju-setuju saja, asal nonnanya bahagia.
“Hai, Kyu. Sibuk tidak?”
Kyuhyun menoleh dan tersenyum pada Siwon.
“Ani, hyung. Waeyo?”
Siwon berani bersumpah bahwa saat ini, wajah Kyuhyun sangat dekat dengannya. Wajah yang sangat cantik, wajah yang dirindukannya dan wajah yang selalu ada di mimpi-mimpinya. Siwon harus mati-matian menjaga kontrolnya agar tidak langsung memeluk atau mencium pemuda manis ini. Bagaimanapun, ia masih punya logika dan tidak ingin membuat Kyuhyun menjadi ketakutan.
“Aku ingin membeli beberapa potong baju. Tapi, dimana, ya tempat yang bagus untuk membelinya?”
Kyuhyun menahan tawanya hingga rasanya pipinya sedikit memerah. Sedikit lucu memang melihat mereka memakai pakaian seperti itu. Terkesan sedang syuting sebuah film kolosal. Siwon yang melihat Kyuhyun tertawa, ikut tertawa. Rasanya lega dan juga bahagia, melihat orang yang dicintainya, tertawa lepas karena dirinya.
“Maaf, maaf, hyung. Ok, ayo, aku antar.” Kyuhyun sedang berusaha menahan tawanya dan kemudian mengambil jaket dan melepaskan celemek karyawan yang dipakainya. Siwon senang sekali ketika akhirnya bisa jalan berdua saja dengan Kyuhyun.
“Kyu, Chakaman!”
“Eh? Nonna? Ada apa?”
“Mau kemana kalian?”
“Mengantar Siwon hyung pergi belanja, nonna.”
“Biar aku saja yang mengantarnya, Kyu. Kau jaga cafe saja, ne?” Taemin memasang wajah yang mengharuskan Kyuhyun untuk tetap tinggal. Merasa mengerti dengan code yang dipasang sang nunna, Kyuhyun mengalah dan mengambil celemeknya kembali. Berbeda dengan Siwon yang memasang wajah sebal luar biasa. Taemin ini, selalu mengganggunya dan juga Kyuhyun. Uh,
“Ayo, oppa. Kajja!” Taemin menarik tangan Siwon yang tak kunjung bergerak. Dengan sangat terpaksa, Siwon mengikuti Taemin dan Kyuhyun yang melambai sambil tersenyum innocent. Ah, andai Kyuhyun tahu bahwa Siwon ingin pergi berdua saja dengannya.
“Tunggu sebentar.”
Taemin terlihat bingung ketika Siwon justru berbalik pergi dan berjalan tepat di depan Kyuhyun.
“Siwon hyung?” Kyuhyun bingung ketika Siwon terus menatapnya lama, seakan ada sesuatu yang ingin diomongkannya, namun tidak bisa disampaikan. Mati-matian Kyuhyun harus menahan gugupnya karena matanya bertemu pandang dengan mata tegas dan tajam seorang Choi Siwon.
“Kau harus ikut,” ucap Siwon tegas dan sarat akan perintah. Kyuhyun yang seakan terbius hanya mengangguk mengiyakan dan Taemin yang merengut kesal. Mereka bertiga akhirnya menaiki mobil dan dikemudikan oleh Kyuhyun. Siwon memandang ke luar jendela karena sedari tadi, Taemin tak henti-hentinya menatap wajahnya sambil tersenyum malu-malu. Oh, andai dia bisa menggunakan sihir sesuka hatinya, dia pasti akan menyihir Taemin untuk tetap menatap lurus ke depan. Yah, andai.
“Oppa, ini bagus. Kau beli saja ini.” Kyuhyun tertawa ketika Nunnanya terus mengganggu Choi Siwon dan memilihkan baju ini-itu, tentu saja membuat Siwon risih, Kyuhyun tahu itu tapi, dia tidak bisa berbuat apapun karena baginya, kebahagiaan Nunnanya itu jauh lebih penting.
“Ani.”
“Bagaimana kalau ini?”
Taemin menujuk sebuah blazer berwarna hitam dan sepasang kaos polos berwarna putih. Siwon menatap tak bersemangat.
“Nonna, jangan ganggu dia. Biarkan dia memilih sendiri.”
“Arraseo. Oppa, Kyu, tunggu disini sebentar ya. Ada tas yang ingin kubeli disitu.” Taemin menunjuk salah satu tempat yang menjual berbagai tas bermerek. Kyuhyun mengangguk.
“Jangan sebal begitu, hyung. Nonna memang sangat berisik,” ujar Kyuhyun masih sambil tertawa.
“Ne, arra.”
“Kau ingin baju seperti apa? Apa perlu aku membantumu?”
“Semua baju yang sesuai dengan uangku ini, Kyu.” Siwon menunjukkan beberapa lembar uang won yang tadi didapatkannya ketika melakukan pertunjukan sulap. Kyuhyun mengangguk mengerti.
“Kau bingung ya, hyung?”
“Eh? Iya,” gugup Siwon.
“Kau dari luar negeri?”
“Eh? Apa? Hm… ne.”
Tanpa banyak bertanya lagi, Kyuhyun menggaret Siwon dan kemudian memilihkan dengan telaten empat baju yang paling murah namun juga tidak kampungan. Ternyata, selera Kyuhyun cukup bagus. Kesemua baju yang dipilihnya, tidak mengecewakan dari selera Siwon yang tidak terlalu mencolok dan Siwon sepanjang hari tersenyum-senyum ketika Kyuhyun memilihkan baju untuknya. Seperti seorang istri yang melayani suaminya, eoh?
“Jika uangnya kurang, pakai uangku dulu, hyung.”
“Eh? Ani. Aku tidak mau, Kyu.”
“Tidak apa.” Kyuhyun tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih, mirip seperti peri dengan wajah yang halus berseri. Jika ini negeri sihir, akan banyak ras yang memukau seperti peri namun, bagi Siwon, Kyuhyunlah ras terbaik dalam hidupnya.
“Oppa.” Taemin datang membawa satu tenteng barang belanjaan dan mereka yang selesai membeli baju. Dengan buru-buru, Siwon segera menarik Kyuhyun untuk pulang tanpa mengindahkan Taemin.
“Yak! Kyuhyun-ah, chakaman.” Taemin berteriak agak keras membuat Kyuhyun menoleh tapi tidak dengan Siwon.
“Siwon hyung, pelan-pelan. Tunggu Taemin nonna.”
“Terserah. Aku hanya ingin tidur.”
Siwon tetap menggaret Kyuhyun dan sepanjang perjalanan, Siwon tetap saja mengacuhkan Taemin membuat Taemin jengkel sekali. ‘Apa aku berbuat salah’ fikir Taemin saat itu. Dia sedikit curiga dengan sikap Siwon yang sangat lembut pada Kyuhyun tapi sangat dingin padanya.
“Won, darimana saja kau?”
“Pergi membeli baju.” Siwon menjawab pertanyaan Donghae sambil memberikan baju-baju itu ke teman-temannya. Matanya melirik Kyuhyun yang sepertinya akan pergi lagi. ‘Kemana lagi dia?’
“Nonna, aku pergi dulu, ne. Annyeong, Siwon hyung, semua.” Kyuhyun melambai pada Taemin dan menunduk pada Siwon dan teman-temannya. Ia sedikit tergesa ketika tanpa disadari, Siwon menarik tangannya.
“Aku belum tahu betul mengenai Seoul. Bisakah aku pergi bersamamu?”
“Eh? Oh, ok.” Kyuhyun menjawab dengan gugup karena pertanyaan Siwon yang tiba-tiba dan juga senyum menawannya yang membuat dadanya berdebar kencang. Meski setelahnya, Kyuhyun nyatanya tetap mengacuhkan getaran itu. Menganggapnya seperti biasa.
Sepanjang perjalanan mengelilingi kota Seoul, baik Kyuhyun maupun Siwon hanya diam saja. Kyuhyun masih serius mengemudikan mobilnya sedangkan Siwon yang masih menganggap diam adalah pilihan yang tepat.
“Hyung, kau tunggu disini ya? Aku mau menemui gadis itu sebentar.”
Kyuhyun menepikan mobilnya ketika melihat seorang gadis yang dikenalnya sebagai adik kelasnya di sekolah. Siwon hanya mengangguk samar meski matanya menyiratkan ketidaksukaan.
Dari balik kaca, Siwon dapat melihat ekspresi Kyuhyun yang tampak gembira saat bersama dengan gadis itu. Siwon cemburu. Ya, dia sangat cemburu. Dari tubuhnya bahkan suhunya meningkat tajam dan kuku-kukunya memanjang seiring rasa emosinya makin tak terkendali. Melihat Kyuhyun yang tertawa lepas, membuat Siwon makin tak bisa mengontrol kekuatannya. Ia membuka pintu mobil dan merafalkan mantra dari jauh untuk gadis itu. Gadis itu tiba-tiba saja menggigil seperti ketakutan.
“Eun Soo, Eun Soo, gwenchana?”
Gadis itu masih tetap mengeluh kesakitan. Kyuhyun menunduk dan menenangkannya.
“Siwon hyung?”
Kyuhyun ditarik oleh Siwon ke dalam mobil. Berkali-kali, Kyuhyun berusaha berontak tapi tenaga Siwon memang tak bisa dikatakan lemah, justru terlalu kuat baginya.
“Masuk!”
Kyuhyun beringsut mundur ketika sekilas mata Siwon dilihatnya berubah menjadi merah. Kyuhyun takut. Ada sesuatu dalam diri Siwon yang membuatnya ketakutan, tapi apa?
“Hyung?”
Kyuhyun bingung. Wajah Siwon semakin mendekat dan tubuhnya semakin tertindih tubuh berotot Siwon. Rasanya seperti de javu. Dia pernah mengalami ini tapi dengan siapa? Dia bahkan tidak mempunyai pacar ataupun teman dekat. Dia hanya mempunyai Taemin nonna yang selalu disampingnya.
Kyuhyun berusaha mendorong Siwon sekeras dan sekuat yang ia bisa tapi, bahkan Siwon tak beranjak satu inchipun. Dan ketika Kyuhyun akan membuka pintu mobil untuk keluar dari situasi yang kurang nyaman ini, tangan Siwon mencegahnya.
“Si-Siwon-Sshi, aku ingin keluar,” ucapnya pelan dan gugup karena ketakutan.
“Siapa gadis itu?” tanyanya dingin dan tegas.
“I-Itu… temanku.”
“Teman? Kau bahkan memegang tangannya tadi? Apa itu yang disebut teman, hah?” Siwon tidak bisa mengontrol emosinya lagi, ia bahkan menghancurkan kursi jok mobil dengan tangannya sekali tepuk. Sungguh… Kyuhyun terkejut dan ketakutan sekali. Apa Siwon itu monster?
“Katakan padaku, siapa dia, hah?”
“Sungguh… hiks… dia temanku. Hiks…” Karena ketakutan, Kyuhyun tak sanggup lagi membendung air matanya. Ia menangis dan tanpa sadar, Siwon mulai mundur dan memeluknya. Ia menyesal membuat Kyuhyun ketakutan. Ini diluar rencananya. Ia hanya takut, cemas, dan cemburu. Berebut dari ayahnya saja sudah membuatnya frustasi dan ingin mati rasanya.
“Uljima. Mianhae, mianhae. Jangan takut, Kyu. Aku tidak akan menyakitimu.”
Bahu Kyuhyun bergetar dan Siwon yang masih memeluknya sambil menepuk punggungnya pelan. Cukup lama hingga akhirnya Kyuhyun mulai kembali tenang.
“Maafkan, hyung.”
Kyuhyun tidak munafik untuk mengakui ia ketakutan dan hanya mengangguk karena takut membuat pria ini tambah marah dan menyakitinya. Tahu apa yang difikirkan Kyuhyun, Siwon memikirkan cara lain melalui tindakan yang bisa membuat Kyuhyun nyaman dan tidak berfikir bahwa Siwon dapat menyakitinya. Tentu saja, Siwon tidak mungkin menyakiti pemuda ini. Pemuda yang amat dicintainya.
“Saranghae,”
Siwon mencium Kyuhyun cepat dan tiba-tiba dan membuat Kyuhyun diam mematung dan juga kaget. Ia diam saja. Takut dan tidak ingin melawan. Meskipun, jauh didalam hatinya, ia sedih, marah karena ciuman pertamanya diambil oleh seorang pria, bukan dengan seorang gadis.
Merasa Kyuhyun diam, Siwon semakin dalam menciumnya. Tangannya yang berada di pinggang Kyuhyun, beralih memegang tengkuk sang namja agar ciuman itu tetap lekat dan menyatu. Melumatnya dan sesekali menghisap dalam-dalam, menimbulkan frisksi yang mendebarkan bagi keduanya. Hisapan itu mengeluarkan suara ciuman yang khas. Tangan Kyuhyun tanpa sadar, memegang dan mencengkram baju bagian atas Siwon. Ia kini mulai memejamkan matanya dan tanpa membalas lumatan Siwon, ia ikut menikmati ciuman pertamanya itu; lebih tepatnya, ciuman pertama baginya.
Mereka masih terlena oleh kenikmatan yang diciptakan oleh gerakan-gerakan sensual keduanya. Fantasi yang membuat gejolak didalam tubuh mereka memanas seiring naiknya hormon mereka. Siwon bahkan mulai mengaitkan lidahnya ketika Kyuhyun mulai membalas dan membuka mulutnya. Mulut Kyuhyun begitu hangat saat dirasakannya sejak lama. Merindu dengan kehangatan mulut ini. Semakin menindih tubuh mungil itu dan Kyuhyun yang menurunkan kursi mobil agar keduanya terlentang. Siwon menyeringai dalam hati, sepertinya Kyuhyun mulai terangsang.
Kyuhyun yang seorang manusia, membutuhkan udara. Meski tak rela, Siwon akhirnya melepaskannya.
“Saranghae,”
Siwon tidak membiarkan Kyuhyun bernafas sejenak, ia segera meraup leher jenjang yang selalu menggodanya itu. Mengendus dan menyesap aroma yang memabukkannya. Kyuhyun mendongak dan mendesah. Nalarnya menyatakan, ini salah. Tapi, tindakannya selalu mengkhianati nalarnya sendiri. Tangan Kyuhyun bahkan mendorong kepala Siwon agar terus mencumbui lehernya. Ini memabukkan. Ini sangat nikmat. Seluruh tubuhnya menjadi panas meski ia sedang tidak sakit demam.
Siwon bisa mendengar desahan Kyuhyun tapi begitu logikanya mulai kembali, ia sadar, bahwa ini salah. Bahkan ketika mereka masih sepasang kekasih dulu, Kyuhyun tidak mengijinkannya menyentuh lebih dari ini. Bagaimana mungkin ia mengambil kesucian Kyuhyun disaat Kyuhyun tidak mengingat semua kenangan mereka. Siwon ingin, penyatuan mereka haruslah dilandasi oleh cinta. Dan Siwon tahu, bahwa Kyuhyun tidak mencintainya; setidaknya hingga ia mengingat semuanya.
“Maaf,”
Siwon beranjak dari tubuh Kyuhyun dan ketika beranjak, tangannya menekan kursi terlalu keras dan terdengarlah suara patahan yang langsung membuat pemuda cantik di antara mereka semakin yakin, bahwa Siwon bukanlah manusia biasa.
“Maaf soal kursimu juga.”
Siwon menggaruk tengkuknya canggung. Tidak punya alasan untuk apa yang terjadi hari ini.
“Kau… Kau bukan manusia?”
Kyuhyun bahkan melupakan urat malunya setelah apa yang terjadi beberapa menit yang lalu. Baginya, pertanyaan ini jauh lebih penting ketimbang mempertanyakan soal ciuman pertamanya.
Dan ketika Siwon tidak segera menjawabnya, Kyuhyun langsung tahu bahwa apa yang difikirkannya adalah kebenaran. Tanpa rasa bersalah, ia membuka pintu mobil dan memanggil taksi untuk pergi dari hadapan pria yang dianggapnya sebagai monster ini. Siwon terpaku. Kecewa dan sedih. Tapi, bukankah Kyuhyun tidak ingat apa-apa. Apakah ini yang juga dirasakan oleh ayahnya? Sungguh, ini pertama kalinya, Siwon tidak bisa menyalahkan Kris atas apa yang telah diperbuatnya. Cho Kyuhyun memang mampu membuat mereka gila. Bukankah itu hebat? Cho Kyuhyun, kau memang sangat hebat.
***
“Yak! Kyuhyun-ah, dimana Siwon oppa? Apakah kau lupa, Siwon oppa itu tidak terlalu mengenal Seoul, kau tahu? Tanggung jawab! Cari dia sampai ketemu!”
Taemin memarahi Kyuhyun habis-habisan saat pemuda itu datang dan mengabari bahwa ia meninggalkan Siwon dan parahnya, ia lupa tempat yang tadi. Kyuhyun memang memiliki ingatan yang buruk.
“Jika kau cemas, kau saja yang mencarinya,” ucap Kyuhyun santai. Ia tidak mau berurusan dengan pria itu. Pria monster itu.
“Apa kau bilang?” pekik Taemin, sedikit berlebihan.
“Sudahlah. Biar kami saja yang mencarinya, nonna.” Jawab Donghae melerai pertengkaran keduanya. Kyuhyun menatap Donghae tak suka karena merasa dikasihani.
“Tidak bisa. Biar anak ini yang melakukannya. Bukankah orangtua kita mengajari untuk melakukan tanggung jawab.”
Kibum menghela nafas lagi.
“Biar kami saja. Kami bisa mengatasi ini,” ucap Kibum final yang entah mengapa, Taemin enggan membantah lagi karena sorot dan suara yang terkesan mengintimidasi itu. Yah, bukankah Kibum selalu bisa mengatasi masalah seperti ini.
“Kau tidak mau ikut? Lucu, dimana letak tanggung jawabmu itu.” Sindir Changmin ketika ia melewati Kyuhyun yang masih diam di tempat. Merasa dihina, akhirnya, mau tak mau, Kyuhyun mengikuti mereka dari belakang sambil berfikir, apakah mereka sama dengan Choi Siwon, bukan manusia?
“Lalu? Kita harus naik apa?”
“Taxi.”
Kyuhyun menjawab pertanyaan Donghae dengan malas. Ia segera menghentikan taxi dan duduk di kursi paling depan karena tidak mau berdekatan dengan mereka. Makhluk aneh dari negeri antah berantah, setidaknya itulah fikiran jujur Cho Kyuhyun tapi, mengapa ia mau saja terhanyut dan justru menikmati ciuman dari makhluk bukan manusia itu? Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil merutuk dalam hati.
“Apakah kau tidak bisa mengingat dimana kau meninggalkan Siwon?” Changmin masih menyudutkan Kyuhyun sedari tadi meskipun Donghae terus menyikutnya agar bersikap yang sopan pada Kyuhyun tapi, Changmin adalah orang yang netral, ia tidak akan memihak siapapun, apalagi Kyuhyun.
“Molla,”
“Ya! Cho Kyuhyun!”
“Berhenti memojokkannya, Min!”
“Aish! Hae, kau selalu membelanya. Bukankah Siwon juga temanmu?”
“Dia bisa menjaga dirinya sendiri.” Jawab Kibum dan Donghae yang mengangguk. Changmin mendesah frustasi dan tidak berani bicara lagi meskipun ada banyak sindiran untuk pemuda cantik yang pernah hampir diperkosanya itu.
“Bukan disini? Lalu dimana?”
Changmin jengah juga saat sudah puluhan kali, mereka mengelilingi kota Seoul dan tidak mendapatkan hasil apapun. Donghae menatap Kibum dan menyuruhnya untuk menggunakan kemampuannya. Meskipun, Kibum sempat menolak, toh akhirnya, ia melakukannya juga karena tidak tega dengan Kyuhyun yang sedari tadi tampak tertekan.
“Dia ada di taman bunga dengan atap kaca dan bunga-bunga matahari disisi-sisi kanan dan kirinya. Tempat yang seperti itu, dimana, Kyuhyun-ah?”
Kyuhyun menatap Kibum heran dengan wajah polosnya.
“Seodongg Park? Taman dengan rumah kaca?”
Kibum mengangguk.
“Baiklah, Kajja. Kita kesana, Kyu-ah,” ucap Donghae tak sabar.
“Arra.”
Mereka kemudian menuju tempat yang dimaksud oleh Kibum. Kyuhyun tidak tahu mengapa ia percaya saja dengan ucapan pemuda dingin itu. Dibanding dengan Donghae dan Changmin, ia memang lebih mempercayai tatapan lembut dari seorang Kim Kibum dan mungkin saja, Kibum itu manusia sama sepertinya.
“Ah! Itu dia! Wonnie!”
Donghae dan Changmin berlarian menyusul Siwon sedangkan Kibum dan Kyuhyun hanya berjalan santai dengan pemikiran yang berbeda. Kyuhyun yang merasa bersalah dan juga canggung dan Kibum yang mencemaskan Siwon. Mereka kemudian saling menatap dan Kyuhyun yang meminta maaf karena meninggalkannya sendirian. Siwon tersenyum maklum tapi, Kibum bisa tahu bahwa ada luka disana. Tidak perlu bercerita panjang lebar karena Kibum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Ayo pulang, Won.”
“Pulang kemana?”
Mereka terdiam sebentar. Benar, mereka tidak punya tempat tinggal tapi hari sudah malam. Bagaimana?
“Tinggal di apartementku saja. Meski Taemin nonna ingin menampung kalian, tapi, Taemin nonna tetaplah seorang gadis. Tidak mungkin kalian tinggal bersama seorang gadis sendirian. Jadi, tinggallah bersamaku untuk sementara waktu.”
“Jeongmal?”
Kyuhyun mengangguk sambil tersenyum riang memasang wajah anak-anak.
“Ini sebagai permintaan maafku, kajja!”
Mereka kemudian melesat ke apartement Kyuhyun yang megah dan juga mewah. Bahkan di apartement sebesar itu, terdapat ruang musik pribadi. Mereka terkagum-kagum dengan desain interior yang super mewah. Kyuhyunnya memang orang yang berada, setidaknya, itu yang difikirkan Siwon.
“Kalian pilih saja, kamar manapun yang kalian suka. Aku tidur dulu, ya. Jaljayo.” Kyuhyun menunduk lalu pergi ke kamarnya. Cuaca sangat dingin bahkan hujan turun dengan deras dan petir yang menggelegar keras. Kyuhyun menarik selimut tebalnya dan sesekali ketakutan dengan suara petir yang menyambar. Tiba-tiba, saat sedang berkutat pada ketakutannya, pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dengan malas, ia membuka pintu bermotif kayu tersebut.
“Siwon hyung?”
“Kau sedang ketakutan? Apa perlu bantuanku?”
“Ani.”
Kyuhyun akan menutup pintunya lagi tapi tiba-tiba saja angin menerjang dan Kyuhyun berani bersumpah, pintu itu tidak bisa ditutup lagi. Kyuhyun menelan ludahnya gugup. Siwon benar-benar bukan manusia. Dia kini mendekatinya dan setiap kali langkah kakinya dapat didengar oleh Kyuhyun, setiap itu pula lampu kamar Kyuhyun sedikit demi sedikit menjadi remang. Kyuhyun mundur secara perlahan, takut membangunkan macan tidur seperti Choi Siwon.
“Si-Si-Siwon?”
Kyuhyun tidak bisa mundur lagi karena belakangnya adalah tembok yang dingin. Berkali-kali, ia berdoa dalam hati soal keselamatannya.
“Aku tidak akan menyakitimu, Babykyu.”
“Mwo? Babykyu?”
“Saranghae.”
“Hmphhh…”
Siwon mencium Kyuhyun ganas. Kuat dan cekatan. Melumat setiap inchi dan setiap cela di bibir dan mulut seperti buah apel itu. Kyuhyun belingsatan, ia meronta dan memukul dada bidang Siwon yang secara otomatis, tangannya tiba-tiba menjadi mati rasa. Kyuhyun tahu, ini bukan apa yang diperintahkan otaknya untuk tetap melawan. Ini nyata. Choi Siwon memang memiliki suatu kekuatan magis yang sangat aneh.
Dan setelah itu, suara dentuman pintu kamarnya yang tertutup dapat didengarnya dengan jelas. Kyuhyun masih menggelengkan kepalanya dan Siwon kemudian memegang tengkuk dan dagu sang namja cantik agar tidak mengelak dari cumbuannya.
Mereka masih berpagutan hingga terdengarlah suara Taemin yang mengetuk kamarnya. Kyuhyun frustasi, ia takut ketahuan sedang berciuman dengan pria yang disukai oleh nonnanya itu. Ia tidak bisa menggerakkan tangannya yang dengan tidak tahu dirinya, justru memeluk leher Siwon dan menekan tengkuknya. Sungguh, ini bukan keinginannya.
“Kyu, gwenchana? Apa kau sudah tidur? Kau tidak sedang ketakutan karena mendengar suara petir, kan?”
Suara itu membuat hati Kyuhyun meringis. Ia tidak tahu mengapa, ciuman itu malah semakin dalam dan menuntut. Cumbuan itu kini melibatkan lidah yang memiliki rasa yang ‘aneh’ bagi Kyuhyun. Ia memejamkan matanya kuat-kuat saat lidah Siwon membelit dan menimbulkan friksi yang memabukkan. Sekarang, ia merasa tangannya dapat digerakkan dan kenyataan bahwa ia kini tak sekalipun merubah posisi tangannya, membuat Kyuhyun memaki dirinya sendiri karena sekali lagi, ia terhanyut oleh ciuman dari seorang pria bernama Choi Siwon.
“Kyu? Buka pintunya! Gwenchana?”
Taemin mencoba membuka pintu yang sekarang sudah terkunci. Kyuhyun tak perduli lagi, ia mulai membalas lumatan Siwon dan menjambak rambutnya untuk menyalurkan kenikmatan saat ini. Persetan soal nonnanya. Dan ia tak perduli ataupun ketakutan lagi dengan suara petir yang masih ajeg terdengar gemuruh.
“Hahh… Si… Siwon, ah…”
Lidah Siwon menjilati seluruh area wajah Kyuhyun dan tangannya yang mengelus lembut seluruh bagian tubuhnya. Perutnya yang rata, pinggul, dan juga daerah selangkangannya yang bagai tersengat saat disentuh dengan sangat ahli, menimbulkan rangsangan yang luar biasa nikmat. Kyuhyun bahkan memajukan tubuhnya ketika alat kelamin mereka bergesekan. Kyuhyun ingin lebih, lebih dan lebih dari nikmat seperti ini.
“Ahhh, Siwon, jilat, ah.”
Kyuhyun bahkan tanpa sungkan memerintahkan pria ini untuk menjilat juniornya yang tegak mengacung ketika Siwon berjongkok dan hanya terus memandanginya.
“Boleh aku lepaskan?”
“Ahhh… Lepas! Lepas semua, ahh… Siwon.”
Siwon menyeringai lalu melepas celana piyama milik Kyuhyun beserta Celana dalamnya. Mengeluarkan junior yang sudah tegak menantang. Tanpa pembicaraan lagi, Siwon segera mengulum junior itu dan memaju mundurkan dengan tenaga yang extra cepat. Kyuhyun terkejut, ia menggigit bibirnya ketika telinganya mendengar, Taemin masih berada di depan pintu. Nonnanya itu memang yang akan selalu menenangkannya ketika petir menyambar karena itu, Taemin tidak mudah menyerah.
“Hnnn… Ah, Ah,”
Kyuhyun berusaha mati-matian menahan suara yang seenaknya keluar itu. Siwon masih asyik menikmati pekerjaannya dan Kyuhyun yang memejamkan matanya sambil menengadah ke atas, menikmati kenikmatan yang pertama kali baru dirasakannya. Tubuhnya menjadi panas, keringat mulai membanjiri pelipis dan rambutnya yang mulai basah oleh keringat. Sepertinya, ia akan mengeluarkan air maninya saat tubuhnya tiba-tiba berkontraksi hebat dan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar.
“Siwon, ak… aku keluar, Ahhh…”
Siwon mempercepat kulumannya sambil matanya menatap wajah sang pemuda yang kini memerah dengan nafsu yang amat kentara timbul di guratan-guratan wajah cantiknya.
Sperma Kyuhyun keluar meluber hingga ke wajah Siwon. Ia menelannya sekali tenggak dan menimbulkan bunyi lumrah ketika menelan sesuatu. Kyuhyun menatap ke bawah dan pipinya bersemu merah ketika mendengar suara Siwon yang menelan spermanya dengan suara yang cukup keras, seolah tak jijik dengan rasa asin dan amis dari sperma itu. Kyuhyun akui, ia cukup tersanjung.
“Kyu, Nonna masuk ya.”
Terdengar suara kunci masuk ke lubang pintu. Benar, Kyuhyun baru ingat bahwa nonnanya itu memiliki kunci cadangan untuk masing-masing kamar. Ia segera mengenakan celana dalam dan celana piyamanya tergesa-gesa kemudian menatap Siwon yang dengan tenang hanya tersenyum.
“Selamat tidur. Saranghae,”
Siwon bahkan sempat mengecup bibir Kyuhyun singkat dan Kyuhyun yang melotot karena ketenangan Siwon saat itu. Tak lama, pintu terbuka dan dalam hitungan detik, Siwon benar-benar hilang dari pandangannya. Ia tahu ini bukan mimpi, bahkan ia masih bisa merasakan spermanya yang basah dan bau amisnya yang memenuhi ruang kamarnya. Dengan gugup, ia menatap Taemin dengan pandangan takut-takut.
“Kyu, Gwenchana?”
Kyuhyun menghampiri Taemin karena takut dengan spermanya yang masih tercecer di lantai. Meski, Siwon menelannya cukup banyak.
“Bau apa ini?”
“Itu…”
“Kau habis mimpi basah, ya?”
Kyuhyun tidak punya pilihan lain selain mengangguk dengan wajah yang merona hebat karena malu. Taemin hanya manggut-manggut maklum. Ia mengelus rambut pirang Kyuhyun dan mengecup keningnya lama. Seolah memberi ketenangan pada adiknya yang masih ketakutan dengan petir di usianya yang sudah beranjak remaja.
“Tidurlah. Besok, kau harus pergi ke Sekolah, bukan?”
Mata Kyuhyun berubah sendu ketika mengingat kesalahannya yang telah berciuman dengan Choi Siwon dibelakang nonnanya. Tapi, Kyuhyun akui, kenikmatan dan ketegangan yang dirasakannya, lebih memacu adrenalinnya dan itu mendebarkan.
“Saranghae,”
“Nado saranghae, nan nonna.”
Kyuhyun tersenyum tulus dan memeluk Taemin. Setidaknya, mereka belum menjadi sepasang kekasih, jadi masih wajar jika dia berciuman dengan Choi Siwon dan entah mengapa, Kyuhyun menginginkannya lagi. Yah, menginginkan berciuman dengan Choi Siwon.
0o0

Mentari pagi masih terbit seperti biasanya. Taemin yang memasakkan sarapan untuk Kyuhyun yang akan bersiap-siap pergi ke sekolah. Sudah menjadi rutinitas yang biasa. Para maid yang membantu Taemin untuk mempersiapkan semua keperluan Kyuhyun yang memang sangat dimanjakan itu. Kyuhyun sudah memakai seragamnya dan sedang membaca salah satu buku matematika dan mulutnya yang mengunyah roti gandum berisi sosis, daging dan keju kesukaannya. Ia sedikit melirik ketika rombongan Siwon menghampiri keduanya lalu kembali mengalihkan pandangannya pada bukunya. Seolah-olah, tak terjadi apa-apa.
“Pagi, semuanya.” Sapa Donghae ramah di pagi hari yang cerah.
“Pagi,” ucap taemin membalas perkataan Donghae.
“Wah, nonna, kau memasak apa? Ternyata, selain cantik dan manis, kau juga sangat pintar memasak, ya. Benar-benar calon istri idaman.”
Taemin merona dipuji seperti itu. Arah pandangnya ke arah sang namja berlesung pipi yang justru tengah menatap sang adik sepupu dengan intens.
“Nonna, boleh aku mencicipi masakanmu?”
“Tentu.” Taemin melepaskan celemek yang ada di tubuhnya lalu menghampiri meja makan, menaruh berbagai piring dengan jenis makanan yang berbeda. Donghae membantunya dan beberapa kali terus memuji keahiannya ini-itu membuat Kyuhyun tersenyum simpul, ternyata, Donghae hyung memang sangat playboy. Begitu fikirnya.
“Baiklah. Kalian makan dulu dan bersiap-siaplah untuk pergi bekerja.”
Mereka mengangguk ragu.
“Oh iya, Kyu, apa kau mau kuantar?”
“Aniyo, nonna. Aku dijemput Yesungie hyung.”
Dahi Siwon berkerut saat Kyuhyun memanggil namanya dengan panggilan semesra itu- menurutnya. Sedikit cemas dan cemburu, tentu saja.
“Aku selesai. Nonna, hyungie, aku berangkat dulu, ya?”
Kyuhyun beranjak dari kursi dan menghampiri Taemin seraya mencium pipinya sekilas. Dan, begitu pandangannya beralih pada sosok Choi Siwon, ia gelagapan setengah mati. Pandangan itu berbeda. Bukan pandangan lembut seperti biasa, tapi pandangan mematikan seperti kemarin saat Eun Soo tiba-tiba bergetar kesakitan. Apakah itu ulah Siwon? Tidak mungkin.
“Yesung hyung!”
Pria itu berbalik dan tersenyum ketika melihat Kyuhyun menghampirinya dan tersenyum. Pria itu memeluk Kyuhyun sekilas lalu mengacak rambut pirangnya dengan tangannya yang bebas mendapat tanggapan yang heboh dari sang pemilik rambut.
“Hyung, aku merapikan rambutku sepuluh menit, kau tahu! Jangan merusak tatanan rambutku!” Kyuhyun merengut sambil bergumam pelan. Yesung terkekeh pelan. Diusapnya kening Kyuhyun lama dan membenarkan letak poni-poninya yang kini tak rapi lagi karena ulahnya.
“Ayo berangkat,” ucap Yesung lembut. Kyuhyun tersenyum dan menyetujui perkataan sahabatnya itu. Tanpa banyak pembicaraan, mereka masuk kedalam mobil Lamborghini milik Yesung.
“Keluar!”
“Siwon hyung?”
Kyuhyun melongo ketika Siwon menghampiri keduanya dan berdiri tepat didepan mobil milik Yesung, bermaksud menghalangi laju sang pengemudi. Yesung menoleh seakan bertanya, ‘Siapa itu?’ dan Kyuhyun yang tersenyum canggung menjawab teman nonnanya.
“Lebih baik kita keluar, hyung.”
“Ah. Ini sudah terlambat. Apa sih yang mau dibicarakan orang itu.”
“Sudahlah, ayo keluar.”
Yesung yang memang dasarnya keras kepala, tak mau begitu saja menuruti perkataan sang teman baik. Tanpa bersalah dan berfikir, ia memundurkan mobilnya dan berbelok hampir saja menyerempet sang pria tampan. Siwon menyeringai. Ia tiba-tiba berada di depan mobil itu lagi membuat Kyuhyun maupun Yesung terpana tak percaya.
“Aku sudah bilang, keluar!”
Siwon meremukkan mobil bagian depan milik Yesung hanya menggunakan tangan kosong dan hanya sebuah remasan biasa. Yesung menatap Siwon dengan horor dan Kyuhyun yang panik luar biasa. Siwon mengerikan.
“Hyung, ayo keluar.”
“N-ne.”
Mereka berdua sama-sama takut. Dengan langkah yang pelan menghampiri Siwon yang masih memasang wajah datarnya.
“Kau pergi duluan, biar Kyuhyun aku yang mengantarnya.”
“Ne, Sunbaenim.” Yesung berlari terbirit-birit dan segera melajukan mobil mewahnya. Persetan soal rugi-merugi, baginya keselamatan tubuhnya jauh lebih penting daripada lecet di mobilnya. Maklumlah, Yesung adalah orang yang berada sama seperti Kyuhyun.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku tidak suka melihatmu bersamanya, Kyu.”
“Mwo? Apa urusannya denganmu? Kau bukanlah siapa-siapaku.”
“Aku berhak.”
“Lucu sekali, setelah kita berciuman, seolah-olah kau mengambil alih kendali diriku. Apa aku terlihat sebegitu murahannya bagimu?” Sinis Kyuhyun dengan mata yang menatap tajam bagai elang.
Siwon terdiam. Percuma, Kyuhyun tidak mengingatnya.
“Dan karenamu, aku akan terlambat ke sekolah.”
“Tenanglah. Aku akan mengantarmu.”
“Mengantar? Kau bahkan tidak mempunyai mobil.”
Tanpa banyak jawaban, mungkin terlalu lelah, Siwon segera menggandeng tangan Kyuhyun dan dalam hitungan detik, melalui cahaya-cahaya putih yang samar dan ruangan benderang yang bersinar, Kyuhyun sudah sampai di depan gerbang sekolahnya.
“A-Apa-Apaan?”
Kyuhyun melotot dengan mata yang berbulat sempurna.
“Selamat belajar, babykyu.”
“Jangan mendekat.”
Kyuhyun memperingatkan Siwon ketika pria itu hampir saja menciumnya. Meski, ia harus mengakui, Siwon pencium yang hebat, nyatanya, kejadian hari ini mampu membuat Kyuhyun sangat ketakutan setengah mati. Mungkin, ia harus menjaga jarak dengan Choi Siwon.
“Aku tidak suka penolakan, sayang.”
Kyuhyun berani bersumpah, tubuhnya bergerak sendiri. Melumat bibir Siwon dengan gairah yang menggebu-gebu. Ini bukan dia. Siwon melakukan pelecehan padanya. Siwon pasti yang melakukannya.
“Ahhh… Cu-cuk-cukup.” Kyuhyun bahkan tak mampu hanya mengeluarkan satu kata karena bibirnya yang kini mengkhianati dirinya. Sedikit kasihan, Siwon melepas mantranya dan secara otomatis, tubuh Kyuhyun sedikit terjungkal ketika pemberontakan yang dilakukannya berhasil dan tubuhnya tidak begitu siap. Siwon memegangi pinggang Kyuhyun siaga dan tersenyum, atau menyeringai.
“Jangan-jangan… Kau benar-benar yang melakukannya di mimpiku itu?”
“Yeah, Baby. Itu aku.”
“Yak! Lepaskan tanganmu dari pinggangku, namja mesum!”
“Arraseo. Belajar yang rajin, babykyu.”
“Aku bukan babymu!”
Dan berakhir dengan Kyuhyun yang berlari meninggalkan Siwon. Siwon terkikik geli melihat Kyuhyunnya marah namun juga malu seperti itu. Bagaimanapun, meskipun kemungkinan terburuk Kyuhyun tidak bisa mengingatnya lagi, ia harus membuat pemuda cantik itu jatuh cinta padanya untuk yang kedua kalinya, sebelum Kris, ayahnya mendahuluinya. Karena sekarang, ia bisa merasakan aura ayahnya mulai mendekat mencoba mencari Kyuhyun. Aura yang sangat dikenalinya. Mungkin, waktunya sudah dekat sekarang.
0o0

“Selamat datang.” Kyuhyun menyapa setiap pengunjung dengan ramah. Ia dengan senyum merekahnya, melayani para tamu. Selalu seperti ini, setelah selesai menyelesaikan sekolahnya, Kyuhyun akan membantu Taemin mengurus cafe mereka, hitung-hitung untuk menyibukkan dirinya. Yesung, teman satu-satunya yang dimilikinya juga cukup disibukkan dengan urusan perusahaan ayahnya. Hanya Taeminlah yang selalu menemani hari-hari sepinya.
“Kulihat, Kyuhyun cukup bahagia berada di sini. Jika dia berada di dunia sihir, dia terlihat selalu ketakutan dan juga merasa tertekan. Benar tidak?” Donghae menatap Kyuhyun cukup lama. Ada perasaan sedih ketika mengatakan hal itu. Karena semenjak Kyuhyun datang dan hadir di kehidupan mereka, ada perubahan besar baginya. Bertemu dan berteman dengan Kibum, tertawa sepanjang hari dan jangan lupakan juga sikap Siwon yang berubah drastis ketika mengenalnya. Lebih menjadi manusiawi.
“Aku tidak tahu, apakah Kyuhyun lebih memilih tinggal disini ketika ia mengingat semuanya? Terkadang, aku takut.” Kali ini Kibum. Dia bahkan sudah hampir menangis sekarang. Dan Donghae yang menatapnya kaget. Bagaimana Kibum bisa semelankolis seperti ini?
“Menurut penglihatanmu, Kyuhyun akan tinggal dimana? Apakah tetap disini, atau mengikuti kita ke dunia sihir?” tanya Donghae, kali ini menatap Kibum serius.
Hening.
Semua menatap Kibum yang masih terdiam, kecuali Changmin yang tidak mau tahu. Pria paling tinggi itu dengan nyamannya menikmati berbagai hidangan yang tadi disiapkan oleh Taemin; untuk Siwon sebenarnya.
“Aku belum bisa memastikan.”
Semua mendesah kecewa.
“Kyuhyun-ah!” Seorang pria tiba-tiba saja memanggilnya cukup kencang. Kyuhyun menoleh dan tersenyum sumringah ketika melihat pria itu datang. Ia bahkan memeluknya dan membuat Siwon cemburu. Berkali-kali, Donghae mencoba mengingatkannya untuk tidak menggunakan sihirnya guna menghajar pria tak tahu diri itu- menurut Siwon.
“Bagaimana kabarmu? Kulihat kau semakin kurus saja.” Pria itu mengamati Kyuhyun dengan seksama dan mengeluh ketika mendapati sang pemuda tampak lebih kurus dari biasanya.
“Baik, hyung. Kau kemari sendirian? Dimana istrimu, hyung?”
“Dia ada dirumah, mengurus putra kami. Sebenarnya, aku datang kemari ingin menanyakan sesuatu, Kyu.” Pria tadi merubah mimik mukanya menjadi lebih serius, berbeda dari beberapa detik yang lalu yang masih terlihat santai.
“Mengenai apa, hyung?” Kyuhyun ikut penasaran. Dia bahkan menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah pria itu.
“Lihatlah ini.”
Pria itu menunjukkan sebuah foto. Foto lama mereka. Mungkin, ketika Zhoumi- nama pria itu, menikah dengan gadis keturunan China- Korea yang sekarang telah memiliki seorang putra.
Kyuhyun tersenyum mengingat peristiwa itu. Dimana sang hyung- kakak angkatnya menikah dan menangis selama upacara pernikahan berlangsung. Kyuhyun bahkan tidak percaya, mengapa sang pengantin pria bisa menangis dan mempelai wanita yang menenangkannya.
“Lihat ini, Kyu.” Zhoumi masih memasang wajah serius sementara Kyuhyun yang tersenyum mengingat kejadian tersebut.
“Apa sih, hyung?”
“Lihat baik-baik, wajah-wajah yang ada di foto ini.” Perintah Zhoumi yang bagi Kyuhyun adalah perintah yang aneh. Tentu saja, wajah-wajah mereka adalah keluarga besar mereka. Lalu, apa yang aneh?
DEG!
“Kau mengerti? Ini aneh, Kyu. Ini yang menjadi kekhawatiranku selama ini. Lebih tepatnya, selama beberapa tahun belakangan ini.”
“H-hyung… In-ini.”
Belum sempat, Kyuhyun mencerna apa yang sedang terjadi, tiba-tiba saja, suara keras terdengar dari luar cafe. Seperti suara benda terjatuh dengan sangat keras. Orang-orang berbondong-bondong ikut melihat ke luar tetapi, berlari masuk ke dalam lagi.
“Tolong… Arghhh!” Orang-orang yang berada di luar berteriak meminta tolong dan ketika Kyuhyun ingin ikut melihat apa yang terjadi, Choi Siwon menghalanginya. Memintanya untuk tetap tinggal.
“Berbahaya. Kau tetap disampingku. Mengerti?”
Kyuhyun hanya mengangguk. Ia masih bisa melihat, dibalik bahu kekar Siwon, dua orang pria; yang satu tinggi dan sangat tampan, dan yang satunya lagi, memiliki wajah yang manis, sedang menyeret dan menganiaya orang-orang yang ada di sekitar mereka. Dengan sesuatu yang aneh. Seperti, sihir?
“Berhenti! Jangan bergerak!” Berpuluh-puluh polisi datang dengan mobil mereka. Mereka dengan formasi melingkar, menodong pistol tepat di depan sang penjahat yang mengenakan pakaian yang sama yang dipakai oleh Choi Siwon.
“Letakkan senjata kalian dan menyerahlah!” Perintah salah satu polisi. Tapi, pria yang paling tinggi justru tertawa meremehkan.
“Senjata? Senjata apa, tuan-tuan? Aku tidak menggunakan senjata.”
“Aku bilang jangan bergerak!”
BLUSHHH!!!
Para polisi itu terpental oleh satu tarikan tangan sang pria tinggi. Bukan hanya terpental, dada dan lengan mereka seperti tergores oleh sesuatu yang tembus pandang. Mereka merintih kesakitan dan tidak banyak bergerak.
“Ku tanya sekali lagi, dimana Cho Kyuhyun?”
DEG!
“Aku?” Kyuhyun semakin beringsut mundur dan membenamkan tubuhnya sendiri ke punggung tegap Siwon. Seingatnya, ia tidak pernah mempunyai masalah dengan siapapun. Ia tidak pernah berhutang ataupun menyakiti oranglain. Kyuhyun bahkan tidak mempunyai teman dekat.
“Wah. Wah. Wah. Siwon-sshi. Rupanya, kau selangkah lebih cepat dibanding aku, ya?”
Siwon tidak takut sama sekali. Ia bahkan tersenyum.
“Tidak biasanya anda terlambat, aboji.”
Aboji? Kyuhyun semakin mundur ketika mengetahui bahwa penjahat ini adalah ayah dari Choi Siwon. Yang jelas, ia juga takut pada Siwon.
“Ah. Cho Kyuhyun. Bersembunyi disana rupanya.” Kyuhyun ketakutan. Tapi, begitu tangan kekar Siwon melindunginya dari belakang, ada rasa tenang dan terlindungi. Kyuhyun menurut saja. Dia kembali bersembunyi di belakang punggung tegap Siwon.
“Kemarilah, Kyu. Aku tak akan melukaimu.”
Kyuhyun masih diam.
“Kau tidak mau kemari?” tanyanya lembut tapi berbahaya.
“Siapa kau? Mengapa kau mencari adikku?” Zhoumi yang tak tahan dengan ketegangan ini, segera memblokir jalan Kris.
“Minggir atau kubunuh kau!” Sungmin mengancamnya. Tapi, Kris menahannya dan menatap Zhoumi seksama.
“Adik?”
“Ya, Kyuhyun adalah adikku.”
Kris tersenyum singkat lalu mendorong tubuh Zhoumi seperti mendorong kertas. Zhoumi terjatuh dan terpental namun, Kris cukup baik tidak melukainya. Bagaimanapun, dia adalah kakak dari pria yang dicintainya, kan?
“Hyung!”
“Jangan, Kyu. Tetaplah disini!”
Siwon maju, tak tahan lagi dengan semua ini. Ia mengeluarkan remahan-remahan magma yang mendidih, berubah menjadi gumpalan gelembung sabun yang menemaninya dalam pertarungan.
Siwon mengambil salah satu gelembung miliknya lalu berkali-kali melepaskannya ke arah Kris. Semua orang panik. Mereka berteriak dan berlari menghindar. Bahkan ada juga yang datang meliputnya.
“Kau kira ini saja cukup mengalahkanku?” Kris menahan serangan Siwon dengan sayap emasnya. Ia menggumamkan sesuatu, mungkin mantra dan muncullah sesosok hollogram mirip burung phonix. Mengitari Siwon dan menyerang menggunakan mulutnya.
“Jangan membantuku! Diam disitu!” Siwon berkata tegas pada teman-temannya yang kini khawatir.
Sungmin bahkan ikut membantu Kris menyerang Siwon. Namun, sekuat apapun mereka berusaha, Siwon masih terlalu tangguh untuk dikalahkan semudah itu. Ia kuat sekali.
Kyuhyun kebingungan. Ia juga sangat ketakutan dengan peristiwa aneh diluar nalarnya ini. Dengan pikiran yang kacau, Kyuhyun berlari keluar cafe melalui pintu di belakang bersama Taemin.
“Ayo, nonna, kita keluar.”
“Zhoumi?”
“Dia akan menyusul kita.”
Mereka berdua keluar dengan selamat dan memanggil taksi karena kedua mobil mereka telah rusak parah. Menunggu sesaat untuk menunggu Zhoumi.
“Ayo kita pergi, hyung.”
“Ne.” Mereka lalu menaiki taksi dengan buru-buru. Tak menyadari bahwa Kibum menatapnya dengan tatapan sedih dan kecewa. Meskipun, Kibum tahu bahwa ini bukanlah kesalahan Kyuhyun yang tak mengingat apapun, namun, jujur, ia kecewa dengan tindakan Kyuhyun saat ini.
“Kau yakin tak mengenal orang mengerikan itu, Kyu?” tanya Zhoumi berkali-kali. Entah sudah keberapa kalinya Kyuhyun menjawab pertanyaan itu.
“Aku bilang, tidak, hyung. Kau tidak percaya padaku?”
“Tapi, bagaimana dia bisa tahu namamu dan mencarimu?”
“Molla,” jawabnya singkat, seakan tak perduli.
“Bagaimana dengan Siwon oppa? Apa kita harus meninggalkannya seperti ini?”
Kyuhyun menatap Taemin marah.
“Apakah aku akan membiarkanmu terluka? Lagipula, apa yang kau harapkan dari pria aneh dan monster sepertinya.”
“Kyu, bagaimanapun, dia mencoba untuk melindungimu.” Zhoumi mencoba menjelaskan dengan hati-hati.
“Terserah.”
Taemin menatap Kyuhyun aneh.
“Ada sesuatu yang terjadi padamu, Kyu.”
“Apa, sih, nonna?” Kyuhyun jengah juga. Ia sedang berfikir mengenai situasi ini dan dua orang ini tidak berhenti mengganggunya.
“Batu giok itu. Dimulai dari situ, bukan?”
Taemin tahu segala sesuatu mengenai Kyuhyun. Ia juga tahu cerita mengenai batu giok dan soal mimpi yang tiba-tiba menjadi seperti nyata. Tentu saja, kecuali kenyataan bahwa Siwon pria di mimpinya.
Kyuhyun diam. Menatap kalung giok itu lekat dan itu berlangsung lama hingga mereka tiba di rumah.
“Tidurlah. Kau pasti lelah. Kita tunggu perkembangan berita itu besok.”
“Benar. Aku yakin media meliputnya.” Tambah Zhoumi menanggapi ucapan Taemin. Kyuhyun menurut saja. Ia mencoba tertidur meskipun fikirannya masih kalut. Berkali-kali, ia menggenggam batu giok itu. Ada sesuatu. Sesuatu yang tiba-tiba di ingatnya.
“Hyung…”
Kyuhyun memegangi kepalanya. Berteriak dan terus menerus merintih sakit. Ia ingat semuanya. Segalanya. Semua kenangan itu seolah hantaman besar bagi kepalanya. Setiap kenangan, membuat kepalanya sakit luar biasa.
“Kyu. Kau kenapa? Apa yang terjadi?” Taemin cemas sekali. Ia berusaha menghubungi Zhoumi yang baru beberapa menit yang lalu pulang ke rumahnya. Ia tidak bisa menghubungi kedua orangtua Kyuhyun karena mereka sedang berada di luar negri. Kyuhyun adalah tanggung jawabnya.
“Arghhh. Sakit, nonna…”
Kyuhyun makin kesakitan ketika ingatan terakhir menghantam kepalanya telak. Bagaimana ia menangis seorang diri ketika akhirnya, ia memutuskan untuk kembali ke dunianya.
“Kyu. Kyu. Kau mendengarku?”
Taemin cemas ketika Kyuhyun tiba-tiba menjadi diam.
“Siwon hyung.”
“Apa?” Taemin bingung. Kyuhyun hanya bergumam sedari tadi.
“Kyu. Kyu. Mau kemana?” Kyuhyun tidak perduli. Tidak perduli ketika Taemin memanggil-manggil namanya. Tak perduli ketika ia hanya mengenakan piyama tendy-nya. Tak perduli juga ketika kakinya panas oleh jalanan karena ia lupa memakai sandalnya. Yang jelas, saat ini yang ada di kepalanya hanyalah Choi Siwon. Betapa bodohnya dia yang meninggalkannya seperti itu.
Cafe kosong. Dengan sisa-sisa pertempuran yang hampir meremukkan cafe mewah tersebut. Kyuhyun berlarian di sekitar cafe untuk menemukan mereka. Mencari diantara puing-puing bangunan yang telah roboh.
“Siwon hyung…”
Tidak ada.
“Jangan bercanda. Keluarlah!”
Tidak ada. Kyuhyun mulai terisak.
“Bukankah kalian kemari untuk menjemputku? Dimana kalian?”
Kyuhyun terjatuh. Menangis sambil memegangi dadanya yang berdenyut nyeri. Bagaimana bisa, ia pergi meninggalkan mereka yang sedang bertempur untuknya. Bagaimana bisa…?
“Kumohon. Hiks… Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, hyung.” Kyuhyun menangis keras sekali. Ia tidak perduli ketika dadanya begitu sakit karena tangannya yang terus menerus memukuli dadanya sedemikian rupa. Baginya, sakit di hatinya jauh lebih sakit. Ia cemas. Apakah mereka terluka? Apakah mereka marah? Apakah mereka kecewa? Apakah mereka tidak akan kembali lagi? Apa yang bisa dilakukan oleh manusia biasa sepertinya? Selain hanya menunggu melodi itu datang atau mereka yang menjemputnya? Dan bagaimana bisa ia jatuh cinta pada sosok di negeri itu? Sosok yang selalu dirindukannya bahkan hingga dua bulan semenjak kejadian itu. Ya- dua bulan, tanpa jejak, tanpa kabar, dan tanpa tanda-tanda.

“Aku mungkin terlalu dungu, hingga tak memahami apa itu cinta. Atau mungkin aku terlalu tolol tidak mengenal siapa dirimu. Apakah aku berhak marah? Takdir seperti apa yang akan kujalani? Begitu setiap harinya aku berfikir. Menangis? Aku tak lagi menangis karena kebodohanku itu. Yang kulakukan kini hanyalah menunggumu. Meskipun orang-orang akan mengatakan aku ini terlalu dungu karena masih menunggumu, tak apa. Karena bagiku, menunggu dan mencintaimu adalah sesuatu yang indah. Aku hanya ingin mencintaimu dalam diam. Aku hanya ingin mencintaimu dalam kesederhanaan. Karena kesederhanaan dalam mencintai, adalah ‘percaya’.

Dua bulan kemudian-

Seorang pemuda berkulit pucat tampak serius memainkan nada-nada di grandpiano miliknya. Ia beberapa kali terlihat tersenyum lalu kemudian diam memikirkan sesuatu.
“Kyuhyun-ah.”
Pemuda itu menoleh dan tersenyum. Ia berhenti bermain lalu menghampiri seorang gadis yang kini tengah menatapnya serius.
“Ada apa, nonna?”
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini penting.” Pemuda itu tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang remeh temeh. Gadis itu, Taemin, seolah sedang ketakutan akan suatu hal.
“Duduklah dulu, nonna.” Kyuhyun menggeret kursi untuk sang gadis.
“Lihatlah ini.” Taemin membuka tas berwarna biru muda miliknya, lalu mengeluarkan sebuah foto. Foto yang sama yang ditunjukkan oleh Zhoumi satu tahun silam. Foto yang juga membuatnya terkejut.
“Kau yakin kau ikut, kan?”
Kyuhyun menggeleng kuat.
“Nonna, kau bahkan disampingku ketika foto itu diambil.”
Taemin mengerang frustasi. Ia bahkan berteriak dengan nada yang kencang,
“Lalu, mengapa wajahmu tidak ada di dalam foto, Kyuhyun-ah?”

TBC

Annyeong… ^^ Mungkin kalian bisa pada menebak ending cerita ini, soalnya readers2ku pada kritis dan pinter2 semua sihh #dipeluk. Dan, ada beberapa readers yang minta Nc di smsnya. Hm… Sabrina tidak tahu apakah saya harus menulis NC di FF ini… Mungkin tidak, ya, mungkin juga hanyalah sekilas saja #digebuk. Soal NC me NC, mungkin Next FF adalah wadah yg pas buat itu soalnya ceritanya mendukung sih. #daddy kan mesum abis disitu.
Oh ya mohon reviewnya dan sekali lagi, jeongmal mianhae kembali memisahkan wonkyu tapi, next chapter, daddy akan ketemu sama mommy kok…
Ditunggu ya, Sabrina akan cepet update lagi.

The Melody Chapter 7

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Pair : Wonkyu, KrisKyu.

Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kris (Wu Yi Fan), Kim Kibum, Lee Donghae, Jung Yunho, Shim Changmin, Lee Sungmin.

Genre : Mystery, Supernatural, Romance, dan Fantasy

Rate : M (a little)

Warning : YAOI, OOC, Typo.

 

Don’t Like, Don’t Read

 

Chapter 7

 

       Pertarungan itu masih berlangsung alot. Kibum bukanlah musuh yang mudah dihadapi, begitupula Siwon. Mereka tanpa gentar terus menerus menekan kubu Kris hingga tumbanglah Donghae di hadapan mereka, Sungmin tertawa penuh kemenangan dan membawa tubuh Donghae di depan mereka.

       “Lepaskan Donghae, Sungmin!” Siwon menggeram marah. Ia memaki dan hampir saja menghampiri Sungmin sebelum Kibum menahannya. Siwon emosional tetapi Kibum lebih tenang dan cenderung pemikir.

       “Kau ingin dia? Serahkan Kyuhyun terlebih dahulu.”

       “Tidak akan pernah!”

       Kibum masih pusing. Ilusi Yunho mau tak mau sedikit mempengaruhinya. Ia terhuyung ke belakang dan ilusi itu makin menyudutkan sistem bawah sadarnya.

       “Akh!”

    Kibum terjatuh dan Siwon dengan sigap menghampirinya. Ia menolongnya dengan memusatkan energi mereka berdua dan sedikit berhasil. Kibum kembali membuka matanya.

       “Bawa mereka dan penjarakan mereka. Aku tidak mau tahu sebelum Kyuhyun kembali padaku, apapun yang terjadi, jangan lepaskan mereka.”

       “Baik, Master.”

       Prajurit istana sudah datang dan kemudian membawa mereka namun, sebelum mereka menyentuh tangan Kibum dan menyekalnya dengan batuan penghilang energi, pemuda dingin itu melesat bagai angin dan menghilang bersamaan dengan hembusan angin. Merubah dirinya menjadi naga namun hilang kemudian.

       “Sial! Dasar prajurit bodoh! Tangkap dia!” Kris panik. Kibum tidak boleh lolos apapun yang terjadi. Dia berbahaya dan mempunyai kekuatan yang mengerikan.

       Siwon tersenyum misterius. Sebenarnya, itulah rencana mereka. Selemah apapun Siwon, Kris masih tandingannya. tetapi, belum waktunya. Bagaimanapun, ilmu hitam Sungmin cukup berbahaya bagi mereka.

       “Kami kehilangan Kibum, Yang Mulia.”

       “Dasar brengsek!”

       Kris mengumpat berkali-kali. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain tetap menahan Siwon dan juga Donghae.

       “Kurasa ini tidak baik. Kibum cukup berbahaya bagi kita,” ujar Sungmin serius. Kris terlihat berfikir lalu tersenyum tenang.

       “Kelemahan Kibum adalah Kyuhyun. Lebih baik berfikir untuk temukan Kyuhyun ketimbang berfikir macam-macam. Cari dia!”

       “Ne, Master.”

***

 

Malam itu, suasana sangat sepi. Beberapa penjaga lalu lalang dan berjaga dengan kesetiaannya. Meski mengantuk, tak sekalipun mereka memejamkan mata mereka walau hanya untuk mengobati kepenatan dan rasa kantuknya. Hingga tiba-tiba…

“PENYUSUP! BUNYIKAN ALARM!” Teriakan keras menggema di seantero istana. Tampaknya, pasukan kerajaan mencurigai adanya oknum misterius yang berkelebat masuk dalam daerah terlarang istana. Dentang bel memekakkan telinga. Gemanya menusuk dari menara-menara tinggi istana kerajaan. Penanda waktu sontak berhenti berdenyut dan mengubah semua warnanya menjadi merah gelap dan biru terang secara bergantian. Barisan kesatria mulai terpencar dan mencari sang penyusup. Sementara itu, jauh di atas salah satu menara istana, terlihat satu sosok yang merapat pada pojok langit-langit. Ia turun, tanpa suara, setelah barisan patroli kesatria menjauh.
Sosok pemuda ini memakai baju beserta jubah berwarna hitam. Hanya scarf putihnya sajalah yang terlihat bersih mengkilap. Angin segar mengibas rambut hitam acak-acakan sosok ini. Menambah kesan manly juga tampan.

“Menyenangkan juga,” ujarnya senang. Baginya suasana bahaya seperti ini justru dianggap seperti permainan belaka. Tak lebih. Saat hendak melangkah, ia menginjak ranting. Sontak patroli kesatria curiga dan hendak kembali.

“Dasar cecunguk bodoh,” ucapnya pelan. Ia langsung memilih hal pertama yang terlintas di kepalanya. Ia melompat tinggi, menunjukkan dirinya pada patroli kesatria. Sekali lagi, Kim Kibum kembali mengguncang istana.

“Ayo tangkap aku kalau bisa.” Kibum tersenyum dan menggosok kedua tangannya; ‘Aku ingin menjadi angin.’kemudian Kecepatan lesat Kibum meningkat. Ia membuat para pegawal istana kesulitan mengejarnya, tak hanya dalam kecepatan. Menara berundak didakinya dengan lesatan tinggi.Kibum melompat masuk ke dalam jendela pertama dari menara tempatnya bernaung. Sementara, para prajurit kalang kabut mencarinya. Sekarang bergantilah Kibum yang memperhatikan ruangan itu. Ruang besar dengan warna-warna megah dan penuh aura kekuasaan seakan turut menceritakan keagungan
sang pemilik. Permadani merah nan romantis menyelimuti lantai. Ornamen-ornamen dan dekorasi perak dengan pola ukiran tiga mata menyala memenuhi hampir seluruh ruangan. Satu yang
menarik perhatian Kibum adalah atribut-atribut bersolek yang tergantung dekat kaca besar itu. Meski begitu di dekat kaca itu disandingkan sepasang ranjang. Sebuah tempat tidur besar dengan menjadi perhatian Kibum berikutnya. Lambang
kerajaan menempel di kepala kasur. Ditutupi oleh seprei dan kelambu besar. Tepat pada saat itulah ia mendengar adanya suara yang bercakap-cakap di seberang pintu kayu coklat hitam. Ia hendak mengambil ancang-ancang kabur tapi patroli kesatria masih berseliweran di bawah. Ia bosan main kejar-kejaran. Kolong ranjang adalah tempat terbaik yang ia pikirkan. Tak lupa ia meramalkan mantra Sumbat Suara. Ia mampu mendengar suara tapi siapapun tak bisa mendengar suaranya.

Pintu kamar terbuka setengah. Kibum mendapati dua pasang kaki berdiri di antara pintu masuk.

 “Yang Mulia.” Kibum menduga ini adalah kamar pribadi Kris, terlihat dari bagaimana mewah serta megahnya kamar tersebut. Kesempatan baik.

“Bagaimana? Kau menemukannya, Kasim Han?”

“Ne.”

Ranjang di atas Kibum bergetar ringan. Satu dua gerakan ringan dari getar ranjang menandakan sosok di atas tengah merebahkan diri.

“Dia kembali ke dunia manusia, Master.”

“Siapa yang mengirimnya?”

“Saya kira itu Changmin.”

“Ah. Pemuda brandal itu. Selalu mencari masalah denganku.”

Kris kemudian beranjak dan membuka lemari kecil berlapis gading dan mengambil ceret berlapis emas, dua buah cangkir, dua sendok perak, dan tatakannya. Ia menuang air ke ceretitu. Dalam sehirupan napas, uap panas mengepul dari mulut ceret. Air panas instan dari ceret berelemen api ini telah siap.Kris memberi ruang bagi Kasim Han untuk menabur daun teh. Setiap cangkir diberi dua helai daun.

“Apa yang harus saya lakukan, Yang Mulia? Apakah saya harus membawanya kemari?”

“Tidak perlu. Membawanya kemari hanya membuat mereka kembali bertemu.”

“Lalu?”

“Biar aku yang menemuinya. Jika kami tidak bisa bersatu di dunia ini, mungkin dunia manusia bisa mempersatukan kami.”

Kris mengaduk air di kedua cangkir itu secara bersamaan dengan ritme yang stabil. Warna air dalam cangkir perlahan berubah menjadi berwarna coklat. Embun kecil mengisi sisi-sisi cangkir keduanya diiringi uap panas. Aroma manis teh bertebaran mengisi kamar.

“Anda yakin?”

Kris tersenyum dan menambahkan dua balok gula dalam cangkir mereka.

“Sangat yakin.”

Mereka kemudian menikmati teh mereka. Menyesap aroma dan rasa manisnya yang masih tersisa beberapa tegak lagi.

“Anda sangat mencintainya, ya?”

Kris terkekeh lalu mengangguk.

“Sekarang silakan minum teh anda kembali, Kasim Han.” ujar Kris menawarkan teh. Acara minum teh kembali dilanjutkan. Layaknya kebiasaan masyarakat negeri itu, acara minum teh selalu diiringi dengan obrolan santai.

“Bagaimana dengan Kibum?”

“Hm. Aku akan membunuhnya.”

“Bagaimana caranya? Dia adalah legenda. Naga emas yang memiliki kekuatan yang mengerikan.”

“Kau hanya belum tahu kelemahannya. Jika kau tahu, kau pasti akan tenang sama sepertiku.”

“Kelemahan? Dia punya kelemahan seperti itu?”

 Kris menutup pesta minum teh itu dengan satu tegukan besar. Panas teh itu meluncur begitu saja melewati kerongkongannya. Panas namun nikmat.

“Punya. Dan dalam waktu dekat, aku akan membunuhnya.”

Pintu kamar tiba-tiba saja diketuk. Kibum terkejut dan bersiap untuk kaburnamun, ia menunggu waktu yang tepat. Kris kemudian membukakan pintu sekedarnya.

 “Ada urusan apa kalian?” Seorang pria besar berumur sekitar 40 tahun-an membungkuk hormat.

“Yang Mulia, hamba mohon ijin untuk masuk kamar pribadi anda. Kami mendapat laporan adanya penyusup yang masuk dalam daerah istana.”

“Di kamarku? Dan aku tidak mengetahui keberadaannya? Begitu?”

“Hamba tak berani… tapi para dayang sempat mendengar suara-suara aneh dari menara ini dan mereka melaporkannya pada kami. Kami khawatir penyusup itu
sedang bersembunyi di ruangan anda, Yang Mulia.” Pengawal itu menyilangkan tangan
kiri di bahu kanan dan berlutut.

“Tidak ada siapapun disini. Pergilah!”

“Tapi, Yang Mulia…”

“Aku bilang pergi!”

“Baik, Yang Mulia.” Pengawal itupun tak mampu berbuat apapun selain menurut dan kemudian beranjak pergi.

Begitu pintu tertutup, Kris segera saja mencium dan mengendus aroma-aroma yang mencurigakan. Melihat ke seluruh pelosok dan penjuru kamar dan tentu saja, kolong ranjang. Namun, nihil. Tidak ada siapapun disana. Hanya angin malam yang bertiup dari sela-sela jendela di sana.

“Apakah itu kau, Kim Kibum?”

 

***

 

Begitulah hidup. Beberapa telah terluka sejak lama. Beberapa berusaha menyangkalnya. Beberapa coba menutupinya dengan keangkuhan. Dan beberapa menyalakan api cinta lalu memadamkannya dengan cemoohan, atau dengan ketidak pedulian yang terus melekat. Atau sebaliknya, merekalah yang melekat pada luka itu sehingga masa lalu selalu menyelubungi kehidupannya. Orang yang bahagia tidak menoleh ke belakang. Tidak juga melihat ke depan. Ia hanya hidup di dalam hari ini.

“Sudah bangun, sayang?”

Tetapi ada juga untuk menemukan kebahagiaan, seseorang hanya harus hidup pada satu waktu—ia hanya harus hidup bagi waktu itu saja. Ia harus menghidupkan kembali masa lalunya. Segelap apa pun itu. Ia juga harus hidup bagi masa depan. Betapapun tidak menentunya. Jadi, kita bisa memilih satu di antara keduanya.

“Ne, Eomma.” Kyuhyun masih bingung. Ia hanya ingat, terakhir kali ia mengikuti suara di saat pentas dan setelahnya, semuanya gelap. Mungkin ia pingsan. Mungkin, ia anemia atau frustasi. Entahlah. Kyuhyun tidak bisa berfikir.

“Cho Kyuhyun! Cepat mandi!” Teriakan sang ibunda membuyarkan lamunannya. Dengan langkah yang panjang dan terburu-buru, Kyuhyun segera mengambil handuk dan melenggang ke kamar mandi. Melupakan fikiran-fikiran anehnya.

***

       “Akhirnya!”

Kyuhyun menaiki ranjangnya. Ia kemudian berusaha tetap tenang dan mengenyahkan pikiran-pikiran anehnya seharian ini. Terutama mengenai kalung giok yang tiba-tiba ada di lehernya. Beberapa menit berusaha, Kyuhyun hampir saja jatuh tertidur sebelum sesuatu yang mengagetkan terjadi. Kalung giok itu tiba-tiba saja menjadi panas. Kyuhyun tanpa fikir panjang, langsung mencabut dan membantingnya ke lantai karena terlalu panik.

“Apa yang terjadi?”

Kalung itu kemudian bercahaya terang lalu memudar berkali-kali. Bersamaan dengan itu, kalung itu juga bergerak ke sana kemari. Entah bagaimana, tiba-tiba Kyuhyun merasa cemas, khawatir, dan juga takut. Ia juga bingung kenapa hari ini dirinya begitu aneh. Ya- semenjak ia mendengar melodi aneh itu. Ia jadi gila sekarang.

“Seseorang! Kemari! Tolong aku!”

Dan, tiba-tiba saja, Kyuhyun tidak menemukan dirinya di kamarnya lagi. Gelap. Gelap. Dan tidak ada apapun. Suara Kyuhyun bahkan bergema ketika ia mencoba berteriak. Kyuhyun takut. Ia ketakutan luar biasa.

“Hiks… dimana ini? Apa ini mimpi?” tanyanya pada diri sendiri.

Slurp. Slurp.

Kyuhyun bisa mendengar suara seseorang menjilati sesuatu. Keras dan terus menerus. Semakin terang, sedikit demi sedikit, Kyuhyun dapat melihat asal suara itu.

Seseorang.

Duduk bersila memunggunginya. Menjilat sesuatu.

Slurp. Slurp.

“Siapa disana?”

Orang itu berhenti melakukan sesuatu. Dengan itu, tetesan darah mengucur dari tangannya. Mungkin sedari tadi, ia menghisap darah dan berhenti saat Kyuhyun bersuara.

“Ka-kau siapa?” Kyuhyun menelan ludah gugup.

Orang itu perlahan menengok. Sudut bibirnya terkoyak dan berdarah. Wajahnya hancur oleh sesuatu dan daging di wajahnya timbul oleh sayatan yang ada dimana-mana.

Kyuhyun menangis terisak ketika sosok menakutkan itu mendekatinya. Terus. Dan terus. Semakin dekat dan Kyuhyun bisa merasakan sosok itu memandangi lehernya.

Barulah Kyuhyun tahu sosok itu membawa tubuh manusia dan menjilati darahnya. Kyuhyun ingin berteriak tapi suaranya tercekat.

“Kyu? Kyu? Cho Kyuhyun!”

Kyuhyun bisa mendengar suara lain. Suara yang tak asing namun juga tak dikenalnya. Suara itu terus memanggilnya dan bersamaan dengan itu, cahaya mulai melingkupi ruangan gelap itu. Sosok itu menghilang berganti dengan tempat yang mirip dengan hutan. Banyak pohon-pohon disana. Juga beberapa bunga. Indah. Subur dan tentram.

Disana, ada seorang pemuda yang tengah memunggunginya. Barulah, ketika pemuda itu menengok, Kyuhyun bisa melihat pria itu tampan dan juga berkarisma. Dengan lesung pipitnya, ia tersenyum dan menghampiri Kyuhyun.

Anehnya, didalam mimpi itu- karena Kyuhyun fikir itu mimpi, ia seperti mengenal pria itu. Kyuhyun ikut tersenyum lalu memeluknya.

“Bogosipo,” ujar Kyuhyun pelan. Ia memeluk semakin erat kala pria itu seperti akan menghentikan semuanya. Mencoba untuk pergi dan menghindar.

“Aku tak bisa, Kyu. Kau harus disini. Jaga dirimu baik-baik. Hiduplah dengan baik. Kau mengerti?”

“Hyung…” Kyuhyun bisa merasakan nafas hangatnya lalu sentuhan bibir itu di bibirnya. Nyaman ia rasakan ketika bibir itu melumatnya pelan, menyesap penuh kerinduan dan juga gairah. Tangan Kyuhyun merangsak ke dada bidangnya, mencoba menahan sebisa mungkin. Mereka saling menghisap dan Kyuhyun melenguh ketika tangan kekar pria itu meraba-raba daerah sensitifnya. Paha, lekukan pinggang, leher dan bagian selangkangannya. Kyuhyun paham apa yang akan terjadi selanjutnya jika ia tidak menolak, tapi, sekali lagi, di mimpi ini, Kyuhyun tak kuasa menolak. Ada rasa cinta yang tak dimengerti olehnya sendiri. Seakan tubuh ini, fikiran ini, dan apa yang ia ucapkan bukanlah dia.

“Bolehkah?” tanya orang itu. Kyuhyun dengan mata sayu dan tatapan menggoda, membalas dan kembali melumat bibir pria itu dengan cumbuan yang panjang. Berfikir, Kyuhyun tak menolak sentuhannya, pria itu mulai melanjutkan. Dibelainya bagian dalam puncak kenikmatannya lalu mengorek dengan jari-jari tangannya. Desahan itu membuat segalanya semakin meningkat.

“Ah. Ah. Hyung, ah.”

Jari itu terampil memainkan ‘mainan’ barunya. Melesat, terkadang memutar mengikuti keinginan sang pemilik tubuh. Ia meliukkan tubuhnya ketika beberapa bagian ternikmatnya disentuh. Titik itu membuatnya melayang dan tanpa sadar mendesah, berteriak ketika cairan tubuhnya mulai mengucur deras.

“Ahhh… hyung… Ak-aku…”

Tepat ketika jari itu keluar, suara pria itu berbisik di telinganya. Lembut, seakan ada perhatian dan rasa sayang disana.

“Tunggu aku, Kyu. Aku pasti akan datang menjemputmu.”

“Ne, hyung.” Kyuhyun merasa jantungnya berdetak lebih keras, lebih cepat tatkala tangan-tangan pria itu menelusuri setiap lekuk tubuhnya. Mencumbui dan menyesap aroma di tubuhnya bagai kecanduan.

“Setelah kita bertemu, aku akan benar-benar memasukkan milikku kedalam tubuhmu. Merasukimu untuk yang pertama kalinya.”

Kyuhyun tidak marah. Aneh sekali ketika pria ini yang mengucapkannya, ada ribuan perasaan tergelitik timbul di dadanya. Ia justru bisa merasakan rasa panas dan nafsu di tubuhnya. Pria ini, mampu membuatnya terbang melayang hingga ke puncak tertinggi.

Dan bersamaan dengan itu, Kyuhyun terbangun.

Bingung. Kaget dan lebih ketakutan lagi ketika bagian anusnya terasa sedikit perih akibat pemasukan sesuatu. Apakah sama seperti di mimpinya? Tapi… bagaimana bisa?

“Siapa pria itu?”

Kyuhyun meremas sprei kasurnya dan berkali-kali memegangi kepalanya, mencoba mengingat-ingat siapa pria di mimpinya tapi, nihil. Dia tidak mengenal pria itu.

***

 

Baru saja Siwon membaringkan diri untuk tidur di kamar tahanan yang berdinding dingin, dia sudah dibangunkan oleh Donghae.

“Ini waktunya, Won,” bisiknya. Merapikan kemejanya serta menyiapkan energi dan ancang-ancang untuk menggerakkan kakinya yang dapat seperti bayangan. Salah satu keahlian Donghae.

“Dimana Kibum?”

“Kurasa dia sedikit terlambat. Tidak biasanya dia datang terlambat.”

“Mungkin ada sesuatu yang harus diurusnya.” Siwon merapatkan kelima jari-jarinya. Merafalkan sesuatu dan membentuk sebuah gelembung sabun yang panas bagai magma. Keahlian Siwon tentu saja elemen api di tangannya.

“Kim Kibum!”

Kibum meloncat dan menembus sel-sel tahanan dengan tubuh lenturnya. Membantu Siwon mematahkan mantra sel besi dengan magma milik Siwon.

Besi-besi itu meleleh dan mereka segera kabur dari tempat itu.

“Kau sudah menemui Changmin?” tanya Siwon tergesa, sambil berlari, meloncat.

“Dia menunggu di tebing. Dia akan membawa kita ke tempat Kyuhyun.”

“Bagaimana kau bisa menyakinkannya berada di pihak kita?” Donghae sedikit cemas. Bagaimanapun, Changmin bukan tipikal orang yang bisa dipercaya.

“Dia hanya ingin membunuh Kris karena dendam kedua orangtuanya. Dan aku menyakinkannya, bahwa kita tidak berada di pihak Kris lagi.”

“Bagus sekali.” Donghae tersenyum.

“Cepatlah! Waktu kita tak banyak. Kris mempunyai rencana yang sama seperti kita.”

“Hah? Apa maksudmu?” tanya Siwon, menoleh pada Kibum.

“Dia juga akan menyusul Kyuhyun menggunakan Sungmin.” Jawab Kibum sambil terus berlari.

Mereka kemudian melompat menyusuri jalanan kecil gelap dan lembap menuju ke tebing, keheningan hanya dipecahkan oleh langkah-langkah mereka. Kegelapan yang semula pekat sekarang memudar menjadi terang. Tangan dan kaki mereka mulai kedingingan.

“Shim Changmin!”

“Kalian sudah datang?”

“Kita lakukan sekarang?” tanya Siwon.

“Jangan buru-buru, hyungku sayang.”

“Apa yang kau tunggu?” desak Siwon tak sabaran.

“Kita punya aturan. Pertama, jangan sembarangan menggunakan sihir disana.”

“Aku tahu,” celetuk Donghae malas. Ia memang tidak pernah suka dengan Changmin.

“Dan lagi, Kyuhyun adalah manusia dan demi kerahasiaan, ia tidak akan mengingat apapun selama berada di sini.”

“Yah- aku tahu.” Siwon menunduk sedih. Dilupakan oleh orang yang dia cintai adalah kenyataan terpahit yang pernah dialaminya.

“Baiklah. Mari kita mulai perjalanan kita.” Mereka semua melesat ke sebuah dimensi lain melalui celah pintu yang sama, dalam deru angin dan pusaran warna. Kemudian… Kaki mereka menghantam tanah. Donghae terhuyung menabrak Kibum dan Kibum terjatuh. Yang lain bergeletakan di tanah. Mereka semua dilihat oleh banyak orang karena saling tumpang tindih di tengah-tengah stasiun kereta. Ya, mereka mendarat di stasiun kereta.

Kibum melepaskan diri dari Donghae dan berdiri. Mereka telah tiba di sini, ditempat dimana Kyuhyun berada.

“Lalu dimana kita?” Donghae menatap ke kanan dan ke kiri sedangkan mereka semua juga sama, bingung. Bahkan Kibum yang biasa diandalkan di saat seperti inipun, tidak tahu harus berbuat apa.

“Bagaimana jika kita bertanya pada orang-orang dimana rumah Cho Kyuhyun?” usul Donghae.

“Kau kira semua orang tahu Kyuhyun. Ini dunia manusia. Bukan negeri sihir,” ucap Changmin ketus.

“Aroma mereka juga sama. Tidak bisa melacak aroma Kyuhyun.” Siwon menutup hidungnya dengan kedua tangannya. Ia memang sensitive terhadap aroma manusia dan selain Kyuhyunnya, ia benci aroma ini.

“Kita jalan saja. Siapa tahu ada petunjuk.” Saran Kibum yang langsung disetujui oleh mereka. Kemudian sambil tetap mengagumi berbagai peralatan canggih di dunia manusia, mereka menyeberangi jalanan yang ramai dengan lalu lalang mobil, tak bisa memungkiri bahwa mereka terkejut dengan mobil-mobil yang berseliweran sepanjang jalan.

Setelah berjalan kira-kira dua puluh menit, tampak sebuah taman kota yang indah. Tak seindah hutan dan taman negeri mereka, tapi setidaknya cukup untuk beristirahat. Mereka kemudian melepas penat disana. Menghirup udara sebanyak-banyaknya.

“Lihat! Gadis di kota ini semuanya cantik-cantik,” ujar Donghae semangat. Memang, sedari tadi orang-orang sibuk memandangi mereka. Mereka tampan tentu saja, poin plus untuk gadis-gadis tapi, pakaian dan gaya mereka mengundang pertanyaan. Dengan baju yang dibalut dengan jubah hitam lengkap dengan sepatu boot klasik yang terkesan etnik. Siapa yang memakai pakaian ala kerajaan seperti itu di era modern seperti sekarang? Pastilah hanya mereka.

“Sepertinya kita salah kostum.” Changmin menutupi wajahnya dengan tangannya sebisa mungkin. Meskipun, itu sama sekali tak membantu. Wajahnya tetap dapat terlihat dengan jelas.

“Bagaimana caranya kita menemukan Kyuhyun?” Kibum bertanya dan mereka kemudian berfikir keras. Lalu, entah kebetulan atau apa, mereka mempunyai ide yang sama; berpura-pura menjadi manusia untuk menemukan Kyuhyun.

“Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

“Pertama, ganti pakaian ini,” ucap Siwon menjawab pertanyaan Changmin yang langsung disetujui oleh mereka- kompak.

“Kedua, mungkin kita bisa mendapatkan uang dengan cara seperti itu.” Siwon menunjuk beberapa gerombolan yang tengah menyanyi di tengah-tengah kerumunan. Mereka menari dan beberapa dari mereka juga menunjukkan keahlian sulap.

“Mwoya? Mereka bisa menggunakan sihir? Tapi kenapa aku tak bisa merasakan auranya?” tanya Changmin polos.

       “Itu tipuan, Changmin.” Siwon menggeret Changmin dan Donghae juga Kibum yang berjalan sendiri untuk membentuk formasi di tengah-tengah orang-orang yang lewat. Dengan ketampanan mereka, baru beberapa menit, mereka sudah menjadi pusat perhatian ketika Siwon mulai menujukkan keahlian ‘sihir’nya- yang dianggap sulap oleh mereka. Hanya dalam beberapa menit, uang mereka telah terkumpul, cukup banyak dan membuat gerombolan pesulap tadi terlihat kesal.

       “Selamat siang.” Sapa seorang gadis. Ramah dengan senyum manisnya. Gadis itu menggunakan dres selutut berwarna merah dan pita di bandonya yang menambah kesan imut.

       “Selamat siang juga nona manis.” Jawab Donghae cepat.

       “Saya tertarik dengan permainan sulap kalian. Taemin imnida.”

       “Halo. Aku Donghae. Ini Kibum, Changmin dan pria yang ada di ujung, Siwon.”

       Gadis itu menunduk dan terkekeh melihat Donghae yang sedikit genit padanya.

       “Saya manager restoran yang ada di Gangnam. Apakah mungkin kalian tertarik bekerjasama denganku?”

       “Bekerja sama?” tanya Siwon mengulang.

       Gadis itu mengangguk.

       “Kalian tampil di restoranku. Aku yakin, sulap kalian akan menarik perhatian banyak orang.” Jelas Taemin, yakin.

       Mereka saling berpandangan dan mengirim pesan satu sama lain menggunakan telepati dan disepakati bahwa ini adalah permulaan yang bagus. Mungkin saja, jalan menuju Kyuhyun akan semakin mudah.

       “Baiklah. Kami terima.” Siwon tersenyum dan Taemin yang menatapnya hanya bisa terkagum dengan senyuman manisnya. Pemuda tampan yang memiliki lesung pipi yang indah. Pria ini sungguh sangat tampan. Apakah dia dari negeri dongeng?

       “Ah- iya. Aku senang mendengarnya, Siwon-sshi.” Gadis itu menunduk saat Siwon juga ikut tersenyum. Dan Kibum menatapnya tak suka. Ia merasa aneh pada gadis ini. Semoga dugaannya salah meskipun, dugaannya tidak pernah meleset.

       “Petualangan baru akan dimulai.” Seru Donghae sedikit tertantang. Mereka semua tertawa menikmati suasana baru ditempat ini. Sedikit melupakan peristiwa yang memakan tenaga, fikiran dan mental mereka beberapa hari belakangan ini. Sedikit rileks dan mencoba hal baru, apa salahnya?

       Tapi, tidak dengan Siwon.

       Ia cemas. Rindu dan sangat khawatir. Menemui Kyuhyun di mimpinya adalah cara pengecut yang pernah dilakukannya tapi, demi rasa rindunya yang teramat dalam, Siwon tak segan melakukan itu.

       “Kau cemas?” tanya Kibum, menyadari perubahan Siwon.

       “Hn,”

       “Tenanglah. Dia baik-baik saja disini.”

       “Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya ketika ia tidak mengingatku lagi, Kibum.”

       “Kyuhyun akan segera mengingatmu. Aku yakin itu.”

       “Kau yakin sekali.” Dengus Siwon sedikit sebal. Kibum terkekeh sebentar dan kemudian menatap batu giok yang ada di lehernya. Kalung yang sama dengan yang diberikannya pada Kyuhyun.

       “Karena aku sangat mengenalnya.”

 

Flashback ON

       Siang itu, sosok pemuda berwajah cantik yang dikenal dengan sebutan- sang anggrek, nampak kebingungan mencari kelasnya. Setelah penobatannya sebagai permaisuri, iapun dididik guna menjadikan dirinya lebih memahami mengenai masalah istana. Meski sebenarnya, ia menolak dan malas melakukannya.

       Iapun masuk.

Para bangsawan saling bergumam. Semua mata sekarang tertuju padanya. Sang anggrek hanya mendengus acuh. Namun, tatapan mata mereka menunjukkan bahwa ia adalah makhluk yang paling hina karena menyandang status sebagai ‘manusia’. Lama-lama, ia kesal juga. Iapun hampir bangkit pergi meninggalkan kelas hingga tangannya dicekal oleh salah seorang yang ia sendiri tidak tahu siapa namanya.

“Pengecut.”

“Apa?”

“Kau pengecut karena kau menghindari mereka. Jika kau kuat seperti yang kau fikirkan, maka, tunjukkan pada mereka bahwa kau lebih baik dibanding sampah-sampah itu. Jadilah pemenang dan tunjukkan bahwa merekalah pecundang yang sesungguhnya.”

Sang anggrek menatap aneh pada pemuda yang sama sekali tidak terganggu dengan status manusianya, justru pemuda ini mengerti perasaannya. Bukankah ini aneh?

“Kau tidak ingat padaku?”

“Hah?”

Pemuda itu menyeringai lalu memperlihatkan sebuah suling berwarna perak yang dipegangnya. Kontan, sang anggrek melotot karena barulah ia tahu bahwa pemuda itu adalah orang yang memanggilnya ke dunia tempatnya tinggal sekarang.

“Siapa namamu?”

“Kim Kibum,” ujarnya terkekeh melihat betapa sang anggrek merengut tak suka. Ekspresi yang lucu- baginya.

“Maukah kau menjadi temanku?”

Kibum tertegun. Teman?

“Kau belum tahu siapa aku.”

“Aku tahu. Pembunuh bayaran yang berjuluk naga emas. Dan, aku juga tahu bahwa kaulah penyelamat hidupku.”

“Penyelamat?”

Sang anggrek menyangga dagunya dengan tangan kanannya. Matanya menerawang jauh dan binar-binar itu terlihat indah di mata Kibum.

“Di dunia manusia, aku selalu dilecehkan oleh ayahku dan mendapat perlakuan kasar dari ibu tiriku. Disana seperti neraka dan aku ingin mati setiap harinya.” Ia tersenyum lalu menatap Kibum dengan mata yang hampir mengeluarkan tangisnya. “Dan melodimu itu, membuatku terbebas dari kesakitanku. Bertemu dengan orang yang aku cintai dan melahirkan anak-anakku yang manis. Bukankah itu sebuah penyelamatan?”

Kibum tidak tahu mengapa, tapi inilah pertama kali ada seseorang yang ingin berteman dengannya. Pria kaku yang mengerikan dan juga kejam. Semua orang takut dan segan terhadapnya, tapi dia… dia bahkan sekarang menangis didepannya. Menunjukkan betapa lemah dan rapuh dirinya. Bukankah seseorang yang menangis di depanmu adalah orang yang menganggapmu berarti. Dan Kibum, tersentuh untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Tahun-tahun berlalu. Kibum yang hidup sebatang kara mulai menemukan alur hidupnya semenjak mengenal pemuda cantik itu. Ia mulai tertawa dan menemukan arti hidup yang sempat dipertanyakannya. Bahwa hidup bukanlah hanya mengenai membunuh.

“Berhenti! Permaisuri, aku bilang hentikan!” Kibum berteriak kencang. Sang anggrek terkejut lalu mulai terisak.

“Kau mau kemana?” tanya Kibum pelan ketika emosinya mulai menghilang. Ia khawatir mengenai kondisi mental sang permaisuri.

“Aku akan menemui suamiku. Dia dalam bahaya, Bumie.”

“Sekarang? Ini bahaya.”

“Aku tidak perduli!” dia berkata dengan keras, sebelum Kibum bisa menyelanya lagi. Dia hampir mengharapkan gumaman lagi, tetapi keheningan yang timbul kelihatan jauh lebih pekat dari sebelumnya. Akhirnya, ia menggunakan sihirnya untuk membentengi Kibum dan melompat ke suatu tempat seorang diri. Kibum bukannya tidak dapat mematahkan sihir itu, ia dapat- namun, kemauan yang kuat dari sang anggrek meruntuhkan segala egonya. Ia mencoba mengalah, mencoba meredam emosinya demi sang anggrek, satu-satunya teman dalam hidupnya yang pekat.

Dengan diiringi kecemasan yang luar biasa, Kibum akhirnya tak dapat menahan segala keingintahuannya. Ia lalu meruntuhkan sekat tersebut dan terbang berganti naga, membaui aroma sang permaisuri negerinya. Dan disanalah ia, menguping dari kejauhan beberapa orang yang terlihat bercakap-cakap. Kibum tak dapat mengenali sosok yang kini mengenakan topeng kulitnya, mungkin dialah sang master.

Tubuh sang anggrek bergetar. Tak mengerti apa yang tengah mengganggu hatinya, Kibum bisa melihat, dengan luka mengangga yang cukup parah, ia pergi dan meninggalkan ketiga orang itu.

“Permaisuri…” ujar Kibum pelan, perasaannya antara sedih dan juga khawatir. Ia akan mengikutinya lagi sebelum tiba-tiba,

“ARRGGHHH!” Sang Master memegangi kepalanya yang berdenyut bagai pompaan ganas. Ia jatuh pingsan dan seorang pria cantik dan manis terus menerus memegangi kepalanya dan mengucapkan mantra aneh yang mungkin adalah ilmu hitam.

Kibum semakin mendekat dan mensegel kekuatannya.

“Kau melakukan tugasmu dengan baik, Sungmin. Dengan begini, penghianat itu tidak akan mengorek informasi apapun mengenai negeri ini. Ia tidak akan bisa menemukan Yang Mulia.”

“Nde, Prof. Park.” Sungmin lemas. Seluruh persendiannya dan tenaga dalamnya terkuras habis.

“Aku akan membawa Yang Mulia ke suatu tempat yang aman. Ia tidak akan mengingat apapun, jadi rahasiakan ini.”

“Arraseo.”

***

 

Sang anggrek tertawa seperti orang gila. Percakapan ketiga orang itu mengisyaratkan bahwa ia tidak akan bertemu lagi dengan Kris, suaminya. Dan lagi, batu terlarang ini telah menunjukkan bagaimana reinkarnasinya kelak. Mencintai putranya sendiri, mengkhianati suaminya dan itu membuatnya marah, kecewa dan juga sedih. Takdir yang lucu, bukan? Ia amat mencintai sang master. Mencintai seluruh tindakan kejamnya, perlakuan lembutnya dan bahkan semua titahnya yang terkadang diluar nalar. Tapi… Cho Kyuhyun? Bahkan meminta Sungmin membunuhnya belumlah cukup baginya.

“Rupanya kau disini, sayang?”

Sang anggrek mendongak dan terkejut. Ia bersiap akan lari tapi orang itu menahan selendang gaunnya dengan kuat. Ia menjambak rambutnya dan menghantamkannya ke tanah yang dingin. Sang anggrek kesakitan.

“Akhh!”

Orang itu mencekik lehernya. Nafasnya hampir saja putus dan dia melawan. Menusuk perut orang itu dengan kuku-kuku tangannya yang kemudian memanjang bagai pedang. Lalu berbalik dan memasang siaga kuda-kuda ketika ia mulai dapat mengendalikan tubuhnya.

“Kurang ajar kau!”

BLES!

Pedang. Ada sebuah pedang yang menancap di belakangnya. Melalui celah sudut matanya yang kini berair, sang anggrek dapat melihat… Choi Yunho, anaknya sendiri, menusuknya dengan pedang yang berkilat tajam. Ia jatuh dengan luka yang amat dalam. Bukan. Bukan luka di perutnya yang membuatnya terisak pilu. Tapi, luka di hatinya yang lebih dalam dibanding apapun. Tidak ada seorang ibupun, yang senang saat seorang anak membentaknya, saat seorang anak melukainya. Tidak ada. Sang anggrek menangis. Dan saat itulah, Kibum datang dengan kebatinan yang kuat diantara mereka.

Ia datang dan kalap. Menyerang Prof. Park dengan membabi buta dan juga Yunho. Ia bisa merasakan, rasa emosi yang kuat dan kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Kibum. Tiba-tiba kenangan itu terlintas. Saat mereka tertawa bersama, menjahili orang-orang bersama, dan bagaimana bingungnya Kibum ketika ia menangis karena suaminya mengacuhkannya. Sang anggrek tersenyum, setidaknya, ada orang yang benar-benar peduli padanya.

“Kubunuh kau Yunho!”

Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, ia menyeret kakinya dan memeluk kaki-kaki Kibum.

“Jangan bunuh dia, Kibum-ah. Kumohon…” Terisak. Dengan pelan, ia mengatakannya. Hati Kibum mencelos. Yunho yang kritis tak mampu berbuat apapun. Kibum adalah kelemahannya. Kibum sangat kuat untuk ditandingi.

“Permaisuri?”

Kibum menangis. Dia, seorang pria yang dingin dan kejam, menangis ketika satu-satunya orang yang dianggapnya sebagai keluarganya sendiri dalam keadaan sekarat. Jantungnya seperti terhantam sesuatu dan tangisnya entah mengapa tak kunjung berhenti. Ini adalah pertama kalinya, seorang Kim Kibum menangis.

“Maaf. Maaf karena aku tak bisa menemanimu. Maaf, karena aku tidak bisa jadi temanmu lagi.”

“Hiks… jebal. Bertahanlah.”

“Kau tahu… Aku bahagia. Hidup disini. Mengenalnya dan bertemu denganmu. Di dunia manusia, aku tak pernah tertawa seperti saat bersamamu. Terimakasih telah memberiku kebahagiaan, terimakasih karena mengirimku kemari dan terima kasih karena kau menangis untukku saat ini.”

“Bodoh! Jangan bicara lagi! Aku akan membawamu ke tabib.”

Sang anggrek menahan Kibum yang akan pergi. Dengan darah yang tercecer dimana-mana, ia memeluk Kibum dan kemudian menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya. Di dekapan Kibum.

“Permaisuri… Ba-bangun.” Kibum tak percaya. Berkali-kali, ia menghentakkan tubuh itu. Dingin dan memucat. Kibum semakin terisak. Dipegangnya tangan mungil itu dan mencari-cari titik nadinya. Tidak ada.

Kibum memeluk tubuh kurus itu. Mengucapkan namanya berkali-kali dan terus menangis. Ada sesuatu yang hampa di hidupnya yang tanpa arti, ketika akhirnya, ia menemukan orang yang selalu membuatnya tertawa. Kini hidupnya kosong dan juga hampa.

“Aku berjanji. Jika aku diberi kesempatan sekali lagi untuk bertemu denganmu, aku akan melindungimu. Melindungimu lebih baik lagi.”

Kibum mengelus rambutnya. Memandangi wajah itu untuk terakhir kalinya.

“Tuhan. Beri aku kesempatan. Kesempatan untuk menjaganya sekali lagi.”

Dan setelah itu, dengan wajah yang dipenuhi dengan aura menguar yang sangat menakutkan, ia mendekati Yunho yang sudah ketakutan.

Tapi, ada serangan yang menghentikannya. Meski ia hidup abadi, ia juga tak mau mengambil resiko. Kibum kemudian hilang bagai angin dan membawa dendam hingga sekarang ini. Hidup dengan membunuh dan berhenti saat Yunho yang tanpa tahu malu mendatanginya dan memintanya menjadi anak buahnya. Tentu Kibum menolaknya, tapi begitu sebuah batu meteor memperlihatkan seorang pria tampan yang ia kenali sebagai Kris berjalan berdampingan dengan sosok itu, barulah, ia berubah fikiran. Titik yang mengubah hidupnya.

“Aku akan mengirimmu untuk menjaganya. Namanya Cho Kyuhyun.”

“…”

“Sebelumnya, aku telah meminta Kris untuk menjaganya.”

“Apa maumu?”

“Tidak ada. Aku hanya ingin berbaik hati mempertemukan kalian dan memintamu menjaganya. Hanya itu. Ayolah, jangan memandangiku seperti itu.”

Yunho sedikit ciut nyali ketika Kibum terus menatapnya tajam. Posisinya sebagai penguasa membuat Kibum tak bisa berkutik untuk melawannya. Meski, ia adalah ras yang kuat, mungkin terkuat- ia tidak akan bisa menyentuh Yunho satu ujung rambut saja. Itulah sebabnya, membunuh Ayahnya adalah obsesinya selama ini, menggunakan Kibum dan Kyuhyun. Yunho memang licik dan juga culas.

“Aku bersumpah, akan membunuhmu suatu saat nanti. Waktu yang tepat.”

Yunho tertawa.

“Coba saja, Kibum. Dan lihatlah menggunakan ilmumu itu, apakah di masa depan, berakhir happy ending untuk kalian semua? Kurasa tidak.” Ia menyeringai.

“Kita lihat saja nanti.”

Sejak saat itulah, dunia kelam Kibum tak lagi terlihat. Mengenal Kyuhyun, ia juga mendapatkan teman-teman baru. Siwon, dan Donghae. Kibum masih ingat, ia pernah bertemu Siwon saat pemuda itu berusia enam tahun. Masih terlalu kecil untuk merasakan bagaimana kengerian perang itu. Bagaimana culasnya saudara kandungnya itu. Tapi, Kibum tetap bersyukur, di hidupnya yang abadi dan membuatnya bosan, ia dapat bertemu dengan sosok itu lagi, meski mereka berbeda, tapi Kibum bisa melihat, sosok Kyuhyun jauh lebih memiliki hati yang lapang dan tulus dan itulah yang disukai olehnya.

 

TBC

Annyeong… hehe, mf ya telat update. Gimana, gimana, udah ngikutin voting buat next ffnya? Hm… kalau belum ikutan ya. Setelah chapter ini, Sabrina mau bikinin Ffnya. Hore, akhirnya New FF. Hihi.

Pairing, of course Wonkyu, (kan Sabrina suruh pilih 2); satu wonkyu dan satu yg pemenang kedua, pairing acak, Suju, TVXQ, dan Exo. Kenapa Exo? Karena Sabrina mengikuti alur per-KPOP-an yg lumayan banyak minta EXO.hihi.

Kyaknya nih 3 chapter lg bakalan End jd, mohon dukungannya ya chingu. Gomawo, #cium reader satu2.

Love u,

The Melody Chapter 5

Featured

Pair : Wonkyu, KrisKyu, Yunkyu.

Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kris (Wu Yi Fan), Kim Kibum, Lee Donghae, Lee Sungmin, Jung Yunho,dll.

Genre : Mystery, Supernatural, Romance, dan Fantasy

Rate : T.

Warning : YAOI, OOC, Typo.

 

      Siang itu, Sungmin mengajaknya untuk bertemu. Tentu, Kris tak menolak karena Sungmin mengatakan ini berkaitan dengan kelangsungan negeri mereka. Sebagai bangsa yang berbakti dan mengabdi, Kris tak segan melakukan apapun untuk negaranya sendiri. 

Berbalut jubah longgar berwarna hitam dan topi dengan ekor burung elang, Sungmin, tiba-tiba saja bersimpuh ke depan kaki Kris. Keningnya tetap menempel di atas lantai untuk menunjukkan rasa hormatnya.

      “Master. Yang mulia, maafkan hamba,” ucapnya dengan suara yang bergetar menahan ketakutan. Kris berusaha menariknya untuk berdiri tapi pria manis itu tetap bersikukuh bersimpuh seperti ini. Kris bingung, tak mengerti mengapa.

      “Sebenarnya, apa yang kau maksud, Sungmin? Aku tidak mengerti.”

Mereka duduk dalam hening. Sebagaimana yang dituntut oleh etika, Sungmin menjaga kepalanya tetap rendah dan merunduk. Tatapannya dipakukan pada satu titik di permukaan lantai. Kris yakin dia tak mampu melihat wajahnya, meski dengan kedua mata terbuka lebar.

“Apakah anda tahu mengenai ini, Yang mulia?” Sungmin menunjukkan sebuah batu giok yang cukup besar bercahaya.

“Ya, tentu saja.” Kris mengangguk. Batu giok yang meramalkan masa lalu dan masa depan seseorang. Batu terlarang yang hanya dimiliki oleh satu orang saja dan Kris tidak pernah berfikir Sungminlah pemiliknya.

      “Ada apa? Mengapa wajahmu terlihat cemas?” Kris memegang bahu Sungmin. Pria manis itu sekalipun tak mendongak memandangnya. Seakan takut dan juga badannya gemetaran.

      “Master.” Tubuh Sungmin mengigil. Ia terjatuh dan memegangi kedua kakinya. Ketika Kris mendekatinya, ia semakin panik dan ketakutan.

      “Tenang, Sungmin. Tenang. Ini aku, Kris.”

      “Bukan. Kau bukan, Kris.” Ketika mata mereka akhirnya bertemu, Sungmin segera menyabet batu giok itu. Perhiasan itu memancarkan cahaya yang kemudian seperti terserap di dalam kepala Kris. Kris terkejut. Ini sangat sakit.

      “Arghhh! Sakit. Apa yang kau lakukan, Sungmin?”

      “Maaf. Maafkan aku, Master.”

      Denyutan itu semakin menggerogotinya. Rasanya kepalanya akan meledak ketika tiba-tiba bayangan-bayangan itu mulai muncul, satu-persatu.

      Awalnya buram, lalu menjadi lebih jernih dan perlahan mulai dapat dilihat olehnya. Seperti siaran dalam televisi, gambaran itu mulai menunjukkan segalanya. Gambaran mengenai kisah hidupnya yang dahulu, bagaimana ia menduduki singgasana tahta yang selalu diperebutkannya dulu. Lalu, kisah asmaranya dan berakhir dengan dua anak laki-laki yang sangat ia dambakan. Semuanya. Ia bahkan masih bisa merasakan rasa sakit akibat pertempuran itu. Akibat Sungmin yang berpura-pura membunuhnya kemudian merafalkan mantra agar ia tetap hidup abadi. Menghilangkan seluruh ingatannya agar pengkhianat itu tak dapat membaca segala informasi yang berkaitan dengan negaranya.

      “Maafkan saya, Master. Saya tidak menuruti perintah anda. Saya…” Sungmin merasa nafasnya hampir terputus ketika Kris mencekiknya. Ia pasrah ketika mengira Master akan membunuhnya.

      “Apa yang membuatmu hampir mengkhianatiku, hah?”

      “Yunho. Saya membiarkan Yunho menduduki posisi anda agar saya selamat ketika itu. Maafkan saya. Saya pantas mati.”

      Kris terlihat murka. Ia merobek kulit tangan Sungmin. Hanya sebuah usapan tapi memiliki dampak yang besar. Sungmin berteriak kesakitan. Darahnya terus membanjiri seluruh lantai rumahnya. Ini sakit. Sangat sakit.

      “Lalu, apa yang membuatmu berubah fikiran?”

      “Dia. Permaisuri datang dan mengatakan bahwa saya harus melaksanakan titah anda. Jika tidak, ia akan membunuh saya dan keluarga saya.”

      “Dia?” Kris terlihat berfikir sejenak lalu tersenyum ketika telah mengetahui siapa pria yang dimaksud oleh Sungmin. Pantas, Kibum tidak mau mengatakan padanya. Rupanya, Kibum telah mengetahui semuanya.

      Sungmin terengah merasakan pergulatan nyeri di tangannya. Bahkan ia merasa daging-daging di tangannya mulai membusuk.

      “Aku tahu. Dia pasti mendukungku.”

 

 

Flashback ON

 

 

Saat itu, ibunda Siwon berusia tujuh belas tahun dari keluarga terpandang tetapi miskin dari klan Monglow, salah satu keturunan manusia tiba di Istana sebagai salah seorang selir bagi Kaisar Muda, Whung Feng. Ibunda Siwon, dikenal sebagai Anggrek saat kecil, hanyalah satu dari beberapa selir yang satu-satunya impian dalam hidup mereka adalah memberikan keturunan laki-laki bagi Kaisar.

 

Saat itu bukanlah waktu yang baik untuk memasuki Kota Terlarang, kompleks teramat luas yang dipenuhi istana dan taman, dijalankan oleh ribuan kasim dan dikelilingi oleh tembok di pusat Kota. Negara mulai kehilangan denyut nadinya ketika manusia dan ras mereka bertarung secara sengit. Semenjak kekalahan negeri Master Whung Feng, dan keberadaan sang Master yang masih misterius, Prof. Park dan beberapa kasim yang berwenang berusaha memperkuat pertahanan dan membangun kembali negeri itu.

 

Tepat beberapa waktu sebelum kepergian Master, ibu Siwon, sang anggrek begitu menggebu dan murni memendam perasaan terhadap suaminya, sang master dan tak lama, dia mendapatkan keberuntungan untuk memberinya keturunan laki-laki dan pewaris takhta.

Dengan menghilangnya sang penguasa, muncul kudeta dalam Istana, yang berhasil ditaklukkan oleh Yunho, anak sulung dari pasangan penguasa tersebut. Yunho lalu mengawali masa kekuasaannya yang panjang dan penuh kebengisan, yang akan berlanjut hingga abad berikutnya.

 

FLASHBACK OFF

***

 

 

CHAPTER 5

 

 

“Yang Mulia, apa yang harus saya lakukan terhadapnya?” Kris menatap tubuh Kyuhyun dengan mata sayu yang nampak empati tapi saat bayangan itu muncul kembali, matanya tak seteduh beberapa saat yang lalu. Ia kembali menjadi Master yang kejam.

“Siapkan segalanya untuk penyambutanku. Aku ingin rakyat mengetahui perihal kembalinya diriku.”

 

“Ye.” Sungmin mengangguk, seraya mundur untuk berdiri di sisi pembaringan tempat Kyuhyun berada. “Apakah anda ingin saya meninggalkan tempat ini?”

“Apakah Kyuhyun tidak ingat padaku?”

 “Itu pasti. Kyuhyun tidak hidup abadi seperti anda,” jawab Sungmin. “Saya akan menyiapkan air hangat untuk anda, Yang mulia.”

Sungmin membungkuk dan kemudian pergi dengan tangan yang tetap terlipat hormat. Ia meninggalkan keduanya. Memberikan waktu pribadi bagi keduanya untuk mengenang masa lalu. Setidaknya, bagi Kris karena Kyuhyun tidak mengingat apapun.

 

 “Ini aku, suamimu, Anggrek kecilku.” Bisik Kris sambil menangis.

Kris tidak bisa percaya dia sudah meninggal, jemarinya mengelus kulit lembutnya yang selalu terasa hangat. Kris rindu menyentuhnya. Menyentuh mendiang istrinya yang kini telah berenkarnasi menjadi sosok yang berbeda. Sosok yang justru terpikat pada Choi Siwon, anak bungsunya yang amat dicintainya. Bukankah takdir itu memang kejam?

 

Bagai melody yang memanggilmu keluar,

Bahagiaku menyaksikanmu kini ada disisiku.

 

Kenangan tentang kita,

Begitu indah dan terasa nyata.

Tapi kini, akankah aku harus melepaskanmu? Ketika akhirnya, aku jatuh cinta padamu untuk yang kedua kalinya. Dengan cara, situasi dan ambisi yang berbeda. Apakah ini tanda bahwa kau memang milikku? Cho Kyuhyun?

 

 

***

 

 

Pepohonan di luar jendela bergoyang kencang teramuk badai yang datang tiba-tiba, tersapu angin terangkat ke sana kemari secara kasar.  Ranting-ranting pepohonan yang basah oleh hujan dan terpukul angin kencang akhirnya patah dan jatuh ke tanah. Pohon magnolia besar di pekaranganpun tak dapat dihindarkan untuk rusak juga. Cuaca malam ini sungguh buruk. Kyuhyun yang tadinya sempat tertidur secara paksa karena pengaruh sihir, terbangun ketika mendengar suara derak ranting dan angin yang berhembus kuat.

Ia sedikit takut, terkejut dengan keadaan sekelilingnya yang kini tampak asing. Ketika masih dilanda kebingungan, Kris masuk dan mendudukkan dirinya di samping Kyuhyun.

“Kau sudah bangun?”

“Kri-Kris?” Kyuhyun mundur. Semakin mundur hingga punggungnya menyentuh ujung ranjang yang tumpul.

“Kau takut padaku?”

Kyuhyun menggeleng cepat.

“Kau tampak cantik malam ini, Kyu.” Nafas Kris tertahan saat melihat penampilan Kyuhyun yang masih terbalut kemeja formal.

“Sebenarnya, apa maumu menyekapku disini, Kris?”tanya Kyuhyun, sedih mengetahui Kris telah berubah sekarang.

“Kau sudah mengetahui semuanya, bukan? Kau adalah permaisuriku, Kyu.”

“Permaisuri? Aku bukanlah orang yang kau cari. Dia sudah mati dan aku hidup bukan sebagai dirinya. Aku hidup sebagai Cho Kyuhyun,” jawab Kyuhyun dengan suara lantang. Dia memberanikan diri untuk tidak merasa takut terhadap keadaan yang menghimpitnya saat ini. Dimana semua pengawal dan kasim tengah menatapnya seakan bersiap ingin membunuhnya.

 

Bayang-bayang Choi Siwon tiba-tiba melintas di benaknya dan kemudian Kyuhyun memikirkan di mana dia kini berada dan apakah Siwon sangat marah padanya saat ini?

“Jangan memikirkan oranglain saat bersamaku, Kyu.” Jantung Kyuhyun bergetar. Tak dapat mengelak bahwa saat ini seluruh pikirannya hanya tertuju pada pria tampan itu, tak ada yang lain.

Salah satu kasim kemudian berjalan ke arah mereka. “Yang mulia, menurut kabar, Choi Siwon akan segera sampai kemari dalam dua hari ke depan.”

“Benarkah? Bagus sekali. Sesuai dugaanku.”

“Apa maksudmu?” Kyuhyun melihat ada sesuatu yang tidak beres disini. Seringaian itu membuat Kyuhyun was-was. Rasa takut kembali menyergapnya.

“Tepat ketika penyerahan kembali tahtaku, kau akan kuperkenalkan sebagai permaisuriku, Kyu. Saat itu, mungkin sudah terlambat bagi kalian memulai segalanya.”

“Apa maksudmu?”

“Kau adalah anggrekku. Selamanya, kau tetaplah milikku. Di dunia manapun kau kini berada.”

Kedua mata jernih Kyuhyun sungguh menjadi hiburan bagi Kris. Sama seperti dulu, matanya memiliki satu lipatan kelopak dan berbentuk kacang almond. Hidungnya sangat selaras dengan tulang pipinya yang tinggi. Bibirnya penuh dan tampak sensual. Wajah ini, Kris sangat menginginkannya.

“Ak-aku mencintai Siwon, Kris.” Kyuhyun mengatakannya sambil menunduk.

“Lalu?” tanya Kris.

Tak ada jawaban. Kyuhyun menatap Kris seolah tak mengerti.

“Aku tidak perduli, Kyu. Selamanya, kau adalah milikku.”Kris menggenggam bahu Kyuhyun dengan sangat keras, bahkan hingga mengeluarkan darah karena kekuatan yang dimiliki oleh Kris. Kyuhyun berusaha membebaskan diri, tetapi Kris tak mau melepaskannya.

“Apa kau mau aku membunuhnya? Agar kau bisa diam? begitu?” Kris menaruh tangannya di seputar leher Kyuhyun sampai dia tercekik.

“Kris!” Kyuhyun kehilangan kendali dan menerjang ke arahnya. Kuku-kuku tangannya menekan pergelangan tangan Kris. Tapi nyatanya, Kris terlalu kuat untuk dilawan. Kris mendorong Kyuhyun menghadap tembok dan menekan dagunya dengan siku tangannya. Kyuhyun masih berusaha memberontak. Ia mendongakkan kepalanya ke atas ketika Kris menciumnya penuh nafsu. Kyuhyun bukanlah pemuda murahan yang akan terima diperlakukan seperti ini. Kyuhyun hanya akan terima ketika Siwonlah yang menyentuhnya seperti apa yang tengah dilakukan oleh Kris. Tapi, penolakan Kyuhyun seperti sebuah penghinaan bagi Kris. Ia justru semakin kasar dan kuat mengendalikan tubuh yang kini terbaring di bawahnya.

“Selamanya kau adalah milikku. Mengerti?”

“Lepaskan, Kris. Kau tidak bisa memaksakan perasaan seseorang terhadapmu,” ucap Kyuhyun tanpa ragu. Ia akan membalas Kris sebelum beberapa kasim menghampiri mereka.

“Ada apa?” tanya Kris tanpa melepaskan tangan Kyuhyun. Para kasim tak berani menatap wajah Master. Suara mereka bergetar dan tampak sungkan mengganggu kegiatan Master.

“Yang Mulia, Yunho ada di luar menunggu anda.”

“Yunho? Anak brengsek itu?”

Kris beranjak dari ranjang dan melepaskan Kyuhyun. Ia tampak seperti mengharapkan ini, terlihat dari seringainya yang menurut Kyuhyun cukup menyeramkan.

“Bawa dia masuk.” Perintahnya. Sang kasim menurut. Beberapa saat kemudian, Yunho sudah ada di tengah-tengah mereka dan merunduk. Yunho juga sama, ia seperti merencanakan sesuatu dan Kyuhyun merasa ketakutan dengan keluarga ini. Sama-sama seperti monster.

“Bisa kita bicara, Yang Mulia.” Yunho melirik Kyuhyun sekilas lalu kembali pada Kris. “Hanya berdua.” Lanjutnya lagi.

Kris menyetujuinya. Dengan beberapa pengawal dan kasim yang mengawasi, mereka kemudian berjalan keluar kamar. Meninggalkan Kyuhyun yang kecewa karena tidak bisa mendengar apapun.

“Apa rencanamu? Tentu memilih Kyuhyun bukan suatu kebetulan, bukan? Karena dia adalah reinkarnasi dari istriku? Begitu?”

Yunho tersenyum.

“Saat itu, Siwon masih terlalu kecil untuk dapat mengetahui wajah ibu kandungnya sendiri. Dia pasti sangat terkejut ketika mengetahui kenyataan ini.”

“Membuat scenario ibu dan anak saling mencintai. Bukankah itu hina. Apa rencanamu?” tanya Kris setengah murka.

Yunho tertawa semakin kencang.

“Kalian bertiga saling membunuh. Itu mauku.”

Kris menggeram. Wajah tampannya berubah menjadi sedikit kemerahan menahan amarah yang sudah meluap-luap. Ia tidak menyangka, Yunho sepicik dan sekejam ini. Bahkan pada keluarganya sendiri.

“Lalu merebut kekuasaanku, begitu?” tanya Kris frontal. Yunho mengendikkan bahunya.

“Aku akan lebih dulu membunuhmu sebelum aku membunuh Siwon. Ingat itu baik-baik.”

Yunho hanya menyeringai membalas ancaman ayah kandungnya itu. Bukan perkara yang sulit membunuhnya meski ia memiliki ilmu abadi. Kibum. Jika Yunho bisa mendapatkan pria misterius itu, semuanya, ketiganya akan mati dengan mudah.

“Aku tunggu, ayahanda.” Tantangnya.

***

 

 

“Siwon hyung. Dimana kau?” Kyuhyun menolak untuk memakan apapun pagi itu. Pikirannya gelisah. Segala yang bisa ia pikirkan seakan terbawa oleh angin yang kemudian menghilang entah kemana.

Mengetahui Siwon, Kibum dan Donghae tengah melakukan perjalanan kemari, membuatnya khawatir. Khawatir kalau-kalau Siwon akan memandangnya penuh benci dan amarah. Jika pria tampan itu tak lagi mencintainya. Apa yang harus ia lakukan?

“Kau sudah bangun, sayang?” Kyuhyun tak menjawab. Ia risih, benci dan segala tentang ketidaknyamanan saat berada di dekat Kris berbaur menjadi satu. Ingin rasanya ia lari, berteriak, atau memberontak. Tapi tentu semuanya percuma. Negeri aneh ini membuatnya tak bisa berekspresi bebas. Tak bisa menuntut haknya. Tak bisa menuntut rasa kemanusiaannya.

“Besok. Kita akan menikah untuk kedua kalinya. Apakah kau gugup?”

Kyuhyun diam. Pikirannya bercabang. Dan rasanya ia ingin mati saja saat ini.

“Katakan sesuatu, sayang.” Kris menyentuh kedua pipi Kyuhyun yang seperti buah apel, kemerahan dengan kulit yang lembut bercahaya.

“Kibum akan menolongku.”

“Kibum?” Kris tertawa keras hingga kasim yang ada disana sedikit terlonjak karena terlalu kaget.

“Coba saja berharap.” Tepat setelah mengucapkan itu, Kris memanggil dayang-dayang dan meminta untuk mendandani Kyuhyun. Dengan sedikit rasa penasaran tapi tetap melakukannya, mereka menuruti perintah sang Master.

“Pernikahan akan diajukan hari ini. Siapkan semuanya, Kasim Kim.”

“Kris!” Kyuhyun membentak tak terima. Ia melakukan segalanya yang ia bisa. Berontak dan menyatakan ketidaksediaannya. Tapi semuanya tetaplah berada dalam kendali sang penguasa negeri. Sekuat apapun Kyuhyun tetaplah kaum minoritas yang tidak memiliki kekuasaan apapun.

      Hingga pernikahan itu mulai dipersiapkan. Segala hal menyangkut kepentingan pernikahan sudah hampir rampung dengan bantuan beberapa orang yang terlibat kerjasama. Baleho penyambutan sang permaisuri barupun telah dinaikkan. Meski kebijakan tak memperbolehkan kedua penguasa tertinggi itu untuk menampakkan wajah mereka, rakyat terlihat antusias menyambut kedua pasangan itu. Mereka ikut bergembira layaknya menyambut sebuah pesta meriah.

      Kyuhyun sudah didandani dan kini tengah termenung memikirkan masa depannya yang sebentar lagi akan hancur. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

      “Yang Mulia, anda datang?” sambut kasim Kim. Kris menghampiri Kyuhyun.

      “Untuk menemui calon pengantinku.”

      Kyuhyun muak. Ia tidak sudi memandang wajah Kris.

      Tiba-tiba beberapa orang pengawal datang ke kamar dengan raut yang panik dan bingung. Mereka sedikit ketakutan ketika akan menyampaikan apa yang tengah dilihatnya tadi.

      “Yang Mulia. Saat ini. Di depan.” Salah satu dari mereka berhenti berbicara lalu dilanjutkan oleh pengawal lainnya. “Siwon dan rombongannya datang kemari lebih awal. Sekarang, mereka ada di depan gerbang, Yang Mulia.”

      Kyuhyun tersenyum. Ada secercah harapan untuknya.

      “Kalian semua, tahan mereka sekuat dan selama yang kalian bisa. Cepat!”

      “Ye, Master.”

      Mereka bergerak gesit bagai cahaya. Melakukan perintah Kris dengan menahan mereka yang kekuatannya jauh di atas mereka semua. Akan mudah bagi Siwon untuk menguliti mereka semua satu-persatu. Terlebih, nama Kibum cukup membuat mereka khawatir dan cemas berlebihan. Nama yang ditakuti dan dianggap sebagai lambang kematian, Kim Kibum.

“Kris. Apa yang mau kau lakukan?” Kyuhyun berjalan mundur. Semakin mundur dan hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin. Kris mendekatinya dan membanting tubuhnya ke ranjang yang ada disana.

“Lepaskan. Lepaskan aku, brengsek!” Kris tak berniat melepaskan. Ia justru merobek pakaian Kyuhyun hingga menampilkan seluruh tubuhnya yang tersingkap hingga ke bagian bawahnya. Menelanjanginya begitu saja.

“Kris. Kumohon, jangan begini.” Kyuhyun merasa dilecehkan ketika baju-bajunya ditanggalkan begitu saja. Merebut ciuman pertamanya, melihat tubuhnya untuk kali pertama, semua dilakukan oleh Kris. Mengapa bukan Siwon?

“Jangan… Hiks…”

Kris seakan tuli, tak perduli dan tak mau tahu. Ia sekarang menelanjangi dirinya sendiri tepat di hadapan Kyuhyun yang sekarang menutup matanya sambil tetap memohon.

“Siwon akan membencimu setelah ini.” Kris lalu mengambil selimut dan menyelimuti tubuh keduanya sambil tetap memposisikan menindih tubuh Kyuhyun. Tepat setelah itu, pintu kamar didobrak secara paksa. Siwon termangu, bingung, dan terkejut.

“Hyung?”

“Kyu?” Mata Siwon berubah. Mata yang sedari dulu menatap Kyuhyun dengan pandangan teduh, hangat dan penuh cinta kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian, amarah dan tidak percaya. Kyuhyunnya. Bahkan selalu menolak untuk disentuh lebih jauh, kini apa yang tengah dilakukannya? Tidur dengan Kris? Semudah itu?

“Hyung… Ini tidak.”

“Cukup, Kyu. Aku sudah tahu semuanya. Kau memang sudah seharusnya berada di tempat ini. Bersama dengan Kris. Tentu, semua sudah selayaknya kembali ke semula. Maaf jika aku mengganggu kalian, Ibunda permaisuri.”

 

 

TBC.

 

Terlambat update…!!! Minggu kemarin Sabrina ada acara kampus ke Bali jadi sangat2 telat update, karena itu sebagai gantinya, Sabrina juga publish One Shoot sebagai bonus.

Oh ya, besok mungkin bakal di PW. Permintaan PW tinggal sms aja dan sebutkan username kalian waktu komen. Yang komen aja yang akan Sabrina kasih PW. Ok.

Terakhir, Review ne?

 

The Melody Chapter 4

Pair : Wonkyu, KrisKyu, Yunkyu.

Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kris (Wu Yi Fan), Kim Kibum, Lee Donghae, Lee Sungmin, Jung Yunho,dll.

Genre : Mystery, Supernatural, Romance, dan Fantasy

Rate : T. Semi M ^^

Warning : YAOI, OOC, Typo.

 

Don’t Like, Don’t Read!!! Ok? No Bashing.

.

.

.

 

 

 

Mereka sama sekali tak menyadari sepasang mata elok menatap dan menguping dari kejauhan. Kedua mata itu memancarkan kemarahan, kesedihan dan juga terluka. Ia menangis. Menangisi hidupnya.

Percakapan master, Sungmin dan juga Prof. Park membuatnya kehilangan akal. Ia harus melakukan sesuatu. Mengenai takdirnya, masa depannya dan juga hidupnya.

Sosok itu kemudian bangkit dari semak belukar, tempatnya bersembunyi. Ia berjalan pelan dengan luka dalam yang cukup hebat. Matanya memancarkan kepedihan yang teramat sangat.

“Anda siapa?”

Sosok itu berdiri di depan kuil yang terlarang dan dihadang oleh ratusan pria yang menjaga kuil tersebut.

Ia tertawa keras. Seperti orang gila.

“Minggir sekarang!”

Orang-orang itu tak bergeming sedikitpun. Menjalankan tugasnya untuk melindungi kuil dengan nyawanya sendiri.

“Baiklah. Kalau begitu, aku akan membunuh kalian semua. Seratus orang? Tak masalah.” Pria itu gesit sekali. Ia bahkan dengan mudah mengalahkan ratusan musuhnya hanya dalam waktu singkat.

“Melawanku? Kalian perlu seribu tahun lagi untuk bisa menandingiku.”

Dengan kesombongannya, ia berjalan penuh rasa puas ke tempat utama yang ada dalam kuil itu. Matanya yang bening membulat ketika sebuah batu tinggi besar menyilaukan kedua matanya. Bongkahan batu yang nampak seperti berlian dan mempunyai kekuatan mistik yang hebat. Ia tersenyum.

“Future time.”

Dan detik berikutnya, ketika ia memejamkan matanya, ia sudah berada dalam guyuran hujan yang deras seperti sekarang. Tepat di depan sebuah toko kecil dimana aura Sungmin begitu tercium kuat disana.

“Apakah ini masa depan?” Sosok itu meski terluka, tetap bersikeras menemui Sungmin. Karena ia harus. Harus melakukannya. Meminta bantuan Sungmin untuk melenyapkan seseorang. Seseorang yang akan menjadi duri dalam hidup orang-orang yang disayanginya. Meski, itu kehilangan yang besar.

 

 

 

 

CHAPTER 4

 

Kyuhyun menghela nafas panjang. Mimpi buruk. Hari ini mereka telah kembali ke sekolah dan tatapan membunuh masih terus tertuju padanya. Tentu saja, mereka tidak punya nyali untuk menyentuhnya karena Siwon selalu bersiaga menjaganya.

Dan Kyuhyun bersyukur karena hal itu.

“Wonnie, berkas apa itu?” Kyuhyun duduk di kursi di dekat Siwon, di lantai dasar kelas paling ujung. Kibum duduk di depannya dengan lengan terlipat. Dan Siwon yang datang dengan membawa setumpuk tinggi materi yang diperolehnya di arsip yayasan Sachs untuk kesejahteraan rakyat.

“Pengumpulan dana bagi anak kurang mampu.”

“Bukannya hal seperti itu ditangani oleh pemimpin?” Kibum  tanpa menoleh ke belakang, menjelaskan pada Kyuhyun.

“Master terlalu sibuk dengan urusannya. Hal-hal seperti itu, Siwon-sshi yang menanganinya.”

Kyuhyun melihat raut wajah Siwon yang berubah. Berubah menjadi sendu. Karena itu, Kyuhyun tidak ingin membahasnya lagi. Ia lebih memilih mengamati wajah Siwon yang tampak berkonsentrasi. Garis wajah yang tegas dan rupawan. Postur tubuhnya yang sempurna karena lekukan ototnya. Kyuhyun bahkan tidak berkedip dibuatnya.

“Apakah Siwon-sshi setampan itu, Kyu?”

Kyuhyun mendelik. Pria ini bahkan tanpa menoleh bisa mengetahui apa yang tengah dilakukannya. Apakah Kibum bisa membaca pikirannya?

Siwon terkekeh. Ia tidak lagi menatap tumpukan kertas yang ada di depannya. Lebih memilih menatap wajah Kyuhyun yang bersemu kemerahan.

“Jangan tertawa, hyung.”

Siwon masih tertawa. Bahkan suaranya lebih keras ketika melihat bagaimana Kyuhyun menjadi salah tingkah. Melihat Siwon dengan tawa yang lepas dan wajah yang menatapnya dengan lembut, membuat jantung Kyuhyun kembali berdebar. Debaran ini seakan dapat membunuhnya karena terlalu keras. Namun, debaran ini sangat menyenangkan.

Kyuhyun mulai menyukai debaran itu.

“Hyung.” Kyuhyun tiba-tiba memajukan badannya dan mencium singkat bibir Siwon. Membuat pria kharismatik itu membeku. Terkejut dan sekaligus tak percaya.

Ia masih belum menggerakkan seluruh badannya. Kyuhyun merasa tindakannya gila dan memalukan. Tapi, ada suatu rasa yang membuatnya tak menyesali tindakannya itu. Suatu rasa yang menggelitiki perutnya. Membuatnya kembali tergugup.

“Kibumie, ayo pergi. Temani aku ke kantin.” Kyuhyun menarik tangan Kibum tanpa aba-aba, membuat pemuda datar itu sedikit terhuyung ke depan.

“Kau mulai jatuh cinta?” Mereka berjalan tak tentu mengitari seluruh gedung sekolah. Kyuhyun berjalan santai sementara siswa-siswa disana berlarian kecil menghindarinya. Aura dan intimidasi Kibum membuat mereka enggan berada di dekat Kyuhyun. Meski keinginan membunuh mereka juga sangat kuat.

Dengan tanpa menjawab pertanyaan Kibum, Kyuhyun menduduki bangku kosong yang nampak di matanya. Tak memperdulikan bahwa Kibum telah melarangnya.

Kyuhyun tidak tahu bahwa bangku itu ditujukan untuk senior mereka yang memasuki tahap akhir kelulusan. Senior yang kekuatannya jauh diatas semua siswa tadi.

“Hai, kau!”

Kyuhyun menatap deretan bangku tersebut yang sedikit berbeda. Tidak banyak dan cenderung lebih elegan. Dan Kyuhyun dapat melihat perbedaan yang mencolok antara seragam keduanya. Ia mulai gugup.

“Ah- maaf sunbae. Aku tidak tahu bahwa ini adalah bangkumu.” Suara Kyuhyun rendah tapi tetap dapat menjadi perhatian senior-senior yang ada disana.

“Maaf?” Salah satu dari mereka tertawa. Lalu mencengkram kerah Kyuhyun nyalang. Kibum masih diam menyaksikkan. Wajahnya dingin dan tak ada satu orangpun yang mengetahui apa yang difikirkan oleh pria itu.

Sebuah hentakan mendorong tubuh Kyuhyun jatuh terduduk. Tubuhnya terhempas ke deretan kursi disampingnya. Gadis-gadis tertawa melihat junior mereka tersiksa seperti itu. Seperti sebuah pertunjukkan, mereka menikmatinya.

Kemudian sebuah tinju melayang dan menyentuh perut sang senior. Tubuhnya terjungkal lumayan keras. Pria tampan itu menyeka darah dari sudut bibirnya. Menatap Kibum dengan ekspresi penuh amarah.

“Brengsek!”

Senior itu akan bangkit sebelum Kibum menginjak perutnya. Menginjak dengan kuat dan juga keras.

“Kau tahu. Bukan hal yang sulit membunuhmu. Kau itu sampah,” ucap Kibum tenang dengan wajah datarnya. Senior itu terbelalak melihat bagaimana kelakuan Kibum sekarang. Mengeluarkan senjata berkaliber kecil, sekitar .22 atau .25. Menghitung mundur seolah menghitung waktu kematian sang senior. Tanpa bimbang, rasa takut ataupun gentar, ia mencondongkan pistol itu tepat di kepala sang senior.

“Ma-mau apa kau?”

“Membunuhmu.” Kibum hanya menyeringai. Melihat bagaimana pria itu tak bisa berkutik melawannya. Tubuhnya terkunci dan tak bisa melakukan apa-apa selain meminta ampun. Menyedihkan.

Kyuhyun tak bersuara. Ia terkejut, takut, dan bingung. Sosok di depannya ini, seperti bukan Kibum yang dikenalnya. Pria tenang yang hanya perduli mengenai buku-buku tebalnya. Pria yang menurut instingnya, adalah pria yang baik.

Segera setelahnya, suara tembakan mengakhiri semuanya. Tubuh Kyuhyun menegang. Ia beringsut mundur menjauhi Kibum. Tatapannya berubah menjadi waspada.

Kibum tersenyum dingin. Mendekati Kyuhyun yang berubah menjadi ketakutan dan menggumam menyuruhnya untuk mundur.

“Ini menyenangkan. Benar, kan, Kyu-sshi.”

 

***

Siwon berlari-lari menuju ruang kesehatan. Tak memperdulikan salam yang ditujukan padanya. Ia hanya melewati gadis-gadis teman sekolahnya itu dengan wajah penuh kekhawatiran.

Begitu sampai, Siwon segera membuka pintu itu dengan jantung yang berdegup kencang.

“Baby, kau tidak apa-apa?” Kyuhyun meringkuk. Menekuk kedua kakinya dan enggan menatap Siwon.

“Baby?” Siwon mengangkat wajah Kyuhyun. Mata mereka saling bertatapan. Siwon menatap Kyuhyun miris. Kyuhyunnya kini tampak sangat ketakutan. Tanpa bicarapun, Siwon tahu bahwa ini adalah pembunuhan kedua yang dilihat olehnya. Lebih dari apapun, Kibum yang melakukannya. Dan, Siwon tahu betapa khawatirnya Kyuhyun sekarang. Mengingat, mereka berdua cukup dekat saat ini.

“Apakah kibum baik-baik saja? Apa yang terjadi padanya?”

“Dia ada di ruang Mr. Han sekarang. Aku akan mencoba membantunya.”

Kyuhyun mengalihkan pandangannya keluar jendela. Mencoba mengalihkan perasaannya dengan melihat bunga-bunga yang bermekaran di luar sana. Tapi, itu sama sekali tak mengobati kekecewaannya.

“Mengapa Kibum membunuh? Senior itu bahkan hanya membentakku.”

“Aku tidak tahu. Orang itu tidak mudah ditebak.”

“Seringkali, aku selalu merasa Kibum berbahaya untukku. Namun, instingku selalu mengatakan bahwa dia perduli padaku. Bukankah itu aneh?”

“Apakah aku perlu menyelidiki Kibum?” Kyuhyun sontak menahan lengan Siwon. Menyelidiki Kibum, sama dengan membunuhnya. Mereka akan menemukan bahwa keduanya, tidak. Ketiganya berkomplot untuk menghancurkan Siwon. Kyuhyun tidak ingin Siwon mengetahui kebenaran. Setidaknya, tidak dalam waktu dekat.

“Baiklah. Aku tidak akan melakukannya. Aku akan menemui Mr. Han dan membantu menangani kekacauan ini. Kau akan baik-baik saja kutinggal, kan?”

Kyuhyun mencoba tertawa.

“Tentu saja.”

Siwon menggumam. Mengecup dahi Kyuhyun lama dan kemudian melangkah keluar. Siwon sempat berpapasan dengan Kris dan juga Donghae. Meminta kedua pria itu untuk menjaga Kyuhyun di dalam. Kris mengangguk mengerti sedangkan Donghae, lebih memilih mengikuti Siwon.

“Selamat siang, Kyuhyun-ah.”

Kris datang. Membawa sekotak bekal makan siang. Dari aromanya, Kyuhyun bisa mencium aroma daging dengan saus pedas. Makanan favoritnya. Pria tampan dengan tinggi badan proporsional itu menggeret kursi dan meletakkannya tepat di samping ranjang Kyuhyun.

“Bicaralah sesuatu,” ucap Kris memperlihatkan raut khawatirnya.

Kyuhyun tidak lagi menekuk kakinya sekarang. Ia berbaring dan membelakangi Kris dengan punggungnya. Kris tersenyum maklum. Ia akan beranjak meninggalkan Kyuhyun sebelum, pemuda manis itu mengatakan sesuatu dan menghentikan langkahnya.

“Aku takut.” Kris terpaku. Suara Kyuhyun seperti bergetar. Apakah pemuda manis itu tengah menangis sekarang.

“Aku ingin pulang, Kris.”

Kris mempertajam pendengarannya. Dilangkahkan kakinya untuk kembali mendekat pada Kyuhyun.

“Aku takut.”

“Tidak apa-apa. Ada aku disini.” Disentuhnya punggung Kyuhyun yang bergetar. Menyalurkan ketenangannya melalui seluruh pembuluh darah Kyuhyun. Suatu sihir yang bekerja sama seperti coklat. Merileksasikan perasaan. Menenangkan pikiran. Kyuhyun berhenti menangis kala rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya. Dingin yang menenangkan.

“Sudah lebih baik?”

“Hn,”

“Ada satu hal. Satu hal yang ingin kuceritakan padamu, Kyu-ah.”

Kyuhyun membalikkan badannya. Beranjak dan kemudian duduk di ranjang. Mendengarkan dengan seksama apa yang ingin diceritakan oleh Kris.

 

 

Flashback ON

 

          Darah segar mengaliri ruangan remang tersebut. Jeritan ketakutan terdengar. Tapi, pemuda berkaca mata itu sama sekali tidak bereaksi. Hanya menatap sosok di depannya dalam diam.

Sosok yang masih dengan wajah datarnya. Juga sebuah tongkat yang selalu dipegangnya erat. Sumber energinya. Sumber kekuatannya.

“Ada apa, Kibummie? Mengapa kau datang kemari dan mengacau disini?”

Tatapan Kibum kosong. Master tidak dapat menangkap maksud pemuda pemberani itu. Bukankah Kibum seharusnya membunuhnya setelah mengetahui rencananya? Master bahkan sudah mempersiapkan semuanya. Tapi siapa sangka, kawanan pembunuh itu dapat dikalahkan dengan mudah.

“Rencanamu benar-benar busuk.”

“Bagaimana? Aku jenius, bukan?”

 

TAP TAP TAP

 

Sebuah suara langkah kaki menghentikan aksi tegang keduanya. Master menyeringai sedangkan Kibum, wajahnya kembali datar.

“Kibummie!”

Pukulan keras mengenai pelipis kanan Kibum. Nyeri. Darah segar mengalir seketika. Kibum mengusap darahnya dengan tatapan bosan. Ia berdiri dan menatap Kris datar dan dingin. Kris bahkan sempat terpaku dengan tatapan itu. Mata yang menyiratkan suatu kegelapan. Kegelapan yang tidak pernah diketahui oleh siapapun. Dia, bahkan lebih mengerikan ketimbang master yang hanya memiliki kekuasaan. Kekuatannya, keahliannya, dan sikap sakit mentalnya dapat berujung pada kegelapan yang tak terbatas.

“Apakah kau gila? Kau akan membunuh master?”

Kibum tertawa sinis. Menghadap master dan berjalan lebih dekat ke arahnya. Master untuk beberapa saat, sempat menunjukkan gerak-gerik ketakutan. Tak dipungkiri, Kibumlah kelemahan utama seorang Choi Yunho.

“Apakah kau akan diam saja, Kris. Orang ini, mencoba membunuh Kyuhyun dan juga Siwon. Aku tidak perduli dengan Choi Siwon. Tapi, jika dia menyentuh Kyuhyun satu helai rambut saja, kupastikan aku akan membunuhnya saat itu juga.”

“Kau berbohong.” Kris merasa tubuhnya menegang mendengar nama Kyuhyun disebut, dia menatap Kibum penuh rasa ingin tahu dan juga kemarahan yang besar.

“Dan berita mengejutkan lainnya adalah, kau juga akan dibunuhnya,” ucap Kibum, nada suaranya terdengar datar. Datar hingga membuat seluruh tubuh Kris bergetar tak percaya. Orang yang selama ini dipercayainya? Ingin membunuhnya? Tapi mengapa?

 

Flashback OFF

 

 

Suasana menjadi hening sejenak.

“Lalu apa rencana kalian berdua?” Kyuhyun merasa lega. Karena instingnya ternyata benar, Kibum tulus padanya dan Kyuhyun tidak merasa dikhianati, berbeda dengan Kris. Pandangannya nampak terluka.

“Tidak ada yang akan berubah. Tapi, aku akan berhati-hati mulai sekarang.”

“Dan kau tetap menjadi orangnya? Apakah kau bodoh?” pekik Kyuhyun keras. Keheranan dengan sikap setia seorang Wu Yifan itu. Kris mengendikkan bahunya.

“Aku hanya tidak punya wewenang untuk menolak perintah master, Kyu.”

“Omong kosong mengenai wewenang dan kekuasaan. Kau hanya harus meninggalkan dia. Bukankah seperti itu? Dia itu bukan manusia, Kris. Dia monster.”

Kris menghela nafas,

“Dari awal, kami memang bukan manusia.”

Belum sempat Kyuhyun membalas perkataan Kris, suara dingin terdengar dari arah pintu ruang kesehatan. Mereka menoleh dan menyadari Kibum telah berada di sana sejak awal, mendengarkan percakapan mereka.

Setelah itu, Kibum menghampiri Kyuhyun dan menatapnya dengan pandangan sendu.

“Kau percaya padaku?” tanyanya sambil menatap pemuda yang saat ini sedang mencoba untuk bergeser menatapnya. Kyuhyun tersenyum.

“Tentu, bodoh!”

Kibum hanya tersenyum menanggapinya. Pria berkacamata itu kemudian mengambil revolver yang berada di balik kemeja seragamnya. Menyerahkannya pada Kyuhyun.

Kyuhyun menunduk memandang pistol otomatis itu. Itu adalah pistol dengan picu sehalus sayap ngengat. Mengapa Kibum memberikannya ini?

“Pegang ini. Untuk berjaga-jaga dan melindungi dirimu sendiri. Kau tenang saja, aku telah memberi segel. Pistol ini dapat membunuh ras kami hanya dengan satu peluru saja. Dan aku, memberinya dua butir peluru.”

“Dua?”

“Hanya untuk siaga. Siapa tahu saja, kau melakukannya meleset.” Kyuhyun tidak mempercayai ucapan Kibum begitu saja. Bukan. Jelas bukan karena Kibum khawatir peluru ini akan meleset. Tapi, ada sesuatu yang lain- menurutnya.

Dan detik berikutnya, Kyuhyun merasa suara Kibum menghentikan semua pemikirannya barusan. Suara yang khusus ditunjukkan padanya. Kris terlihat tidak tahu apa-apa. Kyuhyun paham, ia bersikap seolah tak terjadi apapun. Berkonsentrasi pada apa yang Kibum ucapkan padanya.

Dengar baik-baik, Kyu. Karena tidak akan kuulangi lagi. Percaya padaku dan lakukan apa perintahku.’

 

***

 

 

Kyuhyun merebahkan kepalanya di atas meja. Merasa pusing karena tidak ada yang bisa diajaknya bicara. Siwon pergi karena ada urusan mengikuti perjamuan setelah sebelumnya mengancam semua siswa-siswa disana. Lalu Kibum yang mengikuti kelas tambahan entah apa; Kyuhyun tidak ingin tahu. Kris? Pria itu menemui Sungmin setelah mereka saling berjanji untuk bertemu. Kyuhyun sedikit heran, sejak kapan Kris dan Sungmin mulai dekat?

Lalu pikirannya melayang pada perintah Kibum yang menurutnya tidak masuk akal. Akhir-akhir ini otaknya serasa akan meledak karena terlalu banyak berfikir.

“Cho-Sshi. Apakah kau mempunyai buku mengenai ilmu pengobatan?”

“Hah?” Kyuhyun mengangkat kepalanya; gadis ini berbicara padanya? Bukankah ini aneh. Pertama kalinya, ada siswa lain yang berbicara padanya.

“Hm. Ada.” Kyuhyun mengambil buku itu dan menyerahkannya pada siswi tersebut. “Kau bisa meminjamnya.”

Gadis itu tersenyum.

“Terima kasih.”

Bel berbunyi, membuat Kyuhyun girang luar biasa. Tapi, sebelum ia melangkahkan kakinya- hendak ke kantin, gadis tadi tiba-tiba saja mengembalikan buku yang tadi dipinjamnya. Kyuhyun mengerutkan dahinya.

Kyuhyun termasuk pria yang cerdas. Ia kemudian meneliti lembaran buku tersebut dan mendapati sebuah kertas kecil disana. Kertas berwarna merah muda dengan tulisan yang dibuat serapi mungkin. Kyuhyun membacanya dengan seksama.

 

Aku menunggumu di atap sekolah. Jam istirahat.

-Choi Siwon- yang mencintaimu.

 

Kyuhyun terkikik geli. Tanpa ragu, ia beranjak ingin segera menemui kekasihnya tersebut. Bahkan rasa lapar yang tadi menderanya hilang sama sekali saat memikirkan pria berwajah tampan tersebut. Jantungnya berdegup cepat seiring cepatnya ia berlari. Kyuhyun membuka pintu atap sekolah dan disanalah dia. Memunggunginya dan menatap lurus ke depan.

“Hyung?” Siwon menoleh. Tersenyum.

“Kemarilah.” Siwon menepuk kursi di sampingnya. Mengisyaratkan Kyuhyun untuk duduk disana. Kyuhyun menurut. Ia masih memandangi Siwon yang saat ini mendongak ke atas menatap langit.

“Lihat ke atas, baby.”

Kyuhyun terpaku. Tak sanggup berkata apapun selain hanya bisa memandangi langit yang kini dipenuhi efek cahaya menyilaukan yang membentuk kata ‘Saranghae’

“Kau suka?” tanya Siwon. Mengibas lelehan salju yang mengotori kemeja seragam Kyuhyun. Mengeratkan pelukannya pada pemuda cantik yang sedang kedinginan itu. Kyuhyun tersenyum tipis melihatnya. Partikel-partikel yang membentuk suatu lambang hati membingkai pekatnya langit siang kala itu. Sejak kapan pria anti sosial ini mulai romantis? Pancaran menawan dan kesempurnaan fisiknya berhasil menjerat hatinya. Lebih dari semua itu, Siwon memperlakukannya lembut dan hormat. Kyuhyun tak memungkiri ada perasaan lain yang terkembang di hatinya.

“Siwon-sshi…”

“Hm?”

Kedua mata Siwon yang bengis berangsur meredup ketika menatap karamel itu. Ia mengecup dahi Kyuhyun lembut.

“Kau merindukan ibumu?”

Kyuhyun begitu lunglai dalam pelukan Siwon. Ia memeluk pinggang lelaki tampan itu semakin erat.

“Aku merindukannya.”

“Apakah dia ibu asuhmu?”

Siwon mengernyit heran. “Darimana kau tahu?”

“Kibum memberi tahuku.” jawab Kyuhyun asal. Hampir saja. Ia membunuh dirinya sendiri karena mengetahui riwayat hidup Siwon. Tentu saja, masterlah yang memberi tahunya.

“Seorang raja punya keistimewaan.” Siwon memulai ceritanya. Kyuhyun mendengar dalam diam. Menjelajahi mata Siwon yang seperti tidak memiliki kebohongan seperti yang ada pada mata Yunho.

“Kami tidak diijinkan menatap matanya. Berlutut dan hanya memandang ke bawah. Rakyat tidak pernah tahu seperti apa wajahnya hanya tahu mengenai titah dan aturan-aturan yang diberlakukannya.”

“Hm… seperti di drama?”

“Drama?” Siwon bingung. Kyuhyun tertawa dan menyuruh Siwon melanjutkan ceritanya.

“Aku dan Yunho dibesarkan dalam sebuah kastil yang khusus mendidik calon penguasa. Tinggal terpisah dengan kedua orangtua kami membuat kami tidak pernah merasakan kasih sayang mereka. Itulah mengapa Song eomma merawat kami dan menjaga kami.”

“Lalu mengapa kau dan kakakmu menjadi seperti itu?”

Kyuhyun mengerjap beberapa kali. Menatap setiap inchi wajah tampan yang tersenyum di hadapannya. Hatinya mendadak hangat ketika ujung hidungnya menyentuh dagu tegas milik Siwon. Tubuhnya bagai tersengat listrik yang memabukkan tapi tidak melukainya.

“Yunho sama rakus dan serakahnya dengan ayah. Mereka sama dan kami berbeda pandangan.”

“Apakah master yang menculik Song eomma? Lalu dimana dia?”

“Aku tidak tahu.”

Suasana mendadak hening. Hanya derak ranting yang terdengar saling bertabrakan mengadu dan berserakan. Siwon memeluk Kyuhyun lama. Merasakan dengan jelas tubuh Kyuhyun yang menggigil dan bahunya basah oleh lelehan air matanya. Siwon diam. Tidak ingin bertanya apapun.

Tangisan Kyuhyun yang semakin terdengar jelas membuat hatinya tersayat.

Kyuhyun menutup kelopak matanya sebisa mungkin. Meredam tangisannya karena dia adalah seorang pria. Tapi, rasa-rasanya bahkan tangisan ini tak mampu mewakili perasaan hatinya pada Siwon. Akankah mereka akan berpisah? Perpisahan karena bedanya dunia mereka ataukah karena kematian? Menyedihkan. Kyuhyun tidak pernah menyangka bahwa ia akan mencintai seseorang dengan cara yang seperti ini.

Cinta? Kyuhyun tersentak pada pemikirannya tersebut. Benarkah ia jatuh cinta pada Siwon?

“Hyung.”

Siwon menarik tengkuk Kyuhyun dan menyatukan bibir keduanya. Kyuhyun menahan nafasnya kerena terlalu gugup. Ini bukanlah ciuman pertamanya, Tentu saja karena Krislah yang mengambilnya. Tapi, ini berbeda. Lebih dan bahkan jauh lebih mengesankan baginya.

Tidak ada pergerakan oleh Kyuhyun. Dia hanya diam dan membiarkan Siwon yang mengambil alih permainan lidahnya. Hanya ada suara desahan tertahan yang membuat tengkuk Siwon meremang karena suara itu. Siwon kehilangan akal sehatnya. Ia ingin memiliki Kyuhyun seutuhnya sekarang.

“Nghh. Hyung.”

Siwon dengan gamblang dan tanpa sungkan, menarik kerah Kyuhyun dan mendekatkan tubuh keduanya. Melumat bibir itu. Menyentuhnya lebih dalam dan dalam. Kyuhyun memekik kaget ketika Siwon mencoba melepas baju seragamnya. Ia belum siap sekarang. Setidaknya, jangan ditempat ini.

“Hyung, jangan disini!”

“Baby? Lalu dimana?” Siwon mengerang frustasi. Mengapa acara romantisnya selalu terganggu dengan banyak hal. Kibum. Donghae dan sekarang Kyuhyun sendiri. Seharusnya, Kyuhyun sudah mulai menikmatinya karena Siwon melakukannya dengan lembut. Apakah perkiraannya salah?

“Nanti ada yang tahu. Aku malu.”

Siwon tidak terlalu perduli. Ia menarik dagu Kyuhyun kembali menciumi bibir ranum yang membuatnya ketagihan itu. Melumat, atas bawah dan bahkan keduanya. Seperti akan menelannya. Kyuhyun seakan gila. Ia tidak memperdulikan apapun ketika Siwon selalu lihai mempermainkan dirinya.

Siwon dapat merasakan tubuh Kyuhyun menegang. Membelit lidah mungil itu dengan penuh gairah dan rasa sensualitas yang tinggi. Menyesapnya perlahan lalu menariknya kembali. Memasukinya lagi dan lagi hingga Kyuhyun merasa aneh dengan perbuatan Siwon tersebut.

Kyuhyun mengerang merasakan sensasi pergulatan itu. Ia mulai membalas dan belajar dengan cepat, ikut memagut dan menghantamkan bagian selatan tubuh keduanya; sengaja. Siwon kehilangan kontrol dirinya sendiri ketika itu. Bibirnya turun ke dagu dan memberinya ciuman lembut yang menyesakkan lalu berubah menjadi jilatan dan pagutan bergairah yang cepat dan juga kasar.

“Hyung. Jangan disini. Kumohon.”

Nafas Kyuhyun berubah. Terengah. Menjadi pendek-pendek. Mendorong dada Siwon sekuat yang ia bisa. Akal sehatnya berbicara disini. Tidak boleh. Tidak boleh gegabah memutuskan segalanya. Kesuciannya. Segala pertimbangan-pertimbangan mengenai dunia mereka membuat Kyuhyun ciut nyali untuk melakukan lebih.

“Maaf,”

Kyuhyun hanya bisa menatap sendu wajah Siwon yang bak malaikat itu. Tanpa pemaksaan, menghormati keputusannya, meskipun Kyuhyun tahu saat ini Siwon sedang menahan hasrat seksualnya. Kyuhyun tentu tahu karena mereka sama-sama seorang pria. Tapi tetap saja, Kyuhyun menginginkan suatu hubungan yang resmi dan Kyuhyun berfikir, Siwon tidak akan bisa mewujudkan impiannya itu.

***

 

 

 

“Kau sudah siap, kyu?” Kibum memasuki kamar dan menemukan Kyuhyun yang saat ini tengah merapikan kemeja putihnya. Kemeja yang dikenakannya sangat kontras dengan kulit bening putihnya. Rambutnya yang sewarna emas perak diatur sedemikian rupa hingga menampilkan kesan elegan dan juga menawan.

“Ne, hyung.”

“Kalau begitu, turunlah. Semua orang sudah berkumpul di aula.”

Kyuhyun mengangguk mengerti. Malam ini dewan guru sedang menggelar acara untuk kelulusan siswa tingkat pertama. Karena telah menyelesaikan ujian akhir mereka. Menjadi siswa tingkat dua. Kyuhyun bahkan tak percaya sekarang ia mampu menguasai beberapa ilmu sihir yang diajarkan oleh Kibum dan sedikit ilmu hitam dari Sungmin. Sungmin. Dia pria yang baik namun, sikap dan gerak-geriknya pada Kyuhyun, membuat pemuda manis itu sedikit was-was. Bagaimanapun, Sungmin pernah hampir membunuhnya.

“Baiklah. Saatnya turun.” Kyuhyun sempat merapikan rambutnya sebentar sebelum ia benar-benar turun ke bawah.

“Kyu.”

“Kris? Mengapa kau disini? Kita harus turun sekarang.”

Kyuhyun mencoba menarik Kris untuk pergi bersamanya tapi hardikan keras dari Kris membuatnya terlonjak kaget. Mata itu. Mata itu tak lagi setenang dulu. Hari ini terlihat lebih tajam dengan tatapan tegas dan juga dinginnya. Kyuhyun ingat, semenjak Kris pergi menemui Sungmin, sikap pria tampan itu sedikit berubah. Dan bagi Kyuhyun, Sungmin merupakan pengaruh yang buruk bagi Kris.

“Kau kenapa, Kris?”

“Memang aku kenapa?” Kris berjalan mendekati Kyuhyun. Semakin dekat hingga menghimpit tubuh kurus itu ke dinding kamar yang memojokkannya. Kyuhyun menelan ludah gugup.

“Kris? Jangan bercanda.”

“Kau tahu, Kyu. Aku tidak pernah suka ketika kau berada di dekat Siwon dan bersikap seperti seorang kekasih. Memuakkan,” ucap Kris dengan raut wajah datar namun menampilkan intonasi yang tegas dan juga menuntut.

“Kau itu milikku. Kau mengerti?”

“Kris! Apa yang kau lakukan?” Kyuhyun meronta ketika Kris memaksa untuk menciumnya. Ia berusaha menolak energi sihir Kris yang terasa begitu kuat baginya. Dan ia kalah. Kyuhyun tidak bisa menggerakkan apapun. Bahkan meski itu hanya jemarinya.

Kyuhyun hampir menangis ketika mengingat perintah Kibum padanya. Apakah ini yang dimaksud olehnya? Inikah?

 

‘Bunuh master menggunakan senjata ini. Setelah itu, bunuh Kris dan pastikan kau menembak tepat di jantungnya.’

 

          Kyuhyun mencoba merafalkan mantra yang diajarkan Kibum padanya. Sebuah mantra pembebasan diri yang kemudian dapat dengan mudah diterapkannya. Kyuhyun memang cerdas. Ia cepat belajar.

“Berhenti. Jangan bergerak!” Kyuhyun secepat kilat mencondongkan pistol yang tadi diletakkannya pada kemeja putihnya. Namun, bukannya takut, Kris hanya tersenyum meremehkan.

“Aku bilang berhenti!”

Kyuhyun panik. Kris bahkan tidak mau mendengarkannya dan terus mendekatinya. Karena takut, akhirnya Kyuhyun melepaskan tembakan pertamanya seumur hidupnya itu. Tepat mengenai kepala Kris. Tunggu. Jantung. Kyuhyun ingat seharusnya ia menembak tepat di jantung. Tapi, persetan soal itu. Bukankah kepala adalah bagian yang vital juga. Manusia sekuat apapun tak akan selamat dengan peluru yang bersarang di kepalanya.

“Kau…”

Kyuhyun lupa. Kris bukanlah manusia.

“Arghhh… Sakit. Kris.”

“Kau tahu. Beberapa saat yang lalu, aku telah memberi tahu Siwon soal pengkhianatanmu. Dia tampak terkejut dan putus asa. Sepertinya, dia akan membencimu setelah ini.” Kris mencekik leher Kyuhyun dengan sangat kuat. Bahkan tubuh Kyuhyun tertarik ke atas karena kuatnya dorongan Kris pada lehernya. Kyuhyun tidak mampu membalas satu katapun, nafasnya semakin melemah dan pandangannya mulai mengabur.

“Bagaimana? Sakit bukan? Ini balasan untukmu, bitch!”

Kris melempar tubuh lemah Kyuhyun ke sudut ruangan. Kepala Kyuhyun sedikit terantuk meja yang ada di sana. Pening dan seluruh nafasnya hampir memutus. Kyuhyun mengambil udara sebanyak yang ia bisa.

“Ada apa denganmu, Kris. Mengapa kau mengatakannya?”

Kris mendekati Kyuhyun yang mulai ketakutan dan meringkuk mundur menjauhinya. Ia hampir saja akan mencekik Kyuhyun lagi sebelum sesosok sayap biru muncul melalui jendela ruangan itu.

Sungmin.

“Kau mengganggu kesenanganku, Sungmin.”

Sosok biru itu merubah kepakan sayapnya menjadi wujud manusianya kembali. Lalu merunduk dan mencium lantai hingga tengkuknya bisa terlihat.

“Ye, master.”

 

TBC

 

 

“Tapi kau juga ikut andil ke dalam takdir itu. Kalian bertiga.”

“Bunuh aku. Ketika kau menemukanku di masa depan, ingatkan aku pada kejadian ini dan takdirku sebagai seorang master.”

 

 

Perlahan, takdir mengenai mereka akan mulai terungkap. Misteri mengenai siapa pria yang ditemuin Sungmin, alasan Kyuhyun yang terpilih dan Kibum mengapa sebaik itu sama Kyuhyun akan mulai terjawab di chapter2 selanjutnya.

Oh ya, Sabrina cuma mau ingetin, baca juga ya artikel mengenai New FF Sabrina. Kasih komennya juga disana. Soalnya Sabrina sedikit bingung menentukan FF Sabrina baru setelah FF ini kelar.

Sabrina bener2 berterima kasih sama kalian semua yg udah komen ya. Sebagai tanda terima ksh, Sabrina kemungkinan akan update satu minggu sekali atau dua kali. Hehe.

Dan soal ending, tenang aja, Sabrina g akan biarin Kyu menjanda kok. *eh. Duda maksudnya. Yg pasti ini akan happy end kok. *bocoran*

Ok. Terakhir. Thanks for u read and comment. Love u all. ^^

 

NB : Sedikit tambahan, Kibum mengetahui segalanya setelah tamu Sungmin muncul dan ingatannya dilihat oleh Kibum. Jadi, awalnya, Kibum itu juga tidak tahu apa-apa.

The Melody Chapter 3

Pair : Wonkyu, KrisKyu, Yunkyu.

Cast : Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kris (Wu Yi Fan), Kim Kibum, Lee Donghae, Lee Sungmin, Jung Yunho,dll.

Genre : Mystery, Supernatural, Romance, dan Fantasy

Rate : T.

Warning : YAOI, OOC, Typo.

Chapter 3

“Seringkali ketika kau memandang mataku,

 aku akan tenggelam disana.”

-Kyuhyun-

Siwon menggeram. Ia ingin menerjang dan membunuh siapapun yang berada di balik mantel hitam itu. Siapapun, jika saja Sungmin tidak mencegahnya. Pria itu menjadi marah dan menakutkan. Tubuhnya mengeluarkan rembahan-rembahan gelembung sabun yang kemudian meledak menyentuh kulit. Siwon terjatuh dan merasa kulitnya terbakar hebat.

“Sial,” rutuknya. Pria itu kemudian bangkit dan mengejar Sungmin tapi benteng kokoh membuat tubuhnya terjungkal. Sungmin membentengi mereka dengan sekat benteng ‘ilmu hitamnya.’

Elemen api yang dikeluarkan Siwon tak sanggup meruntuhkannya. Inilah yang ditakuti, ilmu hitam yang tak terbantahkan.

“Brengsek kau!” Siwon terpental, terhempas dan membentur benteng itu. Bahkan ketika tenaganya terkuras, Siwon tetap mencoba melawan.

“Ini urusanku, Choi. Jika kau ikut campur, aku tak segan membunuhmu.”

Siwon merasa seluruh otot tubuhnya menegang. Ia berultimatum,

“Aku akan mengubahmu menjadi debu jika kau berani melakukannya. Aku tidak main-main, brengsek!” Sungmin merasakan penekanan. Ia menyeringai dan membawa seorang bermantel itu untuk pergi. Berubah menjadi ras berwarna biru terang yang bersayap mengepakkan ribuan kupu. Sungmin menjentikkan jari dan segera terbang jauh, membawa orang itu terbang bersamanya.

“Sial. Sial. Sial.”

Kyuhyun merengkuh Siwon ke bahunya. Ia tidak dapat mengontrol diri ketika melihat betapa putus asanya seorang Choi Siwon. Kyuhyun tersentuh.

“Jangan cemas. Aku baik-baik saja,”

Siwon hanya diam dan kemudian mendongak memandang Kyuhyun. Pandangannya sarat akan ketakutan yang berlebih.

“Jangan tinggalkan aku seperti yang ibuku lakukan, Kyu.”

Aneh. Desiran di dalam tubuhnya terasa ganjal. Darahnya bergolak dan Kyuhyun tidak tahu mengapa ia ingin merengkuh Siwon dengan cara yang berbeda, sesuatu yang berbeda, dan sesuatu yang lembut.

“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu,” ucap Kyuhyun tegas namun ada keraguan yang bersarang di dadanya. Tangannya dengan lembut mengusap punggung tangan Siwon. Ia tidak mengerti akan apa yang dirasakannya. Kyuhyun tidak pernah mengalami perasaan hal impulsive seperti ini.

Siwon memperhatikan mata caramel milik Kyuhyun. Warnanya menyejukkan seperti sungai di tengah belantara, menyejukkan. Dan, Siwon tersenyum.

“Tubuhmu terluka. Aku akan mengobatinya.” Suara Kyuhyun rendah. Ia menyentuh tubuh Siwon dan menyalurkan sesuatu yang hangat mengaliri pembuluh darahnya. Penyembuhan.

“Aku tidak mengerti. Mengapa kau tidak bisa merasakan aura orang itu?” tanya Donghae, matanya menatap Siwon di depannya.

Luka itu perlahan menutup. Bekas merah yang membakar, berangsur membaik. Kyuhyun tersenyum, bangga.

“Dia kuat. Aku dapat merasakannya.”

“Tapi, Wonnie…”

“Kita tidak pernah tahu apa yang ada didasar laut bahkan jika kita menyelaminya. Kita tidak pernah tahu bahwa ada orang lain yang lebih kuat dariku,” ujar Siwon lagi. Kibum tetap diam. Dia hanya ‘harus’ diam.

“Kau akan baik-baik saja. Kupastikan itu.” Kris tersenyum lembut. Kyuhyun menoleh dan mengangguk. “Terima kasih, Kris.”

Siwon tidak suka. Ia bahkan merasa sesak ketika Kyuhyun membalas senyuman Kris. Sesuatu yang terasa akan meledak. Sesuatu yang tidak nyaman bagi hatinya.

***

“Berhenti.”

Sungmin menghela nafas. Sosok itu melompat cepat berjalan menjauh dari tekanan Siwon. Ia kemudian terjatuh ketika merasa hatinya kepayahan. Memegangi dadanya yang memuncak tak beraturan.

“Anda menggunakan sihir terlarang ‘Future time’?”

Sosok itu menatap Sungmin lama lalu mengangguk.

“Kau sudah menemukannya?”

Sungmin tertegun. Janji mengenai hidup matinya.

“Aku belum menemukannya.”

“Kau harus segera menemukannya.” Aroma darah yang makin kental tercium begitu tajam. Sungmin kemudian menunduk. Berlutut hingga mencium tanah. “Saya mengerti.”

“Kau tidak ingin tahu siapa aku? Kau sudah mengabdi padaku tiga ratus tahun. Tidakkah kau merasa ingin tahu?”

Tubuh Sungmin bergetar menahan suatu emosi. Ia ingin tahu. Lebih dari seluruh nyawanya, Sungmin ingin tahu yang tidak pernah diketahui orang-orang.

“Jika itu tidak merendahkan anda, saya tidak keberatan.”

Sungmin menahan nafasnya. Sosok itu melangkah menaiki udara yang membuat tubuhnya tidak bergravitasi. Melangkah dengan lembut dan sarat akan ketenangannya. Sungmin tidak berani mendongak takut akan berkhianat.

“Sekarang tataplah aku!”

Sungmin dengan ragu dan ketakutan yang luar biasa akhirnya berani menatap sosok yang juga enggan menanggalkan topeng kulitnya. Sungmin menunggu.

Topeng itu perlahan diturunkan. Wajah yang mudah dikenali. Wajah yang membuatnya seolah ingin mati sekarang. Wajah yang tak asing untuknya.

“Kau…”

 

Romania 1476

 

          Sosok tinggi berjubah merah pekat muncul dan berlari terengah-engah. Tangannya mencengkram sisi perutnya yang memancarkan rembesan-rembesan darah segar yang semakin menghisap energinya. Ia menggeram. Memaki dan terjatuh di dahan pohon pinus. Nafasnya tertahan mengetahui tubuhnya semakin payah.

          “Keparat kau manusia.” Ia berujar lirih. Sisa kekuatannya, ia gunakan untuk memanggil sinyal bala bantuan. Ia harus lari sekarang setidaknya hingga kondisi memungkinkannya untuk kembali.

          Tak lama kemudian sesosok pria tinggi dan berpawakan kekar muncul di hadapan penguasa itu. Beliau memalingkan wajahnya dan hanya menunjukkan punggung tegapnya. Sang bawahan yang dipanggil seketika merunduk mencium tanah. Memberi hormat.

          “Ye. Master.”

          “Apa keahlian pengkhianat brengsek itu?” Hardik master seketika. Ia menatap tajam pada sisa pertempuran itu. Pengorbanan besar. Kehilangan yang besar.

          “Pengendali dan pembaca pikiran, tuan.”

          “Kurang ajar.”

          Tubuh Master linglung. Ia terjatuh dan memegangi perutnya kembali. “Panggil Sungmin kemari.”

          “Tapi?”

          “Kau tidak dengar? Panggil dia kemari bodoh!” Sentak master kuat. Ia tidak punya banyak waktu. Jika mereka menemukannya, maka tamat dan binasalah mereka semua.

          Sang pelayan menyanggupi. Ia menegakkan tubuh kemudian mengangguk hormat mesti matanya tak berani menatap wajah sang penguasa.

          “Master?” Sungmin muncul dengan iringan kepakan sayap dan asap yang tebal. Seketika ia merunduk dalam-dalam dan berlutut.

          “Aku punya tugas untukmu, Sungmin-sshi.”

          “Apapun titah anda. Saya akan melakukannya dengan nyawa saya.”

          “Bunuh aku. Ketika kau menemukanku di masa depan, ingatkan aku pada kejadian ini dan takdirku sebagai seorang master.”

          “A-Apa?” Lidahnya terasa kelu bahkan untuk mengucapkan satu baris kalimat penolakan. Bukankah ini perintah? Ultimatum?

          “Dan kau… Professor Park. Kau abadi sama seperti Sungmin, aku bisa tenang membebanimu tugas ini.”

          “Ye. Master.”

          “Binasakan semua manusia. Perjuangkan sekuat yang kau bisa dan imigrasilah ke dimensi dimana manusia tidak dapat menemukan kita. Jangan biarkan kita hidup berdampingan dengan manusia. Kau bisa berjanji padaku?”

          “Hamba berjanji dengan seluruh nyawa saya.”

          Master bernafas lebih teratur sekarang. Hatinya yang sekeras karam seakan remuk oleh hembusan angin dan ombak yang menerpa ketakutan dan kecemasan-kecemasannya. Ia tersenyum untuk pertama kalinya. Tersenyum penuh ketulusan.

          “Aku memberikan posisiku pada anak bungsuku. Aku mempercayainya dibanding aku percaya pada diriku sendiri.”

          Prof. Park diam. Dengan begini, Yunho tidak akan mendapatkan posisi apapun?

          “Jangan biarkan Yunho menaiki jabatanku. Dia sama serakah dan bengisnya sepertiku. Aku tidak ingin rakyat semakin menderita.”

          “Saya mengerti.” Prof Park berdusta. Hatinya tidak berkata demikian.

          Namun, mereka sama sekali tak menyadari sepasang mata elok menatap dan menguping dari kejauhan. Kedua mata itu memancarkan kemarahan, kesedihan dan juga terluka. Ia menangis. Menangisi hidupnya.

 

***

Kibum berdiri di depan jendela. Memperhatikan kedua orang yang sedari tadi bercakap-cakap di sana. Kris dan Donghae. Mereka berjaga menunggu kemungkinan Sungmin akan datang. Meski, sudah dua hari pria manis itu tidak menunjukkan batang hidungnya.

Kibum menoleh ketika Kyuhyun masuk ke kamar dan berbaring disana. Pemuda cantik itu mendesah keras.

“Katakan padaku. Kau tahu, bukan?”

“Tentang?”

Kyuhyun menghela nafas.

“Siapa pria itu. Suaranya… tidak asing untukku.”

Kibum terlihat menimbang. Memilih untuk mengatakannya atau tidak. Ia duduk di ranjang dan berbaring tepat di sebelah Kyuhyun. Melirik Kyuhyun lalu kembali menatap langit kamar yang berwarna biru terang. Ia berujar resah. “Aku tidak bisa mengatakannya. Bahkan jika kau membunuhku sekalipun.” Kyuhyun terlihat bingung. Ia menatap Kibum menuntut penjelasan.

“Dia adalah kunci yang akan membawa takdirmu. Takdir yang tidak bisa kau ubah.”

Kibum dan Kyuhyun berpandangan. Kibum tersenyum melihat Kyuhyun yang seperti ketakutan. Ia terkikik geli dan berusaha menenangkan.

“Kau tidak akan mati. Aku jamin.”

“Lagipula kau tidak akan mati dengan mudah.” Tambahnya. Kyuhyun tertawa, menyembunyikan ketakutannya. Tanda bahwa mereka lebih dari sekedar teman biasa.

Kibum menghela nafas.

“Aku selalu menuruti orang-orang yang memberiku keuntungan. Aku bisa saja berpihak pada master ataupun Siwon jika aku mau. Aku menjadi parasit di tempat yang membutuhkanku.” Kibum menjadi lebih serius. Ia lalu memejamkan matanya, melanjutkan perkataannya.

“Jika kelak aku berkhianat pada master ataupun Siwon, hanya kau. Hanya kau, Kyu. Satu-satunya orang yang tidak bisa kutinggalkan.”

“Mengapa?”

“Kau akan tahu ketika kau mendapatkan kebenaran.” Jawab Kibum. Matanya menjadi lebih terang dan sungguh-sungguh.

Kyuhyun tertawa.

“Pasti di masa depan, aku selalu berbuat baik padamu. Benar, kan?”

Kibum refleks memukul kepala Kyuhyun. Tidak keras memang, justru Kibum mengusapnya perlahan.

“Di masa depan, kau selalu membuatku hampir mati karena cemas. Kau tahu?”

“Kau saja yang terlalu menanggapinya serius.”

“Kau yang selalu bercanda.”

“Berusahalah sedikit lebih emosional. Kau akan terlihat seperti manusia seperti itu.”

“Jadi aku bukan manusia? Aku lebih tua darimu, Cho-sshi!”

Kyuhyun mulai berjalan mundur ketika Kibum berusaha untuk menariknya. Ia tertawa melihat ekspresi Kibum yang kesal seperti itu.

“Lebih tua? Kau bahkan lebih pendek dariku. Mana ada hyung yang lebih pendek dari donsaengnya,” cibir Kyuhyun lagi.

“Kau!”

Kyuhyun masih tertawa hingga punggung tegapnya menyentuh sesuatu. Ia menoleh dan mendapati Siwon datang dengan seduhan teh di tangannya.

Kyuhyun bersemu. Ditatap oleh Siwon seperti itu membuat hatinya berbunga dan menggelitik. Kyuhyun tidak mengerti mengapa.

Kibum jengah. Melihat adegan yang baginya ‘merusak mata’ tersebut. Ia bergerak menutup pintu dan melangkah keluar. Tidak mau ikut campur dengan urusan pribadi Kyuhyun.

“Kau mengganggu Kibum lagi?” Siwon meletakkan cangkir di meja nangkas. Kyuhyun menggeleng tapi terkikik.

“Dia itu harus diganggu agar tidak monoton seperti itu.”

Siwon tersenyum. Tangannya yang lebar menjamah leher Kyuhyun yang terasa kecil bagi seorang pria. Menatapnya dalam.

Siwon kemudian menariknya. Mendudukkannya ke dalam pahanya. Memangku Kyuhyun bagai suatu yang mudah pecah.

“Siwonnie…”

Siwon tiba-tiba mencium Kyuhyun. Membuat tubuh kurus itu nyaris terjungkal ke belakang beruntung, Siwon cepat tanggap. Ia memegang punggung halus itu dengan erat. Memagut cepat dan lembut dalam waktu yang sama.

Kyuhyun terlena ketika Siwon memperdalam ciumannya. Ia melingkarkan kaki-kaki mulusnya di pinggang Siwon. Bertumpu pada pria tampan itu. Siwon tersenyum tulus.

“Bolehkah aku memilikimu?”

Kyuhyun terhenyak. Tahu maksud perkataan Siwon.

Ia ragu. Tidak. Semua ini karena misi bodoh itu. Bukan karena cinta.

“Tahukah kau jika kau menyentuhku. Berbicara padaku. Syaraf di tubuhku dipenuhi oleh aliran listrik yang membuatku melayang?”

Apakah itu… cinta?

“Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggumu, babykyu.”

Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. Ia memeluk Siwon erat.

“Siwonnie…” Donghae menggebrak pintu sekuat tenaga. Nafasnya terputus-putus dan wajahnya nampak panik. “Aku tidak ingin mengganggu kalian tapi Sungmin sudah datang.”

Siwon beranjak. Matanya menyiratkan kemarahan yang teramat sangat. Ia lalu menggandeng Kyuhyun untuk menemui Sungmin.

Ruangan itu seketika sepi saat dua orang saling bertatapan sinis. Tidak ada yang berani bicara. Mereka menunggu Siwon dan Sungmin menyelesaikan masalahnya.

“Kita tidak perlu berkelahi karena aku tidak akan membunuh Kyuhyun.”

Sungmin mendapat tatapan lega dari semua orang. Sungmin masih memasang wajah datar. “Tapi dia menyuruhku mengawasimu dan membunuhmu jika kau melanggar batas.”

“Melanggar batas?” Sungmin menggeleng menolak menjawab pertanyaan Kyuhyun. “Rahasia para pelanggan adalah nyawaku. Aku tidak akan membeberkannya.”

***

Tangan itu tampak memilah-milih deretan buku yang tersusun rapi di rak buku. Lalu menumpuknya di meja yang berada di ujung jendela dan kembali mencari buku lainnya.

Jemari panjangnya berhenti saat menyentuh buku usang yang dicarinya. Ia tersenyum.

“Aku menemukannya.” Pemuda itu terkikik. Seperti memenangkan sebuah undian. Tangannya meregang ke atas.

Ia menggeret kursi yang kemudian didudukinya. Membaca kemudian sesekali merafalkan beberapa mantra sihir yang dibacanya.

“Bisakah kau diam?”

“Kris?”

“Aku ingin tidur, Kyu.” Kyuhyun memutar bola matanya malas.

“Mengapa tidur disini. Kembalilah ke kamarmu.”

“Donghae membawa seorang gadis di kamar. Aku lebih suka berada di sini.” Kris berkata sambil memegangi perutnya yang terus berbunyi. Ia tadi tidak sarapan dan membantu Sungmin mengurus tokonya seharian.

“Kau lapar?” Kyuhyun terkekeh pelan.

“Bagaimana jika kita membeli beberapa roti gandum dan telur goreng di toko sebrang.” Kyuhyun tersenyum.

“Baiklah. Ayo.”

Kris menggeret Kyuhyun dengan serangan mendadaknya. Kyuhyun hanya tertawa dengan tingkah Kris. Ia merindukan Kris sebenarnya. Ciuman itu mengubah hubungan mereka menjadi canggung seperti sekarang ini dan Kyuhyun benci itu.

“Di kehidupan manusiamu, kau bekerja sebagai apa?” Mereka menyusuri jalan yang cukup ramai. Kris yang sudah tak sabaran mempercepat langkahnya sambil menarik tangan Kyuhyun.

“Aku siswa biasa yang berbakat menjadi pianis. Aku sering mengadakan konser solo sendiri.”

“Hebat.”

Kyuhyun tersenyum malu.

“Lebih menyenangkan berada di mana?” Kris berhenti tepat di depan toko yang dimaksud. Sejenak, ia menoleh ke arah Kyuhyun untuk memperoleh jawaban dari pertanyaannya tadi. Tapi raut bingunglah yang didapatnya.

“Aku merindukan kedua orangtuaku. Ayahku yang menuntutku menjadi sempurna seperti keinginannya. Ibuku yang memperlakukanku dengan lembut. Dan gadis kutu buku yang selalu menarik perhatianku. Aku kadang ingin menangis ketika bayangan mereka memenuhi rongga kepalaku. Aku begitu merindukan mereka hingga aku merasa akan mati. Bagaimana jika mereka mencemaskanku? Mencariku kemana-mana dan setiap hari kecewa karena tidak menemukanku.”

Kris mengusap lembut rambut kekuningan Kyuhyun. Merasakan perih ketika Kyuhyun mengucapkan kesedihannya.

Kemudian Kyuhyun tersenyum simpul. Melanjutkan perkataannya yang belum selesai.

“Tapi berada di sini seakan memberi warna dalam hidupku yang kosong. Pertama kali aku mempunyai teman. Mempunyai orang-orang yang perduli padaku dan pertama kali dalam hidupku aku merasakan perasaan yang selama ini tak kumengerti. Aku mungkin terlalu dungu untuk bersanding dengan kelebihan-kelebihannya. Terlalu kecil bagi besarnya kuasa yang dia miliki tapi saat bersamanya semua benteng kokoh itu terasa pudar hanya ketika melihat ke dalam matanya.”

Kyuhyun tersenyum. “Ini bahkan tidak pernah kurasakan ketika aku hidup sebagai manusia.”

Kris diam sejenak. Menatap Kyuhyun dengan pandangan terluka entah keberapa kalinya. ‘Apakah orang yang kau maksud adalah Siwon, Kyu?’

“Ppali Kris. Ayo masuk.” Rambut kekuningan dengan sedikit poni itu bergerak seiring gerakan Kyuhyun yang menarik tangan Kris cepat. Ia juga lapar sekarang. Dan Kris memperlambat semuanya.

“Selamat datang. Anda ingin memesan sarapan pagi nomor berapa?” Seorang gadis muda menyapa dengan keramahannya. Namun begitu menyadari aroma Kyuhyun yang menusuknya, ia segera saja merubah ekspresinya. Ras manusia rendah. “Bisakah anda mengatakannya dengan cepat. Saya sibuk sekarang.”

“Sarapan pagi musim panas untuk dua orang,” ujar Kyuhyun tenang. Ia sudah terlalu biasa dengan pandangan menusuk yang merendahkannya ini. Ia tidak ingin terluka oleh orang-orang yang tidak dikenalnya lagi. Gadis itu mendengus lalu menyerahkan dua kotak sarapan dengan tampang yang tidak bersahabat.

“Terima kasih. Jangan datang lagi.” Kyuhyun tersenyum menyadari perubahan kalimat yang biasanya diucapkan pelayan kepada pelanggannya. Ia menarik tangan Kris mencari meja yang kosong dan segera memakan sarapan pagi mereka. Kyuhyun menyerahkan satu kepada Kris dan mengambil roti gandum kemudian memakannya dengan tangan. Kebiasaan yang tidak pernah berani dilakukannya ketika di rumah di hadapan ayahnya.

“Kapan kita akan kembali ke sekolah, Kris?”

“Mungkin dua hari lagi.” Jawab Kris acuh. Ia menyendokkan nasi sayurnya dengan potongan telur mata sapi. Makanan di sini benar-benar memikat hatinya.

“Kris. Pemuda di belakangmu arah jarum jam pukul sebelas menatapku dari tadi. Apakah dia punya niat jahat?” Kyuhyun menjadi paranoid bukan tanpa alasan. Pemuda itu benar-benar memperhatikannya dengan tatapan tajam dan pandangan berbeda.

“Dia tidak berbahaya. Kekuatan sihirnya jauh di bawahku.”

“Benarkah?”

Kris mengangguk yakin. “Dia tidak akan terlalu terganggu dengan darah manusiamu karena ilmunya bisa dibilang cukup tinggi. Dan aku masih bisa menghadapinya.”

Tiba-tiba tubuh Kris menegang. Merasa ada seseorang menahan kerja pikirannya dan mengirimkannya sebuah pesan terselubung. Suara sang Master.

Kibum datang kemari dan mengamuk padaku. Aku tidak dapat membunuhnya karena dia berharga. Datang kemari dan buat dia tenang.’

          Kris menghela nafas panjang. Kibum tipikal pria yang tenang namun jika sesuatu yang berharga diusik oleh orang lain, dia akan menjadi emosional dan mengerikan. Bahkan jika itu master, Kibum tak akan segan membunuhnya. Tipikal yang sebenarnya tidak disukai oleh Kris.

“Kau mau kemana?” tanya Kyuhyun bingung ketika Kris berdiri dan memakai mantel coklatnya. Kris mengambil minuman dingin miliknya dan menegak hingga tandas lalu menjawab,

“Aku ada urusan. Aku pergi sebentar.”

“Kau akan meninggalkanku sendirian?”

“Hanya lima menit. Tidak, sepuluh menit. Aku akan mengirim pesan pada Siwon dan Donghae untuk menjemputmu. Oke?”

“Kau tidak butuh ijinku untuk pergi bukan? Pergilah,” jawab Kyuhyun ketus. Kris menatap dengan pandangan memohon dan rasa bersalah. Ia tidak tega sebenarnya tapi ini penting. Master adalah orang yang menyelamatkan hidupnya bagaimanapun ia harus melindungi master dengan nyawanya sendiri.

“Maaf Kyu-ah.” Kris mengecup dahi Kyuhyun lama. Mengesap wangi mint yang memabukkan untuknya. Meminta maaf dengan caranya sendiri.

Kyuhyun segera menundukkan kepalanya karena malu. Ia masih tidak terbiasa dengan perlakuan Kris yang menurutnya manis. Hatinya terasa melayang namun sesak di saat yang sama. Bayangan Siwonlah yang membuat perasaan sesak dan mengganjal itu lebih mendominasi.

Kris tersenyum dan segera keluar dari toko tersebut. Satu kesalahan fatal yang dilupakannya. Pemuda yang sedari tadi dibicarakan Kyuhyun menyeringai begitu Kris melesat pergi. Kris lupa dan kebodohannya itu membuat Kyuhyun dalam bahaya.

***

Pemuda tampan dengan jabatan tinggi itu berjalan cepat memasuki pertokoan yang sudah sepi pengunjung. Ia merutuki siapapun yang telah membawa pergi pemuda manisnya.

Ia akan menghabisi Kris jika sesuatu terjadi pada Kyuhyun dan Siwon bersumpah dengan hal itu.

“Bagaimana? Kau bisa meminta bantuan Sungmin?”

Donghae menggeleng. “Sungmin professional, Won. Dia bersedia membantu jika kau menyanggupi permintaannya.”

“Dasar sampah. Bagaimana dengan Kibum?”

“Aku tidak bisa menemukannya dimanapun.”

“Brengsek. Disaat kita membutuhkan. Dia justru menghilang.”

Donghae melihat kepanikan dan kekhawatiran di wajah tuannya. Sepertinya Siwon sungguh-sungguh mencintai pemuda bernama Cho Kyuhyun itu. Donghae mencoba membantu. Ia memegang bahu Siwon lembut. Menenangkannya.

“Cobalah lagi, Won. Kau harus fokus. Jangan panik. Kau yang terkuat. Siapapun dia jika dia bukan master dan orang-orangnya. Aku yakin kau bisa melacak keberadaan Kyuhyun. Kuncinya hanya satu. Fokus.”

Siwon menghela nafas. Ia mengendorkan simpul dasi hitam miliknya. Mencoba tenang dan fokus.

“Tarik nafas dan jangan pikirkan apapun. Aku akan membuat kau tidak mendengar apapun di sini.” Donghae membantu. Setidaknya itu yang dapat dilakukannya. Aroma Kyuhyun terlalu sulit untuk dilacak. Berbeda dengan ras dan manusia lainnya. Donghae tidak mengerti mengapa. Satu pemikirannya yang membuatnya tersentak. Apakah seseorang memberinya pelindung? Apakah master. ‘Apa yang kufikirkan. Itu tidak mungkin. Kemungkinan yang paling besar adalah Kyuhyun itu berbeda.’

Donghae kembali fokus membantu Siwon.

“Kau menemukannya?” Donghae membuka matanya ketika Siwon menyentuh tangannya. “Tentu. Akan kuhabisi orang itu.”

Donghae tersenyum dan menggeret Siwon.

***

“Kau sudah bangun?”

Kyuhyun menoleh cepat. Suara dingin yang rendah menyapa indra pendengarnya. Langkahnya semakin mendekat. Pemilik suara itu.

Degup jantungnya berpacu ketika melihat sosok itu. Seseorang yang ditemuinya saat berada di toko roti bersama Kris.

Kyuhyun beringsut mundur. Menggeser tubuhnya ke belakang ketika pemuda itu mulai mendekatinya.

“Apa yang kau lakukan?”

Kyuhyun merasa tubuhnya tidak dapat digerakkan. Bukan diikat ataupun dirantai mungkin ini sebuah sihir yang sama yang digunakan oleh Siwon dan Kibum padanya. Sihir yang paling dibenci oleh Kyuhyun.

“Siapa kau?” Beruntung mulutnya masih dibiarkan bersuara.

“Aku?” Pria itu tertawa lalu mengambil satu buah pistol. Kyuhyun mulai ketakutan sekarang.

“Kau manusia biasa. Kau akan mati jika aku menggunakan senjata ini. Benar bukan?”

“Kau ingin membunuhku?” tanya Kyuhyun was-was. Matanya tajam mengikuti kemanapun pistol itu berudara. Mengantisipasi kalau-kalau ia bisa menghindari peluru itu. Mustahil memang tapi Kyuhyun akan lebih tenang jika melihat kemana pistol itu berada.

“Jangan bunuh aku.” Kyuhyun hampir menangis. Suaranya terdengar serak dan panik ketika pria itu mencekik leher jenjangnya. Menjilati pipi Kyuhyun dengan air liurnya. Kyuhyun terhenyak. Ia ingin berontak tapi tubuhnya tak menuruti impuls otaknya.

“Apa yang kau inginkan?” Kyuhyun berteriak keras. Jika ia mampu memberontak dan menyerang hanya menggunakan mulut. Mengapa tidak. Ia akan mati-matian mempertahankan dirinya.

“Aku hanya bosan.”

Pria itu menarik wajah Kyuhyun untuk mendongak. Menatap nyalang pada kulit lunak yang berwarna merah alami itu. Lembut ketika disentuh dan pasti akan nikmat ketika disenyap.

“Hmmpphh.” Kyuhyun terkejut ketika pria ini menyerang bibirnya. Melumatnya dalam penuh nafsu yang bejat. Kyuhyun ingin menyerang dan berontak. Tapi sekali lagi sihir ini mengukungnya menjadi lemah. Meski Kyuhyun bukan pria lemah.

Pria itu menekan bibir keduanya. Membuat Kyuhyun terperangah atas tindakan brutal pria yang membuat bibirnya kemudian membengkak. Ia tertawa sinis. “Aku bosan berkencan dengan penyihir-penyihir amatiran itu. Pasti ada sensasi berbeda ketika aku menyentuh kulit manusiamu yang berbau ini. Nikmat. Memabukkan. Pantas jika Siwon terpedaya oleh tipu muslihatmu.”

Bagaimana dia bisa tahu?

“Tentu saja aku tahu.”

Kau bisa membaca pikiranku?

“Bisa.”

Pria itu tertawa melihat betapa terkejutnya Kyuhyun atas kekuatannya. Ia kembali menghujani Kyuhyun dengan cumbuan-cumbuan mautnya.

Kumohon. Jangan lakukan ini. Kyuhyun menggunakan pikirannya ketika mulutnya disumpal oleh pria brengsek ini. Pria itu tersenyum dan tidak perduli.

“Menyentuh kulitmu semakin dalam pasti akan membuatku merasakan sensasi yang berbeda. Darah manusiamu membuatku ingin menghujanimu dengan dorongan-dorongan alat vitalku hingga kau mengeluarkan darah kotor manusiamu itu.”

“Brengsek! Jaga mulutmu idiot kotor!”

Wajah Kyuhyun merah menahan amarah. Bahkan Siwon tidak pernah mengatakan kata-kata sekasar itu. Ia akan meminta ijin atas apapun yang akan dilakukannya. Membiarkan Kyuhyun memilih apa yang disukainya dan melindungi Kyuhyun. Entah mengapa pemikiran itu membuat Kyuhyun memikirkan Siwon. Ia berharap pria yang menjabat sebagai kekasihnya ini dapat menyelamatkannya sekali lagi.

“Jangan membuatku tertawa dengan pemikiranmu barusan. Kau hanya memanfaatkan Siwon dan membohonginya. Dan kini kau memintanya untuk menyelamatkanmu?”

“Memangnya kenapa? Dia membutuhkanku juga. Kami sama-sama saling menguntungkan.” Kilah Kyuhyun tak terima.

“Saling membutuhkan? Benarkah hanya sebatas itu perasaanmu padanya, Cho Kyuhyun?”

Pria itu membimbing tubuh kurus Kyuhyun ke ranjangnya. Menindihnya dan memulai pertunjukannya. Ia menyeringai menatap wajah Kyuhyun yang penuh ketakutan.

“Kau takut? Ini adalah pertama kalinya untukmu ya? Kalau begitu. Cukup diam dan nikmati perlakuanku. Mungkin ini akan sedikit sakit.”

“Kumohon… jangan brengsek. Kumohon.” Kyuhyun takut. Ia bahkan rela mati jika saja ia bisa melakukan bunuh diri dan tidak akan membiarkan pria ini menyetubuhinya. Kyuhyun hanya ingin memberikan kesucian tubuhnya untuk seseorang yang ia cintai. Benar-benar ia cintai dan ia nikahi. Bukan dengan pria asing bermental sinting ini.

‘Choi Siwon. Kumohon. Selamatkan aku.’

BRAKK

“Kyuhyun?”

Kyuhyun merasa Tuhan masih menyayanginya ketika harapannya muncul dan ada di hadapannya. Choi Siwon. Pria yang mulai menarik Kyuhyun pada pemikiran-pemikiran egoisnya. Pria pertama yang membuat Kyuhyun ragu atas keputusan yang tidak pernah diragukan sebelumnya.

Siwon menggeram. Ia mencengkram kuat tengkuk pria itu hingga kuku-kukunya menancap dalam kulitnya. Cengkraman itu terasa perih dan panas bahkan cairan darahnya mengalir turun deras di sela leher pria itu dan sela-sela jari Siwon.

“Apa yang akan kau lakukan, bajingan busuk!”

Pria itu masih bisa tertawa dan berujar lirih. “Membalas perbuatan ayahmu di masa lalu pada leluhurku. Aku akan memperkosanya dan kemudian membakar habis tubuhnya. Itu rencanaku, Choi Siwon.”

Mata Siwon berkilat marah. Tangannya semakin mengoyak leher pria yang dikenalnya sebagai anak dari ibu asuhnya itu. Donghae menghentikan tangan Siwon yang akan membakar habis isi perut bocah itu. Siwon menatap Donghae marah.

“Apa?”

“Dia adalah putra Song eommanim. Tidakkah kau kasihan pada ibumu?”

Siwon mulai sadar. Amarahnya kembali menurun.

“Beri dia kesempatan. Dia masih bocah, Won.”

“Kuberi kau kesempatan, Changmin.” Pria bernama Changmin itu tertawa meremehkan. Ia memegangi lehernya yang sedari tadi mengeluarkan darah pekatnya. “Kau tidak akan membunuhku. Aku tahu itu. Senakal apapun diriku.”

“Aku akan membunuhmu jika saja kau sudah mencium milikku.”

“Aku sudah melakukannya, hyung.”

“Ah. Sial. Brengsek.” Siwon menghampiri Kyuhyun yang masih tegang dan melepaskan sihirnya. Pemuda cantik itu segera memeluk Siwon begitu kesadarannya kembali. Ia menangis. Ketakutan.

“Kau tidak akan membunuhku. Tertulis jelas dalam benakmu.”

“Berhenti membaca pikiranku!” Hardik Siwon dingin. Bukannya takut Changmin justru tertawa keras. “Kau itu kuat tapi lemah terhadap sesuatu yang bernama keluarga.”

“Kau bukan keluargaku.”

“Tapi ibuku adalah ibumu.” Siwon lebih memilih mengacuhkan Changmin. Ia menatap Kyuhyun dan menenangkan pemuda yang dicintainya itu.

“Gwenchana?”

“Hm. Gomawo.” Kyuhyun sempat tertegun ketika gendang telinganya mendengar dengan jelas detakan keras dan suhu hangat yang melingkupi rongga dada Siwon. Siwon benar-benar mencintainya.

“Terima kasih kau tetap hidup. Terima kasih.”

Kyuhyun bungkam setelah mendengar suara lembut itu. Ia menatap kikuk lalu memalingkan tubuh membelakangi Siwon. Membuat pemuda berlesung pipi itu terkekeh memandang sikap malu kekasihnya itu. Lucu, pikirnya.

“Kita pulang?”

Kyuhyun mengangguk semangat. Kini ia mulai menyadari satu hal lagi. Bahwa kekuatan tidak datang dari kemampuan fisikal saja tetapi kekuatan juga bisa datang ketika kita mulai memikirkan seseorang untuk kita bertahan hidup. Siwon mengajarkannya mengenai arti kesetiaan, dedikasi dan kesungguhan dalam cinta. Cinta yang menurut Kyuhyun tidak benar-benar ada dan hanya sebuah delisional belaka. Bisakah… Bisakah Kyuhyun mengharapkan Siwon memberinya kekuatan cinta sejati. Kyuhyun ingin merasakannya. Merasakan sebuah cinta yang hakiki tanpa embel-embel sebuah tindakan yang direncanakan.

“Belajar sesuatu mengenai diriku sendiri ketika aku mulai mengenalmu. Aku mulai memahami hatiku yang selama ini tertutup. Bahwa aku terlalu dungu ketika akhirnya aku menyadari aku membutuhkanmu. Aku ingin memilikimu dan aku… mulai mencintaimu. Salahkah aku mencintainya sebagai seorang manusia?”

“Hya! Donghae-sshi. Berhenti memakannya! Ini untuk Siwon.” Kyuhyun menarik kotak makan siang bentonya dari tangan Donghae. Membawanya menjauh tapi Donghae tetap mengikutinya seperti orang kelaparan. Kibum mendesah frustasi ketika pemandangan tarik menarik itu berlangsung cukup lama dan alot. Kibum suka ketenangan. Tapi semenjak mengenal dua orang itu, ketenangannya makin sulit didapatkan.

“Aku tidak tahu ternyata kau pintar memasak, Kyu.”

“Aku hanya akan memasak untuk Choi Siwon, idiot. Berhenti menghampiriku dengan wajah seperti mayat hidup. Hya! Wonnie…”

Siwon menarik Kyuhyun dalam pelukannya dan memberi Donghae tatapan membunuh. Donghae tertawa menampilkan deretan gigi putih bersihnya lalu segera merebut buku Kibum. Berpura-pura membaca.

“Hya! Kembalikan bukuku.”

“Mengapa kalian pelit sekali padaku?”

“Shut up!” Kibum meninggalkan Donghae dan memilih duduk di samping Kris yang tertidur dengan mulut yang sedikit terbuka.

Donghae bisa melihat. Bagian-bagian dimana ia menyukai situasi seperti ini. Kyuhyun yang menyuapi Siwon kemudian tertawa bersama. Kibum yang berkutat pada bukunya dan tampil membosankan. Dan juga Kris yang tertidur di sofa milik Sungmin. Donghae tersenyum.

‘Jangan pisahkan kami dalam sebuah keburukan yang menyiksa, Tuhan. Biarkanlah kami seperti ini. Kami ingin bahagia.’

Kyuhyun menghampiri Donghae dan menyerahkan sarapan kesukaannya. Sushi dengan ikan tuna mentah yang dicampur dengan wasabi. Bagaimana Kyuhyun yang acuh bisa mengetahui bahwa dirinya menyukai ikan?

“Aku khusus membuatkanmu ini, hyung.”

“Kau memang yang terbaik,” ujar Donghae setengah berteriak. Ia memeluk Kyuhyun dan kemudian mengambil piring sushi itu. Kyuhyun juga tersenyum membalasnya. Ada perasaan bangga ketika Donghae mengacungkan ibu jarinya dan tersenyum puas. Pujian yang tulus bukan ocehan dan kritik yang diterimanya ketika dia melakukan sesuatu. Bukan juga seperti kaleng kecil yang kosong yang selalu terisi oleh sesuatu yang disebut aturan dan nama baik keluarga. Terikat pada aturan dan denting-denting anggur yang saling tertawa sedang di luar saling membicarakan. Kyuhyun akui ia mulai suka dengan kehidupan di sini.

“Kau teman terbaik yang dimiliki Siwon hyung.”

“Tentu. Aku satu-satunya orang yang tidak mungkin mengkhianatinya.” Kyuhyun tersenyum miris. Ini seperti sindiran dan penghinaan untuknya.

“Siwon hidup dengan aturan yang mengekang dan sebuah pengkhianatan besar. Dia mencintai kakaknya. Selalu berfikir jikalau kakaknya benar-benar membodohinya dan mengatakan “Ini kejutan. Aku tidak benar-benar membenci dan membunuhmu. Aku menyayangimu, Siwonnie.” Siwon tidak seperti kebanyakan orang akan dengan mudah mengekspresikan hatinya. Tapi jauh di dalam hatinya, kau akan bisa menemukan sungai yang mengalir deras. Menenangkan karena dia akan melindungimu. Melindungi teman-temannya, keluarganya dan juga dirimu yang sekarang menjadi kekasihnya.”

Kyuhyun tersenyum miris. Menatap Siwon yang sedang berbincang dengan Sungmin. Cepat atau lambat mereka akan berpisah karena dunia mereka yang berbeda. Tapi kenyataan mengenai pengkhianatannya, akankah Siwon membencinya suatu saat nanti?

Kau harus mengijinkanku pergi ketika kau mulai memahamiku. Seandainya aku bisa menutup matamu agar kau tidak perlu melihat kebenaran. Kebenaran mengenai apa yang kusebut dengan “Kebohongan.” Maka aku akan melakukannya. Menutup matamu dan pergi tanpa mengatakan bahwa aku mulai mencintaimu.”

 

 

 

TBC

Gaje? Well. Entah mengapa Sabrina pengen bikin suasana yang romantis dan justru berakhir gaje seperti ini. Kkekeke. Dan Sabrina juga kesel sekali sama oknum yg sms Sabrina dan mengatakan bahwa akan lebih bagus jika saya menulis pairing Kyumin. Well, saya suka Sungmin karena Sabrina seorang ELF tapi pairing adalah selera dan pilihan. Saya menyukai wonkyu dan Changkyu. Terus kenapa? Itu keputusan Sabrina kenapa repot? Sabrina juga sangat menyukai Yesung setelah Kyu oppa tapi Sabrina tetap menjadi Wonkyu shipper. Kenapa? Sekali lagi pairing adalah selera. Karena itu, jika anda tidak suka pairing yang Sabrina tulis maka, jangan membacanya. Gampang bukan. Banyak kok FF dengan pairing Kyumin dimanapun.

Bukan sabrina nge-bash kyumin. Sabrina suka kok. Bahkan punya video kyumin tapi tolong hargai kesukaan Sabrina sendiri. Satu kali. Dua kali kalian benar-benar membuat Sabrina sebel dan berfikir untuk mem-PW beberapa FF Sabrina.

Dan Sabrina juga mengucapkan terima kasih buat temen-temen yg udah bersedia review dan Sabrina inget semua nama2 kalian. Kalianlah satu2nya alasan Sabrina tetep berusaha update ditengah kesibukan Sabrina #plak.sok sibuk. Karena itu buat sider yg ternyata banyak juga yg mengsms Sabrina, bisakah kalian coba menghargai usaha Sabrina dengan apa yg disebut ‘review’?

Satu lagi. Masa lalu dan ‘Future time’ yg disebut Kibum dan Sungmin juga siapa pria yang ditemuin Sungmin adalah kunci dari cerita ini. Jadi jangan terkejut jika kalian menemukan sesuatu yg berbeda.

Love u all. GBU> ^^ Selamat merayakan hari raya juga bagi umat muslim yg merayakannya. Sabrina ikut seneng. ^^ Saranghae.